• Tidak ada hasil yang ditemukan

10 = Tanpa Korupsi

Korea Selatan

Taiwan Malaysia

Singapura Hong Kong Thailand

Indonesia

Di samping tingkat korupsi yang tinggi, ketika krisis melanda, pihak pemimpin hanya memiliki sumber dukungan Di samping tingkat korupsi yang tinggi, ketika krisis melanda, pihak pemimpin hanya memiliki sumber dukungan Di samping tingkat korupsi yang tinggi, ketika krisis melanda, pihak pemimpin hanya memiliki sumber dukungan Di samping tingkat korupsi yang tinggi, ketika krisis melanda, pihak pemimpin hanya memiliki sumber dukungan Di samping tingkat korupsi yang tinggi, ketika krisis melanda, pihak pemimpin hanya memiliki sumber dukungan rakyat terbatas yang dapat digerakkan.

rakyat terbatas yang dapat digerakkan.

rakyat terbatas yang dapat digerakkan.

rakyat terbatas yang dapat digerakkan.

rakyat terbatas yang dapat digerakkan. Dua faktor terlihat menonjol dalam Tabel 2.4. Hingga saat itu, Indonesia memiliki pemimpin yang telah memegang tampuk kekuasaan terlama dibandingkan dengan pemimpin mana pun di negara-negara yang terkena dampak krisis keuangan Asia. Selain itu, proses pengambilan keputusan di Indonesia sangat terpusat.

Sementara negara-negara lain yang terkena dampak krisis—seperti Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia—telah mengembangkan setidaknya lembaga perwakilan selama dasawarsa 1980-an dan 1990-an, Indonesia terus menempuh jalur otoriter, dengan kekuatan nyata yang terus-menerus terpusat pada presiden dan keluarganya, kroni-kroni tertentu, dan kelompok militer. Pada masa-masa yang lebih baik, pemerintah memiliki kekuasaan untuk membuat dan memberlakukan berbagai kebijakan hampir tanpa melibatkan pihak lain. Namun, ketika pengorbanan seluruh rakyat di negara ini diperlukan, hanya ada sedikit cadangan dukungan yang dapat diperoleh dari rakyat yang telah merasa kecewa.

Gambar 2.3 Korupsi di Indonesia tetap menjadi sumber kelemahan yang potensial dalam periode 1980-1998

Sumber: Transparency International, diambil dari Haggard, 2000.

Tabel 2.4 Indonesia memiliki pemimpin yang telah memegang tampuk kekuasaan terlama diantara negara-negara yang terkena dampak krisis keuangan Asia

Thailand Korea Selatan Malaysia Indonesia Thailand Korea Selatan Malaysia Indonesia Thailand Korea Selatan Malaysia Indonesia Thailand Korea Selatan Malaysia Indonesia Thailand Korea Selatan Malaysia Indonesia

Pemimpin Perdana Menteri Presiden Perdana Menteri Presiden

Chavalit Yongchaiyudh Kim Young Sam Mahathir Mohammad Soeharto

Mulai menjabat November 1996 Februari 1993 Juli 1981 Maret 1966

Proses pengambilan Parlementer, koalisi Presidensil, Parlementer, Otoriter, sangat

keputusan enam partai pemerintahan pemerintahan, tersentralisasi

terpadu namun koalisi dengan dengan perpecahan dominasi partai

antara lembaga UMNO

eksekutif, legislatif dan intra-partai Sumber: Haggard, 2000.

Jadi, walaupun kepemimpinan yang terpusat dan pertumbuhan yang pesat mampu menutupi kekurangan yang Jadi, walaupun kepemimpinan yang terpusat dan pertumbuhan yang pesat mampu menutupi kekurangan yang Jadi, walaupun kepemimpinan yang terpusat dan pertumbuhan yang pesat mampu menutupi kekurangan yang Jadi, walaupun kepemimpinan yang terpusat dan pertumbuhan yang pesat mampu menutupi kekurangan yang Jadi, walaupun kepemimpinan yang terpusat dan pertumbuhan yang pesat mampu menutupi kekurangan yang mendasar ini selama masa-masa baik, kekompakan sosial antara warga dan pemerintah segera sirna ketika dilanda mendasar ini selama masa-masa baik, kekompakan sosial antara warga dan pemerintah segera sirna ketika dilanda mendasar ini selama masa-masa baik, kekompakan sosial antara warga dan pemerintah segera sirna ketika dilanda mendasar ini selama masa-masa baik, kekompakan sosial antara warga dan pemerintah segera sirna ketika dilanda mendasar ini selama masa-masa baik, kekompakan sosial antara warga dan pemerintah segera sirna ketika dilanda tekanan berat.

