a.n Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual
u.b.
Direktur Hak Cipta dan Desain Industri
Anggoro Dasananto NIP.196412081991031002 REPUBLIK INDONESIA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
SURAT PENCATATAN
CIPTAAN
Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan:
Nomor dan tanggal permohonan : EC00202302932, 10 Januari 2023 Pencipta
Nama : Dewi Elizadiani Suza S.Kp., MNS., Ph.D. dan Setiawan S.Kp.,
MNS., Ph.D.
Alamat : Jalan Prof. Maas No.3 Kampus USU, Medan, SUMATERA UTARA,
20155
Kewarganegaraan : Indonesia
Pemegang Hak Cipta
Nama : Universitas Sumatera Utara
Alamat : Jalan Dr. Mansyur No. 9 Kampus USU, Medan, SUMATERA
UTARA, 20155
Kewarganegaraan : Indonesia
Jenis Ciptaan : Buku
Judul Ciptaan : New Normal Merebut Kehidupan Masa Kecil Anak Usia Sekolah
Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia
: 10 Januari 2023, di Jakarta
Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali dilakukan Pengumuman.
Nomor pencatatan : 000435854
adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon.
Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
BUKU MONOGRAF
NEW NORMAL MEREBUT
KEHIDUPAN MASA KECIL ANAK USIA SEKOLAH
Dewi Elizadiani Suza
Setiawan
USU Press
Art Design, Publishing & Printing
Universitas Sumatera Utara, Jl. Pancasila, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara 20155 Telp. 0811-6263-737
usupress.usu.ac.id
© USU Press 2022
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang; dilarang memperbanyak menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
ISBN 978-602-465-456-6
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Suza, Dewi Elizadiani
New Normal Merebut Kehidupan Masa Kecil Anak Usia Sekolah: Buku Monograf/Dewi Elizadiani Suza; Setiawan -- Medan: USU Press 2022
iv, 129 p; ilus : 25 cm Bibliografi
ISBN: 978-602-465-456-6
Dicetak di Medan, Indonesia
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan buku monograf yang berjudul “New Normal Merebut Kehidupan Masa Kecil Anak Usia Sekolah”
Buku monograf bertujuan sebagai pegangan materi pembelajaran.
Baik bisa digunakan bagi mahasiswa dengan bimbingan dari dosen, maupun sebagai referensi dosen dan peneliti untuk melakukan penelitian.
Penulis tentunya menyadari bahwa dalam penulisan buku monograf ini masih banyak kekurangan sehingga saran dan kritik diterima dengan lapang. Terakhir, semoga buku monograf ini memberikan manfaat bagi semua. Aamiin.
Medan, 15 September 2022
Dewi Elizadiani Suza
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iv
BAB 1. PENDAHULUAN 1
1.1 Dampak Pandemi COVID-19 1
1.2 Masalah pada Anak Usia Sekolah Selama Pandemi
COVID-19 dan New Normal 6
1.3 Pengalaman Hidup Anak Usia Sekolah Selama
Pandemi COVID-19 dan New Normal 8
1.4 Perawatan dan Pendidikan Dini pada Pandemi
COVID-19 dan New Normal 9
BAB 2. KONSEP PANDEMI COVID-19 10
2.1 Pandemi COVID-19 10
2.2 Dampak Pandemi COVID-19 pada Kesehatan
Mental Anak 12
2.3 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak dengan
Kebutuhan Khusus 15
2.4 Dampak Pandemi COVID-19 pada Kekerasan
terhadap Anak 17
2.5 Dampak Pandemi COVID-19 pada Perilaku Gaya
Hidup 19
2.6 Dampak Pandemi COVID-19 pada Penggunaan
Perawatan Kesehatan 20
2.7 Dampak Pandemi COVID-19 Menempatkan Anak pada Kemiskinan dan Risiko Tertinggi Menderita 21 2.8 Dampak Pandemi COVID-19 pada Peningkatan
Risiko Gizi Buruk 22
2.9 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak Jalanan 23 2.10 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak Keluarga
Tunawisma 24
2.11 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak Pekerja
dan Kerja Paksa 25
2.12 New Normal Setelah Pandemi COVID-19 26
2.13 Teori Fenomenologi 32
BAB 3. IMPLEMENTASI PENDEKATAN
FENOMENOLOGI 69
3.1 Pendekatan Fenomenologi 69
3.2 Saturasi Data Fenomenologi 69
3.3 Prosedur Pelaksanaan Fenomenologi 70 3.4 Analisa Pendekatan Fenomenologi 73
3.5 Keabsahan Data Fenomenologi 74
3.6 Etik pada Implementasi Fenomenologi 79
BAB 4. KARAKTERISTIK ANAK USIA SEKOLAH PADA MASA PANDEMI COVID-19 DAN NEW
NORMAL 83
4.1 Karakteristik Anak Usia Sekolah yang Mengalami
Dampak dari Pandemi COVID-19 dan New Normal 83 4.2 Interaksi Sosial yang di Batasi 84 4.3 Kehilangan Aktivitas di Alam Terbuka 89
4.4 Mengalami Perubahan Psikologis 93
4.5 Mengalami Perubahan Kehidupan Sehari Hari 98 4.6 Mengalami Kekerasan Verbal dan Fisik 103
BAB 5. KESIMPULAN 106
DAFTAR PUSTAKA 107
INDEKS 126
GLOSARIUM 127
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Interpretasi Metodologis 42
Tabel 2 Karakteristik Pastisipan (n= 40) 83 Tabel 3 Interaksi Sosial yang di Batasi 87 Tabel 4 Kehilanganan Aktivitas di Alam Terbuka 91 Tabel 5 Mengalami Perubahan Psikologis 97 Tabel 6 Mengalami Perubahan Kehidupan Sehari-hari 101 Tabel 7 Mengalami Kekerasan Verbal dan Fisik 104
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Dampak Pandemi COVID-19
Pandemi corona virus 19 (COVID-19) merupakan ancaman akut bagi kesejahteraan anak yang terkait perubahan pola hidup dan stres terkait akibat dari lockdown (Prime, Wade, & Browne, 2020). Anak merupakan bagian dari manusia yang menanggung beban terberat akibat lockdown dan mengalami kerugian akibat dari pembatasan interaksi sosial dari dunia mereka sebagai anak (Townsend, 2020).
Konsekuensi dari lockdown, pemerintah Indonesia menerapkan strategi pembatasan jarak sosial yang salah satunya dengan menutup sekolah (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, 2020). Penutupan sekolah mempengaruhi kemajuan proses pembelajaran dan tumbuh kembang terutama pada anak usia sekolah.
Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga sebagai tempat berkumpul, bermain dan berbagi keceriaan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya sehingga terjadi interaksi di dalamnya (Nadhifa et al., 2021).
Banyak anak usia sekolah mengalami isolasi sosial yang mendalam selama lockdown, dimana berdampak negatif pada kesehatan mental mereka termasuk hubungan dan keterlibatan mereka dengan kegiatan di sekolah. Anak usia sekolah tidak menginginkan kontrol atas kehidupan mereka, hal-hal yang harus dilakukan, dan hubungan yang bermakna dengan orang lain (Mooney & Hemmerdinger, 2021).
Akibatnya, pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari untuk anak usia sekolah dengan
rekomendasi dan batasan khusus yang bervariasi di dalam dan antar negara (Moore et al., 2020). Sebuah perubahan yang pasti mengundang berbagai respon dari anak usia sekolah terhadap kesehariannya yang hilang (Hakim, 2020). Beberapa anak usia sekolah memperilhatkan respon yang berbeda akibat dari perubahan tersebut seperti mengunci diri di dalam kamar mereka selama berminggu-minggu, menolak untuk mandi, makan, atau meninggalkan tempat tidur mereka dan depresi, akan ada kesulitan yang cukup besar untuk menyesuaikan kembali ke new normal ketika sekolah dibuka kembali (Lee, 2020). Stoecklin et al. (2021) menemukan bahwa dampak lockdown bagi anak usia sekolah yang tinggal di rumah menyebabkan aktivitas fisik terhenti, kehilangan kontak tidak langsung dengan teman dan guru, ketakutan akan COVID-19 mengenai mereka, dan membatasi partisipasi dalam masyarakat. Menurut Ghosh (2021) gejala psikologis yang diperlihatkan anak akibat dari pandemi COVID-19 adalah kekhawatiran, ketakutan, ketidakberdayaan, kebosanan, kesulitan konsentrasi, mudah marah, gelisah, gugup, perasaan kesepian dan kegelisahan. Ketika virus terus menyebar ke seluruh dunia, itu membawa banyak tekanan baru, termasuk risiko kesehatan fisik dan psikologis, isolasi, kesepian, dan penutupan banyak sekolah (Bradbury-Jones & Isham, 2020). Lebih lanjut pandemi COVID-19 menyebabkan terjadinya kekerasan fisik yang dilakukan oleh orangtua adalah pemukulan, mencubit, mendorong, dan menjewer (Fitriana et al., 2020).
