will align its activities and initiatives with CIMB Group.
In conjunction with the implementation of Basel II Capital Accord initiatives, CIMB Group has obtained approval from Bank Negara Malaysia to apply the Foundation Internal Rating Based Approach (IRB-F) in calculating credit risk capital charge in 200. As a subsidiary, Bank Niaga will align with CIMB Group in achieving Basel II compliance in 200.
In addition, as a local bank, Bank Niaga will fully comply with Bank Indonesia’s Standardised Approach in credit risk capital charge guidance in 2009.
Bank Niaga has strengthened its resources and infrastructure in preparation for the Basel II implementation. A dedicated Basel II Project Office was set up in 200 to achieve the objectives.
The Basel Committee has been established in Bank Niaga since 200 to monitor all of the initiatives, plans and executions. The Committee’s membership consists of Directors and Senior Executives who have responsibilities in risk management, finance and corporate planning, Information Technology, Operations and Internal Audit and who have frequent meetings to ensure the development of Basel II preparation initiatives and to effectively monitor efforts in implementing the program.
Bank Niaga has set up various infrastructures in the implementation of Basel II initiatives e.g. data profiling, enhancement of score card model and its report, and also application system in calculating Credit Risk Standardised Approach.
CREDIT RISK MANAGEMENT
Credit risk management deals with potential losses arising from the inability of customers to meet their financial obligations to the Bank as they fall due. Credit risk is considered a major risk type for the Bank, which arises primarily from the lending activities, as well as commitments to support our clients’ obligations to third party.
PERSIAPAN PENERAPAN BASEL II
Untuk menjadi ‘Universal Bank’ Terkemuka di Indonesia, Bank Niaga akan menyelaraskan aktivitas dan inisiatifnya dengan CIMB Group. Dalam kaitannya dengan implementasi Basel II Capital Accord, CIMB Group telah mendapatkan persetujuan dari Bank Negara Malaysia untuk menggunakan Foundation Internal Rating Based Approach (IRB-F) dalam menghitung credit risk capital charge pada tahun 200. Sebagai anak perusahaan, Bank Niaga akan bekerja sama dan menyelaraskan standarnya dengan CIMB Group untuk mematuhi Basel II pada tahun 200.
Sementara itu, Bank Niaga sebagai bank lokal di Indonesia akan tetap menganut Standardised Approach sesuai ketentuan Bank Indonesia dalam pedoman credit risk capital charge pada tahun 2009.
Bank Niaga telah memperkuat sumberdaya dan infrastrukturnya dalam mempersiapkan diri pada penerapan Basel II. Pada tahun 200 telah dibentuk Basel II Project Office untuk mencapai tujuan di atas.
Komite Basel di Bank Niaga telah dibentuk sejak tahun 200 untuk memantau segala inisiatif, rencana dan pelaksanaannya. Keanggotaan komite ini terdiri dari Direktur dan Senior Eksekutif yang bertanggung jawab dalam manajemen risiko, keuangan dan perencanaan korporat, Teknologi Informasi, Operasi dan Audit Intern. Mereka telah melakukan pertemuan rutin untuk memastikan inisiatif persiapan pengembangan Basel II dan memantau semua upaya penerapan program secara efektif.
Bank Niaga telah mempersiapkan berbagai infrastruktur dalam penerapan Basel II seperti data profiling, peningkatan score card model dan sistem pelaporannya serta sistem aplikasi perhitungan Credit Risk Standardised Approach.
MANAJEMEN RISIKO KREDIT
Manajemen risiko kredit menangani berbagai potensi kerugian yang timbul karena nasabah gagal untuk memenuhi kewajiban finansialnya kepada Bank saat jatuh tempo. Risiko kredit merupakan jenis risiko terpenting bagi Bank Niaga yang terutama berasal dari jasa penyediaan kredit dan komitmen lain untuk mendukung nasabah dalam menyelesaikan kewajibannya kepada pihak ketiga.
