KELEMBAGAAN PENYELENGGARA PEMILU
E. Komisi Pemilihan Umum (KPU)
E.9. Pengawasan Internal KPU
- Fungsi Utama: Implementator.
PPK - Berkedudukan di Ibu Kota Kecamatan;
- Berkoordinasi dengan KPU Kabupaten/Kota dan PPS;
- Dibantu oleh Sekretariat yang dipimpin oleh seketaris dari Aparatur Sipil Negara yang memenuhi persyaratan.
PPS - Berkedudukan di keluruhan/desa;
- Mengangkat KPPS;
- Berkoordinasi dengan PPK.
KPPS - Berkedudukan di TPS;
- Mennyelenggarakan pemungutan dan penghitungan suara.
Sumber: diolah dari Undang-Undang Nomor. 7/2017 dan PKPU No.8/2019
BAB 4 – KELEMBAGAAN PENYELENGARA PEMILU 163
d. menolak pemberian dalam bentuk apapun dari Peserta Pemilu, calon Peserta Pemilu, perusahaan atau individu yang dapat mempengaruhi keputusan Penyelenggara Pemilu dan apabila tidak bisa ditolak wajib diserahkan kepada lembaga yang menangani pemberantasan korupsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
e. tidak menerima honor narasumber dari Peserta Pemilu, pasangan calon dan tim kampanye;
f. tidak menerima imbalan dalam bentuk uang, barang, jasa dan/atau pemberian lainnya secara langsung dan/atau tidak langsung dari Peserta Pemilu, pasangan calon dan tim kampanye;
g. tidak menggunakan pengaruh atau kewenangan dari jabatan sebagai Penyelenggara Pemilu untuk mendapatkan keuntungan pribadi;
h. tidak menerima fasilitas apapun dari pihak manapun yang akan menimbulkan konflik kepentingan; dan
i. tidak menggunakan fasilitas jabatan berupa rumah dinas, mobil dinas dan fasilitas jabatan lainnya selain untuk kepentingan kedinasan.
Kode perilaku Anggota KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK, PPLN, PPS, KPPS dan KPPSLN secara lebih lengkap diatur dalam pasal 74 s/d pasal 90 PKPU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Tata Kerja KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota.
Untuk memastikan kode etik penyelenggara dan kode perilaku dijalankan dengan benar dan sungguh-sungguh KPU kemudian mengatur dan mengembangkan adanya mekanisme Pengawasan Internal. Pengawasan Internal adalah mekanisme pengawasan yang dilakukan KPU secara berjenjang terhadap jajaran di bawahnya baik itu lewat monitoring maupun supervisi. Selain melalui pengawasan internal, penegakan kode perilaku dan kode etik penyelenggara juga bisa dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam membuat laporan dan/atau pengaduan terkait dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara dan kode perilaku. Berdasarkan pengawasan internal dan laporan dan/atau pengaduan masyarakat, KPU mengembangkan 2 mekanisme internal penanganan penegakan kode perilaku dan kode etik penyelenggara.
1. Mekanisme Penanganan Pelanggaran Kode Perilaku Anggota KPU Provinsi, Anggota KPU Kabupaten/Kota, PPLN dan KPPSLN.57
KPU dan KPU Provinsi berwenang menyelesaikan dugaan pelanggaran kode perilaku dengan ketentuan:
a. KPU untuk Anggota KPU Provinsi, PPLN dan KPPSLN.
b. KPU Provinsi untuk Anggota KPU Kabupaten/Kota.
