• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Masalah Pada PbM

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN - Repository UNP (Halaman 81-87)

BAB II TEORI PENDUKUNG MODEL

E. Teori yang Mendasari Model PVO

2. Jenis Masalah Pada PbM

67

pembelajaran yang mengharuskan mahasiswa untuk belajar mempelajari sesuatu”, bekerjasama dalam kelompok untuk mencari pemecahan masalah dunia kerja nyata”.

Selanjutnya Ronis (2001:76) mengatakan bahwa

“Pembelajaran Berdasarkan Masalah (PbM) adalah gagasan bahwa sebagian besar individu membentuk pemahaman mereka melalui apa yang mereka alami”.

Seterusnya Ronis (2001) menyatakan variasi dari PbM adalah inqury contact, case study, simulations, workshops, and study questions.

Sejalan dengan itu, Sungur (2004) menegaskan bahwa PbM memungkinkan mahasiswa bertanya, berdiskusi, berdebat, menyortir informasi dan kegiatan sejenisnya yang menuju terjadinya proses penemuan (discovery) dalam proses pembelajaran.

Sungur (2004) menyatakan bahwa siklus inquiry adalah (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, dan (4) pengumpulan data.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tahapan PbM diantaranya itu adalah melalui proses mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru melalui kerjasama (kelompok). Bahwa PbM dapat dilihat dalam dua pandangan, yaitu; (1) dari sisi falsafah yang mendasari proses merancang kurikulum dan (2) dari model pembelajaran dalam kelas. Karena PbM dapat dilaksanakan dalam berbagai disiplin ilmu, maka usaha untuk mendefinisikan PbM tidak harus terfokus hanya pada cara masalah awal pembelajaran. Tetapi terkait juga dengan cara pengimplimentasian PbM sesuai dengan karakter disiplin ilmu tersebut.

68

Masalah yang digunakan dalam PbM adalah jenis masalah kurang terstruktur (Delisle, 1997; Lambros, 2004;

Torp & Sage, 2002). Selanjutnya Torp & Sage (2002) mendefinisikan ‘masalah kurang terstruktur’ sebagai masalah terbuka yang mengandung situasi yang kompleks dan tidak mengandungi informasi yang lengkap untuk ditentukan jalan penyelesaian. Apabila informasi terkumpul dan dinilai, pemahaman terhadap masalah akan berubah yang seterusnya akan membuka ruang baru untuk strategi dan pembelajaran (Delisle, 1997).

Selanjutnya Delisle (1997) juga menjelaskan bahwa masalah kurang terseruktur pada PbM tidak diberikan setelah mahasiswa mempelajari pengetahuan sebagaimana yang dilakukan model pemberian tugas dan tugas proyek.

Sebaliknya, masalah yang digunakan dalam PbM berfungsi sebagai ide sentral untuk mahasiswa membuat kajian serta mengumpul informasi yang diperlukan untuk menggali beberapa penyelesaian yang mungkin bagi masalah tersebut (Lambros, 2004).

Selain itu, masalah dalam PbM bukan hanya tidak mengandung satu penyelesaian yang benar, tetapi sebaliknya terbuka peluang kepada kreativitas dan pemikiran kritis mahasiswa, sehingga mampu menggunakan dan mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh dan menggali beberapa penyelesaian (Torp &

Sage, 2002).

Berbeda dengan Delisle, (1997), Lambros (2004) serta Torp & Sage (2002) yang mendefinisikan secara langsung masalah kurang terstruktur, Hong (1998) menggunakan tiga kriteria untuk membedakan masalah terstruktur dan masalah kurang terstruktur. Tiga kriteria berkenaan ialah sifat masalah, proses menyelesaikan masalah dan komponen penyelesaian masalah. Tabel 2.3 memaparkan uraian yang lebih lengkap tentang kriteria-kriteria yang

69

digunakan oleh Hong (1998) bagi membedakan masalah terstruktur dan kurang terstruktur.

Tabel 2.1 Kriteria Perbedaan antara Masalah Terstruktur dan Kurang Terstruktur pada PbM

Kriteria Masalah

Terstruktur Masalah kurang Terstruktur Sifat Masalah

Komponen pernyataan Masalah

- Tujuan yang sudah diketahui dengan jelas - Keadaanpermula

an masalah yang jelas

- waktu penyelesaian akhir

- Tujuan yang tidak

didefinisikan dengan jelas - Informasi yang

tersirat dan tidak lengkap

Kriteria Masalah

Terstruktur Masalah kurang Terstruktur Penyelesaian

- Hanya satu jawaban yang betul dan bersifat

terfokus dalam mencapai batas

- Beberapa penyelesaian atau tiada - penyelesaian

langsung Proses Menyelesaikan Masalah

70 Representasi

Masalah

- Pengaktifan

skema - Pencarian Informasi - Menghasilkan

justifikasi untuk pemilihan - Mendalami\

beberapa Penyelesaian - Pemilihan

penyelesaian Proses

penyelesaian Masalah

- Mencari

penyelesaian - Penilaian terhadap penyelesaian, pemantauan proses penyelesaian - penyelesaian, dan