Tata Kelola Manajemen Risiko Kredit
Permasalahan risiko kredit, baik satu per satu maupun secara portofolio, ditangani oleh Credit Risk and Policy Committee. Komite ini dipimpin oleh Direktur Keuangan, Perencanaan dan Manajemen Risiko, dan beranggotakan para direktur dan senior eksekutif.
Komite ini mengadakan rapat rutin untuk membahas kecenderungan kualitas pinjaman, mengevaluasi efektivitas proses kredit dan memberi persetujuan terhadap kebijakan kredit. Semua aktivitas di atas mencakup semua jenis pinjaman, yakni perbankan komersial, perbankan konsumer (termasuk kartu kredit), perbankan syariah dan juga risiko kredit tresuri.
Proses Persetujuan Kredit
Sejak tahun 2007, Bank Niaga telah membentuk Senior Credit Committee, yang terdiri dari para Direktur dan Senior Eksekutif yang bertugas mengawasi aktivitas pemberian pinjaman bersama-sama dengan pejabat senior yang mewakili unit bisnis, remedial dan manajemen risiko. Semua keputusan kredit di atas limit yang telah ditetapkan harus melalui persetujuan Komite. Individu yang duduk di dalamnya tidak memiliki otoritas persetujuan kredit, seluruh persetujuan kredit didasarkan pada keputusan mayoritas.
Dalam perbankan komersial, penentuan limit kredit diserahkan kepada individu sebagai anggota komite kredit lokal yang mempunyai wewenang untuk menyetujui, setelah terlebih dahulu melalui proses screening dari Credit and Market Risk Group. Setiap anggota komite kredit telah memiliki pengalaman dalam menangani kredit yang terbukti dalam catatan individualnya. Semua aplikasi kredit di atas limit yang ditentukan harus mendapatkan persetujuan dari Senior Credit Committee.
Dalam perbankan konsumer, sejak tahun 200 Bank Niaga telah menerapkan sistem dalam memulai proses pinjaman, yakni SPEKTA untuk mempercepat proses persetujuan kredit. Sistem ini telah turut menyumbang kenaikan pesat dalam pertumbuhan portofolio kredit konsumer Bank Niaga. Selain menggunakan sistem persetujuan kredit ini, Bank Niaga juga memiliki hirarki pemegang limit independen untuk menyetujui pinjaman di atas batas tertentu.
Credit Risk Management Governance
Issues in credit risk, individually as well as on portfolio basis, are addressed through the Credit Risk and Policy Committee. The Committee, chaired by the Director of Finance, Planning and Risk Management and with Directors and Senior Executives as members, holds frequent meetings to discuss loan quality trends, to evaluate effectiveness of credit processes and also to approve credit policy. The above activities cover all loan types, namely commercial banking, consumer banking (including credit cards), syariah banking and also credit risk issues in treasury.
Credit Approval Process
Since 2007, Bank Niaga had established the Senior Credit Committee which consists of Directors and Senior Executives who supervise lending activities with other senior officers representing business units, remedial and risk management. Any credit decision above an approved stipulated limit has to go through the Committee for approval. There is no individual with credit approval authority, but all credit approvals are based on majority decisions.
In commercial banking, the credit limit is delegated to individuals as the members of local credit committees who have the authority to approve after the screening process by the Credit and Market Risk Group. Each member of the credit committee is experienced in handling credit and has a proven individual track record. All credit applications above an approved stipulated limit will be escalated to the Senior Credit Committee for approval.
In consumer banking, since 200 Bank Niaga has applied a loan origination system, namely SPEKTA to provide a fast approval process. This approval system has significantly contributed to the rapid growth in the Bank’s consumer banking portfolio. Besides applying this automated credit approval system, Bank Niaga also has a hierarchical independent limit holder to approve loans above a certain limit.
Konsentrasi Kredit dan Portofolio Manajemen
Credit Concentration and Portfolio Management
8.%
2.9%
28.7%
Catatan: Korporat termasuk Syariah;
Ritel termasuk UKM, Kartu Kredit, Private Banking dan Preferred Circle, serta lainnya.
