• Tidak ada hasil yang ditemukan

III Periode Pertumbuhan dan Penanggulangan Kemiskinan

Arah pertumbuhan dan kemiskinan berubah drastis pada masa pemerintahan Orde Baru.

Arah pertumbuhan dan kemiskinan berubah drastis pada masa pemerintahan Orde Baru. Arah pertumbuhan dan kemiskinan berubah drastis pada masa pemerintahan Orde Baru.

Arah pertumbuhan dan kemiskinan berubah drastis pada masa pemerintahan Orde Baru. Arah pertumbuhan dan kemiskinan berubah drastis pada masa pemerintahan Orde Baru. Selama tiga dekade yang mengagumkan, mulai tahun 1968, rata-rata Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 7,4 persen per tahun. Hasilnya, pendapatan per kapita Indonesia tahun 1997 mencapai 906 dolar AS, lebih dari empat kali lipat pendapatan tahun 1968 (Indikator Pembangunan Dunia). Jika dibandingkan dengan masa sebelumnya dalam kurun sejarah Indonesia, yakni periode seperempat abad sejak tahun 1965 sampai 1990, pertumbuhan tahunan jumlah asupan kalori meningkat 2,1 persen per tahun, yang artinya 50 persen lebih tinggi dari periode terbaik setelahnya, yaitu 1905-1925, dan hampir sepuluh kali lipat rata-rata pertumbuhan dalam jangka panjang (1880-1990). Angka pertumbuhan yang berpihak pada penduduk miskin mencapai 6,7 persen selama periode 1965-1990. Ini adalah angka tertinggi pertumbuhan yang berpihak pada penduduk miskin dalam sejarah Indonesia, tujuh kali lipat rata-rata pertumbuhan jangka panjang (1880-1990) dan hampir setengah kali lipat pertumbuhan pada periode terbaik berikutnya, yakni 1905-1925.

Gambar 2.1 Periode pertumbuhan berkelanjutan berdampak pada pesatnya tingkat pengurangan kemiskinan di Indonesia, 1961-2005

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Hofman dkk, 2004.

(Mengenai perincian angka-angka kemiskinan selama kurun tersebut, lihat Lampiran II.1 Garis Kemiskinan, Persentase Kemiskinan dan Jumlah Total Penduduk Miskin di Indonesia).

Kisah tentang penanggulangan kemiskinan di Indonesia terutama sekali adalah kisah tentang pembangunan Kisah tentang penanggulangan kemiskinan di Indonesia terutama sekali adalah kisah tentang pembangunanKisah tentang penanggulangan kemiskinan di Indonesia terutama sekali adalah kisah tentang pembangunan Kisah tentang penanggulangan kemiskinan di Indonesia terutama sekali adalah kisah tentang pembangunanKisah tentang penanggulangan kemiskinan di Indonesia terutama sekali adalah kisah tentang pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada penduduk miskin.

berkelanjutan yang berpihak pada penduduk miskin.berkelanjutan yang berpihak pada penduduk miskin.

berkelanjutan yang berpihak pada penduduk miskin.berkelanjutan yang berpihak pada penduduk miskin. Sejak tahun 1970 dan seterusnya, pengurangan kemiskinan di Indonesia secara luas dan berkelanjutan hanya terjadi selama periode pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan: semakin pesat tumbuhnya perekonomian negara, semakin tajam penurunan angka kemiskinan. Sebaliknya, pertumbuhan yang lamban menyebabkan pengurangan kemiskinan yang lamban pula. Gambar 2.1 memberikan gambaran tentang hubungan yang erat antara pengurangan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi. Selama tiga dekade ini, setiap satu poin persentase pertumbuhan ekonomi berdampak pada penurunan kemiskinan sebesar 1,3 persen.