Berdasarkan hasil pengawasan internal KPU atau KPU Provinsi dan/atau laporan dan/atau pengaduan masyarakat kepada KPU atau KPU Provinsi, KPU dan KPU Provinsi melakukan Rapat Pleno untuk melakukan verifikasi dan klarifikasi kepada para pihak dan/atau Bawaslu sesuai tingkatan. Dalam melakukan verifikasi dan klarifikasi KPU dan KPU Provinsi dapat menggali, mencari dan menerima masukan dari berbagai pihak, memanggil para pihak, meminta bukti-bukti pendukung, melakukan koordinasi dan/atau melibatkan Bawaslu sesuai tingkatannya serta pihak yang kompeten. KPU dan KPU Provinsi kemudian membuat kesimpulan terkait jenis dugaan pelanggaran, peraturan/ketentuan yang dilanggar, pembuktian dan rekomendasi jenis sanksi yang diberikan. KPU dan KPU Provinsi melakukan Rapat Pleno untuk mengambil keputusan terkait dugaan pelanggaran kode perilaku. Dalam hal dugaan pelanggaran kode perilaku tidak terbukti, teradu pelanggaran kode perilaku diberi sanksi rehabilitasi. Dalam hal dugaan pelanggaran kode perilaku yang dilakukan teradu terbukti KPU memberi sanksi peringatan tertulis atau pemberhentian sementara dan dilaporkan kepada DKPP. KPU dan KPU Provinsi menyelesaikan dugaan pelanggaran kode perilaku paling lama 7 hari setelah diterimanya hasil pengawasan internal atau terverifikasinya laporan dan/atau pengaduan masyarakat.58 2. Mekanisme Penanganan Pelanggaran Kode Etik dan Kode Perilaku
PPK, PPS dan KPPS.
Berdasarkan hasil pengawasan internal KPU Kabupaten/Kota dan/atau laporan dan/atau pengaduan masyarakat, KPU Kabupaten/Kota melakukan rapat pleno terkait adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan PPK, PPS
57 Pasal 91 dan pasal 93 PKPU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Tata Kerja KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota
58 Pasal 91 s/d Pasal 98 PKPU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Tata Kerja KPU, KPU Provinsi dan KPU
BAB 4 – KELEMBAGAAN PENYELENGARA PEMILU 165
dan KPPS. Dalam dugaan pelanggaran ditemukan berdasarkan pengawasan internal, KPU Kabupaten/Kota melakukan verifikasi dan klarifikasi kepada Anggota PPK, PPS dan KPPS dan/atau pihak terkait paling lama 1 hari setelah rapat pleno. Dalam hal dugaan pelanggaran berasal dari laporan dan/atau pengaduan masyarakat, KPU Kabupaten/Kota melakukan verifikasi dan klarifikasi dengan menggali, mencari dan menerima masukan dari berbagai pihak, memanggil para pihak, meminta bukti-bukti pendukung, melakukan koordinasi dan/atau melibatkan Bawaslu sesuai tingkatannya serta pihak yang kompeten.
Berdasarkan verifikasi dan klarifikasi terhadap PPK, PPS dan KPPS atau terhadap para pihak dan Bawaslu sesuai tingkatan, maka dalam hal ditemukan adanya dugaan pelanggaran, KPU Kabupaten/Kota menindaklanjutinya dengan membentuk Tim Pemeriksa. Tim Pemeriksa terdiri dari 1 orang Ketua merangkap Anggota Tim Pemeriksa dan 2 orang anggota pemeriksa. Tim Pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan prinsip terbuka dan adil. Tim Pemeriksa melakukan pemeriksaan terhadap laporan dan/atau pengaduan, memanggil pengadu, teradu dan memanggil saksi serta pihak terkait jika diperlukan. Proses Pemeriksaan dilakukan selama 7 hari kerja. Tim Pemeriksa kemudian menyampaikan hasil penelitian dan kajian materi serta hasil pemeriksaan kepada Rapat Pleno KPU Kabupaten/Kota. Rapat Pleno tersebut mengambil keputusan terhadap dugaan pelanggaran paling lama 1 hari setelah proses pemeriksaan Tim Pemeriksa selesai.
Dalam hal dugaan pelanggaran tidak terbukti, teradu diberi sanksi rehabilitasi. Dalam hal dugaan pelanggaran terbukti teradu diberi sanksi peringatan tertulis atau pemberhentian sementara. Keputusan sanksi pemberhentian sementara diteruskan kepada DKPP melalui KPU Provinsi dan KPU. Dalam hal keputusan DKPP memutuskan dugaan pelanggaran tidak terbukti, KPU Kabupaten/Kota merehabilitasi teradu. Dalam hal keputusan DKPP menyatakan teradu terbukti melakukan pelanggaran kode etik, KPU Kabupaten/Kota meberhentikan teradu. Dalam hal kewenangan DKPP untuk memberikan sanksi pemberhentian tetap terhadap PPK, PPS dan KPPS, diberikan/didelegasikan kepada KPU Kabupaten/Kota, KPU
Kabupaten/Kota dapat menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada Anggota PPK, PPS dan KPPS.59