Timbulnya kasus COVID-19 pada akhir tahun 2019 di berbagai wilayah Cina, pemerintah Tiongkok dan Kementerian Pendidikan
mengeluarkan kebijakan untuk menutup sekolah secara nasional (Wang et al., 2020). Upaya untuk mengurangi perkembangan COVID-19 terutama didasarkan pada tindakan pembatasan, termasuk penghindaran interaksi sosial, larangan bergerak di dalam wilayah nasional, dan penutupan semua kegiatan yang tidak penting termasuk sekolah (Espasito et al., 2020). Hal ini juga dilaksanakan di Indonesia dimana pemerintah telah menghimbau adanya pembatasan sosial berskala besar sebagai upaya dari jarak sosial yang salah satunya adalah penutupan sekolah (Kemenkes RI, 2020).
Dampak pandemi COVID-19 sangat terasa pada anak usia sekolah dimana dapat mempengaruhi kesehatan mental dan psikososial. Hal ini karena perubahan kebiasaan selama pandemi seperti sekolah dirumah, kehilangan interaksi bersama teman dan guru disekolah, dan orangtua yang dikarantina atau dirawat karena COVID-19 (Kemenkes RI, 2020). Menurut studi yang dilakukan oleh Jiao et al.
(2020) menemukan bahwa masalah psikologis dan perilaku yang paling umum diantara 320 anak dan remaja berusia 3-18 tahun adalah kemelekatan, gangguan, mudah marah, dan takut bertanya tentang epidemi.
Anak usia sekolah berisiko menjadi korban terbesar akibat dari perubahan seperti penutupan sekolah, lockdown di rumah, belajar dari rumah, pembatasan jarak sosial, dan jarak fisik (UNICEF., 2020). Akibat lockdown mengakibatkan penutupan sekolah, hak, dan kebutuhan anak usia sekolah terabaikan dalam krisis pandemi global (Townsend, 2020) dan penutupan sekolah dan fasilitas hiburan, meningkatnya kecemasan, dan pembatasan aktifitas diluar rumah (Gupta & Jawanda, 2020). Viner et al. (2020) mendapatkan bahwa
penutupan sekolah dan pemutusan hubungan sosial dapat menghambat perkembangan psikologis dan pribadi anak. Armitage dan Nellums (2020) melaporkan bahwa pembatasan jarak sosial menciptakan lebih banyak hambatan dimana bisa berdampak negatif pada anak usia sekolah dan perubahan perilaku.
New normal bersekolah di masa COVID-19 mungkin sudah tidak asing lagi bagi anak usia sekolah. Kemana pun mereka pergi maka mereka melihat poster dan informasi terkait COVID-19. Di Indonesia, masa pandemi COVID-19 dan new normal mengakibatkan anak usia sekolah mengalami pembatasan sosial dan penutupan sekolah berdampak pada pendidikan, kesehatan mental, dan akses kepada pelayanan kesehatan dasar. Hidup berdamai dengan COVID-19 dan perilaku baru merupakan salah satu cara untuk adaptasi terhadap pandemi COVID-19 (DJKN.KEMENKEU.go.id 2020). Anak usia sekolah merasa kehilangan masa kecil mereka seperti keseharian belajar di sekolah, keseharian bertemu dan bermain dengan teman-temannya, keseharian keluar rumah untuk datang dan pergi dari rumah ke sekolah (Hakim, 2020). New normal merupakan bagian dari strategi setiap negara dalam menghadapai pandemi COVID-19 (Rahman, 2020). Intinya adalah anak usia sekolah berhadapan dengan sebuah perubahan yang menghadang dan sama sekali tidak mereka terduga sebelumnya.
Pada new normal terdapat beberapa anak usia sekolah cenderung membutuhkan periode penyesuaian kembali yang lama, sementara yang lain mungkin membutuhkan lebih sedikit dukungan untuk menyesuaikan diri dengan new normal. Survei menunjukkan bahwa,
bagi sebagian anak usia sekolah kembali ke sekolah adalah hal yang melegakan dan membantu meningkatkan kesehatan mental dan psikososial mereka, sementara anak usia sekolah yang lain berjuang lebih keras lagi dalam menjalani new normal (Mooney &
Hemmerdinger, 2021). Oleh karena itu anak usia sekolah perlu dilatih untuk membiasakan diri dengan perilaku hidup bersih dan sehat serta kebiasaan seperti memakai masker dan rutin mencuci tangan dengan sabun sehingga terhindar dari penularan berbagai macam penyakit, termasuk COVID-19.
Timbulnya reaksi beragam muncul dari setiap anak usia sekolah dalam menghadapi perubahan new normal. Sebagian besar anak usia sekolah banyak yang kecewa karena kehilangan kesempatan untuk bermain bercanda ria dengan teman sebaya saat istirahat di sekolah (Hakim, 2020). Kekecewaan ini apabila tidak berhasil dikelola dengan baik dan menerima bimbingan orangtua dan guru yang tepat, tidak mustahil akan dapat menurunkan semangat belajar anak usia sekolah. Sebuah tantangan tidak hanya bagi anak usia sekolah, akan tetapi juga bagi orangtua, tenaga kesehatan, dan guru disekolah.
Untuk itu, perubahan pada anak usia sekolah harus diperhatikan agar tidak menimbulkan efek jangka panjang yang tidak diinginkan.
Untuk mengisi kesenjangan dan banyaknya tantangan yang dihadapi anak usia sekolah pada new normal maka peneliti berkeinginan untuk menggali pengalaman anak usia sekolah dalam menjalani kehidupan new normal masa pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman bagaimanna anak usia sekolah menjalani new normal selama masa pandemi COVID-19.
Harapan dari peneliti hasil dari penelitian ini dapat meningkatkan
pemahaman orangtua, guru, dan tenaga kesehatan terkait dengan kebutuhan anak usia sekolah dalam menjalani new normal. Sehingga anak usia sekolah dapat menerima perubahan dalam hidup mereka yang menjadi kunci sukses dalam menghadapi pandemi COVID-19 dan kekonsistenan dalam menerapkan perilaku baru menjadi kunci sukses dalam memasuki new normal.
1.2 Masalah pada Anak Usia Sekolah Selama Pandemi COVID- 19 dan New Normal
Pandemi corona virus (COVID-19) memiliki dampak mendalam dan jangka panjang pada anak usia sekolah. Pandemi COVID-19 berdampak pada kesehatan mental, kesehatan fisik, pendidikan, hubungan teman sebaya, dan hubungan keluarga (Garagiola et al., 2022). Banyak penelitian telah menyoroti hubungan antara pandemi dan kesehatan mental. Salah satu populasi yang menarik adalah anak usia sekolah, yang pada umumnya berada pada tahap perkembangan yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental di seluruh dunia (World Health Organization, 2021); mengalami tekanan emosional, perasaan cemas, takut, frustrasi, dan kesepian (Serafini et al., 2020);
lebih rentan terhadap tekanan mental selama pandemi COVID-19 (Varma et al., 2021); kecemasan, depresi, dan gejala pasca trauma diamati pada anak (de Miranda et al., 2020); dan terjadi peningkatan masalah psikososial anak (Tso et al., 2020). Selain itu, masa anak usia sekolah merupakan masa perkembangan identitas, kemandirian yang berkembang dan sosialisasi yang meningkat (Jaworska &
MacQueen, 2015).
Studi longitudinal terhadap anak usia sekolah menetapkan bahwa
pandemi COVID-19 memiliki dampak negatif pada kesehatan fisik dalam kelompok ini, dengan 70% responden melaporkan penurunan kesehatan fisik mereka secara keseluruhan (Jester & Kang, 2021).
Studi ini menilai tidur, olahraga, nafsu makan, sakit kepala, gangguan pencernaan, asupan kafein, dan asupan alkohol berdampak negatif pada anak usia sekolah. Menurut Chenet al. (2021) dan Dong et al. (2020) anak usia sekolah telah membayar harga yang mahal sehubungan dengan hasil pendidikan dalam hal adaptasi COVID-19;
apakah itu dari pembelajaran jarak jauh, kelelahan zoom, kehilangan pembelajaran, atau kurangnya interaksi sosial, banyak siswa merasakan kecemasan dan kelelahan terkait dengan pembelajaran virtual.
Magson et al. (2021) menemukan bahwa selain ketakutan anggota keluarga atau teman dekat tertular atau meninggal karena COVID- 19, anak usia sekolah menyebutkan gangguan pada interaksi dan aktivitas sosial sebagai kekhawatiran mereka yang paling menyedihkan selama pandemi. Selain itu hubungan teman sebaya ini berperan penting untuk fungsi sosioemosional dibanyak hasil seperti kesehatan mental dan prestasi akademik, serta pengalaman belajar sosial (Orben et al., 2020). Pandemi COVID-19 juga berdampak pada kehidupan sehari-hari anak usia sekolah dan keluarga dalam berbagai cara seperti membatasi jarak sosial dari orang yang dicintai, menerapkan perubahan rutinitas yang tidak diinginkan, dan menyebabkan pergeseran dinamika keluarga di dalam rumah (Prime et al., 2020). Banyak anak usia sekolah di seluruh dunia telah menderita berbagai kehilangan, baik itu kematian orang yang dicintai karena COVID-19 atau hilangnya kehidupan normal dan bagaimana
keadaan sebelum pandemi. Anak usia sekolah khususnya telah mengalami banyak kerugian lain, seperti kehilangan kontak fisik dengan teman sebaya dengan transisi ke pembelajaran jarak jauh, kehilangan pencapaian yang telah mereka nantikan, serta hilangnya kemandirian karena mereka diharuskan untuk dikarantina di rumah bersama keluarga selama periode dimana mereka akan mengeksplorasi dan menegosiasikan otonomi yang lebih besar (Walsh, 2020). Oleh karena itu, dampak pandemi pada tingkat individu untuk anak usia sekolah dipengaruhi oleh keluarga dimana mereka menjadi bagiannya.