Kinerja yang berpihak pada penduduk miskin selama tiga dekade ini adalah buah dari strategi yang dengan sadar Kinerja yang berpihak pada penduduk miskin selama tiga dekade ini adalah buah dari strategi yang dengan sadarKinerja yang berpihak pada penduduk miskin selama tiga dekade ini adalah buah dari strategi yang dengan sadar Kinerja yang berpihak pada penduduk miskin selama tiga dekade ini adalah buah dari strategi yang dengan sadarKinerja yang berpihak pada penduduk miskin selama tiga dekade ini adalah buah dari strategi yang dengan sadar memadukan pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan investasi dan kebijakan yang menjamin bahwa pertumbuhan memadukan pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan investasi dan kebijakan yang menjamin bahwa pertumbuhanmemadukan pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan investasi dan kebijakan yang menjamin bahwa pertumbuhan memadukan pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan investasi dan kebijakan yang menjamin bahwa pertumbuhanmemadukan pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan investasi dan kebijakan yang menjamin bahwa pertumbuhan yang terjadi akan menjangkau penduduk miskin.

yang terjadi akan menjangkau penduduk miskin. yang terjadi akan menjangkau penduduk miskin.

yang terjadi akan menjangkau penduduk miskin. yang terjadi akan menjangkau penduduk miskin. Strategi ini mengintegrasikan antara ekonomi makro dan ekonomi rumah tangga, dengan menurunkan biaya transaksi operasi di pasar. Strategi ini juga berhasil menggabungkan usaha- usaha untuk meningkatkan kemampuan manusia dan menaikkan tingkat permintaan (yang dikonseptualisasikan dalam

Lampiran II.2 Kerangka pertumbuhan yang berpihak pada penduduk miskin). Strategi ini dirancang dan diimplementasikan oleh para ahli dalam perencanaan ekonomi yang berada di luar lingkaran politik, tapi langsung di bawah pengarahan Presiden Soeharto. Investasi yang sangat besar ditanamkan untuk pengembangan pedidikan, keluarga berencana dan kesehatan; biaya transaksi menurun sebagai hasil dari pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya yang memungkinkan penduduk miskin untuk terlibat dalam proses pembangunan; dan manajemen ekonomi makro yang baik (sejak akhir tahun 1970-an) juga diiringi dengan terbentuknya nilai tukar mata uang yang kompetitif.

Pada tahun–tahun awal pemerintahan Soeharto sebelum periode OPEC, perumusan kebijakan difokuskan pada Pada tahun–tahun awal pemerintahan Soeharto sebelum periode OPEC, perumusan kebijakan difokuskan pada Pada tahun–tahun awal pemerintahan Soeharto sebelum periode OPEC, perumusan kebijakan difokuskan pada Pada tahun–tahun awal pemerintahan Soeharto sebelum periode OPEC, perumusan kebijakan difokuskan pada Pada tahun–tahun awal pemerintahan Soeharto sebelum periode OPEC, perumusan kebijakan difokuskan pada stabilisasi ekonomi makro.

stabilisasi ekonomi makro.

stabilisasi ekonomi makro.

stabilisasi ekonomi makro.

stabilisasi ekonomi makro. Selama periode tahun 1966–1973, saat pemerintahan Soeharto mengonsolidasikan kekuatan politiknya, perubahan menyeluruh dalam kebijakan ekonomi menandai tahap awal liberalisasi ekonomi: pemulihan kemungkinan kerja sama dengan pihak luar, pemberlakuan pembatasan fiskal, pemulihan sistem perbankan dan liberalisasi rezim investasi (Hofman dkk, 2004). Investasi besar juga dilakukan dalam rangka memperbaiki sektor pertanian melalui upaya perbaikan irigasi, pengenalan bibit unggul padi,6 impor dan distribusi pupuk, serta program Bimas7 berupa perluasan Lahan pertanian dan kredit usaha tani. Karena ukuran lahan rata-rata kurang dari setengah hektar, program intensifikasi padi menghasilkan keuntungan yang tinggi (Afiff dan Timmer, 1971)8 dan produksi pangan serta pasokan pangan secara umum meningkat dengan tajam. Angka pertumbuhan ekonomi melejit hingga mencapai 12 persen pada tahun 1968 dan angka kemiskinan menurun drastis sebesar 10 poin persentase menjadi 60 persen selama periode tujuh tahun pada saat perekonomian berada dalam kondisi stabil. Angka pertumbuhan tahunan berada pada kisaran 7 dan 9 persen selama era 1970-an (Hofman dkk, 2004).

