Nuansa pra Islam di Bengkulu masih terdapat di masyarakat Rejang. Hal ini diketahui dari masih banyak terdapat peninggalan benda- benda yang dianggap bertuah, seperti Keris Semayang Mekar, Memteko
Tiga Puluh, Pedang, Tumpuk Igis, alat musik Gong dan Kelintang. Benda- benda pusaka tersebut sampai kini masih terawat dan masih diyakini memiliki kesaktian setara pada zamannya. Benda-benda pusaka tersebut diperlihatkan ke publik setiap tahun dalam acara Kendurai Agung yang dilaksanakan bertempat di rumah Pasirah dari marga suku IX berpusat di Muara Aman. Terdapat berbagai makanan dalam acara Kenduari Agung ini, dari memotong kambing, ayam, dan makanan berupa Lemang, Gelamai, dan lain sebagainya. Sebagai bagian acara tolak balak (menolak bencana), acara dipimpin oleh orang yang dianggap mampu berkomunikasi dengan arwah nenek moyang, agar memberikan perlindungan keamanan bagi anak cucunya dari berbagai bahaya, gangguan makhluk halus.11
Pengaruh agama pra Islam (Hindu dan Budha) dalam aspek seni bangunan maupun kepercayaan tidak banyak ditemukan di Bengkulu.
terdapat nuansa tinggalan Hindu-Budha dalam beberapa hal kecil dan terbatas pada beberapa kelompok masyarakat di daerah tertentu, seperti pada orang Rejang. Masyarakat Rejang saat ini, sekalipun sudah memeluk agama Islam, namun dalam perilaku sehari-hari masih dapat ditemukan hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap makam-makam puyang yang dikeramatkan.12
Meskipun terdapat makam puyang kramat di Bengkulu, tidak berlaku perlakuan terhadap makam-makam keramat – dianggap keramat – sebagaimana yang terjadi di Jawa (seperti makam para wali), yang mampu menarik peziarah yang sangat banyak. Mengenai hal ini Pijper menulis:
Di ibukota Bengkulu hanya ada beberapa makam keramat, di antaranya: makam Sayyid Muhammad Zayn al-Madani di Suraulama, kemudian ada makam bekas penghulu Bengkulu, sebuah kramat anggut dan kramat Pantai. Semua makam ini diziarahi orang dengan cara yang biasa. Di luar kota Bengkulu, dusun-dusun juga mempunyai makam keramat, tetapi agak ganjil sebab makam-makam yang keramat bagi rakyat bukan makam-makam orang muslim yang suci, tetapi makam nenek moyang.13
11 Ekorusyono, Kebudayaan Rejang, (Yogyakarta: Buku Litera, 2013), 55-56.
12 Muhamad Nofri Fahrozi, “Sub-Etnis dalam Masyarakat Bengkulu” dalam Peradaban di Pantai Barat Sumatra Perkembangan Hunian dan Budaya di Wilayah Bengkulu–Balar Palembang (Yogyakarta: Ombak, 2013), 21.
13 G.F. Pijper, Fragmenta Islamica: Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam, (Jakarta UI-Press, 1987), 133.
Di tahun 1980-an keterampilan dan seni merangkai Janur sangat diminati oleh para pemuda di Bengkulu. Janur digunakan sebagai hiasan pelaminan pernikahan. Di era tahun 1980-1990 jika akan ada pesta pernikahan, para pemuda berkumpul membuat Janur, sehingga banyak pemuda yang memiliki kemampuan merangkai Janur. Namun saat ini sudah sulit ditemukan pemuda yang mampu membuat Janur. Keberadaan seni merangkai Janur tidak menutup kemungkinan merupakan indikator adanya pengaruh dan memiliki keterkaitan dengan Janur yang banyak digunakan oleh umat Hindu dalam upacara keagamaan.
Tari Kejei yang ada di masyarakat Rejang Bengkulu merupakan bagian dari prosesi upacara bertanam padi yang dikenal dengan upacara Mendundang benih. Menurut Ekorusyono, terdapat dua cerita legenda terkait dengan asal mula tari Kejei, versi pertama menyebutkan bermula dari legenda tujuh bidadari yang turun ke bumi, putri yang bungsu (ketujuh) karena satu kasus tinggal di bumi dan menjelma menjadi burung Pungguk, burung ini keluar setiap bulan purnama. Versi kedua cerita tentang adanya kehidupan suami isteri yang belum mempunyai anak, dan atas keiginan suami isteri tersebut yang kuat untuk punya anak, maka keduanya berdoa kepada dewa, walhasil keduanya dikaruniai anak, dan sebagai rasa syukurnya mereka melakukan pesta besar-besaran sebagai rasa terima kasih kepada dewa berdasarkan dua cerita tersebut, dapat diketahui adanya pengaruh Hindu berupa adanya istilah bidadari dan dewa dari kahyangan.14 Di daerah penulis sendiri (kabupaten Kaur), di era tahun 1980-an masih ada anggapan bahwa Pelangi adalah merupakan jembatan para bidadari dari kahyangan yang turun ke bumi dan mandi dengan menggunakan gayung emas, sehingga satu keberuntungan besar jika bisa mendapatkan gayung emasnya para bidadari yang sedang mandi.