Pada anak usia sekolah tahap terpenting dalam hidupnya adalah mengembangkan fungsi sosial dan membangun kesehatan fisik dan mental, dampak pandemi pada gaya hidup dan kehidupan sosial anak kemungkinan akan berlanjut dalam waktu dekat dan mungkin juga berlangsung sepanjang masa hidup mereka (Aman et al., 2020;
Robson et al., 2020). Oleh karena itu, penting untuk menggali perubahan yang dialami oleh anak selama menjalani hidup pada masa pandemi COVID-19 dan new normal yang berhubungan dengan dampak yang mereka rasakan. Dengan demikian rumusan masalah yang muncul adalah bagaimana pengalaman anak dalam menjalani hidup pada masa pandemi COVID-19 dan new normal.
1.3 Pengalaman Hidup Anak Usia Sekolah Selama Pandemi COVID-19 dan New Normal
Untuk mendapatkan informasi dari pengalaman hidup anak usia sekolah selama pandemi COVID-19 dan new normal maka perlu untuk mengeksplorasi pengalaman hidup anak usia sekolah selama
pandemi COVID-19 dan new normal. Jawaban atas pertanyaan- pertanyaan berikut dicari:
1. Bagaimana anak usia sekolah menjalani hidupnya selama masa pandemi COVID-19 dan new normal?
2. Bagaimana perasaan dan pikiran anak usia sekolah menjalani hidupnya selama masa pandemi COVID-19 dan new normal?
3. Dukungan seperti apa yang dibutuhkan untuk anak usia sekolah menjalani hidupnya selama masa pandemi COVID- 19 dan new normal?
1.4 Perawatan dan Pendidikan Dini pada Pandemi COVID-19 dan New Normal
Pada new normal anak usia sekolah sering kali mengalami banyak perubahan, rutinitas baru, dan bertemu dengan teman baru.
Pendekatan sekolah dan program perawatan dan pendidikan dini dapat membantu anak usia sekolah dengan meningkatkan resiliensi untuk mempertahankan kesehatan mental dan psikososial dalam menjalani masa-masa sulit saat ini. Membuat transisi dari rumah ke sekolah mungkin lebih sulit bagi anak usia sekolah dengan masalah yang ditimbulkan dari pandemi COVID-19 dan new normal. Guru, orangtua, tenaga kesehatan, dan program perawatan dan pendidikan dini dapat membantu anak usia sekolah dengan merencanakan transisi, membuat koneksi yang kuat, dan membangun rutinitas baru.
Dengan dukungan yang tepat, anak usia sekolah dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan pada new normal.
BAB 2
KONSEP PANDEMI COVID-19
2.1 Pandemi COVID-19
Corona virus disease 2019 (COVID-19) didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru yang disebut sindrom pernafasan akut parah coronavirus 2 (SARS-CoV-2).
SARS-CoV-2 adalah virus yang baru ditemukan yang terkait erat dengan corona virus kelelawar (Perlman, 2020) dan SARS-CoV (SARS‑CoV‑2, 2020). Wabah pertama yang diketahui dimulai di Wuhan, Hubei, Cina, pada November 2019. COVID-19 kasus awal ditemui pada orang yang pernah mengunjungi pasar di Tiongkok, Cina (Sun et al., 2020), kemungkinan penularan penyakit terjadi antara manusia ke manusia lainnya.
Gejala COVID-19 terindentifikasi dari tidak terdeteksi hingga mematikan, tetapi yang paling umum adalah demam, batuk kering, dan kelelahan. Penyakit parah lebih mungkin terjadi pada orang usia lanjut dan mereka yang memiliki kondisi medis tertentu yang mendasarinya. COVID-19 menular ketika orang menghirup udara yang terkontaminasi oleh tetesan dan partikel kecil di udara yang mengandung virus. Risiko yang paling tinggi ketika orang berada dalam jarak dekat dan menghirup udara dari orang yang terdeteksi positif COVID-19. Penularan dapat terjadi jika cairan yang terkontaminasi mencapai mata, hidung atau mulut, dan melalui permukaan yang terkontaminasi. Orang yang terinfeksi biasanya menular selama 10 hari dan dapat menyebarkan virus bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala. Mutasi telah menghasilkan
banyak varian dengan tingkat infektivitas dan virulensi yang bervariasi (CDC, 2020).
Pandemi merupakan salah satu pemicu perubahan sosial dan ekonomi yang parah diseluruh dunia yang menyebabkan resesi global terbesar. Lockdown yang dilakukan oleh negara-negara untuk mencegah penyebaran COVID-19 ke tingkat lebih parah. Institusi pendidikan dan area publik sebagian atau seluruhnya ditutup di banyak tempat, dan banyak kegiatan dibatalkan atau ditunda.
Banyaknya informasi yang tidak benar dan beredar melalui media sosial dan media massa menyebabkan terjadi ketegangan politik meningkat. Pandemi COVID-19 mengangkat isu-isu diskriminasi ras dan geografis, kesetaraan kesehatan, dan keseimbangan antara keharusan kesehatan masyarakat dan hak-hak individu.
Tingkat keparahan COVID-19 bervariasi. Penyakit ini mungkin berlangsung ringan dengan sedikit atau tanpa gejala, menyerupai penyakit pernapasan atas umum lainnya seperti flu biasa. Dalam 3- 4% kasus gejalanya cukup parah untuk menyebabkan rawat inap (Doshi, 2020). Kasus ringan biasanya sembuh dalam waktu dua minggu, sedangkan kasus dengan penyakit parah atau kritis membutuhkan waktu tiga hingga enam minggu untuk pulih. Diantara mereka yang telah meninggal, waktu dari timbulnya gejala hingga kematian berkisar antara dua hingga delapan minggu. Waktu protrombin yang berkepanjangan dan peningkatan kadar protein C- reaktif saat masuk ke rumah sakit dikaitkan dengan perjalanan COVID-19 yang parah dan dengan pemindahan ke unit perawatan intensif (Christensen et al., 2020).
2.2 Dampak Pandemi COVID-19 pada Kesehatan Mental Anak Dampak negatif yang ditimbulkan dari pandemi COVID-19 adalah gangguan kesehatan mental pada anak terkait dengan informasi tentang tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit selama tahap awal krisis (Zhou et al., 2020). Penelitian yang dilakukan oleh Saurabh dan Ranjan (2020) membandingkan anak yang dikarantina dan tidak dikarantina, menunjukkan adanya tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi pada kelompok yang dikarantina.
Penelitian lain yang membandingkan hasil kesehatan mental dengan norma pra-pandemi dalam populasi. Menurut Zheng et al. (2020) anak laki-laki lebih mungkin mengalami kecemasan, dengan bukti sebelumnya ada perbedaan jenis kelamin dalam kesehatan mental diantara anak dan remaja, menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada wanita (Bender et al., 2012). Temuan tersebut sejalan dengan studi tentang dampak psikologis dari keadaan darurat dan bencana yang dialami (Fan et al., 2020). Anak usia sekolah sebagian besar mengalami gejala sementara akibat dari pandemi COVID-19 contohnya rasa takut, mati rasa, dan perasaan khawatir bahwa suatu peristiwa akan terulang kembali (Danese et al., 2020).
Namun demikian, pada akhirnya akan mengembangkan kecemasan, depresi, penggunaan zat, dan gangguan stres pasca-trauma (Danese et al., 2020). Berdasarkan data tersebut maka ditemui ada indikasi bahwa anak dan remaja mengalami gejala kecemasan dan depresi yang substansial selama pandemi. Sementara itu bagi anak dengan kondisi tertentu, kompleksitas tambahan yang mungkin berhubungan dengan gangguan pada rutinitas dan penutupan sekolah. Sangat penting bahwa implikasi dari langkah-langkah untuk mengurangi
penyebaran pandemi dipertimbangkan untuk anak dan reamaja dengan kondisi tertentu.
2.2.1 Gejala kecemasan dan depresi
Prevalensi masalah kesehatan mental pada anak usia sekolah berada pada 37,4% untuk kecemasan (Chen et al., 2020), dan 43,7% untuk gejala depresi (Zheng et al. al., 2020). Menurut Zheng et al. (2020) tingkat kecemasan lebih tinggi tetapi tingkat depresi lebih rendah selama pandemi daripada sebelumnya. Berbagai faktor risiko yang menyebabkan timbulnya kecemasan atau depresi selama pandemi COVID-19 (Pınar Senkalfa et al., 2020); termasuk usia, aktivitas fisik yang rendah, konflik dengan orangtua selama pandemi, pendidikan orangtua yang lebih rendah, orangtua yang bercerai atau berpisah, orangtua sebagai guru, dan orangtua dengan kecemasan tingkat yang berat (Zheng et al., 2020); dan kurang optimisme (Xie et al., 2020). Penelitian yang dilakukan oleh Chen et al. (2020) melaporkan bahwa jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko kecemasan atau depresi, sementara menurut Zheng et al.