Note: Corporate include Syariah; Retail include SME’s, Card, Private, Preferred and Others.
Korporat Corporate 7.%
2.9%
Bisnis Business Ritel Retail
29.7%
200
2007 Dec 200
Dec 2007
Non-performing loans are well managed with adequate credit provisioning maintained above requirement to ensure that the Bank’s profitability target is achievable despite volatility of income due to credit quality.
For loans above a certain amount, an Internal credit rating model is applied as a decision making tool in commercial banking, which is based on quantitative and qualitative criteria, while loan quality by grading is reported to Bank Indonesia as per regulation. For the retail banking portfolio, an automated system on loan grading has been implemented.
Credit Risk Monitoring
The Bank regularly conducts post mortem review on its loan portfolio, as well as credit stress tests to determine the impact of changing economic and environmental factors on its loan portfolio.
Credit Concentration and Portfolio Management Distribution of loan by risk category is provided on the table above. The composition of loans by industry as of December 2007 and 200 is provided on page 78.
Penanganan kredit bermasalah dapat dikelola secara baik melalui pembentukan cadangan penghapusan kredit di atas batas yang disyaratkan untuk memastikan target profitabilitas tetap dapat dicapai walaupun terdapat volatilitas dalam tingkat pendapatan yang diakibatkan oleh kualitas kredit.
Untuk kredit di atas jumlah tertentu, model pemberian peringkat kredit internal juga diterapkan sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam perbankan komersial yang didasarkan pada kriteria kuantitatif dan kualitatif, sementara pemeringkatan kualitas pinjaman dilaporkan kepada Bank Indonesia sesuai ketentuan. Untuk portofolio perbankan ritel, Bank Niaga telah menerapkan sebuah sistem otomasi dalam pemeringkatan pinjaman.
Pemantauan Risiko Kredit
Bank Niaga secara berkala mengadakan post mortem review pada portofolio kreditnya, serta melakukan credit stress test untuk menentukan dampak dari perubahan kondisi ekonomi dan faktor lingkungan terhadap portofolio kredit yang dimiliki Bank Niaga.
Konsentrasi Kredit dan Manajemen Portofolio Distribusi pinjaman berdasarkan kategori risiko dapat dilihat pada tabel di atas. Komposisi pinjaman berdasarkan distribusi industri per Desember 2007 dan 200 dapat dilihat pada tabel di halaman 78.
Portofolio Pinjaman berdasarkan kategori Risiko Distribution of Loans by Risk Category
.%
90.%
.9% 8.2%
88.%
.%
Dec 200 Dec 2007
Substandard 0. % Doubtful 0.7%
Loss 2.7%
Kurang lancar 0.%
Diragukan 0.7%
Macet 2.7%
Substandard .%
Doubtful 0.%
Loss .8%
Kurang lancar .%
Diragukan 0.%
Macet .8%
Lancar
Current Lancar
Current Dalam perhatian
khusus Special mentioned
Dalam perhatian khusus Special mentioned
Kredit Berdasarkan Industri di Tahun 2006 dan 2007 Loans by Industry in 2006 and 2007
Lain-Lain Others
Jasa-Jasa Sosial dan Masyarakat Social Services and Community Listrik, Gas, dan Air Utility, Gas, and Water Pertambangan Mining
Pengangkutan, Pergudangan, dan Komunikasi Transportation, Warehousing, and Communications Konstruksi
Construction
Perkebunan, Perikanan, Peternakan, dan Pertanian Agriculture, Fisheries, Gaming, and Farming Jasa-Jasa Dunia Usaha
Business Services
Perdagangan, Restoran, dan Hotel Trading, Restaurant, and Hotel Industri Pengolahan Manufacturing Konsumsi Consumption
0%
0%
% 2%
%
% 7%
% 7%
20%
%
Loan Restructuring and Recovery Activities Special Asset Recovery Group and Retail Collection
& Recovery Group are support units which are established to manage problem loans in commercial and consumer/retail banking. These working groups supervise restructuring and collection teams in the branches. Credit collection activity is supported with a dunning and collection system to enable immediate monitoring of potential problem loans.