tekanan berat.

tekanan berat.

tekanan berat.

tekanan berat. Sementara bangsa lain memiliki koalisi yang relatif luas yang dapat digunakan untuk mendistribusikan beban penderitaan kepada segmen masyarakat yang lebih luas, di Indonesia pemimpin yang relatif terkucil segera mendapati bahwa ia tidak memiliki koalisi yang efektif, dan bahwa tidak mungkin untuk ‘menegakkan benang basah’, yakni menuntut pengorbanan dan kompromi baik dari golongan elit yang memerintah maupun masyarakat awam. Masyarakat, yang telah lama diabaikan, tidak begitu tertarik mendukung rezim ini pada masa-masa sulit (Bourchier dan Hadiz, eds., 2003), dan golongan elit, yang sudah lama terbiasa membuat dan memaksakan peraturan, tidak mampu melaksanakan kebijakan-

kebijakan yang diperlukan karena hal tersebut akan secara langsung merugikan kepentingan finansial mereka (Bourchier dan Hadiz, eds., 2003; MacIntyre 2003; Haggard, 2000) Dengan demikian, rezim ini menghadapi pilihan-pilihan kebijakan yang sangat terbatas, dan tidak mampu mendorong munculnya semangat berkorban dan mewujudkan proses pemulihan yang cepat.

Krisis ekonomi memukul penduduk miskin lewat kenaikan harga beras yang tajam dan hilangnya pekerjaan secara Krisis ekonomi memukul penduduk miskin lewat kenaikan harga beras yang tajam dan hilangnya pekerjaan secaraKrisis ekonomi memukul penduduk miskin lewat kenaikan harga beras yang tajam dan hilangnya pekerjaan secara Krisis ekonomi memukul penduduk miskin lewat kenaikan harga beras yang tajam dan hilangnya pekerjaan secaraKrisis ekonomi memukul penduduk miskin lewat kenaikan harga beras yang tajam dan hilangnya pekerjaan secara meluas dan cepat.

meluas dan cepat.meluas dan cepat.

meluas dan cepat.meluas dan cepat. Krisis tersebut memang juga menimpa golongan penduduk kaya karena harta mereka kehilangan nilainya. Akan tetapi, dampak krisis tersebut bagi keluarga miskin dan hampir-miskin di seluruh negeri sangat dahsyat karena mereka kehilangan pekerjaan dan jauh lebih menderita akibat kenaikan harga beras dan barang-barang dagangan lainnya yang memicu inflasi. Hal yang paling parah adalah kenaikan harga beras sebesar 300 persen di sepanjang tahun sejak dimulainya krisis keuangan Asia, yang memuncak pada bulan September 1998 (lihat Gambar 2.4).29 Hal itu khususnya dirasa berat oleh penduduk yang menyisihkan 20-25 persen dari pengeluaran rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan ini saja. Karena beras memberi kontribusi hingga setengah dari rata-rata asupan energi orang Indonesia, hal itu pasti berdampak besar pada tingkat gizi pada bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya (Block dkk., 2002).

%FTA .FJA 0LUA .BSA "HTA +BOA +VOA /PWA "QSA 4FQA 'FCA +VMA

*OEFLT)BSHB%FTFNCFSA

4FQUFNCFS

)BSHBCFSBT )BSHBQSPEVLQBOHBO )BSHBQSPEVLOPOQBOHBO

4FQUFNCFS

29 Kenaikan paling tajam terjadi sejak Juni hingga bulan September 1998.

Banyak penduduk miskin dan bukan miskin yang terhubung dengan sektor manufaktur Banyak penduduk miskin dan bukan miskin yang terhubung dengan sektor manufakturBanyak penduduk miskin dan bukan miskin yang terhubung dengan sektor manufaktur

Banyak penduduk miskin dan bukan miskin yang terhubung dengan sektor manufakturBanyak penduduk miskin dan bukan miskin yang terhubung dengan sektor manufaktur, industri dan konstruksi, industri dan konstruksi, industri dan konstruksi, industri dan konstruksi, industri dan konstruksi kehilangan pekerjaan.

kehilangan pekerjaan. kehilangan pekerjaan.

kehilangan pekerjaan. kehilangan pekerjaan. Selain mengalami kenaikan tajam dalam biaya kebutuhan pokok dan komoditas-komoditas lainnya, para pekerja di sektor non-pertanian dan wilayah perkotaan khususnya menderita tatkala pasar kerja mengalami penyusutan.