Upacara Mendundang benih di Bengkulu Selatan adalah upacara yang menggambarkan rasa syukur dan permohonan kepada Sang Hyang agar diberkahi hasil panen dan dilindungi segala macam marabahaya.
Peralatan upacara terdiri dari bibit padi, induk padi dalam beronang pada tali buaiyan, dan benda sastra lain. Upacara ini disertai berbagai tarian suci yang ditarikan oleh gadis-gadis remaja dengan diiringi lagu spesifik dan dengan alat kesenian seperti Gong, Kelintang, gendang rebana dan
14 Ekorusyono, Kebudayaan Rejang, 167. Dongeng seperti ini pada masa kecil penulis acapkali disampaikan oleh orangtua penulis ketika bulan purnama datang.
lain sebagainya. Pimpinan upacara amat menentukan jalannya upacara.
Puncak dari kegiatan upacara Dewi Sri ini dilakukan pada malam terakhir, selama semalam suntuk (satu malam penuh).15
Pada awal tahun 2000-an upacara Mendundang padi pernah dilakukan di desa Selali Kecamatan Pino Kabupaten Bengkulu Selatan.
Dalam pelaksanaan upacara ini sudah tidak ditemukan lagi nuansa pra Islam. Kegiatan Mendundang Padi yang dilakukan oleh warga masyarakat saat itu tidak menyerupai sebuah upacara, tetapi lebih pada pesta rakyat yang merupakan wujud syukur atas hasil panen yang banyak di dapat pada tahun itu. Tarup dan panggung didirikan, tujuh ekor kerbau dipotong, dan kegiatan diisi dengan berbagai tarian dan kesenian yang lebih bernuansa Islam.
Di tanah Serawai Bengkulu Selatan, kepercayaan penduduk pra Islam Islam di daerah ini adalah berupa penghormatan kepada nenek moyang dan dewa-dewa, seperti dikenalnya Dewa Nating Nyawa (dewa yang mengatur hidup dan mati manusia), ada juga Dewa Nabung Rezeki,16 Dewi Sri untuk dewi padi, dan lain sebagainya.
Meskipun ada informasi (di tahun 1970-an) di desa Selali kecamatan Pino dan di Selebar kecamatan Seluma, masih ada upacara adat dalam pertanian. Di kedua tempat ini orang-orang tertentu dapat menghubungkan petani dengan dewa padi (semangat padi), orang yang masih menganut kepercayaan lama, datang minta berkah dengan membawa sesuatu sajian agar hasil ladangnya memuaskan.17 Namun saat ini hal tersebut sudah jarang dilakukan, namun kepercayaan kepada roh nenek moyang – disebut kramat – masih ada. Roh puyang kramat dapat mengganggu, seperti saat pernikahan seseorang jika tidak dilakukan kucur ayik, maka acara pernikahannya dapat tidak berlangsung dengan lancar, ada saja hal yang akan menganggu.
Kemungkinan adanya pengaruh Majapahit di Bengkulu, terjadi pada masa pemerintahan para Ajai dalam suku Rejang yang dikenal dengan Ajai empat petulai, datang orang Majapahit yang dipimpin oleh Biku (Biksu) yang kemudian menjadi kepala suku bangsa Rejang.18 Menurut Abdullah
15 Depdikbud RI, Sejarah Pendidikan Daerah Bengkulu, (Jakarta: Depdikbud RI, 1981), 24.
16 Depdikbud RI, Sejarah Daerah Bengkulu, 65.
17 Depdikbud RI, Adat Istiadat Daerah Bengkulu, (Jakarta: Depdikbud RI, 1977/1978), 19 dan 51.
18 Nurmatias, “Peninggalan Kolonial Daerah Bengkulu” dalam Jurnal Suluah, Volume 05, Nomor 6, Desember 2005, BKSNT Padang), 55.
Siddik, empat orang Biku kakak beradik dari majapahit tersebut sebenarnya tidak berasal dari Majapahit, tetapi berasal dari kerajaan Melayu yang disebut dalam nagarakertagama Darmacraya pimpinan Adicawarman, negara bagian kerajaan Majapahit yang kemudian pindah berkedudukan di pegunungan Minangkabau.19 Begitu berpengaruhnya keempat Biku tersebut, sampai menjadi pimpinan yang menurunkan keturunan yang dikenal dengan Rejang Pat Petulai. Menurut Marsden, masyarakat Rejang juga mengenal Dewa dan Dewi, meskipun tidak melakukan ritual khusus untuk itu.20