A combination of efficient people and effective systems has successfully managed the problem loans to an acceptable level.
MARKET RISK MANAGEMENT
Market risk is measured based on two components, which are exchange rate risk factor and interest rate risk factor. Exchange rate risk pertains to potential losses due to adverse movements of exchange rates, while interest rate risk deals with movements of interest rate against the Bank’s Assets – Liabilities re-pricing gap.
To minimise any adverse impact from market risk, Bank Niaga adopts a comprehensive hedging policy Aktivitas Restrukturisasi dan Pemulihan Kredit
Special Asset Recovery Group dan Retail Collection
& Recovery Group adalah unit-unit pendukung yang dibentuk untuk menangani pinjaman bermasalah dalam perbankan komersial dan konsumer/ritel.
Kelompok kerja ini mengawasi tim restrukturisasi dan penagihan di kantor cabang. Aktivitas penagihan didukung dengan sistem otomasi penagihan dan pengumpulan yang memungkinkan pemantauan kredit dengan segera pada kredit yang berpotensi menjadi kredit bermasalah. Kombinasi tenaga kerja yang efisien dengan sistem yang efektif telah berhasil menangani kredit bermasalah hingga mencapai tingkat yang diharapkan.
MANAJEMEN RISIKO PASAR
Risiko pasar diukur berdasarkan dua komponen, yaitu faktor risiko nilai tukar dan risiko tingkat suku bunga. Risiko pertukaran mata uang berkaitan dengan potensi kerugian yang timbul akibat pergerakan negatif nilai tukar mata uang, sementara risiko tingkat suku bunga terkait dengan pergerakan suku bunga terhadap Bank’s Assets – Liabilities re-pricing gap.
Untuk meminimalisir dampak buruk risiko pasar, Bank Niaga menerapkan kebijakan hedging yang menyeluruh yang didukung dengan mekanisme
0%
0%
%
%
% 2%
%
% 7%
22%
2%
2007
2006
that is supported by a rigorous monitoring mechanism to ensure that all trading activities conformed to the limit set by Market Risk Committee.
All issues in market risk are addressed in Market Risk Committee meetings, which are conducted periodically. The Market Risk Committee is chaired by the Director of Corporate and Business Banking and the members are the President Director, related Directors and Senior Executives, which represent business units and treasury.
The marketable securities portfolio, which is held to optimise liquidity funding and enhances shareholder’s value, mainly consists of government bonds with short duration.
The marketable securities portfolio consists of Trading book, Available for Sale and the EXCO capital book.
The EXCO capital book is a group of assets financed by shareholder’s equity and separately managed from other assets financed by third party (liabilities).
The purpose of EXCO capital book’s implementation is to return a stable yield in the long term in order to enhance shareholder’s value and anticipate any unexpected potential risk in the future.
NPL Berdasarkan Industri di Tahun 2007 NPL by Industry in 2007
pengawasan yang ketat untuk memastikan semua aktivitas perdagangan (trading) sesuai dengan limit yang ditetapkan Komite Risiko Pasar.
Seluruh hal menyangkut risiko pasar dibahas dalam hal rapat-rapat rutin Market Risk Committee. Market Risk Committee diketuai oleh Director of Corporate and Business Banking dan beranggotakan Presiden Direktur, Direktur yang terkait serta Senior Eksekutif yang mewakili unit bisnis dan tresuri.
Portofolio surat berharga yang dikelola untuk mengoptimalkan likuiditas pendanaan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham, terutama terdiri dari Surat Berharga Pemerintah dengan jangka waktu pendek.
Portofolio surat berharga terdiri dari Trading book, Available for Sale dan EXCO capital book.
EXCO capital book adalah sekelompok aset yang didanai dengan ekuitas dan dikelola secara terpisah dari aset lainnya yang didanai oleh pihak ketiga.
