BAB VI PEMBAHASAN
6.2 Analisa Bivariat
6.2.5 Hubungan Tingkat Kecemasan Berdasarkan Penghasilan
banyak yang mengalami kecemasan pada ibu hamil yang tidak bekerja dibandingkan dengan ibu hamil yang bekerja. Pekerjaan ibu hamil tidak hanya menunjukkan tigkat sosial ekonomi melainkan juga menujukkan ada tidaknya interaksi ibu hamil dalam masyarakat, sehingga memungkinka ibu yang bekerja akan memiliki pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih cepat untuk menerima informasi daripada ibu yang tidak bekerja sehingga tingkat kecemasannya akan lebih rendah. Selain itu dapat disebabkan karena ibu hamil yang tidak bekerja akan lebih banyak mengalami kecemasan karena tidak memiliki penghasilan sendiri, kurang mendapatkan pengetahuan tentang kehamilan nya dibandingkan dengan ibu hamil yang bekerja. Ibu hamil bekerja akan sering bertemu dengan orang lain diluar rumahnya, sehingga akan lebih banyak mendapatkan informasi atau pengetahuan lebih banyak dari pengalaman orang lain mengenai kehamilannya dan membuatnya merasa lebih tenang.
6.2.5 Hubungan Tingkat Kecemasan Berdasarkan Penghasilan Pada
hubungan yang bermakna antara penghailan dengan tingkat kecemasan ibu hamil primigravida trimester III dengan kekuatan korelasi rendah Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan peelitian yang dilakukan Ni’mah (2015) tentang Hubungan faktor sosial ekonomi dengan kecemasan ibu primigravida di puskesmas tuminting dapat dilihat angka kemaknaan sebesar 95% (α=0.05), nilai ini menunjukkan ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan kecemasan ibu primigravida di Puskesmas Tuminting, dimana nilai p= 0,000 lebih kecil dari α= 0,05.
Hasil penelitian ini juga mempunyai hasil yang tidak sama dengan penelitian yang dilakukan Husniawati dan Fajriani (2017) tentang hubungan antara karakteristik ibu dan dukungan suami terhadap tingkat kecemasan ibu hamil trimester 3 di puskesmas kecamatan makasar, hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p = 0.005, dimana nilai p <
0.05 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan tingkat kecemasan ibu hamil trimester III di Puskesmas Kecamatan Makasar. Faktor sosial ekonomi seperti pendapatan dapat mempengaruhi kecemasan pada ibu hamil. Sosial ekonomi yang baik dapat menjamin kesehatan fisik dan psikologis ibu hamil yang dapat mencegah terjadinya kecemasan dalam menghadapi kehamilan, maka pendapatan keluarga yang cukup membuat ibu hamil siap menghadapi kehamilan karena kehamilan membutuhkan anggaran khusus seperti biaya ANC, makanan bergizi untuk ibu dan janin, pakaian hamil, biaya persalinan dan kebutuhan bayi setelah lahir.
Tingkat pendapatan yang rendah ini akan sangat mempengaruhi kondisi psikologi ibu hamil, terutama pada trimester III karena berkaitan dengan persiapan untuk persalinan dan perawatan bayi (Astiwi, 2013).
Sari (2010) menyatakan jika dukungan sosial dan ekonomi yang kurang, maka akan mengganggu kondisi psikologis ibu dan tingkat kecemasan akan bertambah. Pada ibu hamil primigravida memungkinkan seorang ibu belum memiliki kebutuhan yang akan diperlukan menjelang persalinan. Terkait dengan persiapan untuk persalinan dan perawatan bayi akan membutuhkan biaya yang akan dikeluarkan. Bila kedua hal ini belum disiapkan secara matang akan menimbulkan rasa khawatir pada ibu hamil.
Berdasarkan uraian diatas didukung dengan penelitian terkait dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan ibu primigravida berdasarkan penghasilan di Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara. Tingkat pendapatan yang rendah akan sangat mempengaruhi kondisi psikologi ibu hamil, terutama pada trimester III karena berkaitan dengan persiapan untuk persalinan dan perawatan bayi (Astiwi, 2013). Pendapatan keluarga yang kecil membuat ibu tidak dapat mencapai akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Ketergantungan pada sosial ekonomi keluarga dapat menimbulkan suatu stressor pada ibu hamil sehingga menyebabkan kecemasan (Sintikhewati, 2010). Namu, hal ini tidak terjadi pada ibu hamil primigravida trimester III di Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara, responden di wilayah ini yang
memiliki penghasilan rendah tidak mengalami kecemasan karena responden di wilayah ini memiliki kesiapan yang cukup dalam merencakanan kehamilan walaupun memiliki penghasilan yang rendah dan rutin melakukan kunjungan ANC sehingga banyak menerima inforasi dari petugas kesehatan, sedangkan pada responden yang memiliki penghasilan sedang masih ada yang mengalami kecemasan.
Ibu hamil yang memiliki penghasilan rendah bisa saja tidak merasakan kecemasan yang berat, mengingat bahwa tigkat kcemasan seseorang juga dapat dipengaruhi oleh dukungan dari keluarga. Asumsi ini juga sejalan dengan teori yang dinyatakan oleh Justin (2008) ibu hamil yang mendapatkan dukungan dari suami serta keluarga dengan cukup dan pengetahuan yang baik mengenai kehamilannya bisa mempengaruhi tingkay kecemasan yang dimilikinya. Kehamilan yang terjadi pada setelah pernikahan dengan pendampingan dan dukungan suami mempunyai efek yang lebih kecil terhadap terjadinya kecemasan dibandingkan persalinan yang tidak mendapat dukungan suami.
Beberapa penelitian telah mengidentifikasi bahwa wanita yang mengalami gejala depresi pada masa antenatal lebih cenderung tidak menikah, lajang atau memiliki pasangan yang tidak tinggal di rumah yang sama. Kehadiran pasangan suportif bertindak sebagai penyangga terhadap kesulitan yang dialami dalam transisi menjadi orang tua, melindungi kesehatan mental ibu. Hubungan bermasalah dengan pasangan, sebaliknya, menyebabkan tekanan tambahan pada wanita,
membuatnya lebih sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan kehamilan dan menjadi ibu (Carlo, 2009).
Ibu hamil dengan penghasilan yang tinggi bisa mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi apabila kurangnya dukungan keluarga serta peran suami yang di dapatkan, dan kurangnya pengetahuan tentang kehamilannya. Pada ibu hamil primigravida Trisemester III dalam menghadapi persalinan kecemasan timbul karena munculnya perasaan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan bayi yang dilahirkan, seperti ketidakmampuan memberikan pendidikan dan penghidupan yang layak. Disamping itu kecemasan pada ibu hamil primigravida disebabkan oleh munculnya dugaan bahwa melahirkan akan mematikan aktivitas sehari-hari, seperti menghambat rutinitas kerja karena tuntutan untuk memberikan perhatian kepada bayi yang dilahirkan. Selain itu, pengeluaran yang tidak seimbang dengan pedapatan yang dimiliki dapat menimbulkan kecemasan pada ibu hamil primigravida. Pada ibu hamil primigravida memungkinkan seorang ibu belum memiliki kebutuhan yang akan diperlukan menjelang persalinan. Terkait dengan persiapan untuk persalinan dan perawatan bayi akan membutuhkan biaya yang akan dikeluarkan. Bila kedua hal ini belum disiapkan secara matang akan menimbulkan rasa khawatir pada ibu hamil.