(2020) melaporkan risiko yang lebih tinggi untuk laki-laki dan Pinar Senkalfa et al. (2020) menemukan tidak ada perbedaan antara jenis kelamin.
2.2.2 Stress
Stres dan ketidakpastian yang terkait dengan pandemi COVID‑19 berpotensi memiliki dampak negatif yang signifikan pada kesehatan mental anak usia sekolah. Peningkatan kecemasan tentang COVID- 19, lockdown dan tindakan mitigasi seperti karantina, penutupan sekolah, ketidakpastian tentang ujian akhir sekolah, dan jarak sosial yang berdampak pada kehidupan sehari-hari anak. Bukti tentang
dampak pandemi COVID-19 pada kesehatan mental anak usia sekolah terbatas pada tahap stress (Pew Research Center, 2020).
Menurut Cao et al. (2020) menunjukkan peningkatan kecemasan pada mahasiswa, sementara sekitar 83% anak melaporkan bahwa pandemi COVID-19 telah memperburuk kesehatan mental mereka (Young Minds, 2020).
2.2.3 Kelompok rentan
Konsekuensi dari pandemi COVID-19 lebih parah terjadi pada kelompok anak tertentu yang rentan, dengan potensi beberapa efek yang luas. Pandemi COVID-19 menantang resiliensi anak yang rentan karena pandemi tersebut meningkatkan jumlah risiko yang sudah ada di lingkungan anak dan mengurangi jumlah faktor pelindung. Menurut OECD (2020) sekitar 1 dari 6 anak tinggal dalam rumah tangga dengan orangtua tunggal dan anak kemungkinan besar akan lebih terpengaruh oleh tindakan penahanan daripada yang lain karena berbagai alasan. Sebagian besar anak dalam situasi keluarga ini diasuh oleh orangtua tunggal biasanya ibu yang harus menjaga anak sambil terus bekerja tanpa atau akses terbatas untuk mengasuh anak secara formal atau informal selama masa lockdown. Hal ini kemungkinan besar akan meninggalkan anak dengan pengawasan yang lemah, dan meningkatkan stres, ketegangan keluarga antara orangtua, dan anak. Fakta bahwa hanya ada satu orangtua dalam rumah tangga juga membuatnya sangat rentan jika orangtua terinfeksi virus dan jatuh sakit. Anak dalam keluarga orangtua tunggal berada pada risiko kemiskinan pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada anak lain, hampir sepertiga keluarga orangtua tunggal miskin dibandingkan dengan kurang dari 10% keluarga
orangtua lengkap (OECD, 2020). Tindakan lockdown dapat mengganggu pengaturan akses yang berarti bahwa beberapa anak tidak akan melihat salah satu orangtua untuk jangka waktu yang lebih lama dari biasanya, yang dapat menciptakan kecemasan dan ketidakamanan emosional bagi anak dan dapat menjadi sumber konflik antara orangtua. Terdapat kasus dimana, orangtua tunggal yang bekerja di sektor kesehatan yang terkena virus melihat anak- anaknya diambil dari rumah mereka dan hak asuh diberikan sementara kepada orang tua lainnya melalui keputusan pengadilan (Twohey, 2020).
Anak dengan cystic fibrosis didapatkan bahwa mereka juga mengalami tingkat kecemasan yang lebih rendah daripada anak tanpa cystic fibrosis (Pınar Senkalfa et al., 2020). Di antara anak dengan gangguan spektrum autisme, masalah perilaku yang lebih sering dan lebih intens dilaporkan (Colizzi et al., 2020). Diantara anak dengan attention deficit hyperactivity disorder, menyebabkan kesejahteraan merteka ada yang membaik dan memburuk (Bobo et al., 2020).
Selain itu, untuk beberapa anak dengan attention deficit hyperactivity disorder, home-schooling mengakibatkan kesulitan untuk menyelesaikan tugas namun memiliki lebih sedikit ketegangan terkait sekolah yang meningkatkan kecemasan dan harga diri karena penurunan paparan umpan balik negatif (Bobo et al., 2020).
2.3 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak dengan Kebutuhan Khusus
Pandemi COVID‑19 mengancam kesejahteraan anak usia sekolahdengan kebutuhan khusus untuk pendidikan, kesehatan, dan
kehidupan sosial, dan keluarga. Ini menimbulkan stres dan gangguan yang signifikan pada kehidupan anak yang dalam keadaan normal berkembang dalam struktur dan rutinitas. Anak usia sekolah dengan kebutuhan khusus mungkin memerlukan dukungan untuk menyesuaikan diri dengan banyak perubahan dan dalam memahami bagaimana menjaga diri mereka tetap aman.
Selama penutupan sekolah, anak dengan kebutuhan khusus cenderung kehilangan pendidikan mereka. Misalnya, kesesuaian pembelajaran jarak jauh tergantung pada kebutuhan individu anak dan kemampuan sekolah untuk memberikan pengajaran yang disesuaikan. Untuk anak dengan kebutuhan yang khusus, gangguan terhadap sekolah dan penempatan penitipan anak berpotensi mendorong beberapa keluarga ke dalam situasi krisis. Terlebih lagi, kehadiran saudara kandung bagi anak dengan kebutuhan khusus di rumah akan membahayakan kemampuan orangtua untuk memenuhi tuntutan baru home-schooling untuk anak lain dan untuk mengelola stres keluarga (OECD, 2020).
COVID‑19 juga mengganggu akses ke dukungan terapeutik pada saat anak dengan kebutuhan khusus dan keluarga mereka untuk menyesuaikan diri dengan perubahan besar dalam kehidupan sehari- hari. Banyak anak dengan kebutuhan khusus menerima dukungan terapeutik untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan sosial-emosional dan membantu mereka mengatasi masalah yang mereka temui. Anak sekarang membutuhkan bantuan lebih lanjut untuk membangun dan mempertahankan rutinitas baru dan keterampilan menenangkan dan mengatasi. Tetapi banyak keluarga tidak memiliki panduan dan informasi tentang layanan yang tersedia
dan jenis bantuan yang memenuhi syarat untuk mereka (Hunt, 2019), yang khususnya bermasalah dalam periode lockdown (Hale, 2020).
2.4 Dampak Pandemi COVID-19 pada Kekerasan terhadap Anak
Pandemi COVID-19 bertindak sebagai penyebab terjadinya penganiayaan anak dengan diperburuk beberapa kondisi seperti kemiskinan rumah tangga, perumahan yang penuh sesak, isolasi sosial, kekerasan pasangan, dan penyalahgunaan zat oleh orangtua (OECD, 2019). Dibeberapa keluarga, COVID-19 menciptakan situasi pressure cooker, dimana stres keluarga dapat mencapai tingkat toksik. Menurut Thompson (2014) respons stres yang berlebihan atau berkepanjangan berdampak negatif terhadap kesehatan dan perkembangan anak, terutama pada anak kecil.
Di beberapa negara yang mempunyai layanan kekerasan dalam rumah tangga dan saluran bantuan anak, melaporkan adanya peningkatan tingkat risiko bagi anak dan keluarga yang rentan (Grierson, 2020). Dampak dari pandemi COVID-19 didapatkan banyak anak mengalami kekerasan fisik, penelantaran, dan kekerasan emosional. Krisis tersebut dapat meningkatkan paparan anak terhadap kekerasan yang dilakukan oleh orangtua di rumah (OECD, 2020).
Pandemi COVID-19 sangat mengganggu efektivitas sistem perlindungan anak untuk membantu anak yang mengalami penganiayaan. Pengurangan kontak tatap muka mempersulit pekerja perlindungan anak untuk bekerjasama dengan anak dan keluarga yang rentan dan menilai risiko dengan tepat. Kontak yang lebih
jarang berarti lebih sedikit pemantauan masalah kesejahteraan anak dan pelaporan kekhawatiran. Penyedia perlindungan anak di beberapa negara mencatat penurunan besar dalam pelaporan kekhawatiran akan keselamatan dan kesejahteraan anak (European Social Network, 2020). Hal ini menambah kesulitan lebih lanjut bagi anak dalam hal akses terhadap keadilan (OHCHR &WHO, 2020), melalui penundaan sistem peradilan dan penutupan perbatasan, dan peningkatan jumlah anak yang dirampas kebebasannya.
Anak yang berada dalam tahanan diketahui lebih rentan terhadap penyakit COVID-19 daripada populasi umum karena kondisi tempat tinggal mereka yang sempit, seringkali untuk jangka waktu yang lama. Bukti menunjukkan bahwa pengaturan penahanan dapat bertindak sebagai sumber infeksi dan penyebaran penyakit menular di dalam dan di luar fasilitas karena tingginya konsentrasi orang di ruang yang sama (OHCHR &WHO, 2020). Selain itu, fasilitas penahanan yang penuh sesak sering kali tidak memiliki akses yang memadai ke layanan nutrisi, perawatan kesehatan, dan kebersihan kondisi yang mendorong penyebaran COVID-19.
