Dampak dari pandemic COVID-19 menyebabkan perubahan dalam melakukan interaksi sosial seperti tidak bisa bertemu dengan teman, guru dan tidak ada guru yang mengajari. Berikut ungkapan dari anak terkait dengan interaksi sosial yang dibatasi tersebut:
Tidak bisa bertemu dengan teman
Selama pandemi COVID-19 terbatasnya pertemuan langsung di antara anak dan dengan teman-temannya dimana menimbulkan dampak buruk. Anak mengalami kerinduan untuk kembali sekolah agar dapat bertemu dengan temannya untuk malakukan aktivitas bermain, bercerita, belajar dan juga rindu diajari oleh guru di sekolah. Hal tersebut tampak dari ungkapan beberapa partisipan berikut.
Tidak ada teman bermain dan bercerita
“Enak, mau kalau banyak teman.. bisa bercerita dan bermain..
Padahal sekarang sudah tidak lagi.” (P1)
“Setelah COVID-19 tidak ada lagi betemu teman.. rindulah kan bercerita dan bermain sama teman.. Kalau sekarang sudah tidak bisa ketemuan. Ber WA pun tidak punya hp, jadi setiap hari libur bisa ketemuan, karena satu dari gereja. Tapi kalau tidak ya tidak ada…misalnya beda gereja kami, jadi tidak bisalah ketemuan satu hari atau satu minggu”. (P21)
“Jadi tidak enak lagi, tidak ada teman bermain dan becerita.
Hanya laki-lakinya, kawanku disini” (P32)
“ Tidak enak karena sekolah ditutup, hanya kalau kesekolah
boleh bermain, main sama teman, boleh bercerita begitu. Tapi kalau sudah belajar online dirumah tidak boleh lagi, hanya belajar saja, tidak ada teman.” (P4)
“ Berubah sekali. Bermain pun sudah susah apalagi untuk bercerita...”” kawanku main pun hanya satunya, itupun, dia jarang nya kalau main, paling-paling saling chatlah kami supaya main,
“hayo main begitu. “keluarlah kau” begitu, keluarlah, mainlah kita..” (P10)
Tidak ada teman belajar
“Iya, sudah rindu ke sekolah. Tidak bisa belajar bersama..
sama teman. Setelah itu tidak bisa bermain di sekolah..” (P6)
“Jadi tidak bisa bertemu teman, biasanya kan, sebelum datang COVID-19, mau pergi ke rumah teman untuk belajar bersama dibolehkan orangtua, setelah itu, maulah lagi kami pergi entah kemana” (P36)
“ Belajar online kami.. Terus belajar sehingga tidak ada teman belajar bersama… Belajar online ini, inilah hampir setiap hari dari mulai jam 8.00 sampai jam 12.00” (P5)
“Ya tidak bisa berbuat apa apa, enak dulu nya kami bisa belajar bersama sama, tiba-tiba datang COVID-19 jadi mengganggu kami, jadi tidak seru tidak ada teman lagi untuk belajar” (P 38)
“ Jadi tidak bisa ketemu teman, setelah itu sempatnya kita tidak dibolehkan ke gereja, kami bilang begitu apa kali pula kan COVID-19 ini..memang apa kali.. tidak enak dan sangat menggaggu sekali” (P 23)
Tidak ada guru yang mengajari dan tidak bisa bertemu dengan guru
Interaksi dengan guru juga dibatasi, anak rindu dengan guru sekolah, sudah sekitar 1,5 tahun anak tidak berjumpa guru yang mengajari mereka belajar dan bersalaman seperti setiap harinya. Anak merasa
sekolah online ini tidak seru dan tidak enak, sesuai pernyataan berikut
Tidak ada guru yang mengajari
“Sangat menggangulah COVID-19 ini, maunya kan sudah rindu bertemu dengan guru, sudah lama tidak bertemu guru di sekolah. Tidak ada yang mengajari seperti di sekolah bertemu guru dan diajari. (P3)”
“ Sedihlah sekalirasanya, gara-gara COVID-19 tidak bisa ketemu sama guru, tidak ada guru yang mengajari aku. Habis itu kalau sekolah online jadi banyak lagi tugas yang diberikan, jadi banyak kalilah… tugas juga makin menumpuk. Biasanya 1 halamannya, sekarang jadi “tulis sampai… sampai habis buku”
(P26)
“Kalau misalnya di sekolah kan kalau mencatat begitu kita bisa minta tolong guru untuk mengajarinya, tapi kalau sekarang tidak bisa minta diajari oleh guru mesti banyak banyak belajar sendiri” (P 33)
“Kalau sebelum COVID-19 gurunya mengajari jadi mengerti, sejak COVID-19 ini kurang mengerti, itu saja” (P 27)
Tidak bisa bertemu dengan guru
“Tidak bisa bertemu sama guru, tidak bisa bercerita sama guru” (P19)
“Menyalami guru ketika ke sekolah, maunya kan lagi dapat bertemu dengan guru. Sekarang tidak ada lagi yang ku salami dan ku temui saat sekolah dulu, sekarang semuanya berubah” (P31)
“Rindu bersalaman dan belajar sama guru. Lebih enak, karena apa , karena bisa di melihat contoh pembahasannya, kalau di rumah sulit kali, terus mencari dari buku sendiri, stress juga karena dirumah sering ributnya karena banyak orang” (P16)
“Tidak bisa belajar ke sekolah, tidak bisa bertemu guru, tidak bisa bertemu teman-teman”(P 29)
Tabel 3. Interaksi sosial yang di batasi
Tema Sub-tema Kategori
Interaksi sosial yang di batasi
Tidak bisa bertemu dengan teman
• Tidak ada teman bermain dan bercerita
• Tidak ada teman belajar
Tidak ada guru yang mengajari dan tidak bisa bertemu dengan guru
• Tidak ada guru yang mengajari
• Tidak bisa bertemu dengan guru
Anak usia sekolah sangat terisolasi, kurang kontak dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan orang dewasa yang dapat dipercaya.
