Siddik, empat orang Biku kakak beradik dari majapahit tersebut sebenarnya tidak berasal dari Majapahit, tetapi berasal dari kerajaan Melayu yang disebut dalam nagarakertagama Darmacraya pimpinan Adicawarman, negara bagian kerajaan Majapahit yang kemudian pindah berkedudukan di pegunungan Minangkabau.19 Begitu berpengaruhnya keempat Biku tersebut, sampai menjadi pimpinan yang menurunkan keturunan yang dikenal dengan Rejang Pat Petulai. Menurut Marsden, masyarakat Rejang juga mengenal Dewa dan Dewi, meskipun tidak melakukan ritual khusus untuk itu.20
Di Bengkulu belum ditemukan bukti-bukti yang pasti tentang perkembangan agama tertentu sebelum abad ke-15. Hal ini dikarenakan tidak ada makam, prasasti maupun peninggalan yang menunjukkan bahwa sebelum abad tersebut apakah sudah ada agama yang dianut oleh penduduk, kecuali hanya pengaruh kerajaaan Majapahit. Perkembangan agama Islam tampaknya baru mulai setelah abad ke-15, perkembangan intensif diketahui melalui hubungan Bengkulu dengan Aceh dan Banten, Sumatra Barat dan Palembang.24
Islam berkembang di Bengkulu pada abad ke-16, dan kebudayaan Islam telah mempengaruhi perkembangan seni dan budaya Bengkulu.
Selain Islam, terdapat juga pengaruh dari pedagang India, Cina, Eropa, dan Arab. Satu bentuk nyata pengaruh Arab dalam budaya Bengkulu adalah dalam motif kain batik Besurek yang bermotifkan kaligrafi Arab.
Kain Besurek merupakan kain hasil kerajinan tradisional daerah Bengkulu yang dalam perkembangan motifnya dipengaruhi oleh bangsa Arab yang datang ke Bengkulu pada abad ke-16.25
Jika berbagai kawasan dan daerah di Indonesia telah bersentuhan dengan Islam pada abad ke-7, tidak demikian dengan daerah Bengkulu yang lebih belakangan menerima kedatang Islam. Kondisi geografis Bengkulu yang terletak di tepi Samudera Hindia berpengaruh pada jalur pelayaran. Jalur samudra lepas cukup sulit dan beresiko dibandingkan dengan jalur pelayaran melalui selat. Kondis demikian menjadikan Bengkulu bukan menjadi tujuan utama dalam pelayaran, hal ini dapat diketahui dari kedatangan Inggris dari India ke Bengkulu sebenarnya tujuan awalnya bukanlah Bengkulu, tetapi Padang Sumatra Barat. Interaksi Bengkulu dengan ajaran/penganut Islam mulai terjadi ketika Bengkulu masih berbentuk pemerintahan kerajaan-kerajaan kecil.
Identifikasi berbagai bukti sejarah keberadaan Islam di Bengkulu (tarikh masuknya, dan peninggalan sejarah benda maupun tak benda) belum dilakukan maksimal. Pelacakan karya tulis tentang hal tersebut juga belum menemukan informasi yang berarti. Meskipun tidak membicarakan masuk dan perkembangan Islam di Bengkulu, terdapat
Tradisional Padang tahun 2007), 1.
24 Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 65.
25 Eny Christyawaty, “Kain Besurek Bengkulu, dalam Pergeseran Motif dan Fungsi” dalam jurnal
Suluah. Volume 5, No.6, Desember 2005, BKSNT Padang), 18. Baca juga Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu Persepktif Sejarah Abad ke-19, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), l34.
manuskrip beraksara Ka-Ga-Nga yang yang dikenal juga dengan tulisan Ulu yang bernuansa dan membahas tentang Islam.
Beberapa naskah beraksara Ka-Ga-Nga yang bernuansa (memuat) pesan Islam adalah naskah Surat Ulu26 (dikenal juga dengan tulisan Rencong) diperkirakan berkembang di Bengkulu pada pertengahan abad ke-15.27 Dalam naskah yang banyak disimpan di museum negeri Bengkulu, satu contoh naskah yang bernuansa Islam adalah naskah koleksi Museum Negeri Bengkulu nomor 07.68 yang berjudul Asal Mulo Jibrail Menempo Adam (Asal Mula Jibril Membuat Adam). Selain keberadaan suatu manuskrip/naskah, pelacakan dapat dilakukan melalui penelusuran makam-makam tua yang ada di Bengkulu.