Anak yang dirampas kebebasannya juga berisiko tinggi mengalami penelantaran, pelecehan, dan kekerasan, terutama jika pandemi dan tindakan penahanan terkait memiliki efek negatif pada jumlah kualitas perawatan. Selain itu, dalam banyak kasus, fasilitas penahanan jauh dari keluarga, rumah, komunitas anak, komunikasi, dan kunjungan reguler terbatas. Ini berkontribusi pada kecemasan dan tekanan emosional yang lebih besar, yang selanjutnya mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak dan keluarga mereka. Anak dapat mendapati perlakukan yang tidak baik jika
mereka tertular virus di dalam fasilitas penahanan (The Alliance for Child Protection in Humanitarian Action & UNICEF, 2020).
Anak sebagian besar mempunyai kegiatan di sekolah dan guru memiliki peran penting dalam mendeteksi pelecehan (Dapic et al., 2020). Oleh karena itu, penutupan sekolah dapat berkontribusi pada penurunan kasus pelecehan anak yang dilaporkan (Dapic et al., 2020). Namun, penurunan kekerasan yang dilaporkan kepada pihak berwenang tidak sejalan dengan peningkatan bukti anekdot, laporan media, dan panggilan telepon untuk kekerasan dalam rumah tangga ke berbagai saluran bantuan di seluruh dunia (Peterman et al., 2020).
2.5 Dampak Pandemi COVID-19 pada Perilaku Gaya Hidup Ada pemahaman yang terbatas tentang bagaimana tindakan isolasi sosial berdampak pada aktivitas fisik dan nutrisi anak (Margaritis et al., 2020). Kinsey et al. (2020) berpendapat bahwa anak yang tumbuh dalam rumah tangga berpenghasilan rendah dan kemiskinan, dan kerawanan pangan lalu diperburuk karena penutupan sekolah maka anak tidak akan menerima gizi yang cukup dan sehat dari sekolah.
Kerawanan pangan dapat berdampak pada kelelahan dan penurunan kekebalan (Dunn et al., 2020); kemampuan akademik yang menurun, kesehatan fisik yang menurun, dan kesehatan mental yang lebih buruk dalam jangka panjang (Van Lancker &Parolin, 2020).
Hemphill et al. (2020) menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik anak dengan penyakit jantung bawaan menurun selama pandemi.
Studi Pietrobelli et al. (2020) mendapatkan antara anak yang kelebihan berat badan atau obesitas dimana menyebabkan anak menjadi kurang aktif dengan peningkatan waktu menonton dan
durasi tidur.
2.6 Dampak Pandemi COVID-19 pada Penggunaan Perawatan Kesehatan
Green (2020) menyatakan kekhawatiran yang dikemukakan oleh para ahli bahwa anak akan menghadapi dampak kesehatan yang substansial bagi kesehatan mereka dan di masa depan sebagai akibat dari pandemi. Kualitas hidup anak dipengaruhi oleh masalah kesehatan mental (Hendekçi & Bilgin, 2020). Keterlambatan dalam akses pengobatan dapat memiliki beberapa implikasi jangka panjang, peningkatan merokok dan penggunaan narkoba, gangguan makan, obesitas, penyesuaian sosial dan pendidikan, dan depresi berat dengan menyakiti diri sendiri (Petito et al., 2020). Oleh karena itu masalah yang dihadapi oleh anak dapat dicegah melalui deteksi dini dan intervensi yang efektif (Petito et al., 2020). Kekerasan dan pelecehan anak merupakan faktor risiko yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental yang buruk saat ini dan di masa depan (Norman et al., 2012), dan penurunan penggunaan perawatan kesehatan selama masa kanak-kanak mungkin memiliki konsekuensi jangka panjang yang merugikan, karena merupakan periode perkembangan kritis untuk membangun perilaku kesehatan dan akses ke perawatan (Patton et al., 2018). Selain itu, penurunan cakupan vaksinasi dapat memiliki konsekuensi signifikan terhadap kekebalan anak yang dapat mengakibatkan wabah penyakit menular dapat dicegah (Bramer, 2020).
2.7 Dampak Pandemi COVID-19 Menempatkan Anak pada Kemiskinan dan Risiko Tertinggi Menderita
Kemiskinan dan ketimpangan pendapatan memiliki pengaruh besar pada sejauh mana anak terpapar risiko COVID-19 (OECD, 2020).
Keluarga yang miskin kurang tangguh secara finansial dan lebih rentan terhadap kehilangan pekerjaan dan pendapatan, sementara anak mereka cenderung dirugikan secara tidak proporsional oleh penutupan sekolah. Tumbuh di lingkungan yang miskin meningkatkan risiko tertular virus dan menjadi pembawa, mengalami masalah kesehatan mendasar dan mengurangi prevalensi vaksinasi diantara anak (OECD, 2020) dan mempengaruhi akses ke berbagai kebutuhan seperti nutrisi yang baik, perumahan yang berkualitas, masalah sanitasi, ruang untuk bermain atau belajar, dan kesempatan untuk terlibat dalam sekolah online.
Beratnya masalah kesehatan, sanitasi, pendapatan keluarga, perumahan, dan sekolah sangat terasa bagi anak di negara berkembang atau daerah miskin di negara dengan ketimpangan pendapatan yang besar. Orang yang hidup dalam atau dekat kemiskinan sering kekurangan uang dan tidak dapat dengan mudah mengakses atau membeli makanan. Selanjutnya di negara berkembang, sebagian besar anak tinggal di rumah tangga sektor informal dengan akses terbatas ke kesehatan atau perlindungan sosial melalui pekerjaan (OECD, 2019). Kelaparan, kekurangan gizi, radang paru-paru dan guncangan terkait kesehatan lainnya serta tekanan menambah kerentanan terhadap virus dan berkontribusi pada lingkaran setan penyakit, kemiskinan, dan kematian.
Kemiskinan dapat memicu penularan, tetapi penularan juga dapat
menciptakan atau memperdalam kemiskinan. Oleh karena itu, seseorang tidak dapat melawan penyebaran COVID-19 tanpa menanggulangi kemiskinan (Roelen, 2020). Cakupan kesehatan universal telah menjadi prioritas kebijakan dibanyak negara berkembang, tetapi mencapai tujuan ini sangat menantang, karena dibanyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, sistem layanan kesehatan kurang berkembang dan pendapatan publik untuk membiayai ekspansi terbatas (Rim & Tassot, 2019).
Dampak dari pandemi COVID-19 menyebabkan tingkat kehamilan remaja meningkat secara drastis sebagai akibat dari penutupan sekolah, dan hilangnya orangtua yang meninggalkan anak tanpa sumber daya yang mencukupi, seringkali tunawisma, dan memaksa mereka untuk menggunakan cara baru untuk mencari makanan, termasuk bertukar bantuan seksual untuk anak perempuan. COVID- 19 juga akan menunda upaya publik untuk memerangi pernikahan dini dan mutilasi alat kelamin perempuan, sementara peningkatan kemiskinan diantisipasi untuk meningkatkan tingkat pernikahan anak dan kehamilan remaja di komunitas rentan. Dampak total dari pandemi COVID-19 diproyeksikan akan mengakibatkan tambahan 13 juta pernikahan anak (UNPFA, 2020).
2.8 Dampak Pandemi COVID 19 pada Peningkatan Risiko Gizi Buruk
Penutupan fasilitas pendidikan dan perawatan anak usia dini terkait COIVD-19, sekolah dan klub setelah jam sekolah telah membuat banyak anak dikeluarga berpenghasilan rendah mengalami kerawanan pangan dan gizi buruk. Dibeberapa negara didapatkan
akses untuk mendapatkan makanan gratis di sekolah atau disubsidi dengan baik adalah aturan kebijakan utama untuk memerangi kemiskinan pada anak (OECD, 2020). Di Amerika Serikat, anak yang didukung oleh program makan siang sekolah nasional ditemukan mendapatkan lebih dari sepertiga kalori harian mereka dari makanan dan minuman yang disediakan di sekolah. Ketika sekolah ditutup, anak penerima manfaat makan lebih sedikit dan juga mengonsumsi makanan bergizi lebih sedikit, sebuah fenomena yang dikenal sebagai kelaparan liburan (Morgan et al., 2019). Selama COVID-19, gizi buruk dipasangkan dengan lockdown di rumah dan tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah dimana menyebabkan peningkatan risiko kenaikan berat badan untuk beberapa anak (Rundle et al., 2020)
2.9 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak Jalanan
Pembatasan yang diberlakukan karena COVID-19 menimbulkan kesulitan khusus bagi anak yang hidup di jalanan. Anak jalanan memiliki kebutuhan pengasuhan tambahan karena keadaan keluarga yang sulit dan miskin (OECD, 2019). Misalnya, kesulitan kesehatan mental tingkat klinis lebih sering terjadi diantara anak yang dibeasarkan di luar rumah (Tarren-Sweeney, 2017). Sementara langkah-langkah seperti lockdown dirumah dan penutupan sekolah dapat meningkatkan tekanan dan kecemasan yang dirasakan oleh anak secara umum, beberapa efek mungkin lebih kuat pada anak jalanan dan meningkatkan risiko masalah dalam penempatan.
