depresi. Menurut persepsi orang tua, lebih dari separuh anak merasa bosan, mudah tersinggung, merasa lebih kesepian, gelisah, gugup, khawatir, cemas, dan gelisah, dibandingkan dengan masa sebelum karantina (Fransisco et al., 2020). Yeasmin et al (2020) anak mengalami gangguan kesehatan mental selama masa lockdown.
Anak mengalami efek kesehatan mental yang merugikan, termasuk perasaan isolasi sosial, depresi, kecemasan, dan peningkatan perilaku maladaptif (O'Sullivan et al., 2021) Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, selama lockdown anak menunjukkan perubahan emosional dan perilaku (Pizarro-Ruiz & Ordonez-Camblor, 2021). Lebih lanjut, banyaknya tugas yang diberikan oleh guru membuat banyak siswa merasa stres dalam menjalani pembelajaran daring (Drane et al., 2020).
jadi jam 9.00. Tapi sekarang menjadi berubah menjadi setengah 12.00” (P3)
“Mau jam tengah 11.00.. mau jam 10.00, sering dimarahi sama orangtua. Setelah dimarahi barulah aku tidur. Beda.. kalau dulu jam 8.00 sudah tidur, kalau nggak.. jam 9.00, mau jam 8.00, kalau tidak tidur cepat siangnya ngantuk aku disekolah” (P7)
“Kalau tidur aku biasa jam 9.00, sekarang mau jam 10.00.
karena tidak ke sekolah, mau bangun tidur terlambat.” (P9)
“Berubahlah, biasanya aku tidur jam 9.00 sudah harus tidur, sejak COVID-19 mau jam 10.00 lewat” (P10)
Bangun tidur waktunya lebih lama
Bangun tidur juga lebih lama dari sebelumnya, berbeda dengan dulu yang harus cepat karena harus ke sekolah setiap pagi, dan memastikan tidak terlambat. Sekarang anak tidak lagi memikirkan tuntutan tersebut.
“Iya, kalau sekarang jadi lama sekali aku bangun tidur, biasanya jam 5.00, jam 6.00, padahal sekarang jadi jam 7.00 atau jam 8.00 jadi seperti itu”. (P2)
“Sekarang bangun tidur pagi sekitar jam 8.00 kan,biasanya jam 5.30 atau 6.00 begitunya karena waktu pergi ke sekolah, jadi malas bangun cepat kerena tidak ke sekolah” (P5)
“Berubah sekali.. Mau sampai jam 8.00. Kalau dulu mau jam 5.00, mau jam 6.00, kalau sekarang mau tengah 7.00” (P7)
“Maunya aku bangun jam-jam tengah 7.00, kalau sekarang jadi jam 9.00 he he he.”(P9)
Melakukan protocol kesehatan
Pandemi COVID-19 menjadikan anak sebagai kelompok yang rentan terpapar sekaligus dapat menjadi carrier atau pembawa virus.
Menerapkan protokol kesehatan sangat penting untuk memutus rantai penularan virus corona. Virus merupakan penyebab COVID- 19 yang hingga kini masih menjadi pandemi di dunia. Namun, menerapkan protocol Kesehatan pada anak mungkin bukanlah hal yang mudah karena tidak semua anak mudah menerima suatu perubahan baru dalam kehidupan mereka. Hal ini sesuai dengan pernyataan berikut:
Menjaga jarak
“Jangan keluar, hati-hati dan jaga jarak” (P13)
“Kalau keluarpun tidak pakai masker, tidak jaga jarak, tapi sekarang sudah ada COVID-19 sepertinya tidak bisa main-main, pergi pun mau bermain harus jaga jarak” (P22)
“Kalau sebelum COVID-19 kan apa saja bisa aku lakukan tidak ada larangan, ngumpul-ngumpul bersama teman. Kalau sekarang tidak boleh ngumpul-ngumpul, tidak boleh main ke sana ke mari, harus jaga jarak” (P 25)
“Terus sebelum COVID-19 pergi kesana kesini tidak perlu melihat apakah temapt itu ramai atau tidak kalau sekarang kan COVID-19 jadi harus lihat lihat dulu ini ramai berarti tidak boleh dan harus jaga jarak” (P 28)
Mencuci tangan
“Jarang nanti main-mainnya, baru tidak boleh lagi pergi ke tempat yang ramai, baru harus selalu cuci tangan, pakai handsanitizer, seperti begitulah” (P35)
“Harus sering-sering cuci tangan terus jangan ketempat yang ramai-ramai begitu” (P6)