Tujuan dari penerapan EXCO capital book adalah untuk memperoleh hasil yang stabil dalam jangka panjang untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham dan mengantisipasi potensi risiko tak terduga di masa datang.
Lain-Lain Others
Jasa-Jasa Sosial dan Masyarakat Social Services and Community Listrik, Gas, dan Air Utility, Gas, and Water Pertambangan Mining
Pengangkutan, Pergudangan, dan Komunikasi Transportation, Warehousing, and Communications Konstruksi
Construction
Perkebunan, Perikanan, Peternakan, dan Pertanian Agriculture, Fisheries, Gaming, and Farming Jasa-Jasa Dunia Usaha
Business Services
Perdagangan, Restoran, dan Hotel Trading, Restaurant, and Hotel Industri Pengolahan Manufacturing Konsumsi Consumption
8.7%
.7%
0.0%
2.8%
.%
.0%
.0%
.%
7.8%
.%
2.%
.0%
2.2%
0.0%
0.0%
.9%
.%
.2%
.%
.%
2.%
2007 2006
2.%
Catatan: Korporat termasuk Syariah;
Ritel termasuk UKM, Kartu Kredit, Private Banking dan Preferred Circle, serta lainnya.
Note: Corporate include Syariah; Retail include SME’s, Card, Private, Preferred and Others.
97.%
Portofolio Surat Berharga Marketable Securities Portfolio
97.%
2.7%
Pemerintah Government Korporat Corporate
2.7%
Dec 200
Dec 2007
Bank Niaga measures the potential loss arising from market risk with a value at risk (VaR) concept, using the parametric method with a 99% confidence level.
To assess the accuracy of the VaR model, backtesting is carried out annually by comparing VaR with hypothetical profits/losses. As a VaR supplement, stress testing has been done periodically to measure potential loss arising from exchange rate and interest rate risk when extreme market risk factor movements happen (using historical market risk factor movements in the last years as benchmarks) and on ad hoc basis when necessary.
Policies and limits are set up to control and monitor risk taking activities in the trading book. These limits are reviewed periodically in line with changing business needs, and regulatory changes.
During 2007, Bank Niaga’s trading book portfolio did not have material market risk exposure, with VaR to Capital ratio ranging between .7% - .2%.
LIQUIDITY RISK MANAGEMENT
Liquidity risk deals with the Bank’s ability to provide sufficient funds to cover its obligations and commitments. The Bank’s liquidity management is discussed in Asset Liability Committee (ALCO) meetings, which are conducted on monthly basis.
ALCO also manages the Balance Sheet and review on unit’s performance. Effective liquidity management has resulted in an improving low cost funding structure and a well-managed loan to deposit ratio for the bank.
Liquidity risk management is carried out by managing the asset/liability maturity gap and monitoring its risk indicators such as maturity mismatch, liquidity ratio, cash flow projection, deposit concentration, and contingency funding plan.
Bank Niaga mengukur potensi kerugian pasar dengan konsep Value at Risk (VaR), menggunakan metode parameter dengan tingkat kepercayaan 99%. Untuk menilai tingkat akurasi VaR model, dilakukan pengujian ulang setiap tahun dengan membandingkan VaR dengan hypothetical profits/losses. Sebagai tambahan untuk perhitungan VaR, dilakukan juga stress testing secara rutin untuk mengukur potensi kerugian akibat risiko nilai tukar dan tingkat suku bunga ketika terjadi pergerakan faktor risiko pasar ke arah yang ekstrim (menggunakan data pergerakan faktor risiko pasar dalam tahun terakhir sebagai tolok ukur) dan secara ad hoc basis bila diperlukan.
Kebijakan dan limit disusun untuk mengendalikan dan memantau kegiatan transaksi yang mengandung risiko pada trading book. Limit-limit tersebut di kaji ulang secara berkala sejalan dengan perubahan kebutuhan usaha dan juga ketentuan ekstern.