Kesulitan termasuk peningkatan risiko melarikan diri dari penempatan perawatan dan perilaku yang melawan. Bahkan dalam
keadaan normal, kejadian seperti itu sulit untuk ditangani oleh wali asuh dan orang yang berada disekitar lingkungan tempat tinggal anak. Namun, dalam konteks COVID-19, hal itu terjadi ketika akses ke layanan kesehatan dan pekerjaan sosial terganggu. Risiko yang terkait dengan COVID-19 mempengaruhi ketersediaan penempatan pengasuhan dan kemampuan penyedia layanan untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan anak secara memadai. Untuk pengasuhan berbasis keluarga, pertimbangan baru termasuk melindungi kesehatan anggota keluarga yang ada di rumah tangga, dan mengurangi dukungan dari keluarga besar dan layanan pendukung.
2.10 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak Keluarga Tunawisma
Dalam beberapa tahun terakhir, tunawisma di antara keluarga dengan anak telah meningkat di beberapa negara (OECD, 2020). Misalnya, tunawisma di antara keluarga dengan anak hampir empat kali lipat di Irlandia antara 2014 dan 2018, dari 407 menjadi lebih dari 1.600 rumah tangga (OECD, 2019). COVID-19 menambah tantangan yang sudah dialami oleh anak dikeluarga tunawisma. Ini termasuk kemungkinan lebih tinggi dari kesejahteraan yang lebih rendah, kesehatan fisik dan mental yang buruk, dan hasil pendidikan yang lebih buruk (OECD, 2019). Anak dalam keluarga tunawisma menghadapi risiko komplikasi yang lebih besar dari COVID-19 karena kesehatan mereka yang lebih buruk. Dibandingkan dengan populasi anak pada umumnya, mereka mengalami tingkat asma, penyakit pernapasan, dan penyakit menular yang lebih tinggi. Gizi buruk dan obesitas lebih sering terjadi pada anak dalam keluarga
tunawisma (Royal College of Physicians Ireland, 2019).
Orangtua dari anak dalam keluarga tunawisma akan mengalami tantangan khusus dalam menjaga anak tetap aman. Pertama, orangtua menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mengurangi risiko anak tertular virus. Misalnya, orangtua akan mengalami tekanan yang kuat, jika tinggal di tempat penampungan darurat dan kamar hotel, untuk menampung anak hari demi hari di ruang kecil dan menggunakan fasilitas dapur dan kamar mandi bersama yang aman.
Sebagai contoh satu anggota keluarga jatuh sakit, isolasi mandiri tidak dapat dilakukan. Kedua, orangtua akan merasa sulit untuk menerapkan home-schooling di ruang kecil dan dimana stres tinggi, melayani anak yang kurang beruntung dalam pendidikan. Ketiga, pola makan anak dalam keluarga tunawisma dapat memburuk secara drastis selama periode tunawisma dan COVID-19 akan menghilangkan akses anak tunawisma ke makan siang sekolah setiap hari (OECD, 2019). Keempat, layanan dukungan sosial untuk keluarga tunawisma akan dikurangi, karena tindakan pengurungan menyebabkan penutupan taman bermain, fasilitas penitipan anak dan pusat istirahat, dan membatasi kapasitas pekerja sosial untuk mengunjungi keluarga tunawisma.
2.11 Dampak Pandemi COVID-19 pada Anak Pekerja dan Kerja Paksa
Krisis COVID-19 telah mengurangi permintaan akan tenaga kerja, dan telah mengurangi permintaan akan pekerja anak, tetapi pada saat yang sama penutupan sekolah dan hilangnya pekerjaan diantara orangtua dapat meningkatkan jumlah pekerja anak (OECD, 2019).
Anak di komunitas miskin tidak mungkin berpartisipasi dalam pembelajaran di rumah yang didukung secara digital selama penutupan sekolah dan mereka berisiko putus sekolah sama sekali, karena orangtua mereka tidak mampu membayar biaya sekolah ketika sekolah dibuka kembali. COVID-19 akan menyebabkan peningkatan kemiskinan ekstrem yang tanpa jaring pengaman sosial yang solid, merupakan pendorong utama pekerja anak (Thevenon &
Edmonds, 2019).
2.12 New Normal Setelah Pandemi COVID-19
New normal adalah kebiasaan baru, tatanan kehidupan baru, kelaziman baru, kewajaran baru, atau kelumrahan baru adalah sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007-2008, resesi global 2008-2012, dan pandemi COVID-19. Sejak itu, istilah tersebut dipakai pada berbagai konteks lain untuk mengimplikasikan bahwa suatu hal yang sebelumnya dianggap tidak normal atau tidak lazim, kini menjadi umum dilakukan. New normal dilakukan sebagai upaya kesiapan untuk beraktivitas di luar rumah seoptimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi dalam menjalani perubahan perilaku yang baru. Perubahan pola hidup ini dibarengi dengan menjalani protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran dan penularan COVID-19 (Wikipedia, 2020)
Ada bukti terbatas mengenai dampak pembukaan kembali sekolah pada new normal terhadap penularan SARS-CoV-2 di masyarakat.
Berdasarkan pengalaman dibeberapa negara, terbukti bahwa penutupan sekolah menyebabkan penurunan tingkat pertumbuhan
epidemi COVID-19 (Stage et al., 2020). Pembukaan kembali sekolah untuk semua anak di negara-negara dengan transmisi komunitas rendah belum menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat pertumbuhan kasus COVID-19.
Kembalinya sebagian besar anak ke sekolah di negara-negara dengan tingkat penularan masyarakat yang lebih tinggi telah disertai dengan peningkatan penularan diantara anak, tetapi tidak dengan staf sekolah. Setelah sekolah dibuka kembali, terdapat sejumlah wabah SARS-CoV-2 di sekolah yang mengakibatkan sekolah tersebut ditutup. Di Korea Selatan, sekolah dibeberapa daerah ditutup kembali setelah dibuka kembali sebagai tanggapan atas lonjakan jumlah kasus COVID-19 dimasyarakat.
Swedia tidak menutup sekolah untuk anak di taman kanak-kanak hingga kelas 9 sebagai tanggapan atas pandemi COVID-19. Sekolah ditutup untuk anak di kelas menengah atas, setelah itu sekolah dibuka kembali untuk semua anak. Tidak ada penyesuaian besar pada ukuran kelas, kebijakan makan siang, atau aturan istirahat yang dilembagakan (Vogel, 2020). Survei seroprevalensi yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Masyarakat Swedia menemukan bahwa prevalensi antibodi pada anak/remaja adalah 4,7% dibandingkan dengan 6,7% pada orang dewasa usia 20-64 dan 2,7% pada orang dewasa usia 65-70. Tingkat yang relatif tinggi pada anak menunjukkan mungkin ada penyebaran yang signifikan di sekolah (Vogel, 2020)
Setelah penutupan sekolah yang dimulai, Denmark membuka kembali sekolah untuk anak di bawah usia 11 tahun sebagai tanggapan atas bukti awal bahwa sangat sedikit anak yang sakit parah
akibat COVID-19. Anak di sekolah dasar adalah yang pertama kembali ke sekolah, dan anak ditempatkan dalam kelompok- kelompok kecil dengan kontak minimal dengan orang lain di luar kelompok mereka. Kelompok mikro anak tiba pada waktu yang terpisah, makan siang secara terpisah, tinggal di zona mereka sendiri di taman bermain dan diajar oleh satu guru. Kelompok ini terdiri dari kurang lebih 12 anak, yang ditentukan berdasarkan jumlah maksimal anak yang dapat menempati satu ruangan dengan tetap menjaga jarak fisik yang cukup antara anak dan guru. Hal ini membutuhkan pembagian kelas dan staf pengajar. Karena banyak sekolah dirancang untuk memasukkan anak sekolah dasar dan menengah, membatasi pembukaan kembali sekolah untuk anak kelas dasar telah memungkinkan ruang kelas fisik yang cukup untuk mengakomodasi ukuran kelas kecil. Tanpa pendekatan ini, sekolah perlu memiliki shift pagi dan siang.
Anak ditugaskan meja mereka sendiri, yang berjarak 6 kaki dari satu sama lain. Saat istirahat, anak hanya diperbolehkan bermain dalam kelompok kecil. Cuci tangan dan sanitasi merupakan komponen tambahan untuk pembukaan kembali sekolah. Anak diminta untuk mencuci tangan setiap jam. Anak dan staf tidak diminta untuk memakai masker. Dalam konteks penularan masyarakat yang rendah, pembukaan kembali sekolah di Denmark belum menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat pertumbuhan kasus COVID-19 (Stage et al., 2020).
Menanggapi pandemi COVID-19, sekolah di Norwegia ditutup pada 11 Maret 2020. Pembukaan kembali sekolah dimulai pada 20 April untuk anak taman kanak-kanak diikuti pada 27 April oleh anak kelas
1 hingga 4. Pemerintah merekomendasikan agar kelas dibuka tetapi dibatasi tidak lebih dari 15 anak. Tindakan pencegahan khusus termasuk menyuruh anak membersihkan meja mereka setiap hari.