Saat ini belum ada data pasti tentang makam-makam tua bernuansa Islam, yang ada hanyalah keberadaan makam berangka tahun 1885, yakni makam Sentot Ali Basya. Belum ada informasi dan bukti kalau Sentot Ali Basya menyebarkan Islam di Bengkulu.28 Diranah hukum, Islam masuk dalam wilayah hukum di Bengkulu, di antaranya terdapat dalam Undang-undang Adat Raja Melayu. Undang-undang Adat Raja Melayu yang berangka tahun 1817 yang ditulis menggunakan huruf Arab Melayu (koleksi Museum Negeri Bengkulu), pada awal tulisannya ditulis:
Bismillahirrahmanirrahim, wabihi nast’inu billahi ‘ala inilah undang-undang pri mengatokan adat lembago raja melayu dan dipakai oleh rajo dengan penghulu yang sudah diserpatkan dengan Hendri Luwis yang jadi magistrat adonyo.29 [Bismillahirrahmanirrahim, wabihi nast’inu billahi ‘ala, inilah undang-undang yang dikatakan sebagai Adat Lembaga
26 Sarwit Sarwono, dkk. Penyusunan Katalogus Naskah-naskah Ka-Ga-Nga Sebagai Sarana Meningkatkan Apresiasi dan Pengkajian terhadap Naskah-naskah Ka-Ga-Nga, Laporan penelitian pada FKIP-Universitas Bengkulu, tahun 2003.
27 Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 66 dan 73. Meskipun demikian terdapat beragam pendapat, terkait dengan masuknya Islam ke Bengkulu. Gadjahnata menyebutkan Islam masuk ke Bengkulu sekitar tahun 1417 M, sedangkan Agus Setiyanto menyebutkan masuknya Islam ke Bengkulu pada abad ke 16. Baca Gadjahnata, Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatra Selatan, (Jakarta: UI-Press, 1986), 137. Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu, 34. Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500 – 1990, 5 dan 15.
28 Sebagaimana diketahui bahwa keberdaan Sentot Ali Basya yang merupakan kawan
seperjuangan Pangeran Diponegoro, di Bengkulu tidak lebih sebagai orang buangan pemerintah Hindia Belanda, bukan dengan misi menyebarkan Islam di Bengkulu.
29 Depdikbud RI, Seding Delapan dan Undang-undang Adat Lembaga Raja Melayu (Daerah Bengkulu), (Jakarta: Depdikbur RI, 1990), 50.
Raja Melayu dan dipakai oleh Raja dan Penghulu yang sudah disepakati bersama dengan magistrat Hendri Luwis].
Dalam pasal 12 Undang-undang Adat Lembaga Raja Melayu tersebut dikemukakan aturan hukum tentang Iddah perempuan yang cerai dengan suaminya:
Pri mengatakan adat iddah perempuan sarak itu apobilo seorang sarak perempuan dengan lakinyo melainkan dari hari itu berbilang apobilo sebelum sampai tigo bulan sepuluh hari belum jadi belaki. Dan kironyo perempuan itu belum sampai bilangan iddahnyo, maka dionyo laki-laki dengan terang sebab salah hitungan, melainkan diceraikan dahulu dan malim yang menikahkan salah-salah memberi makan minum mukim di dalam masjid. Dan kironyo perempuan yang belum sampai iddah itu dapat salah sampai rukunnyo orang yang dapat salah berdiri cencang rekesnyo, melainkan perempuan itu dihukum mati. Dan tetapi boleh lepas dari padonyo mati, melainkan dio membayar uang tebusan nyawo seratus rial f 100. Dan laki-laki yang lawannyo dapat salah itu keno pulo membayar tebusan nyawo seratus rial pulo di seperkaro lagi. Selamo perempuan itu dalam iddah, melainkan jandonyo juo yang memberi makan minumnyo, artinya selamo belum sampai iddahnyo.30
Agama Islam di Bengkulu berkemungkinan disebarkan dari Aceh dan Banten. Penyebaran agama Islam secara intensif di Bengkulu dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari Sumatra Barat.31 Menelusuri asal usul dan pintu masuk Islam di Bengkulu telah dikemukakan oleh Hamidy:
Masuknya Islam ke Bengkulu melalui lima pintu yaitu: pintu pertama melalui kerajaan Sungai Serut yang dibawa oleh ulama Aceh Tengku Malim Mukidim, pintu kedua melalui perkawinan Sultan Muzafar Syah dengan putri Serindang Bulan, inilah awal masuknya Islam ke tanah Rejang pada pertengahan abad XVII. Pintu ketiga melalui datangnya Bagindo Maharajo Sakti dari Pagaruyung ke kerajaan Sungai Lemau pada abad XVII, pintu keempat melalui dakwah yang dilakukan oleh da’i-da’i dari Banten, sebagai bentuk hubungan kerjasama kerajaan Banten dan kerajaan Selebar,
