• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inklusifitas (Inclusiveness)

Dalam dokumen Tata Kelola Pemilu di Indonesia (Halaman 47-51)

NILAI DAN ASAS PEMILU

C. Inklusifitas (Inclusiveness)

dan penyelenggara Pemilu. Terlebih ketika dikaitkan dengan isu hak-hak politik pemilih, hak-hak politik tersebut meliputi hak-hak dasar seperti hak untuk didaftar sebagai pemilih dan peserta pemilihan umum, hak mendapatkan akses informasi terkait proses pemilihan umum, hak mendapatkan kesempatan yang sama di semua tahapan pemilihan umum, hak mendapatkan kebebasan dan rasa aman dan hak untuk mendapatkan perlakuan hukum yang sama di semua tahapan pemilihan umum.

mempengaruhi integritas penyelenggara Pemilu di semua tingkatan. Dalam kondisi ini, penyelenggara Pemilu harus mampu bersikap mandiri, netral, profesional serta mengedepankan objektivitas.

Landasan nilai Pemilu inklusif dapat direduksi dari prinsip bahwa hak pilih bersifat universal (universal suffrage). Siapa saja yang memenuhi syarat sesuai Undang-Undang Pemilu yang berlaku, dijamin dapat menggunakan hak suaranya tanpa hambatan apapun. Dengan demikian isu Pemilu inklusif menjadi jantung dari Pemilu berintegritas yang diwujudkan dalam bentuk perlindungan terhadap hak-hak pemilih. Berikut ini lingkup kegiatan Pemilu yang dapat dijadikan best practices (cerita baik) untuk menghasilkan Pemilu inklusif adalah :

▪ Pendaftaran Pemilih: substansi pendaftaran pemilih adalah mewadahi partisipasi pemilih sah pada saat pemberian suara (pencoblosan). Dalam hal pengunaan hak suara, pemilih sah (eligible) harus didata berdasarkan prinsip inklusi. Artinya, tidak boleh ada potensi penghilangan hak pilih.

Begitu pula, penetapan pemilih tetap (DPT) harus dilakukan secara profesional dan tidak mengandung diskriminasi dalam bentuk apapun (agama & kepercayaan, gender & sex, etnik & ras, daerah & wilayah).

Prinsip pemilih diperlakukan sama menjadi penting sebagai bagian untuk menghasilkan Pemilu yang inklusif.

▪ Pencalonan: penyelenggara Pemilu wajib memfasilitasi dan melayani Parpol dalam mengajukan nama-nama calon. Dalam hal ini, penyelenggara Pemilu memberikan akses administrasi dan memberikan masukan-masukan sesuai ketentuan yang berlaku secara seimbang dan adil. Bentuk kongkret Pemilu inklusif dalam pencalonan adalah pemberian kuota 30 persen bagi keterwakilan perempuan dalam daftar calon yang diajukan Parpol di daerah pemilihan. Prinsip keterwakilan perempuan dalam pencalonan merupakan implementasi Pemilu inklusif dipandang dari aspek pemenuhan hak-hak representasi politik perempuan dalam politik.

▪ Pembuatan daerah pemilihan: mengarah pada pembuatan daerah pemilihan yang mengedepankan aspek proporsionalitas perwakilan yang bersifat non diskriminatif. Dalam hal ini tidak boleh ada wilayah

Desa/Kelurahan/Kecamatan/Kota/Kabupaten yang mendapat perlakuan khusus sementara mengabaikan wilayah Desa/Kelurahan/

Kecamatan/Kota/Kabupaten atas dasar pertimbangan-pertimbangan diskriminatif tertentu.

▪ Pemberian suara/pencoblosan surat suara: menekankan pada perlakuan yang sama bagi setiap pemilih untuk dapat menggunakan hak suaranya pada hari pencoblosan tanpa hambatan, terutama bagi pemilih difabel atau yang memiliki keterbatasan fisik. Dalam hal ini, penyelenggara harus memberikan kesempatan dan pelayanan yang memadai agar pemilih yang memiliki keterbatasan dapat menggunakan hak suara mereka.

Gambar 2.2. Ruang lingkup Pemilu yang inklusif

Ilustrasi grafis di atas dapat diimplementasikan ke dalam Undang-Undang Pemilu yang mengatur persyaratan pencalonan. Untuk itu, jaminan hak pilih warga negara, dimana pemilih mendapat perlakuan yang sama dan hak politik yang dilindungi dapat diimplementasikan oleh penyelenggara Pemilu. Siapapun warga negara mendapat jaminan perlakuan hukum yang adil dan sama semisal dalam kasus sengketa pencalonan, sengketa hasil Pemilu atau dalam mempertahankan hak politiknya. Sebagai tatanan nilai,

berkeadilan bagi semua warga negara untuk mendapat perlakuan yang adil dan sama dalam semua proses penyelenggaraan Pemilu.

Dalam konteks Pemilu di Indonesia yang kian kompetitif dan transparan, kebutuhan hadirnya Pemilu yang transparan dan berkeadilan menjadi isu penting. Terkait inklusifitas Pemilu maka persoalan dasar yang mengemuka adalah bagaimana inklusifitas melekat dan menjadi bagian yang satu kesatuan dalam mekanisme hukum. Misalnya, hal yang teknis soal kampanye Pemilu yang harus mengedepankan aspek persamaan bagi semua peserta Pemilu. Dalam hal ini, penyelenggara Pemilu harus berpijak pada regulasi Pemilu terkait kampanye yang harus memperlakukan secara sama dan adil setiap peserta Pemilu yang akan melakukan kampanye.

Apalagi dalam transformasi kampanye Pemilu yang mengarah pada penggunaan media sosial, maka penyelenggara Pemilu harus memperhatikan aspek dinamika kampanye yang serba instan dimana penggunaan media sosial telah menghasilkan kampanye online yang masif (Medvic, 2011; Panagopoulos, 2009). Artinya, setiap regulasi Pemilu yang menjadi pijakan penyelenggara Pemilu harus mampu dioperasionalkan secara konsisten untuk mewadahi setiap kesempatan agar peserta Pemilu optimal memanfaatkan media kampanye yang dijamin oleh UU Pemilu.3 Uraian diatas menegaskan bahwa konsep Pemilu berintegritas selalu ditandai dengan pelaksanaan Pemilu bebas dan adil (free and fair). Global Commision on Election, Democracy and Security (2012) mendefinisikan Pemilu berintegritas sebagai Pemilu yang berdasarkan atas prinsip demokrasi dari hak pilih universal dan kesetaraan politik seperti yang dicerminkan pada standar internasional dan perjanjian, profesional, tidak memihak, dan transparan dalam persiapan, dan tantangan utama Pemilu berintegritas pengelolaannya melalui siklus Pemilu. Indikator Pemilu berintegritas menurut komisi ini adalah Pemilu itu harus didasarkan pada prinsip demokrasi dengan hak pilih yang berlaku umum dan kesetaraan politik seperti digambarkan dalam Deklarasi Umum HAM dan Perjanjian Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Penyelenggaraanya harus secara profesional, imparsial dan transparan. Serta etika harus jadi

3 Misal pasal 289 UU Nomor 7 Tahun 2017 dinyatakan bahwa peserta pemilu dalam menggunakan me- dia kampanye media massa cetak, media daring (online).

penuntun dalam setiap siklus Pemilu secara keseluruhan. Atas dasar itulah maka Pemilu di Indonesia menganut asas luber dan jurdil.

Dalam dokumen Tata Kelola Pemilu di Indonesia (Halaman 47-51)