Angka kemiskinan (poverty headcount) di daerah perkotaan naik sebesar 43 persen antara 1996 dan 1999, sementara di daerah pedesaan angka tersebut naik sebesar 32 persen (BPS). Jarak rata-rata antara standar hidup rumah tangga miskin dan garis kemiskinan juga meningkat tajam selama masa krisis, yang menunjukkan makin melebarnya jurang kemiskinan di Indonesia. Indeks tingkat keparahan kemiskinan (poverty severity index) di wilayah perkotaan naik sebesar 300 persen selama periode ini, dibandingkan dengan kenaikan 84 persen di wilayah pedesaan (Pritchett, Sumarto, dan Suryahadi, 1999).

Petani Petani Petani Petani

Petani SemuaSemuaSemuaSemuaSemua SeluruhSeluruhSeluruhSeluruhSeluruh padi

padi padi padi

padi PetaniPetaniPetaniPetaniPetani IndonesiaIndonesiaIndonesiaIndonesiaIndonesia Perkotaan

Perkotaan Perkotaan Perkotaan

Perkotaan 27.6727.6727.6727.6727.67 73.773.773.773.773.7 94.5394.5394.5394.5394.53

Penduduk miskin 25.26 67.32 85.79

perkotaan

Penduduk non miskin 28.49 75.91 95.51

perkotaan Pedesaan Pedesaan Pedesaan Pedesaan

Pedesaan 26.6326.6326.6326.6326.63 64.1964.1964.1964.1964.19 72.2672.2672.2672.2672.26

Penduduk miskin 33.17 68.1 72.14

pedesaan

Penduduk non miskin 25.17 63.17 72.28

pedesaaan T

TTTTotalotalotalotalotal 26.7726.7726.7726.7726.77 65.4465.4465.4465.4465.44 82.7482.7482.7482.7482.74

Miskin 31.79 67.98 76.46

Non-miskin 25.57 64.75 82.74

Sumber: BPS. Sumber: Susenas, 2004.

Gambar 2.4 Harga beras meningkat tajam selama krisis… ...langsung mepengaruhi penduduk miskin yang sebagian merupakan konsumen beras, bahkan di wilayah pedesaan

Kenaikan harga beras relatif terhadap barang lain Persentase rumah tangga yang mengkonsumsi beras bersih (%)

Buah dari strategi menghadapi krisis yang digunakan oleh rumah tangga yang terkena dampak krisis pada masa Buah dari strategi menghadapi krisis yang digunakan oleh rumah tangga yang terkena dampak krisis pada masaBuah dari strategi menghadapi krisis yang digunakan oleh rumah tangga yang terkena dampak krisis pada masa Buah dari strategi menghadapi krisis yang digunakan oleh rumah tangga yang terkena dampak krisis pada masaBuah dari strategi menghadapi krisis yang digunakan oleh rumah tangga yang terkena dampak krisis pada masa tidak lama sesudah krisis adalah banyaknya penduduk yang berbalik arah menempuh jalan yang sebelumnya tidak lama sesudah krisis adalah banyaknya penduduk yang berbalik arah menempuh jalan yang sebelumnyatidak lama sesudah krisis adalah banyaknya penduduk yang berbalik arah menempuh jalan yang sebelumnya tidak lama sesudah krisis adalah banyaknya penduduk yang berbalik arah menempuh jalan yang sebelumnyatidak lama sesudah krisis adalah banyaknya penduduk yang berbalik arah menempuh jalan yang sebelumnya telah membawa mereka keluar dari kemiskinan.

telah membawa mereka keluar dari kemiskinan.telah membawa mereka keluar dari kemiskinan.