30 Depdikbud RI, Seding Delapan dan Undang-undang Adat Lembaga Raja Melayu, 57.
31 Depdikbud RI, Sejarah Pendidikan Daerah Bengkulu, 16.
pintu kelima masuknya Islam ke Bengkulu melalui daerah Mukomuko setelah menjadi kerajaan Mukomuko.32
Penulis lebih cenderung untuk membagi jalan masuk Islam ke Bengkulu menjadi tiga: melalui jalan Barat, Selatan dan Timur, berikut ini skema jalan masuk Islam ke Bengkulu:
JALAN TIMUR
Gambar 2.3 Jalan Masuk Islam ke Bengkulu 1. Aceh dan Pagaruyung jalur Barat Islam ke Bengkulu a. Hubungan Aceh dengan kerajaan Sungai Serut
Hubungan Aceh dengan Bengkulu terjadi pada masa kerajaan Sungai Serut. Kerajaan Sungai Serut yang dipimpin oleh raja Ratu Agung (1550-1570). Kerajaan Sungai Serut diperkirakan ada pada pertengahan abad ke-1633 berlokasi di Bengkulu Tinggi (Kampung Kelawi).34 Daerah kekuasaan kerajaan Sungai Serut adalah sebelah Utara sampai ke sungai Itam, dan sebelah Selatan sampai di sungai Lempuing.35
Terdapat informasi bahwa pada tahun 1417 M, datang seorang malim Mukidim yang berasal dari Aceh menemui (mengislamkan) Ratu
32 Badrul Munir Hamidy, Masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Bengkulu, (Panitia Penyelenggara STQ Nasional, Makalah, 2004), 36.
33 Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500-1990, 2-3.
34 Tantawi Jauhari, dkk. Sejarah Melayu Bengkulu, (Bengkulu: CV. Nala Persada, 2006), 13.
35 Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 84.
Agung raja kerajaan Sungai Serut di Gunung Bungkuk.36 Saat pemakaman Ratu Agung dilaksanakan secara Islam dan dihadiri oleh Bilal, Khatib, dan Qadi. Ratu Agung dimakamkan di Bengkulu Tinggi yang sekarang dikenal dengan nama Keramat Batu Menjolo.37
Banyak spekulasi tentang asal usul Ratu Agung sebagai raja di kerajaan Sungai Serut. Meskipun sangat disayangkan tidak terdapat angka tahun, satu naskah yang ditulis dengan tulisan Arab Melayu (pegon) menyatakan, Ratu Agung merupakan seorang keturunan Dewa dari Gunung Bungkuk,38 hal ini sebagaimana disebutkan dalam naskah Asal Usul Kerajaan Bangkahulu:
هڠتس تك ند .ڽنااجركڠي ڠڬا وتر هلاياولوهاكڠب يرڬن وڬڠونم ٢الوم نوفدا د و يد هڠتس تاك تيهاف اجم نات يرد جر تيإااي ايسونم اسڠب تيا دنيڬب
39
كوكڠوبڠنوڬ ير
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Abdullah Siddik, bahwa Ratu Agung merupakan keturunan Majapahit yang ‘lari’ ke Sriwijaya, dikarenakan kekuasaan kerajaan Majapahit mulai pudar didesak oleh pengaruh kekuasaan kerajaan Demak:
Kalau kita perhatikan sejarah Banten, yang memberitakan bahwa Sultan Maulana Hasanudin (1546-1570), putra Sunan Gunungjati yang kawin dengan Ratu Nyawa (putri sultan Demak), mempunyai seorang putra bernama Ratu Agung, maka dapat diambil kesimpulan Ratu Agung tidak berasal dari Majapahit, tetapi sebenarnya dari Banten. Sebagai pangeran merangkap pedagang yang mengumpulkan lada di Sungai Serut, Ratu Agung membina satu kerajaan Sungai Serut dan mengumpulkan hasil bumi dari pedalaman, terutama lada untuk Banten. Pendapat saya ini diperkuat oleh peristiwa bahwa yang menggantikan Sultan Hasanudin (raja pertama Banten) bukan putranya Ratu Agung, tetapi Pangeran Yusup (1570-1580), Muhammad Pangeran Sedangrana (1580-
36 Salman Aly, ”Sejarah Kesultanan palembang” dalam Gadjahnata (editor). Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatra Selatan, (Jakarta: UI-Press,1986), 137.
