• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pemilu DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota

Dalam dokumen Tata Kelola Pemilu di Indonesia (Halaman 104-110)

NILAI DAN ASAS PEMILU

BAB 3 SISTEM PEMILU

E. Sistem Pemilu di Indonesia Berdasarkan UU Pemilu

2. Sistem Pemilu DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota

Penentuan paslon

terpilih

Paslon terpilih adalah paslon yang memperoleh suara lebih dari 50 persen dari jumlah suara dalam pilpres dengan sedikitnya 20 persen suara di setiap Provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah Provinsi di Indonesia

Dalam hal tidak ada paslon terpilih sebagaimana dimaksud di atas, dua paslon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dipilih kembali oleh rakyat secara langsung dalam pilpres

Dalam hal perolehan suara terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh dua paslon, keduanya dipilih kembali oleh rakyat secara langsung dalam pipres

Dalam hal perolehan suara terbanyak dengan jumlah yang sama diperoleh oleh tiga paslon atau lebih, penentuan peringkat pertama dan kedua dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara yang lebih luas secara berjenjang

Dalam hal perolehan suara terbanyak kedua dengan jumlah yang sama diperoleh oleh lebih dari satu paslon, penentuannya dilakukan berdasarkan persebaran wilayah perolehan suara yang lebih luas secara berjenjang

Ambang batas (pencalonan)

Parpol atau gabungan parpol peserta pemilu yang memiliki kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu legislatif sebelumnya

Waktu

Pemilu dilaksanakan lima tahun sekali

Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional

KPU mengatur lebih lanjut tentang hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara

Kabupaten/Kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka.22 Dengan kata lain, sistem pemilu legislatif adalah sistem perwakilan berimbang daftar terbuka.

Dapil untuk Pileg DPR RI dan DPRD Provinsi sudah ditetapkan di dalam lampiran UU Pemilu. Dengan demikian, perumusan dapil untuk DPR RI dan DPRD Provinsi dilakukan oleh DPR dan Pemerintah. Namun demikian, regulasi secara umum mengatur dapil untuk DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota yang diantaranya adalah:

- Untuk DPR:

o dapilnya adalah Provinsi atau bagian dari Provinsi;

o jumlah kursinya adalah 575; dan

o jumlah kursi yang disediakan di setiap dapil adalah 3-10 kursi.

- Untuk DPRD Provinsi:

o Dapilnya adalah Kabupaten/Kota atau gabungan Kabupaten/Kota;

o jumlah kursi untuk DPRD Provinsi adalah 35-120 kursi;

o jumlah kursi DPRD di setiap Provinsi didasarkan pada jumlah penduduk Provinsi yang bersangkutan dengan ketentuan dari mulai yang terkecil (yaitu Provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan 1 juta orang memperoleh alokasi 35 kursi) sampai dengan yang terbesar (yaitu Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 20 juta orang memperoleh alokasi 120 kursi);

o jumlah kursi yang disediakan di setiap dapil adalah 3-12 kursi.

- Untuk DPRD Kabupaten/Kota:

o dapilnya adalah kecamatan atau gabungan kecamatan;

o jumlah kursi untuk DPRD Kabupaten/Kota adalah 20-55 kursi;

o jumlah kursi DPRD di setiap Kabupaten/Kota didasarkan pada jumlah penduduk Kabupaten/Kota yang bersangkutan dengan ketentuan dari mulai yang terkecil (yaitu Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 100 ribu orang memperoleh alokasi 20 kursi) sampai dengan yang terbesar (yaitu Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk lebih dari 3 juta orang memperoleh alokasi 55 kursi); dan o jumlah kursi yang disediakan di setiap dapil adalah 3-12 kursi.

Di Pemilu 2019, seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan infomasi, KPU telah mempublikasikan informasi berbasis dapil (Sistem Daerah Pemilihan atau SIDAPIL) yang dapat diakses melalui laman resmi KPU, yaitu https://infopemilu.kpu.go.id. Melalui laman resmi ini, publik dapat melihat informasi yang berbasis pada dapil, yaitu alokasi kursi, daftar pemilih, data calon, dan profil badan penyelenggara.

Dalam hal pengaturan dapil, UU Pemilu menyatakan bahwa penyusunan dapil untuk pileg memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini:23

a. kesetaraan nilai suara, yaitu upaya untuk meningkatkan nilai suara (harga kursi) yang setara antara satu dapil dan dapil lainnya dengan prinsip satu orang-satu suara-satu nilai;

b. ketaatan pada sistem pemilu proporsional, yaitu ketaatan dalam pembentukan dapil dengan mengutamakan jumlah kursi yang besar agar persentase jumlah kursi yang diperoleh setiap Parpol setara mungkin dengan persentase suara sah yang diperoleh;

c. proporsionalitas, yaitu kesetaraan alokasi dengan memperhatikan kursi antar dapil agar tetap terjaga perimbangan alokasi kursi setiap dapil;