Kelanjutan pengelolaan ekonomi makro yang baik merupakan kunci keberhasilan dari ledakan pertumbuhan pada Kelanjutan pengelolaan ekonomi makro yang baik merupakan kunci keberhasilan dari ledakan pertumbuhan pada Kelanjutan pengelolaan ekonomi makro yang baik merupakan kunci keberhasilan dari ledakan pertumbuhan pada Kelanjutan pengelolaan ekonomi makro yang baik merupakan kunci keberhasilan dari ledakan pertumbuhan pada Kelanjutan pengelolaan ekonomi makro yang baik merupakan kunci keberhasilan dari ledakan pertumbuhan pada tahun-tahun berikutnya.

tahun-tahun berikutnya.

tahun-tahun berikutnya.

tahun-tahun berikutnya.

tahun-tahun berikutnya. Sejak tahun 1973 sampai 1983, kenaikan harga minyak secara pesat memberikan keuntungan yang tak terduga bagi para eksportir minyak di seluruh dunia. Di Indonesia, pendapatan minyak meningkat tujuh kali lipat, dari 0,4 miliar dolar AS di tahun 1973 menjadi 2,8 miliar dolar AS pada tahun 1975, dan melonjak menjadi 4,4 miliar dolar AS pada 1979 akibat gejolak yang dipicu oleh terjadinya revolusi Iran. Keuntungan tak terduga dari minyak ini menimbulkan surplus pada aktiva lancar dan meningkatkan anggaran pendapatan, yang memungkinkan perluasan ekonomi dan investasi publik yang luar biasa di bidang infrastruktur, kesehatan dan pendidikan. Perkiraan resmi pertama kali mengenai angka kemiskinan, yang dilakukan berdasarkan Susenas (1976), menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan nasional sebesar 40 persen (lihat Lampiran II.1).

Pengelolaan nilai tukar mata uang yang baik memungkinkan Indonesia untuk mendorong perekonomian yang Pengelolaan nilai tukar mata uang yang baik memungkinkan Indonesia untuk mendorong perekonomian yang Pengelolaan nilai tukar mata uang yang baik memungkinkan Indonesia untuk mendorong perekonomian yang Pengelolaan nilai tukar mata uang yang baik memungkinkan Indonesia untuk mendorong perekonomian yang Pengelolaan nilai tukar mata uang yang baik memungkinkan Indonesia untuk mendorong perekonomian yang dipicu oleh ekspor dan pertumbuhan padat-kar

dipicu oleh ekspor dan pertumbuhan padat-kar dipicu oleh ekspor dan pertumbuhan padat-kar dipicu oleh ekspor dan pertumbuhan padat-kar

dipicu oleh ekspor dan pertumbuhan padat-karya, yang memastikan penduduk miskin terkena dampak dariya, yang memastikan penduduk miskin terkena dampak dariya, yang memastikan penduduk miskin terkena dampak dariya, yang memastikan penduduk miskin terkena dampak dariya, yang memastikan penduduk miskin terkena dampak dari pertumbuhan ekonomi di negara ini.

pertumbuhan ekonomi di negara ini.

pertumbuhan ekonomi di negara ini.

pertumbuhan ekonomi di negara ini.

pertumbuhan ekonomi di negara ini. Antara tahun 1976 dan 1978, distribusi pendapatan sangat tidak merata karena nilai keuntungan produksi barang perdagangan, terutama di bidang pertanian, turun akibat menguatnya nilai rupiah (Warr, 1984). Meskipun dimensi wilayah dan komoditas dari kemiskinan menutupi gambaran sebenarnya mengenai faktor ekonomi yang menjadi penyebab utama terjadinya kemiskinan, pada pertengahan tahun 1970-an mulai tumbuh kesadaran mengenai terjadinya ketimpangan pendapatan dan kemiskinan yang tajam di wilayah pedesaan. Para teknokrat mengambil pendekatan yang sangat strategis terhadap apa yang waktu itu didiagnosis sebagai ’Wabah Belanda’ (Dutch Disease), dan pada bulan November 1978 dilakukan devaluasi terhadap rupiah, langkah yang sangat mengejutkan pasar uang. Produksi barang perdagangan segera pulih, khususnya di sektor pertanian. Setelah tahun 1978, angka kemiskinan menurun kembali, berkat membaiknya distribusi pendapatan (19,9 persen di wilayah pedesaan) yang dihimpun dari 40 persen terbawah dari distribusi tersebut (lihat Tabel 2.2). Pada akhir dekade tersebut, angka kemiskinan per kepala turun menjadi 28,6 persen. Namun, Koefisien Gini ketimpangan pendapatan secara nasional mencapai titik tertinggi selama

