meningkatkan ketahanan remaja terhadap stresor lingkungan, termasuk yang terkait dengan COVID-19 (Samuelsson et al., 2021).
Kegiatan di luar rumah dapat memberi anak kesempatan untuk terlibat dalam kebugaran fisik, yang memainkan peran penting dalam menjaga kesejahteraan fisik dan mental (Garcia-Hermoso et al., 2021).
“Membosani tidak semangat mengerjakan tugas yang diberikan karena tidak seru dirumah belajar..banyak yang mengganggu” (P16)
“Jadi malas untuk belajar, soalnya ya begitu begitu saja terus macam tidak ada variasi saat guru mengajarkan secara online begitu” (P40)
“Bosan dan ada rindu-rindunya juga seperti dulu, kalau dulu kan seperti masih bisa bermain bersama teman-teman begitu di sekolah, seperti begitu begitu lah, kalau sekarang jadi tidak semangat untuk belajar”(P.29)
“Tidak semangat belajar tidak ada variasinya, macam itu saja terus tidak ada melakukan apa apa begitu, begitu begitu terus, tidak semangat untuk mengerjakan tugas membosani lah intinya”
(P30)
Sudah tidak mau mengerjain apa apa
“Maunya tidak mau mengerjakan apa apa, kemarin itunya waktu disekolah enak. Sudah tidak mau menulis kak, mau banyak- banyak kali tugasnya apanya “ (P3)
“Banyak sih waktunya, tapi kalau mengerjai tugas sekolah sudah malas malas mengerjakan tugas tugas itu, tidak enak.. sepi- sepi, tidak ada kawan” (P11)
“Belajarnya kan jadi tidak tidak semangat, tugas dari guru tidak ku kerjakan kubiarkan saja, bagaimanalah, jadi tidak enak, setelah itu bosan, tidak ada teman.. guru pun tidak pernah lagi kami bertemu, dimarahi.. jadi rindu” (P2 L7-L9)
“Menonton video, dibuatlah contoh soalnya, setelah itu pokoknya malaslah ngerjain karena online ini” (P6)
Rasa malas bertambah
“Berubahlah... Dulu itu belajarnya terus semangat di sekolah karena nanti kalau tidak semangat malah dimarahin guru, tapi kalau
“Diawasinya mama, tapi karena malasnya, karena malas kaminya belajar, karena masa belajar online ini” (P6)
“Membuat aku tidak fokus, karena dulu sebelum COVID-19 kan banyak teman di kelas, jadi banyak saingan jadi keinginan mau juara begitu, jadi aku harus kalahkan mereka jadi harus kerjakan tugas selesai duluan begitu daripada mereka. Tapi kalau di rumah kan tidak ada saingan jadi ya lama-kelamaan jadi malas malasan begitu mengerjakan tugasnya” (P29)
“Dampaknya bosan, baru malas, malas kemana-mana”
(P15)
“Semakin malas belajar ku karena banyak sekali dibuat tugas dari sekolah” (P19)
Stress
Perubahan dalam new normal yang berlangsung selama berbulan- bulan ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik mereka, tapi juga kesehatan mentalnya. Saat ini, banyak anak yang merasakan stres karena harus mengikuti kegiatan belajar mengajar secara online.
Anak juga kehilangan keseharian mereka, harus belajar di rumah secara online dimana kondisinya benar-benar berbeda dengan di sekolah dan di suruh membantu orangtua dalam mengerjakan seperti memasak, menjaga adek hingga berujung pada stres seperti pernyataan partisipan berikut ini
Banyak tugas sekolah
“ Karena banyak tugas sekolah mudah stress itu, karena tidak enak kali dirumah, kalau disekolah kan harus dipaksa mengerjakannya tapi kalau dirumah bisanya dilambat-lambatkan”
(P6)
“Stress, mau stress terus aku karena banyaknya tugas itu.