Beberapa sekolah telah membagi taman bermain mereka (Lyst, 2020). Sekolah untuk anak kelas 5 ke atas dan universitas tetap ditutup. Dalam konteks penularan masyarakat yang rendah, pembukaan kembali sekolah di Norwegia belum menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat pertumbuhan kasus COVID-19 (Stage et al., 2020).
Sekolah di Belgia dibuka kembali mulai 18 Mei 2020, dengan semua taman kanak-kanak dibuka pada 2 Juni, diikuti oleh semua kelas sekolah dasar pada 8 Juni. Ukuran ruang kelas dibatasi tidak lebih dari 10 anak. Sekolah menggunakan jadwal terpisah dengan anak yang hadir pada hari alternatif. Guru dihimbau untuk memakai masker jika tidak ada jaminan jarak sosial (Moens, 2020). Anak dikelompokkan berdasarkan kelas sepanjang hari sekolah, termasuk di taman bermain.
Sekolah dibuka kembali di Swiss pada 11 Mei 2020 dengan penerapan jarak sosial yang ketat (Lyst, 2020). Banyak sekolah telah mengurangi ukuran kelas menjadi dua dan anak menghadiri kelas tatap muka hanya 2 hari per minggu untuk memberikan ruang bagi ukuran kelas yang lebih kecil (Farge & Miller, 2020). Meja telah dipindahkan lebih jauh dan tanda pita telah ditempatkan di lantai untuk membantu anak dalam menjaga jarak fisik yang sesuai.
Fasilitas sanitasi tangan telah ditambahkan di seluruh sekolah.
Pembukaan kembali sekolah untuk anak kelas 10 ke atas dan untuk mahasiswa ditunda hingga 8 Juni.
Pada awal Mei, Israel telah mengalami kurang dari 300 kematian akibat COVID-19 dan pemerintah membuka kembali sekolah, bersama dengan restoran dan tempat umum lainnya. Mulai awal Mei, pembukaan kembali sekolah pada awalnya dilaksanakan dengan membuka kelas dalam kelompok kecil. Pada 17 Mei, pembatasan ukuran kelas dicabut. Dua minggu setelah sekolah dibuka kembali, wabah COVID-19 diamati di ruang kelas, termasuk 130 kasus disatu sekolah saja. Pada 3 Juni, ada 200 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan lebih dari 244 tes SARS-CoV-2 positif diantara anak dan staf dibeberapa sekolah. Sebagai tanggapan, pemerintah memerintahkan penutupan sekolah mana pun yang memiliki kasus infeksi SARS-CoV-2. Pada 8 Juni, 139 institusi pendidikan telah ditutup tanpa batas waktu dari 5.200 sekolah dan 200.000 taman kanak-kanak. Sejak pembukaan awal, sistem sekolah tetap terbuka.
Karena sifat sistem sekolah yang padat, jarak fisik anak di dalam sekolah belum diadopsi secara luas dan langkah-langkah pengendalian difokuskan pada penutupan sekolah dengan kasus yang dilaporkan, pengujian ekstensif, dan karantina anak dan staf dengan potensi terpapar SARS-CoV-2(Stub, 2020). Guru dan anak yang berusia di atas 7 tahun wajib menggunakan masker. Pada 24 Juni 2020, isolasi dan karantina telah mempengaruhi sekitar 1% anak Israel.
Sementara sekolah tidak pernah resmi ditutup di Taiwan, liburan musim dingin diperpanjang dua minggu dan anak kembali ke sekolah pada 25 Februari 2020. Sekolah melakukan pemeriksaan suhu dan beberapa sekolah menggunakan partisi meja plastik. Masker wajah diperlukan setiap saat dan masker telah mengurangi kebutuhan untuk
memisahkan meja lebih jauh. Ruangan terbuka digunakan untuk memperluas area makan untuk meningkatkan jarak fisik antar anak (Will, 2020).
Sekolah dibuka kembali di Selandia Baru pada 14 Mei 2020 setelah penutupan yang dimulai pada 24 Maret. Orangtua yang tidak nyaman mengirim anak mereka kembali ke sekolah diizinkan untuk membuat pengaturan transisi dengan sekolah mereka (Ward, 2020). Pusat anak usia dini mencatat informasi tentang anak yang akan dibutuhkan untuk pelacakan kontak (Lyst, 2020).
Sekolah di Korea Selatan mulai dibuka kembali pada akhir Mei 2020.
Di wilayah metropolitan Seoul, proporsi populasi anak yang diizinkan untuk hadir pada satu waktu dibatasi hingga dua pertiga dari populasi anak (Kwon & Jeong, 2020). Langkah-langkah jarak fisik telah diberlakukan, termasuk penggunaan pembagi desktop plastik di ruang kelas dan ruang makan siang dibanyak sekolah. CDC Korea meminta semua staf sekolah dan anak untuk memakai masker wajah di sekolah dan mengikuti langkah-langkah kebersihan seperti batuk ke lengan dan mencuci tangan. Pemeriksaan suhu diperlukan saat memasuki gedung sekolah. Jika seseorang di dalam sekolah dipastikan terinfeksi SARS-CoV-2, semua staf dan anak dipulangkan dengan mengenakan masker dan penyelidikan epidemiologis serta disinfeksi dimulai (Lee, 2020). Segera setelah dimulainya pembukaan kembali, sejumlah sekolah ditutup kembali dan yang lainnya menunda pembukaan kembali sebagai tanggapan atas lonjakan kasus COVID-19 baru.
Mulai 18 Mei 2020, sekolah di Vietnam dibuka kembali dan anak yang tidak demam diperbolehkan kembali ke kelas. Pemeriksaan
suhu wajib dilakukan di pintu masuk sekolah. Masker wajah diperlukan sepanjang hari sekolah (Ward, 2020). Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga jarak fisik.
Skotlandia telah mengumumkan bahwa sekolah akan dimulai kembali pada 11 Agustus 2020 menggunakan model campuran yang melibatkan kombinasi studi tatap muka paruh waktu di fasilitas sekolah dan pembelajaran di rumah, dengan fokus pada menjaga jarak fisik (Lyst, 2020). Ukuran kelas akan dikurangi secara signifikan dan anak pada awalnya akan menghabiskan kira-kira separuh waktu di kelas dan separuh waktu belajar dari rumah.
Instruksi tatap muka akan dilakukan secara bertahap, dengan model yang memungkinkan termasuk sesi pagi dan sore, hari alternatif, dan minggu alternatif.
2.13 Teori Fenomenologi
2.13.1 Definisi dan latar belakang
Fenomenologi adalah studi tentang esensi dan semua masalah sama dengan menemukan definisi esensi: esensi persepsi, atau esensi kesadaran. Fenomenologi merupakan filsafat yang mengembalikan esensi menjadi ada dan tidak berharap untuk sampai pada pemahaman tentang manusia dan dunia dari titik awal selain dari facticity mereka. Ini adalah filsafat transendental yang menunda pernyataan yang muncul dari sikap alami, lebih baik untuk memahaminya tetapi merupakan filsafat dimana dunia selalu sudah ada sebelum refleksi dimulai sebagai kehadiran yang tidak dapat dicabut dan semua usahanya dipusatkan pada pencapaian kembali kontak langsung dan primitif dengan dunia, dan memberikan kontak
itu dengan status filosofis. Ini adalah pencarian filosofi yang akan menjadi ilmu yang ketat, tetapi juga menawarkan penjelasan tentang ruang, waktu, dan dunia saat kita menghadapinya. Ini mencoba memberikan deskripsi langsung tentang pengalaman kita apa adanya, tanpa memperhitungkan asal psikologisnya dan penjelasan kausal yang mungkin dapat diberikan oleh ilmuwan, sejarawan, atau sosiolog (Streubert & Carpenter, 2011).
Spiegelberg (1975) menjelaskan fenomenologi sebagai seperangkat doktrin. Spiegelberg menekankan pada sifat cair fenomenologi dan fakta bahwa langkah-langkah pendekatan tidak akan mencerminkan kedalaman filosofis disiplin. Spiegelberg mendefinisikan fenomenologi sebagai nama untuk gerakan filosofis yang tujuan utamanya adalah penyelidikan langsung dan deskripsi fenomena yang dialami secara sadar, tanpa teori tentang penjelasan kausalnya dan sebebas mungkin dari prakonsepsi dan praanggapan yang belum teruji.
Spiegelberg (1975) dan Merleau-Ponty (1962) menggambarkan fenomenologi sebagai filsafat dan metode. Fenomenologi dijelaskan lebih lanjut oleh Wagner (1983) sebagai cara memandang diri kita sendiri, orang lain, dan segala sesuatu yang lain yang berhubungan dengan kita dalam hidup. Fenomenologi adalah sistem interpretasi yang membantu kita memahami dan memahami diri kita sendiri, kontak dan pertukaran kita dengan orang lain, dan segala sesuatu yang lain di alam pengalaman kita dalam berbagai cara, termasuk untuk menggambarkan metode serta filosofi atau cara berpikir (Wagner, 1983).
Omery (1983) menjawab pertanyaan, Apa metode fenomenologi?