37 Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500-1990, 2.
38 Darwin Susianto, Menyibak Misteri Bangkahulu, (Yogyakarta: Ombak, 2010), 51.
39 Disalin dari naskah asli لوسا لسا لينا اوهب naskah terdiri dari 43 halaman, dengan kode Ml. 143 menggunakan tulisan huruf Arab Melayu. Penulis mendapatkan copy naskah ini dari Museum Negeri Bengkulu.
1596), Abdul Kadir (1596-1651), dan Abdul Fatah Sultan Ageng (1651-1682.40
Pernyataan yang kemukakan oleh Abdullah Siddik, membawa penulis pada kegelisahan akademik, jika Ratu Agung adalah anak dari Sultan Maulana Hasanudin dari Banten – mengapa Ratu Agung tidak memakai nama ataupun gelar dengan nuansa/bercirikan Islam, dan andaikan Ratu Agung telah menganut Islam, dan Ratu Agung tidak memberikan nama dan gelar bernuansa Islam pada keturunannya, tentu ada hal khusus yang menjadi latar belakang hal itu, ini juga memerlukan kajian lebih lanjut secara mendalam. Berikut ini deskripsi tentang keturunan Ratu Agung dilihat dari tiga sumber yang berbeda:
Tabel 2.4 Sebutan (Nama) Keturunan Ratu Agung dari Tiga Sumber Berbeda
No Versi Sumber Naskah
لوسا لسا لينا اوهب Depdikbud (1978) Abdullah Siddik (1996)
1 ٢يكال ليچ ني در Ratu Cili Raden Jili
2 ٢يكال روچنم كون ام Ratu Mincor Monok Mincur
3 ٢يكال وت اب ڠبمل Lemang Batu Lemang Batu
4 ٢يكال ڠوفمور وج ات Rindang Papan Taju Rumpun
5 ٢يكال نف اف ڠدنر Tajuk Rompong Rindang Papan
6 ول وهكڠبروم ملد قنا
Anak Dalam Muara Bengkulu (selanjutnya menggantikan
ayahnya Ratu Agung)
Anak Dalam Muara Bengkulu (berkuasa pada tahun 1570- 1615)
7 هكفمچ ڠي د اڬ يرتوف Putri Gading
Cempaka Putri Gading
Cempaka
Sumber: diolah dari berbagai sumber41
Mencermati nama-nama keturunan Ratu Agung dari tiga sumber yang ada, menurut penulis ada hal yang sangat perlu untuk dicari penjelasan lebih lanjut, yakni sebagaimana diketahui telah terdapat
40 Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500-1990, 2.
41 Naskah Bahoewa Inila Asal-Oesoel. Bataviaasch Genoot schap, ML. 148 Latijn schrift, MI. 3, Arab
Maleisch-schrift, Gedat. 1859 data ini dikutip dari Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu, 200.
Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 71. Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500-1990, 3.
informasi bahwa Ratu Agung telah menganut agama Islam – telah diislamkan, ataupun berasal dari Banten yang telah Islam – akan tetapi mengapa Ratu Agung tidak memiliki gelar Islam dan tidak memberikan gelar ataupun nama-nama keturunannya sebagaimana raja-raja yang telah menganut Islam, seperti menggunakan Sultan, Pangeran ataupun nama- nama yang memang lebih kental nuansa Islamnya, seperti nama Fatimah untuk anak perempuan, demikian juga dengan nama anak laki-laki yang umum dipakai oleh keluarga raja yang telah menganut Islam.