Sekarang kan tugas pun dikasih…. sekarang tidak kami kerjakan lagi, iya kan Marc karena banyak dan sudah jenuh melihat tugas itu.” (P7)
“Bedanya kalau waktu sebelum pandemi COVID-19 itu tidak banyak tugas tapi kalau sekarang banyak sekali tugasnya tiap hari begitu” (P29)
“Sedihlah, gara-gara COVID-19 tidak bisa ketemu sama guru, setelah itu kalau sekolah online jadi banyak lagi kerjaan, jadi apalah, banyak kalilah… tugas juga makin menumpuk. Biasanya 1 halamannya, sekarang jadi tulis sampai banyak halaman……
sampai habis halaman yang ada dibuku tulis itu” (P28)
“Banyak kali halaman sebegini banyakynya, dibaca baru kerjakan halaman sebegini. Nanti sore dikirim ke ibu guru”
katanyalah.. mau sampai malam mengerjkakannya, kadang mau terlambat .mengirim karena banyak kali pula tugas jadi lamalah”
(P17)
Disuruh membantu orangtua
“Mencuci piring, menyapu lantai.. baru mengepel lantai, baru masak nasi, membuat teh, mau rasa aku berteriak.. mau …ku Tarik-tariklah rambutku ini ku. Banyak kerja…belum lagi mengerjakan tugas dari sekolah padahal banyak kali kerja. (P7)
“Jadi stress.. habis itu kan mama sering menyuruhku untuk membantu pekerjaan di rumah jadi terbengkalailah tugas sekolahku ini mau ditulis, kan menulislah aku sering dipanggil mama… kau jaga dulu adikmu” (P21)
“Ada, disuruh macam malahlah aku sama mama dan papaku, akhirnya tidak siap tugas sekolahku dibuatnya….kesal kali kurasa”
(P17)
Tabel 5. Mengalami perubahan psikologis
Tema Sub-tema Kategori
Perubahan psikologis
Merasa bosan • Kehilangan minat belajar
• Sudah tidak mau mengerjain apa apa
• Rasa malas bertambah Merasa stress • Banyak tugas
sekolah
• Disuruh membantu orangtua
Beberapa anak usia sekolah mengalami peningkatan tingkat kecemasan dan mengelola ketakutan akan kemungkinan lebih banyak kematian akibat pandemi. Anak usia sekolah menghadapi kehilangan akses ke banyak mekanisme koping mereka, termasuk hubungan yang dapat dipercaya; dukungan sosial; rutinitas sekolah;
dukungan tatap muka pada proyek berkabung termasuk dukungan kelompok sebaya; langsung pada kegiatan dan konseling rahasia.
Perubahan psikologis yang terjadi anak usia sekolah yang didapat dari pada penelitian ini adalah merasa bosan dan merasa stress.
Kebosanan dapat timbul dikarenakan situasi lingkungan yang tidak menarik, cenderung monoton dan tidak termotivasi dan dari diri sendiri sudah bosan dengan suatu situasi (Kusuma & Sutapa, 2021).Menurut penelitian Morgul et al (2021) akibat lockdown selama pandemi didapatkan bahwa anak mengalami kebosanan, kesepian, frustrasi, lekas marah, gelisah, marah, cemas, sedih, khawatir, cenderung berdebat, aktivitas fisik yang minimal dan adanya masalah tidur. Menurut Raven-Sieberer et al (2021) anak mengalami masalah kesehatan mental berupa kecemasan dan
depresi. Menurut persepsi orang tua, lebih dari separuh anak merasa bosan, mudah tersinggung, merasa lebih kesepian, gelisah, gugup, khawatir, cemas, dan gelisah, dibandingkan dengan masa sebelum karantina (Fransisco et al., 2020). Yeasmin et al (2020) anak mengalami gangguan kesehatan mental selama masa lockdown.
Anak mengalami efek kesehatan mental yang merugikan, termasuk perasaan isolasi sosial, depresi, kecemasan, dan peningkatan perilaku maladaptif (O'Sullivan et al., 2021) Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, selama lockdown anak menunjukkan perubahan emosional dan perilaku (Pizarro-Ruiz & Ordonez-Camblor, 2021). Lebih lanjut, banyaknya tugas yang diberikan oleh guru membuat banyak siswa merasa stres dalam menjalani pembelajaran daring (Drane et al., 2020).