d. integralitas wilayah, yaitu memperhatikan beberapa Provinsi, beberapa Kabupaten/Kota, atau kecamatan yang disusun menjadi satu dapil untuk daerah perbatasan, dengan tetap memperhatikan keutuhan dan keterpaduan wilayah, serta mempertimbangkan kondisi geografis, sarana perhubungan, dan aspek kemudahan transportasi;

e. berada dalam cakupan wilayah yang sama, yaitu penyusunan dapil anggota DPRD Provinsi yang terbentuk dari satu, beberapa, dan/atau bagian Kabupaten/Kota yang seluruhnya harus tercakup dalam suatu dapil anggota DPR;

f. kohesivitas, yaitu penyusunan dapil memperhatikan sejarah, kondisi sosial budaya, adat istiadat, dan kelompok minoritas; dan

g. kesinambungan, yaitu penyusunan dapil dengan memperhatikan dapil yang sudah ada pada pemilu tahun sebelumnya, kecuali apabila alokasi kursi pada dapil tersebut melebihi batasan maksimal alokasi kursi setiap dapil atau apabila bertentangan dengan keenam prinsip di atas.

23 Pasal 185 UU Pemilu.

Terkait dengan pencalonan, undang-undang juga mengatur mekanisme pendaftaran Parpol sebagai peserta pemilu24 dan mekanisme pencalonan di internal Parpol.25 Beberapa diantaranya adalah, pertama, bahwa peserta pemilu adalah Parpol. Hal ini juga disebutkan secara eksplisit di dalam konstitusi.26 Dalam rangka memperluas penyebaran infomasi terkait dengan Parpol peserta pemilu, KPU memanfaatkan sistem aplikasi berbasis teknologi informasi yang diberi nama Sistem Informasi Partai Politik (SIPOL) yang memuat informasi terkait dengan SK kepengurusan Parpol peserta Pemilu 2019, Rekapitulasi Parpol, Parpol dengan dokumen lengkap dan tidak lengkap, dan Parpol pasca putusan Bawaslu, sebaran pengurus, jumlah kepengurusan dan kantor, serta jumlah keanggotaan. Sebagaimana telah dibahas di Bab 3 sebelumnya, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, KPU telah menyediakan informasi tentang Parpol peserta Pemilu 2019 melalui laman resmi: https://infopemilu.kpu.go.id.

Kedua, Parpol peserta pemilu adalah mereka yang lolos verifikasi oleh KPU.

Ketiga, berbagai aturan persyaratan bagi para bakal calon. Keempat, pencalonan di internal Parpol peserta pemilu diselenggarakan dengan mekanisme demokratis dan terbuka sesuai dengan AD/ART, dan/atau peraturan internal serta melarang praktek-praktek politik uang. Kelima, daftar bakal calon memuat paling banyak 100 persen dari jumlah kursi pada setiap dapil yang memuat keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen. Keenam, nama calon dalam daftar bakal calon disusun berdasarkan nomor urut, dimana di setiap tiga orang bakal calon terdapat paling sedikit satu orang perempuan bakal calon. Ketujuh, terdapat mekanisme yang bernuansa partisipatif dalam proses dari daftar calon sementara (DCS) ke daftar calon tetap (DCT). Kedelapan, di Pemilu 2019, meneruskan apa yang telah dilaksanakan oleh KPU di periode sebelumnya, KPU juga menggunakan sistem aplikasi berbasis teknologi informasi untuk menunjang kelancaran di dalam tahapan pencalonan yang diberi nama Sistem Informasi Pencalonan (Silon) yang berisi informasi mulai dari tahap pengajuan, penelitian, Daftar Calon Sementara (DCS), perubahan DCS, DCT, dan Perubahan DCT.

24 Pasal 172-Pasal 180 UU Pemilu.

25 Pasal 240-Pasal 257 UU Pemilu.

26 Pasal 22E Ayat 4 UUD 1945.

Sedangkan untuk penentuan calon terpilih, undang-undang mengatur penetapan perolehan kursi.27 Beberapa diantaranya adalah, pertama, penentuan perolehan jumlah kursi untuk anggota DPR didasarkan atas hasil penghitungan seluruh suara sah dari setiap Parpol peserta pemilu di dapil yang bersangkutan. Kedua, penetapan perolehan jumlah kursi tiap Parpol peserta pemilu di suatu dapil dilakukan dengan membagi suara sah setiap Parpol peserta pemilu dengan bilangan pembagi 1 dan diikuti secara berurutan oleh bilangan ganjil berikutnya. Ketiga, hasil pembagian tersebut diurutkan berdasarkan jumlah nilai terbanyak, dimana nilai terbanyak pertama mendapat kursi pertama dan seterusnya sampai jumlah kursi di dapil tersebut habis terbagi. Keempat, penentuan calon terpilih didasarkan pada perolehan kursi Parpol peserta pemilu di suatu dapil berdasarkan suara terbanyak yang diperoleh oleh masing-masing calon di satu dapil yang tercantum di surat suara. Dengan demikian, secara implisit, metode konversi suara ke kursi yang digunakan di UU Pemilu adalah Metode Sainte- Laguë.