“Ya seperti biasa cuci tangan hindari kerumunan, jaga jarak, dan pakai masker” (P35)
“Enggak boleh keluar, harus mencuci tangan, jaga jarak, pakai masker, dan hindari keramaian ” (P20)
Memakai masker
“Jadi kalau pergi kemana-mana harus pakai masker, padahal masker itu jadi membuatku sesak nafas.. Jadi tidak enak menghirup udara, jadi seperti ada penghambatnya” (P17)
“Seperti kalau mau pergi harus tetaplah pakai masker membuat tidak enak pakai masker, seperti sesak dan nafas terasa berat begitu, kalau sudah itunya peraturannya mau tidak mau harus dipakailah (P27)
“Ya terasa mudah capek bermasker.. mudah capek, pakai masker” (P.20)
“Masih bisa keluar rumah tapi kalau perlu saja, tapi harus pakai masker lah.. kalau tidak pakai masker kena marahlah” (P.28)
“Tidak enaklah.. seperti kalau mau pergi harus tetaplah memakai masker, seperti tidak enak pakai masker, seperti sesak, jadi seperti bagaimanalah, kalau sudah itunya peraturannya, dipakailah” (P.32)
Tabel 6. Mengalami perubahan kehidupan sehari-hari
Tema Sub-tema Kategori
Mengalami perubahan kehidupan sehari hari
Pola tidur berubah
• Tidur larut malam
• Bangun tidur waktunya lebih lama
Melakukan protocol kesehatan
• Menjaga jarak
• Mencuci tangan
• Memakai masker
Perubahan rutinitas sehari-hari akibat pandemi juga berdampak terhadap kesehatan mental dan emosional anak dan remaja (Unicef, 2020). Program sekolah online dan batalnya berbagai kegiatan menyebabkan anak kehilangan beberapa momen besar di
kehidupannya dan momen keseharian seperti berinteraksi dengan teman dan berpartisipasi di sekolah (Rustandi, 2021). Perubahan pada aktivitas sehari-hari bagi anak berdampak pada aspek pola tidur dan aturan aturan dalam berinterkasi dengan oranglain. Studi ini menunjukkan bahwa lockdown karena COVID-19 menyebabkan perubahan pada pola tidur seperti jadwal tidur dan bangun anak.
Perubahn pola tidur pada anak selama pandemic COVID-19 menyebabkan terjadi peningkatan prevalensi kesulitan tidur, kecemasan pada waktu tidur, terbangun di malam hari, mimpi buruk dan teror tidur (Bruni et al., 2021); kesulitan tidur, kecemasan pada waktu tidur, terbangun di malam hari, mimpi buruk dan teror tidur, pola tidur tidak teratur (Guo et al., 2021); dan waktu tidur dan waktu bangun yang lebih lambat, pergeseran ini tidak mengubah durasi tidur (Kaditis et al., 2021). Liu et al (2020) Perubahan pola tidur yaitu tidur nanti dan bangun nanti. Durasi tidur lebih lama, dan tidur siang lebih pendek.
Menurut temuan pada penelitian ini didapatkan bahwa anak yang pada akhirnya merasa terganggu karena bertambahnya pekerjaan rumah ini. Sejalan dengan pemaparan Mahardini (2020), mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan bertambah seperti membantu orangtua, atau harus mengajari adiknya mengganggu proses belajar anak, seperti terlambat mengisi daftar hadir dan mengumpulkan tugas. Selanjutnya, salah satu perubahan rutinitas yang dialami oleh anak adalah mengunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak untuk membantu mencegah penyebaran virus COVID-19.
Namun, membiasakan anak-anak mengenakan masker tidak selalu mudah. Dari penelitian ini didapatkan bahwa anak mengalami
kesulitan dalam menerapkan protocol kesehatan. Chiu et al (2020) Mengenakan masker, kebersihan tangan, dan jarak sosial tidak hanya mengurangi dampak COVID-19; strategi ini juga menyebabkan penurunan infeksi pernapasan lainnya. anak-anak sekolah dasar menunjukkan kognisi dan perilaku cuci tangan yang sangat baik, jauh di bawah harapan kami (Chen et al., 2020).