6 Data ini diperoleh dari International Rice Research Institute (IRRI).

7 Bimbingan Massal atau Bimas adalah program kredit yang disubsidi pemerintah pada era 1970-an dan 1980-an untuk mendukung revolusi hijau, yaitu penggunaan bibit unggul dan pestisida untuk meningkatkan produksi pertanian.

8 Meskipun, para petani yang lebih besar (yakni, mereka yang menggarap lahan sekitar satu hektar) merupakan pihak yang memperoleh keuntungan tertinggi pada tahun-tahun awal.

sisa dekade tersebut. Pemerintah memastikan bahwa berbagai penyesuaian dilakukan pada dekade berikutnya. Pada tahun 1983, ketika lonjakan harga minyak dunia mulai menurun dan harga komoditas jatuh, Indonesia merestrukturisasi ekonomi dan kebijakannya dengan melakukan penurunan (devaluasi) nilai rupiah dan menjalankan perdagangan terbuka. Pertanian terus tumbuh dan harga beras dijaga agar seolah-olah stabil. Pada saat bersamaan, pemerintah juga melakukan perlindungan nilai tukar yang agresif, serta melakukan devaluasi: pertama di tahun 1983 dan kemudian pada tahun 1986 (Hill, 1996; Thorbecke, 1995).

9 Kedua sektor komersial itu merupakan ”mesin-mesin pertumbuhan” karena kedua sektor tersebut berpotensi menghasilkan peningkatan produktivitas yang pesat. Namun, menghubungkan kedua sektor tersebut dengan sektor non-perdagangan adalah kunci bagi terciptanya elastisitas yang tinggi dalam hubungan antara pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dan pengurangan kemiskinan yang cepat. Penduduk miskin cenderung tidak terbawa dalam proses pertumbuhan, kecuali jika permintaan karena adanya kenaikan penghasilan di sektor komersial juga melimpah ke sektor non-perdagangan.

10 Kecilnya jangkauan peningkatan produktivitas di sektor non-perdagangan tepatnya memerlukan nilai upah yang lebih tinggi di sektor perdagangan. Namun perhitungan pendapatan negara tidak dibuat berdasarkan pembedaan ini, sehingga data tersebut memberikan gambaran yang lebih umum.

Pada pertengahan tahun 1980-an dilakukan serangkaian langkah reformasi perdagangan untuk mengoreksi bias Pada pertengahan tahun 1980-an dilakukan serangkaian langkah reformasi perdagangan untuk mengoreksi biasPada pertengahan tahun 1980-an dilakukan serangkaian langkah reformasi perdagangan untuk mengoreksi bias Pada pertengahan tahun 1980-an dilakukan serangkaian langkah reformasi perdagangan untuk mengoreksi biasPada pertengahan tahun 1980-an dilakukan serangkaian langkah reformasi perdagangan untuk mengoreksi bias impor dan membangun rezim perdagangan yang berpihak pada penduduk miskin.

impor dan membangun rezim perdagangan yang berpihak pada penduduk miskin. impor dan membangun rezim perdagangan yang berpihak pada penduduk miskin.