Selama tahun 2007, portofolio trading book Bank Niaga tidak memiliki eksposur risiko pasar yang material, dengan rasio VaR to Capital berkisar antara ,7% - ,2%.
MANAJEMEN RISIKO LIKUIDITAS
Risiko likuiditas adalah segala risiko yang berkaitan dengan kemampuan Bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi kewajiban dan komitmennya. Manajemen likuiditas Bank dibahas dalam rapat Asset Liability Committee (ALCO) yang diadakan sebulan sekali. ALCO juga mengelola neraca (Balance Sheet) dan membahas kinerja per unit.
Manajemen likuiditas yang efektif telah menghasilkan stuktur pendanaan berbiaya rendah dan loan to deposit ratio yang terkelola dengan baik.
Manajemen risiko likuiditas dilaksanakan dengan cara mengelola asset/liability maturity gap dan memantau indikator-indikator risiko seperti maturity mismatch, rasio likuiditas, proyeksi cash flow, konsentrasi simpanan, dan rencana kontinjensi pendanaan.
OPERATIONAL RISK MANAGEMENT
Operational risk management addresses potential direct losses or even near-miss transactions resulting from inadequate or non-functioning human resources, systems and technology, operational processes or external events.
Every employee holds the responsibility of any risk incurred in the day-to-day operations by ensuring full compliance to the prevailing policies and procedures.
To deal with the Bank’s overall operational risk exposure, the Bank has established the Operations and Information Risk Committee, which is charged with overseeing Bank Niaga’s bank-wide operational risk profile. The Committee membership consists of Directors, Senior Executives from operations, IT, risk management, and other support units as well as business units and business unit personnel.
An Operational Risk Management framework has been established, which includes the maintenance of tools and methodologies such as Control Risk Self Assessment, Loss Event Database, and Internal Control Self Assessment. The framework involves all of the risk taking units to take part in submitting risk self assessment documents on a regular basis.
Legal Risk
Legal risk arises as a result of inadequate legal documentation, possibilities of lawsuits, a lack of supporting regulations or inadequate coverage in terms of contractual obligations or collateral agreements.
There were no such legal cases in 2007 that had potentially significant claims on the Bank.
MANAJEMEN RISIKO OPERASIONAL
Manajemen risiko operasional ditujukan untuk mengatasi potensi kerugian transaksi yang terjadi atau bahkan yang nyaris terjadi, yang disebabkan oleh karena adanya ketidakcukupan atau tidak berfungsinya unsur manusia, kelemahan sistem dan teknologi, proses operasi, atau kejadian ekstern.
Setiap karyawan bertanggung-jawab untuk menangani semua risiko yang terjadi dalam operasional harian bank, dengan memastikan kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur yang berlaku. Untuk menangani paparan risiko operasional secara keseluruhan, Bank Niaga telah membentuk Operations
& Information Risk Committee, yang bertanggung jawab untuk mengawasi profil risiko operasional bank secara menyeluruh. Anggota komite ini terdiri dari para Direktur, para eksekutif senior dari unit-unit operasional, IT, manajemen risiko, dan unit-unit pendukung lainnya termasuk unit bisnis dan personalianya.
Bank Niaga telah menyusun kerangka kerja Manajemen Risiko Operasional, yang mencakup pemeliharaan alat dan metodologi seperti misalnya Control Risk Self Assessment, Loss Event Database, dan Internal Control Self Assessment. Kerangka kerja ini menuntut semua unit yang berisiko untuk mengambil bagian dengan menyampaikan dokumen risk self-assessment secara teratur.
Risiko Hukum
Risiko hukum dapat terjadi karena kurang memadainya dokumentasi hukum, kemungkinan adanya tuntutan hukum dari pihak ketiga, adanya kelemahan dalam peraturan pendukung atau kurang lengkapnya cakupan dalam kewajiban kontrak atau perjanjian jaminan.
Sepanjang tahun 2007 tidak ada kasus hukum yang berpotensi menimbulkan tuntutan kepada Bank Niaga.