Islam di Bengkulu berasal dari Aceh, sebagaimana hasil penelitian Fakultas Keguruan Universitas Lampung tahun 1971, menyebutkan bahwa Islam pertamakali datang di Lampung adalah berasal dari Aceh, hal ini didasarkan pada jalur pelayaran masa itu melalui sepanjang pantai Sumatra Barat, dan di Bengkulu kala itu sudah ada bandar yang ramai. Dari Aceh kapal singgah di Sumatra Barat, menuju (singgah di) Bengkulu, dan selanjutnya ke Lampung, dan pada akhirnya menyebarlah ajaran agama Islam di daerah-daerah tersebut. Pendapat ini didasarkan pada asumsi bahwa sebelum abad ke-13 Aceh sudah dimungkinkan menerima pengaruh Islam, dan pedagang sekaligus mubaligh dari Aceh berlayar melalui pantai Barat Sumatra, Bengkulu tujuan selanjutnya adalah Lampung. Temuan pendukung asumsi ini adalah adanya batu nisan di daerah Pallas Pasemah Kalianda yang bermotif mirip batu nisan Malikus Saleh dari Pasai (1297), sedangkan model batu nisan seperti itu tidak ditemukan di Banten.42 Ini bagian dari kenyataan bahwa daerah Bengkulu selain menerima Islam dari Banten juga menerima Islam dari Aceh.
Kejayaan Sultan Iskandar Muda dari Aceh sampai pada ekspansi teritorial Aceh sampai ke teluk Ketahun (Manjuto) Bengkulu, ekspansi ini didasarkan atas pencarian komoditi perdagangan, seperti emas, lada, cengkeh, pala, kulit kayu manis, dan lain sebagainya. Meskipun demikian kesultanan di Bengkulu saat itu termasuk daerah kesultanan Banten, akan tetapi kapal-kapal dagang Aceh sampai juga di Bengkulu (wilayah kerajaan Sungai Serut), dan sampai saat ini terdapat pondok/pasar Aceh. Hal ini memungkinkan agama Islam di Bengkulu, utamanya di daerah Bengkulu Utara telah menerima Islam dari Aceh. Mungkin pula pada masa ini agama Islam masuk ke Bengkulu dari Aceh, terutama sekali daerah di Utara.43
42 Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 75.
43 Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 82 dan 85.
Kekuasaan Sultan Aceh tahun 1539-1571 dibawah pemerintahan Sultan Alaudddin Riyatsyah al-Bahhar, Bengkulu telah masuk dalam wilayah kekuasaan Sultan Aceh. Sedangkan kesultanan Banten masuk pengaruhnya ke Bengkulu pada tahun 1552-1570 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin. Kesultanan Aceh berkuasa di sebelah Utara (teluk Ketahun-Menjuto), dan kesultanan Banten di sebelah Selatan.44 b. Hubungan Pagaruyung dengan Sungai Lemau
Terdapat kemungkinan kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Bengkulu mendapat pengaruh besar dari kerajaan yang ada di Sumatra Barat karena kedekatan geografis. Khususnya untuk kerajaan Mukomuko yang berbatasan langsung dengan Sumatra Barat.45 Dari berbagai sumber diketahui bahwa kerajaan Pagaruyung telah mengirim utusan ke Bengkulu, yakni rombongan Baginda Maharaja Sakti.
Kemunduran46 kerajaan Sungai Serut pada masa kepemimpinan raja Anak Dalam, menjadikan Sungai Serut mengalami kekosongan kepemimpinan, sampai datang utusan raja kerajaan Pagaruyung, Baginda Maharaja Sakti yang menghimpun kembali rakyat kerajaan Sungai Serut yang mengalami kekosongan kepemimpinan. Baginda Maharaja Sakti dari Pagaruyung menikah dengan Putri Gading Cempaka adik raja Anak Dalam dari keturunan Ratu Agung raja kerajaan Sungai Serut, dan dinobatkan menjadi raja kerajaan Sungai Lemau. Kemunduran kerajaan Sungai Serut, membawa pada kemunculan (dilanjutkan) kerajaan Sungai Lemau. Berikut raja-raja yang pernah memimpin kerajaan Sungai Lemau:
Tabel 2.5 Raja-Raja Kerajaan Sungai Lemau di Bengkulu
No Nama Raja Keterangan
1 Baginda Maharaja Sakti Berasal dari Pagaruyung
2 Baginda Ria Bakoe Putra mahkota Baginda maharaja Sakti dengan Putri Gading Cempaka.
44 Nurmatias, “Peninggalan Kolonial Daerah Bengkulu” dalam Jurnal Suluah, Volume 05, Nomor 6,
Desember 2005, BKSNT Padang, 55.