impor dan membangun rezim perdagangan yang berpihak pada penduduk miskin. impor dan membangun rezim perdagangan yang berpihak pada penduduk miskin. Perdagangan terbuka yang baru digulirkan di Indonesia menimbulkan peningkatan yang signifikan pada peran sektor manufaktur. Menjelang tahun 1986, kebijakan substitusi impor yang menghambat pertumbuhan negara selama era 1970-an diganti dengan strategi yang difokuskan pada ekspor manufaktur padat-karya. Dengan berlangsungnya pertumbuhan industri berbasis luas, pada 1980-an pemerintah terlihat berupaya sungguh-sungguh untuk menggalakkan ekspor. Sektor manufaktur menyumbang 29,2 persen dari pertumbuhan PDB antara tahun 1987 sampai 1992, peningkatan yang mencolok dari nilai kontribusi yang hanya 10 persen selama masa pemulihan ekonomi antara tahun 1967–1973 (Hill, 1996). Deregulasi ekonomi dalam skala besar dan berkelanjutan memberikan insentif yang lebih baik bagi ekspor, dan ini sejalan dengan insentif untuk penanaman modal asing langsung (Foreign Direct Investment, FDI). Respons ekspor manufaktur bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan, dan menyumbang hampir setengah dari seluruh ekspor hingga menjelang tahun 1992, yang berarti mengalami kenaikan secara drastis dari hanya 3 persen pada tahun 1980. Dorongan tak terduga akibat penanaman modal asing langsung dari Jepang dan tarikan iklim investasi yang menarik di Indonesia memungkinkan sektor industri manufaktur menjadi penyedia lapangan kerja yang penting bagi penduduk miskin, yang kemudian meningkatkan nilai upah di akhir tahun 1980-an. Pertumbuhan di sektor komersial ini menghasilkan ledakan di bidang ekonomi non-perdagangan9 yang merupakan bidang mata pencarian sebagian besar penduduk miskin (Timmer, 1997 dan 2002). Karena ekonomi ekspor mengalami bonanza pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, PDB secara keseluruhan naik hampir mencapai 7 persen per tahun, yang kira-kira setengah darinya merupakan pertumbuhan di bidang barang non-perdagangan dan jasa (Timmer, 2004). 10

Tabel 2.2 Elastisitas kemiskinan terhadap pertumbuhan bervariasi sepanjang waktu dengan laju pengurangan kemiskinan tecepat terjadi pada periode 1976-1987

Perubahan tahunan Perubahan tahunanPerubahan tahunan

Perubahan tahunanPerubahan tahunan Perubahan tahunanPerubahan tahunanPerubahan tahunanPerubahan tahunanPerubahan tahunan Elastisitas kemiskinanElastisitas kemiskinanElastisitas kemiskinanElastisitas kemiskinanElastisitas kemiskinan persentase pendapatan per

persentase pendapatan perpersentase pendapatan per persentase pendapatan per

persentase pendapatan per persentase indeks kemiskinanpersentase indeks kemiskinanpersentase indeks kemiskinanpersentase indeks kemiskinanpersentase indeks kemiskinan terhadap pertumbuhanterhadap pertumbuhanterhadap pertumbuhanterhadap pertumbuhanterhadap pertumbuhan kapita

kapitakapita kapitakapita

1967-76 5,48 -6,0 -1,09

1976-80 6,37 - 8,1 -1,27

1980-84 4,23 -6,8 -1,61

1984-87 2,69 - 7,0 -2,60

1987-90 5,66 - 4,6 -0,81

1990-93 5,41 - 4,6 -0,85

1993-96 5,23 - 6,2 -1,19

1996-99 - 3,25 9,9 -3,05 (+)

1999-2002 2,49 -8,2 -3,29

Sumber: Timmer, 2005.

Catatan: Elastisitas Kemiskinan terhadap Pertumbuhan (Poverty Elasticity of Growth, atau PEG) dihitung sebagai rasio persentase pengurangan indeks kemiskinan (headcount poverty index) terhadap persentase perubahan indeks pendapatan per kapita (dalam dolar AS) dari Data Base Bank Dunia tentang Pertumbuhan yang Berpihak pada Penduduk Miskin.