telah membawa mereka keluar dari kemiskinan.telah membawa mereka keluar dari kemiskinan. Untuk mengurangi hantaman krisis yang menimpa sektor perkotaan yang bersifat formal dan modern, banyak rumah tangga yang terkena dampak krisis berbalik arah, dari wilayah perkotaan ke wilayah pedesaan, dari sektor formal ke sektor informal, dan dari bentuk modern ke bentuk tradisional, dari sektor non- pertanian ke sektor pertanian—kebalikan dari proses transformasi struktural. Hal ini mengakibatkan bentuk pasar kerja mengalami perubahan penting. Data yang lebih terperinci (Lampiran II.5) menunjukkan bahwa perekonomian yang bersifat informal dan berbasis di wilayah pedesaan telah menyerap tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sektor formal dan berbasis perkotaan. Krisis ini pun berdampak pada sedikit meningkatnya sektor-sektor seperti pertanian dan manfaktur, sementara sektor lainnya seperti konstruksi, keuangan, dan perdagangan mengalami penyusutan (lihat Tabel 2.5). Sifat lentur atau fleksibel pasar kerja Indonesia mengandung kelebihan sekaligus kelemahan: sementara jumlah pengangguran hanya mengalami sedikit kenaikan (lihat Tabel 2.6), tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan upah riil mengalami penurunan tajam sebesar 27 persen.

Gambar 2.6 Upah riil terkikis oleh inflasi semasa krisis, secara mengejutkan mengakibatkan stabilnya tingkat pengangguran

1996 1996 1996 1996

1996 19971997199719971997 19981998199819981998 19991999199919991999 20002000200020002000 20012001200120012001 20022002200220022002

Upah minimum riil (Rp) 311.444 324.204 235.127 225.756 279.416 323.650 372.851

Tingkat pengangguran (%) 5,0 4,7 5,5 6,4 6,1 5,4 5,9

Sumber: World Bank Database, upah riil dihitung berdasarkan harga konstan tahun 2002. Angka pengangguran mengikuti definisi Sakernas.

Rumah tangga juga memangkas pengeluaran mereka, yang mengakibatkan meningkatnya angka malnutrisi.

Rumah tangga juga memangkas pengeluaran mereka, yang mengakibatkan meningkatnya angka malnutrisi.Rumah tangga juga memangkas pengeluaran mereka, yang mengakibatkan meningkatnya angka malnutrisi.

Rumah tangga juga memangkas pengeluaran mereka, yang mengakibatkan meningkatnya angka malnutrisi.Rumah tangga juga memangkas pengeluaran mereka, yang mengakibatkan meningkatnya angka malnutrisi. Hal ini tidak hanya memiliki dampak jangka pendek, tetapi juga dampak jangka panjang pada aset-aset manusia dan rumah tangga: kesehatan, pendidikan, dan tabungan. Sebagian dampak jangka panjang dari krisis ini dapat dilihat lewat meningkatnya angka gizi buruk di kalangan anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Angka gizi buruk di kalangan anak-anak ini memiliki kecenderungan menurun hingga tahun 2000. Angka gizi buruk di Indonesia mencapai titik rendah hingga 23 persen pada tahun tersebut, tetapi kemudian naik hingga hampir 26 persen pada tahun 2003 (Block dkk., 2002).30

30 Data yang digunakan dalam kajian yang dikutip di sini diambil dari komponen-komponen Core, Module and Yodium (survei tentang konsumsi garam beryodium) yang berasal dari Survei Sosial- Ekonomi Nasional (Susenas). Untuk memastikan bahwa data dapat dibandingkan dari waktu ke waktu, provinsi Aceh, Maluku dan Papua, data hasil survey panel yang lengkap tidak tersedia, tidak dimasukkan dalam analisis ini. Lihat Abreu (2005). Kenaikan angka gizi buruk tampaknya disebabkan oleh kombinasi sejumlah pengaruh, termasuk dampak perubahan harga relatif beras, singkong dan minyak sayur (sebagai efek samping dari depresiasi nilai rupiah sesudah krisis dan kebijakan pemerintah mengenai impor beras), dan adanya efek kohor dari anak-anak yang terlampau kurus yang lahir selama atau persis sesudah krisis tahun 1998. Tidak semua hal tersebut disebabkan oleh krisis yang terjadi. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan suplemen susu bayi sebagai pengganti air susu ibu, yang jumlahnya meningkat hampir sebesar 10 persen selama beberapa tahun terakhir ini, memiliki kaitan dengan kenaikan signifikan tingkat gizi buruk. Sementara itu, angka penggunaan

Gambar 2.5 Krisis menyebabkan sektor konstruksi, keuangan dan perdagangan relatif mengalami kontraksi

Distribusi PDB (%) Distribusi PDB (%) Distribusi PDB (%) Distribusi PDB (%)

Distribusi PDB (%) 19961996199619961996 19971997199719971997 19981998199819981998 19991999199919991999 20002000200020002000