Terkait dengan metode pemberian suara, undang-undang menyatakan bahwa “pemberian suara untuk pemilu dilakukan dengan cara mencoblos satu kali pada nomor atau tanda gambar Parpol, dan/atau nama calon anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. 28 Sebagai tambahan informasi, di Pemilu 2019 terdapat 12 kabupaten di Papua (Kabupaten Tolikara, Puncak Jaya, Puncak, Jayawijaya, Nduga, Paniai, Deiyai, Lanny Jaya, Yakuhimo, Mamberamo Tengah, Intan jaya, dan Dogiyai) yang menggunakan sistem noken dan 5 kabupaten di Papua (Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, Mamberamo Tengah, Lanny Jaya, dan Tolikara) yang menggunakan kombinasi antara sistem noken dan mencoblos.

Sedangkan untuk pengaturan waktu, undang-undang mengatur tentang penyelenggaraan Pemilu Legislatif.29 Pengaturan itu adalah bahwa pemilu dilaksanakan lima tahun sekali, pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional, dan KPU mengatur lebih lanjut tentang hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara.

Dengan mendasarkan pada regulasi ini, pemilu legislatif di tahun 2019 diselenggarakan pada hari yang sama dengan penyelenggaraan pilpres.

27 Pasal 418-420 UU Pemilu.

28 Pasal 353 Ayat 1 Huruf b UU Pemilu.

29 Pasal 167 UU Pemilu.

Tabel 3.10. Sistem Pemilu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota

Sistem Pemilu

Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka

Daerah Pemilihan

DPR

Dapilnya adalah Provinsi atau bagian dari Provinsi Jumlah kursi adalah 575

Jumlah kursi di setiap dapil adalah 3-10

DPRD Provinsi

Dapilnya adalah Kabupaten/Kota atau gabungan Kabupaten/Kota

Jumlah kursi antara 35-120 kursi

Jumlah kursi bervariasi didasarkan pada jumlah penduduk Provinsi yang bersangkutan dengan ketentuan dari mulai yang terkecil (yaitu Provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan 1 juta orang memperoleh alokasi 35 kursi) sampai dengan yang terbesar (yaitu Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 20 juta orang memperoleh alokasi 120 kursi) Jumlah kursi di setiap dapil adalah 3-12

DPRD

Kabupaten/Kota

Dapilnya adalah kecamatan atau gabungan kecamatan Jumlah kursi adalah 20-55

Jumlah kursinya bervariasi didasarkan pada jumlah penduduk Kabupaten/Kota yang bersangkutan dengan ketentuan dari mulai yang terkecil (yaitu Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 100 ribu orang memperoleh alokasi 20 kursi) sampai dengan yang terbesar (yaitu Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk lebih dari 3 juta orang memperoleh alokasi 55 kursi) sebagaimana diatur di dalam Pasal 191 UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum

Jumlah kursi di setiap dapil adalah 3-12

Pencalonan

Peserta pemilu adalah parpol

Parpol peserta pemilu adalah mereka yang lolos verifikasi oleh KPU Pencalonan di internal parpol peserta pemilu diselenggarakan dengan mekanisme demokratis dan terbuka sesuai dengan AD/ART, dan/atau peraturan internal serta melarang praktek-praktek politik uang

Daftar bakal calon memuat paling banyak 100 persen dari jumlah kursi pada setiap dapil yang memuat keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen

Nama calon dalam daftar bakal calon disusun berdasarkan nomor urut, dimana di setiap tiga orang bakal calon terdapat paling sedikit satu orang perempuan bakal calon

Partisipasi masyarakat dalam proses dari Daftar Calon Sementara (DCS) ke Daftar Calon Tetap (DCT)

Metode pemberian

suara

Mencoblos satu kali pada nomor atau tanda gambar Parpol, dan/atau nama calon Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota

Penentuan paslon terpilih

Penentuan perolehan jumlah kursi untuk Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota didasarkan atas hasil penghitungan seluruh suara sah dari setiap parpol peserta pemilu di dapil yang bersangkutan

Penetapan perolehan jumlah kursi tiap parpol peserta pemilu di suatu dapil dilakukan dengan membagi suara sah setiap parpol peserta pemilu dengan bilangan pembagi 1 dan diikuti secara berurutan oleh bilangan ganjil 3,5,7, dan seterusnya

Hasil pembagian tersebut diurutkan berdasarkan jumlah nilai terbanyak Penentuan calon terpilih didasarkan pada nilai terbanyak pertama mendapatkan kursi pertama, nilai terbanyak kedua mendapat kursi kedua, nilai terbanyak ketiga mendapat kursi ketiga dan seterusnya sampai jumlah kursi di dapil habis terbagi

Ambang batas parlemen

DPR 4 persen

DPRD Provinsi 0 persen

DPRD Kabupaten/Kota 0 persen

Waktu

Pemilu dilaksanakan lima tahun sekali

Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional

KPU mengatur lebih lanjut tentang hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara

Dalam dokumen Tata Kelola Pemilu di Indonesia (Halaman 104-110)