45 Ade Oka Hendrata, “Tinggalan Islam di Bengkulu”, dalam Peradaban di Pantai Barat Sumatra
Perkembangan Hunian dan Budaya di Wilayah Bengkulu-Balar Palembang, (Yogyakarta, Ombak:
2013), 284.
46 Kemunduran ini dapat diketahui dari masa VOC yang sampai di Selebar di tahun 1624, dan tidak
disebut mengenai Anak Dalam – ini menunjukkan bahwa kerajaan Sungai Serut memang telah/
mulai hilang di tahun 1615. Selengkapnya dapat dibaca dalam Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500-1990, 4.
3 Baginda Kado Dikenal juga dengan Aria Kaduk 4 Baginda Aria Lamoedin Membangun balai pertemuan: Balai
Buntar.
5 Baginda Bale Banto 6 Baginda Sebayam
7 Baginda Sana Bergelar Paduka Baginda Muda 8 Depati Kembang Ayun
9 Depati Burung Binang 10 Depati Sukabela 11 Depati Bangun Negara
12 Depati Bangsa Raja Bergelar tuanku Pangeran Raja Muda 13 Pangeran Mangku Raja
14 Pangeran Muhammad Sah Tidak mempunyai keturunan 15 Pangeran Linggang Alam Keponakan dari Pangeran
Muhammad Sah
16 Raja Putu Negara Bergelar Pangeran Muhammad Sah
Sumber: diolah dari Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu47
Pagaruyung adalah pusat kekuasaan raja-raja Minangkabau sejak abad ke-17, dan kerajaan Minangkabau telah menganut agama Islam, dan rajanya terkenal dengan sebutan Rajo Nan Tigo Selo.48 Berdasarkan informasi ini, maka dapat dipahami bahwa Islam masuk ke Bengkulu melalui interaksi Pagaruyung yang telah menganut Agama Islam dengan kerajaan Sungai Lemau di Bengkulu. Secara teritorial kerajaan Sungai Lemau memiliki wilayah yang cukup luas yakni:
Adapoen jang soedah ditetapkan selamanja watas Banka- hoeloe dengan Indrapoera iaitoe hingga Tertak ajer Hitam laloe kegoenoeng Barisan sebela timoer itoe watas sebelah oetara dan watas sebela selatan hingga goenoeng ajer Lempoeing lalu ke goenoeng barisan sebela timoer hingga goenoeng barisan watas dengan Palembang itoelah pegangan Radja Bankahoeloe jang tersebut Radja Soengai Lemau.49
47 Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu, 44-47.
48 Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500-1990, 21.
49 Dikutip dari Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu, 43.
Mengacu pada data-data yang ada, maka identifikasi Islam di Bengkulu pada periode ini secara ringkas adalah sebagai berikut: [1]
telah datang da’i dari Aceh bernama Malim Mukidim (1417) yang mengIslamkan raja kerajaan Sungai Serut, Raja Ratu Agung [2] pada masa kerajaan Sungai Serut telah ada Bilal, Khatib dan Qadi [3] raja Kerajaan Sungai Serut, Ratu Agung adalah keturunan Sultan Maulana Hasanuddin dari Banten [4] kemungkinan adanya jalur pelayaran para saudagar Muslim melalui Pantai Barat Sumatra berawal dari Aceh lalu ke Sumatra Barat, ke Bengkulu (dikenal dengan adanya pondok/kampung aceh di Bengkulu) dan ke Lampung (didaerah ini, tepatnya di Kalianda, ditemukan nisan yang mirip dengan nisan Malikus Saleh di Aceh), [5] baginda Maharaja Sakti dari Pagaruyung yang telah beragama Islam menikah dengan Putri Gading Cempaka dan menjadi raja kerajaan Sungai Lemau – Islam dari Pagaruyung.