menghasilkan justifikasi Komponen Penyelesaian Masalah

Kognitif - Pengetahuan

domain spesifik - Pengetahuan domain spesifik - Pengetahuan

struktural -

71 Kriteria Masalah

Terstruktur Masalah kurang Terstruktur Metakognisi - Pengetahuan

struktural - Pengetahuan

kognitif

- Pengetahuan kognitif

- Kontrol kognitif - Nilai/Sikap/Kep

ercayaan

Selain daripada menyangkut tentang perbedaan masalah terstuktur dan kurang terstruktur, isu proses merancang masalah dalam model PbM juga perlu diberi perhatian agar mendapatkan suatu masalah benar-benar sesuai digunakan untuk tujuan PbM.

Savin-Baden & Major (2004) menjelaskan bahwa masalah PbM bukan dirancang terikat berdasarkan asas Taksonomi Bloom yang dimulai dengan asas pengetahuan, dan diikuti dengan asas pemahaman sebelum mencapai tahap yang lebih tinggi. Hal ini karena masalah yang dirancang berasaskan taksonomi Bloom jika digunakan dalam PbM hanya akan menjadikan mahasiswa untuk cenderung memberi fokus kepada aspek mendapatkan pengetahuan (Savin-Baden & Major, 2004).

Sebaliknya, masalah yang digunakan dalam PbM seharusnya menuntut mahasiswa untuk berpikir secara kritis sebagaimana tujuan mereka semula terlibat dengan PbM. Hal ini diterapkan pada dengan tujuan untuk mendorong mahasiswa mempunyai persepsi bahwa penglibatan mereka dengan penyelesaian masalah dalam model PbM bukanlah untuk mendapatkan satu jawaban yang betul, tetapi

72

seba-liknya sebagai suatu usaha untuk mendorong maha-siswa berpikir secara inkuiri dan mengembangkan pendirian mereka tentang kerasionalan mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan (Barne, 1994).

Disisi lain, Duch Groh et al. (2001) menyatakan bahwa jenis masalah yang disampaikan dalam kelas PbM di samping kurang terstruktur, juga kompleks dan realistik. Untuk menangani “masalah” (problem) mahasiswa memerlukan kreativitas untuk menentukan apa asumsi-asumsi yang diperlukan, kenapa, apakah informasi yang berkaitan dan apa

“struktur tahapan pembelajaran” yang dibutuhkan.

untuk penyelesaian masalah. Oleh karena itu mahasiswa perlu memilih informasi yang ada, karena tidak semua informasi yang diperoleh terkait dengan masalah-masalah dalam PbM yang akan diselesaikannya.

Jadi pemecahan masalah dalam PbM adalah masalah yang bersifat terbuka, sebab alternatif jawaban dari masalah bisa banyak, tidaklah tunggal.

Setiap mahasiswa, bahkan staf pengajar, dapat mengembangkan kemungkinan jawaban alternatif yang terbaik. Selanjutnya model PbM memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan yang ingin dicapai PbM adalah agar mahasiswa dapat terampil berpikir analitis, kritis, sistematis, dan logis.

Untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris, dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah (Barnett, 1994).

Dalam penelitian ini, rancangan masalah dibuat berdasarkan format dan panduan PbM yang dikemukakan

73

oleh Torp & Sage (2002) yang mengkhususkan kepada pelaksanaan PbM di tingkat universitas. Mahasiswa- mahasiswa jenjang universitas akan senang dan bersemangat apabila ditantang dan bersedia bukan saja untuk mendapat informasi baru tetapi menentukan kerelevanannya dan mengaplikasikannya (Lambors, 2004).

Bagaimanapun masalah yang dipersembahkan perlu disesuaikan dengan tahap keperluan pengetahuan mahasiswa, memberi motivasi kepada mahasiswa untuk melakukan kajian lebih lanjut, sesuai untuk dianalisis dan diaplikasikan serta memenuhi tujuan pembelajaran (Duch et al., 2001).

Kesimpulannya adalah penggunaan masalah kurang terstruktur dalam PbM memungkinkan masalah berfungsi sebagai titik permulaan pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan masalah kurang terstruktur dalam PbM membedakan PbM dengan model pembelajaran lainnya.

Contohnya aktivitas penyelesaian masalah konvensional biasanya hanya dilakukan setelah mahasiswa mempelajari sesuatu pengetahuan.

3. Penerapan Model PbM di Berbagai Kampus

Dalam dokumen MODEL PEMBELAJARAN - Repository UNP (Halaman 81-87)