Reformasi kebijakan perdagangan disertai dengan investasi terarah—yang dimungkinkan oleh adanya keuntungan Reformasi kebijakan perdagangan disertai dengan investasi terarah—yang dimungkinkan oleh adanya keuntungan Reformasi kebijakan perdagangan disertai dengan investasi terarah—yang dimungkinkan oleh adanya keuntungan Reformasi kebijakan perdagangan disertai dengan investasi terarah—yang dimungkinkan oleh adanya keuntungan Reformasi kebijakan perdagangan disertai dengan investasi terarah—yang dimungkinkan oleh adanya keuntungan besar dari minyak—pada sektor

besar dari minyak—pada sektor besar dari minyak—pada sektor besar dari minyak—pada sektor

besar dari minyak—pada sektor-sektor yang bermanfaat bagi penduduk miskin. -sektor yang bermanfaat bagi penduduk miskin. -sektor yang bermanfaat bagi penduduk miskin. -sektor yang bermanfaat bagi penduduk miskin. Pengelolaan makro ekonomi yang-sektor yang bermanfaat bagi penduduk miskin.

baik sangat didukung oleh investasi di sektor-sektor yang menguntungkan penduduk miskin, seperti pendidikan, kesehatan, keluarga berencana dan infrastruktur, yang memungkinkan penduduk miskin dapat menikmati keuntungan dari kenaikan harga minyak pada tingkat rumah tangga. Bagian berikut tulisan ini menggambarkan instrumen-instrumen kebijakan dan hasil-hasil yang diraihnya.

Sejak pertengahan 1970-an, Indonesia melakukan investasi besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya Sejak pertengahan 1970-an, Indonesia melakukan investasi besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya Sejak pertengahan 1970-an, Indonesia melakukan investasi besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya Sejak pertengahan 1970-an, Indonesia melakukan investasi besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya Sejak pertengahan 1970-an, Indonesia melakukan investasi besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk pendidikan rakyatnya.

untuk pendidikan rakyatnya.

untuk pendidikan rakyatnya.

untuk pendidikan rakyatnya.

untuk pendidikan rakyatnya. Sejak tahun 1973 dan setelahnya, pemerintah mendanai pembangunan sekolah-sekolah dalam rangka pengembangan pendidikan dasar melalui program-program pembangunan yang dikendalikan dari pusat (Inpres11) dan selama dekade berikutnya belanja negara meningkat dua kali lipat. Antara tahun 1973-74 dan 1978-79, lebih dari 60.000 sekolah dasar (SD) didirikan dengan biaya lebih dari 500 juta dolar AS (dolar AS 1990), atau 1,5 persen dari PDB Indonesia tahun 1973 (Duflo, 2001). Ini merupakan program pembangunan sekolah dasar tercepat yang pernah dilakukan di dunia. Sejalan dengan pembangunan sekolah, pemerintah juga melatih dan merekrut lebih banyak guru.

Menurut Duflo, program Inpres ini menghasilkan peningkatan rata-rata lamanya pendidikan dari 0,24 menjadi 0,40 dan peningkatan peluang (probabilitas) seorang anak dapat menyelesaikan sekolah dasar sebesar 12 persen.

Angka partisipasi sekolah dasar meningkat dua kali lipat dari 13,1 juta di tahun 1973 menjadi 26,4 juta pada Angka partisipasi sekolah dasar meningkat dua kali lipat dari 13,1 juta di tahun 1973 menjadi 26,4 juta pada Angka partisipasi sekolah dasar meningkat dua kali lipat dari 13,1 juta di tahun 1973 menjadi 26,4 juta pada Angka partisipasi sekolah dasar meningkat dua kali lipat dari 13,1 juta di tahun 1973 menjadi 26,4 juta pada Angka partisipasi sekolah dasar meningkat dua kali lipat dari 13,1 juta di tahun 1973 menjadi 26,4 juta pada tahun 1986, yang menjangkau lebih dari 90 persen anak usia sekolah dasar

tahun 1986, yang menjangkau lebih dari 90 persen anak usia sekolah dasar tahun 1986, yang menjangkau lebih dari 90 persen anak usia sekolah dasar tahun 1986, yang menjangkau lebih dari 90 persen anak usia sekolah dasar