Meskipun para peneliti telah menafsirkan pertanyaan ini dalam berbagai cara, pendekatannya bersifat induktif dan deskriptif dalam desainnya. Metode fenomenologi adalah trik membuat sesuatu yang maknanya tampak jelas, tidak bermakna, dan kemudian menemukan apa artinya (Blumensteil, 1973).
Pengalaman hidup dari dunia kehidupan sehari-hari adalah fokus utama dari penyelidikan fenomenologi. Schutz (1970) menggambarkan dunia kehidupan sehari-hari sebagai lingkup total pengalaman individu yang dibatasi oleh objek, orang, dan peristiwa yang dihadapi dalam mengejar tujuan pragmatis hidup. Dengan kata lain adalah pengalaman hidup yang menyajikan kepada individu apa yang benar atau nyata dalam hidupnya. Lebih jauh, pengalaman hidup inilah yang memberi makna pada persepsi setiap individu tentang fenomena tertentu dan dipengaruhi oleh segala sesuatu yang internal dan eksternal individu tersebut. Persepsi penting dalam filsafat dan metode fenomenologi, seperti yang dijelaskan oleh Merleau-Ponty (1956).
Persepsi bukanlah ilmu tentang dunia, atau bahkan tindakan, pengambilan posisi yang disengaja. Ini adalah dasar darimana setiap tindakan muncul dan itu diandaikan oleh mereka. Dunia bukanlah objek hukum yang konstitusinya dimiliki. Lingkungan alami dan bidang semua pikiran dan semua persepsi eksplisit. Kebenaran tidak berdiam hanya dalam manusia batiniah karena tidak ada manusia batiniah. Manusia ada dihadapan dirinya sendiri di dunia dan di dunia inilah dia mengenal dirinya sendiri. Ketika kita berpaling dari dogmatisme akal sehat atau dogmatisme sains, kita menemukan, bukan tempat tinggal kebenaran intrinsik, tetapi subjek yang
berkomitmen pada dunia.
Fenomenologi adalah cara berpikir atau memahami sebanyak metode. Tujuan fenomenologi adalah untuk menggambarkan pengalaman hidup. Untuk lebih memperjelas filosofi dan metode fenomenologiakan sangat membantu untuk memahami bagaimana gerakan itu berkembang secara historis.
2.13.2 Akar Fenomenologi
Gerakan fenomenologi dimulai sekitar dekade pertama di abad ke- 20. Gerakan filosofis ini terdiri dari tiga fase: 1) Persiapan, 2) Jerman, dan 3) Prancis. Teks berikut menjelaskan tema-tema umum fenomenologi dalam konteks ketiga fase ini.
Fase Persiapan
Fase persiapan didominasi oleh Franz Brentano (1838-1917) dan Carl Stumpf (1848-1936). Stumpf adalah siswa terkemuka pertama Brentano dan melalui karyanya menunjukkan ketelitian ilmiah fenomenologi. Klarifikasi konsep intensionalitas adalah fokus utama selama ini (Spiegelberg, 1965). Intensionalitas berarti bahwa kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu. Merleau-Ponty (1956) menjelaskan persepsi interior tidak mungkin tanpa persepsi eksterior, bahwa dunia sebagai hubungan fenomena diantisipasi dalam kesadaran kesatuan kita dan merupakan cara bagi kita untuk mewujudkan diri dalam kesadaran. Oleh karena itu, seseorang tidak mendengar tanpa mendengar sesuatu atau percaya tanpa mempercayai sesuatu (Cohen, 1987).
Fase Jerman
Edmund Husserl (1857-1938) dan Martin Heidegger (1889-1976) adalah pemimpin terkemuka selama fase gerakan fenomenologi atau
fase kedua Jerman. Husserl (1931, 1965) percaya bahwa filsafat harus menjadi ilmu ketat yang akan memulihkan kontak dengan keprihatinan manusia yang lebih dalam dan fenomenologi harus menjadi dasar bagi semua filsafat dan ilmu pengetahuan. Menurut Spiegelberg (1965), Heidegger mengikuti begitu dekat langkah- langkah Husserl sehingga karyanya mungkin merupakan hasil langsung dari karya Husserl. Konsep esensi, intuisi, dan reduksi fenomenologi dikembangkan selama fase Jerman (Spiegelberg, 1965).
Esensi adalah unsur-unsur yang berkaitan dengan makna ideal atau sebenarnya dari sesuatu, yaitu konsep-konsep yang memberikan pemahaman umum untuk fenomena yang diselidiki. Esensi muncul baik dalam isolasi maupun dalam hubungan satu sama lain. Menurut Natanson (1973), Esensi adalah kesatuan makna yang dimaksudkan oleh individu yang berbeda dalam tindakan yang sama atau oleh individu yang sama dalam tindakan yang berbeda. Esensi, oleh karena itu, mewakili unit dasar pemahaman umum tentang fenomena apa pun. Misalnya, Schwarz (2003) mengeksplorasi bagaimana pengalaman perawat dan menanggapi permintaan pasien untuk bantuan dalam kematian. Schwarz (2003) menggambarkan kontinum intervensi yang diberikan oleh perawat dalam studi fenomenologi yang mencakup penolakan, memberikan perawatan paliatif yang mungkin mempercepat kematian, menghormati dan tidak mengganggu rencana pasien atau keluarga untuk mempercepat kematian, dan menyediakan berbagai jenis kebutuhan langsung.
Dalam penelitian yang meneliti pengalaman pasien yang hidup dengan rheumatoid arthritis, Iaquinta dan Larrabee (2003)
menggambarkan esensi dari pengalaman sebagai hal berduka saat tumbuh, meyakinkan diri sendiri dan orang lain tentang keasliannya, menumbuhkan ketahanan, menghadapi perasaan negatif, menavigasi sistem perawatan kesehatan, dan mendalangi cara hidup baru.
Intuisi adalah pemahaman eidetik atau interpretasi akurat tentang apa yang dimaksud dalam deskripsi fenomena yang diselidiki. Proses intuitif dalam penelitian fenomenologi menghasilkan pemahaman bersama tentang fenomena yang diselidiki. Intuisi dalam arti fenomenologi mensyaratkan bahwa peneliti secara imajinatif memvariasikan data sampai pemahaman bersama tentang fenomena tersebut muncul. Melalui variasi imajinatif, peneliti mulai bertanya- tanya tentang fenomena yang diselidiki dalam kaitannya dengan berbagai deskripsi yang dihasilkan. Untuk mengilustrasikan lebih lanjut, dalam studi tentang komitmen terhadap keperawatan (Rinaldi, 1989), esensi komitmen yang diperoleh dari data bervariasi dalam banyak cara dan dibandingkan dengan deskripsi partisipan. Dari variasi imajinatif ini, muncul hubungan antara esensi komitmen dan kepada siapa atau apa komitmen perawat. Misalnya, perawat mungkin berkomitmen untuk klien, rekan kerja, institusi yang mempekerjakan, profesi, atau diri sendiri. Kepada siapa atau apa komitmen perawat kemudian diperiksa dalam hubungannya dengan esensi komitmen. Peneliti dapat memvariasikan esensi komitmen dalam deskripsi orang kepada siapa atau hal yang menjadi komitmen perawat. Beberapa esensi mungkin berlaku ketika masalahnya adalah komitmen kepada klien, dan esensi lainnya jika masalahnya adalah komitmen terhadap institusi. Dalam sebuah studi tentang pengalaman hidup merawat anak dengan cystic fibrosis, proses
intuitif menghasilkan munculnya fenomena unik untuk merawat anak dengan penyakit kronis pada saat diagnosis. Elemen penting dari pengalaman termasuk jatuh terpisah, menarik bersama, dan bergerak melampaui (Carpenter & Narsavage, 2004).
Reduksi fenomenologi adalah kembalinya kesadaran semula mengenai fenomena yang diteliti. Husserl menentukan bagaimana menggambarkandengan ketepatan ilmiah, kehidupan kesadaran dalam pertemuan aslinya dengan dunia melalui reduksi fenomenologi. Husserl (1931, 1965) menantang individu untuk kembali ke hal-hal itu sendiri untuk memulihkan kesadaran asli ini.
Referensi Husserl pada hal-halberarti pendekatan untuk fenomena yang dialami secara konkret, sebebas mungkin dari pra anggapan konseptual dan upaya untuk menggambarkannya setepat mungkin (Spiegelberg, 1975).
Reduksi fenomenologi dimulai dengan penangguhan keyakinan, asumsi, dan bias tentang fenomena yang diselidiki. Isolasi fenomena murni, versus apa yang sudah diketahui tentang fenomena tertentu adalah tujuan dari prosedur reduktif. Satu-satunya cara untuk benar- benar melihat dunia dengan jelas adalah tetap sebebas mungkin dari gagasan atau gagasan yang terbentuk sebelumnya. Pengurangan total tidak akan pernah mungkin karena hubungan intim yang dimiliki individu dengan dunia (Merleau-Ponty, 1956).
Sebagai bagian dari proses reduktif, peneliti fenomenologi pertama- tama harus mengidentifikasi gagasan atau gagasan yang terbentuk sebelumnya tentang fenomena yang diselidiki. Setelah mengidentifikasi ide-ide tersebut, peneliti harus mengurung atau memisahkan dari kesadaran apa yang mereka ketahui atau yakini