2. Banten dan Lampung jalur Selatan Islam ke Bengkulu
Pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) keadaan Banten sudah kuat, motif pencarian bahan rempah-rempah seperti Lada merupakan salah satu pemicu ekspansi Banten ke Bengkulu. Meskipun Banten saat itu tidak banyak menghasilkan lada, tetapi Banten merupakan bandar lada yang terbesar dan dikenal di pasaran Eropa. Lada-lada di Banten kala itu didatangkan dari Lampung, Bengkulu, Silebar, Bintuhan, Manna, dan Krui.50 Dari Banten Sultan Hasanudin pernah melakukan perjalanan bersama Ratu Balo dan Ki Jongjo ke Lampung, Indrapura, Silebar, dan Bengkulu. Sultan Hasanudin menikah dengan seorang putri dari Sultan Indrapura dan menerima hadiah perkawinan berupa daerah pantai Barat Sumatra sejauh Air Itam ke Utara. Dengan ikatan perkawinan ini, mulailah pengaruh kerajaan Banten atas daerah pesisir Barat Sumatra.51
Batas teritorial pengaruh Banten di pesisir Barat Sumatra mulai dari Lampung di daerah paling Selatan dan untuk wilayah Utara pesisir Barat
50 Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 69 dan 75. Tidak menutup kemungkinan dimaksud
dengan Bengkulu disini adalah Kerajaan Sungai Lemau, karena pada dasarnya Silebar, Manna dan Bintuhan adalah masuk dalam wilayah Bengkulu.
51 Abdullah Siddik, Sejarah Bengkulu 1500-1990, 3. Perjalanan Sultan Banten Hasanuddin ke
Bengkulu disebutkan dalam sumber lain; Sultan Hasanuddin pernah datang ke Lampung dan Silebar (Bengkulu) dengan diikuti oleh kepala negeri Tulang Bawang, yaitu pangeran Batu.
Sungai Bengkulu menjadi batas kesultanan Banten. Daerah Silebar dihadiahkan kepada Sultan Hasanuddin, sejak itu Lampung dan Bengkulu di bawah kesultanan Banten, baca; Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 73.
Sumatra sampai ke Bengkulu Utara. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh William Marsden; “wilayah kekuasaan Sultan Banten di daerah Bengkulu bagian Utara (1619) sampai ke sungai Urei”.52 Sungai Urei yang dimaksud adalah sungai Urai, yang saat ini berada dan masuk dalam wilayah kabupaten Bengkulu Utara, sekitar 65 KM dari kota Bengkulu saat ini.
Penting untuk dijelaskan adalah penggunaan istilah daerah, guna meminimalisir kerancuan bagi pembaca, yang dimaksud dengan Bengkulu (seperti yang ditulis Abdullah Siddik di atas) ataupun dalam beberapa referensi lain yang membahas kajian dalam bagian ini, menurut penulis adalah wilayah Manna, Bintuhan, dan Krui. Sedangkan jika ditemukan daerah Silebar, Sungai Serut, dan Sungai Lemau, memang betul ketiga daerah tersebut ada di Bengkulu, namun lokasinya ada di kota Bengkulu.
Pada tahun 1700-an, batas wilayah Lampung adalah sungai Padang Guci, sebagaimana dikemukakan oleh William Marsden:
Lampung berada di paling Selatan pulau Sumatra. Daerahnya meliputi pesisir barat mulai dari Sungai Padang Guci yang memisahkan Lampung dari Pasemah, meluas sampai ke timur laut palembang. Di selatan dan timur, daerah ini berbatasan dengan laut. Lampung mempunyai beberapa pelabuhan di selat Sunda, terutama di Teluk Kaysers dan Teluk Lampung.
Sungai Tulang Bawang mengaliri jantung daerah ini dan berhulu disebuah danau luas yang terletak antara barisan gunung-gunung. Daerah yang dibatasi oleh Padang Guci dan Nassal diberi nama Briuran. Daerah ini berada di selatan garis batas, sedangkan Kawur sendiri terletak dibagian utara.53
Batas wilayah Lampung dengan jelas diketahui adalah Sungai Padang Guci, dan daerah antara sungai Padang Guci dan Nassal diberi nama Briuran, dan penulis berkeyakinan yang dimaksudkan oleh Marsden dengan Briuran itu adalah Bintuhan saat ini, karena secara geografis berada antara Sungai Padang Guci dan Nasal adalah adalah Bintuhan. Saat ini Sungai Padang Guci masuk dalam kecamatan Kaur Utara kabupaten Kaur.
Selain secara geografis, pendapat penulis dapat didukung oleh kondisi
52 William Marsden, Sejarah Sumatra, 199.
53 William Marsden, Sejarah Sumatra, 270.