tahun 1986, yang menjangkau lebih dari 90 persen anak usia sekolah dasar (Filmer dkk., 2002). Tidak mengherankan jika pada awalnya kalangan penduduk yang lebih sejahtera merupakan kelompok masyarakat yang lebih diuntungkan dengan program investasi di bidang pendidikan tersebut. Namun, bukti menunjukkan bahwa kalangan penduduk miskin banyak memperoleh manfaat dari perluasan pembangunan sekolah dasar antara tahun 1978 dan 1997, dan perluasan pembangunan sekolah menengah menjadi lebih berpihak pada penduduk miskin pada dasawarsa 1987-1997 (Lanjouw dkk., 2001). Lebih lanjut, menjelang 1990-an, jurang perbedaan tingkat partisipasi pendidikan antara laki-laki dan perempuan menyempit, dan di banyak universitas terbaik, perempuan mendominasi kelas-kelas (Hull, 2004). Namun di balik keberhasilan ini, perbaikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan di tingkat sekolah dasar tidak disertai dengan peningkatan mutu sekolah dan tidak berhasil diperluas hingga ke tingkat sekolah menengah.

Dengan meningkatnya jumlah anak perempuan dan perempuan muda yang berpendidikan, angka kelahiran di Dengan meningkatnya jumlah anak perempuan dan perempuan muda yang berpendidikan, angka kelahiran di Dengan meningkatnya jumlah anak perempuan dan perempuan muda yang berpendidikan, angka kelahiran di Dengan meningkatnya jumlah anak perempuan dan perempuan muda yang berpendidikan, angka kelahiran di Dengan meningkatnya jumlah anak perempuan dan perempuan muda yang berpendidikan, angka kelahiran di Indonesia mengalami penurunan yang berarti selama periode ini

Indonesia mengalami penurunan yang berarti selama periode ini Indonesia mengalami penurunan yang berarti selama periode ini Indonesia mengalami penurunan yang berarti selama periode ini

Indonesia mengalami penurunan yang berarti selama periode ini (lihat Gambar 2.2 tentang Transformasi Struktural di Indonesia). Seperti halnya negara-negara lain di kawasan Asia Timur, Indonesia juga mengalami penurunan angka kelahiran: dari 5,6 kelahiran per perempuan pada 1970 menjadi 2,6 kelahiran pada 1990 (WHO, 2003). Akan tetapi, penurunan ini ini juga menunjukkan perbedaan besar antarwilayah. Misalnya, angka kelahiran di Jakarta berada jauh di bawah angka rata-rata nasional, sementara di Nusa Tenggara dan Maluku masih sebesar 3,3 dan 3,8 (Sensus Penduduk Indonesia, 2000). Bukti menunjukkan bahwa penurunan angka kelahiran sebagian besar didorong oleh tingkat pendidikan dan kenaikan minat pada pendidikan. Pada saat program Keluarga Berencana diperkenalkan pada tahun 1970, hanya setengah dari perempuan usia subur (15-30 tahun) yang telah mengenyam sekolah dasar. Dalam tiga dekade berikutnya, jumlah ini meningkat dengan tajam sehingga pada peralihan abad ini hanya tinggal 2 persen dari kelompok perempuan ini yang buta huruf (Hull, 2005). Berbagai kajian menyimpulkan bahwa penurunan angka kelahiran di Indonesia dipengaruhi oleh pengurangan jumlah anggota keluarga yang diinginkan oleh generasi para calon ibu (dengan pendidikan sebagai penggerak ganda) dan adanya kesempatan untuk mengendalikan kelahiran secara signifikan dengan tersedianya berbagai bentuk alat pengendali kehamilan yang efisien yang disponsori pemerintah.12

11 Lihat juga Lampiran tentang Inpres Bantuan Pembangunan dalam Bab 5 tentang Belanja Pemerintah.

12 Dua penggerak saling memperkuat—semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, semakin tinggi keinginan dan harapan mereka terhadap anak. Salah satu faktor yang mempertinggi proses ini di Indonesia adalah kesetaraan gender relatif yang didukung oleh budaya. Meskipun anak laki-laki mungkin memperoleh lebih banyak perhatian daripada anak perempuan, perbedaan ini tidak sebesar perbedaan yang dapat ditemukan di China atau budaya masyarakat Asia Selatan (Hull, 2004, hlm. 2). Namun, keberlanjutan tingkat fertilitas saat ini masih dipertanyakan (lihat misalnya Shoemaker, 2005).

Garis besar

Dokumen terkait