Pandemi COVID-19 secara dramatis telah mengubah pola interaksi sosial anak (Cabli et al., 2021). Pembatasan pergerakan dan penutupan sekolah berdampak parah pada rutinitas harian anak, interaksi sosial mereka, dan akhirnya pada kesejahteraan mental mereka (Unicef, 2020). Hasil dalam penelitian didapatkan bahwa anak mengalami interaksi sosial yang dibatasi sehingga anak jarang bermain bersama, kurangnya bersosialisasi dengan teman terbatasi adanya belajar dirumah, anak merasa kesepian dan rindu teman dan guru. Sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Christner et al.
(2021) konsekuensi pandemi COVID-19 pada interaksi sosial yang dibatasi pada anak sehingga tidak dapat bertemu teman dan anggota keluarga, ketidaksepakatan tentang membuat tugas sekolah dan kurangnya untuk terlibat dalam melakukakan kegiatan olah raga atau hobi. Pembatasan interaksi sosial dan kesepian meningkatkan risiko depresi, dan kecemasan pada saat kesepian (Loades et al., 2020). Menurut Prasetyo dan Zulela (2021) menemukan bahwa anak
mengeluh tidak bisa bertemu dengan teman, merasa tidak senang karena belajar sendirian, dan tidak memahami materi yang diberikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Study Children's Parliament (2020) mendapatkan bahwa banyak anak mengalami kesepian, khawatir dan sedikit merasa dalam suasana hati yang positif, kekhawatiran terkait dengan masa depan, merasa bosan dan khawatir tidak bisa bermain atau menjadi kreatif. Efek dari isolasi dan karantina yang dipaksakan, kesepian sebagai konsekuensi yang tidak diinginkan dari tindakan pengendalian penyakit tampaknya menjadi sangat bermasalah bagi anak (Loades et al., 2020); kurangnya persahabatan yang mendalam dan hubungan yang bermakna di universitas, aktivitas fisik dan lingkungan tim, dan kebutuhan akan hubungan nyata di saat krisis (Lippke, Fischer, & Ratz, 2021).
Pada penelitian ini didapatkan bahwa anak melaporkan bahwa tidak dapat bertemu dengan guru yang mengajari belajar dan bersalaman.
Saat melakukan pembelajaran online di rumah dan lockdown menyebabkan anak merasa stres dan jenuh belajar di rumah serta merindukan gurunya. Antara dan Prima (2020) menyatakan bahwa pembelajaran secara online menimbulkan rasa rindu kepada gurunya.
Menurut studi yang dilakukan oleh Coman et al. (2020) Masalah teknis adalah salah satu hambatan dalam mengikuti pembelajaran online, diikuti oleh kurangnya keterampilan teknis guru dan gaya mengajar mereka yang tidak sesuai dengan lingkungan online. Hal tersebut merupakan salah satu alasan anak rindu belajar tatap muka langsung dengan gurunya. Selain itu kurangnya interaksi langsung antara guru dan anak, otomatis berkuranglah internalisasi nilai-nilai karakter yang semestinya harus ditanamkan seorang guru ke dalam
diri anak (Ahdar, 2021). Hal ini bisa dicapai dengan interaksi di sekolah, namun pandemi COVID-19 menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan sosial pada anak. Turunnya mood dan merasa sedih turut dirasakan anak karena tidak dapat berinteraksi langsung dengan teman, guru, dan saudara yang lainnya (Saurabh & Ranjan, 2020).