Pertanian 15,42 14,88 16,90 17,13 16,63

Pertambangan dan penggalian 9,12 8,90 9,96 9,72 9,77

Industri manufaktur 24,71 24,84 25,33 26,11 26,38

Listrik, gas dan air 1,18 1,26 1,50 1,61 1,65

Konstruksi 7,96 8,16 5,97 5,81 5,85

Perdagangan, hotel, dan restaurant 16,79 16,97 15,98 15,84 15,95

Transportasi dan komunikasi 7,18 7,34 7,17 7,06 7,30

Keuangan, kepemilikan dan usaha 8,79 8,90 7,51 6,92 6,90

Jasa 8,85 8,76 9,69 9,80 9,56

Total PDB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber : BPS, indeks 1993.

Persentase anak-anak dengan gizi buruk Persentase anak-anak dengan gizi burukPersentase anak-anak dengan gizi buruk

Persentase anak-anak dengan gizi burukPersentase anak-anak dengan gizi buruk3131313131 juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun ada juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun ada juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun ada juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun ada juga telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini, meskipun ada kecenderungan untuk turun kembali pada tahun 2001

kecenderungan untuk turun kembali pada tahun 2001kecenderungan untuk turun kembali pada tahun 2001

kecenderungan untuk turun kembali pada tahun 2001kecenderungan untuk turun kembali pada tahun 2001 (Abreu, 2005). Meningkatnya angka gizi buruk juga dapat diamati pada tingkat daerah, meskipun di beberapa daerah kecenderungan naik lebih pesat daripada di beberapa daerah lainnya (lihat Fokus tentang gizi buruk dalam Bab 5 tentang Belanja Pemerintah). Namun, data Susenas menunjukkan bahwa sementara angka gizi buruk terus meningkat hingga tahun 2003, laju peningkatan tersebut telah melambat dan tampaknya mengalami stagnasi. Sumber data lainnya32 menunjukkan bahwa angka gizi buruk di daerah pedesaan berjalan mendatar pada 2003, dan bahkan mulai menurun di daerah perkotaan pada 2002-2003.

Selama masa perekonomian mengalami penyusutan, pemerintah mengembangkan dan memperluas sejumlah Selama masa perekonomian mengalami penyusutan, pemerintah mengembangkan dan memperluas sejumlahSelama masa perekonomian mengalami penyusutan, pemerintah mengembangkan dan memperluas sejumlah Selama masa perekonomian mengalami penyusutan, pemerintah mengembangkan dan memperluas sejumlahSelama masa perekonomian mengalami penyusutan, pemerintah mengembangkan dan memperluas sejumlah program jaring pengaman sosial yang bersifat formal.

program jaring pengaman sosial yang bersifat formal. program jaring pengaman sosial yang bersifat formal.

program jaring pengaman sosial yang bersifat formal. program jaring pengaman sosial yang bersifat formal. Program jaring pengaman sosial (JPS), yang hingga saat itu terkenal dengan catatannya yang kurang dapat diandalkan, terus diperluas untuk melindungi penduduk miskin baik yang telah lama maupun baru dari dampak krisis. Awalnya, program terobosan ini ditujukan bagi daerah perkotaan di seluruh negeri, selain juga ditujukan untuk daerah pedesaan di mana terjadinya gagal panen saat itu telah menyebabkan kehidupan yang sangat sulit. Program JPS ini memiliki empat tujuan: (i) menjamin agar penduduk miskin memperoleh makanan dengan harga yang terjangkau; (ii) menciptakan lapangan kerja; (iii) memelihara akses ke pelayanan sosial seperti kesehatan dan pendidikan; dan (iv) menyokong kegiatan ekonomi lokal melalui paket bantuan daerah dan program kredit skala kecil (Sumarto dkk., 2001). Bukti-bukti memperlihatkan bahwa berbagai program tersebut membuahkan baik keberhasilan maupun kegagalan (SMERU, 2004). Sementara program beasiswa berdampak positif menjaga agar anak-anak dapat tetap bersekolah, dan program kartu kesehatan semakin memudahkan penduduk miskin memperoleh akses ke berbagai sarana kesehatan umum, program Raskin (beras yang disubsidi untuk masyarakat miskin) justru menunjukkan bahwa program ini lebih dinikmati oleh berbagai golongan penduduk yang lebih makmur (lihat pembahasan lebih lanjut dalam Bab 6 tentang Perlindungan Sosial).

Garis besar

Dokumen terkait