• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Organisasi Managed Care

Dalam dokumen Buku Asuransi Kesehatan & Managed Care (Halaman 143-160)

141

142

Sebuah organisasi menjalankan skema managed care atau disebut Managed Care Organization (MCO) jika (Amelung, 2019):

a. Mengimpelementasi pengukuran biaya dan kualitas

b. Mengintegrasikan fungsi-fungsi asuransi (pembiayaan, kepesertaan dan pelayanan)

c. Beberapa organisasi memberikan pelayanan kesehatan

d. Membantu dan mengembangkan instrumen managed care (salah satunya Utilization Review)

e. Menawarkan layanan konsultasi

Menurut Green & Rowell (2011) dan Kongstad (2020) terdapat enam jenis atau model dari pelayanan dengan managed care, yaitu: 1) Health maintenance organization (HMO); 2) Preferred provider organization (PPO); 3) Point-of-Service plan (POS);

4) Exclusive provider organization (EPO); dan 5) Integrated delivery sistem (IDS) (R.

Kongstvedt, 2020)(Green & Rowell, 2011). Sementara Amelung (2019) membagi organisasi mancaged care dalam tiga kelompok yaitu: (1) organisasi managed care yang berbasis asuransi (insurance-based managed care); (2) organisasi managed care yang berbasis pelayanan (provider-based managed care); dan (3) lembaga dalam lingkungan managed care (Amelung, 2019).

Pada bab ini pembagian organisasi managed dikelompokkan dalam dua jenis yaitu MC berbasis asuransi dan MC berbasis pelayanan. Lihat skema pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Jenis Organisasi Managed Care MC Berbasis Asuransi

•Health Maintenance Organization (HMO)

•Point of Services (POS)

MC Berbasis Pelayanan

•Preferred Provider Organizations (PPO)

•Provider Network

•Integrated Delivery Systems (IDS)

143 2. Organisasi HMO Berbasis Asuransi

1. Health Maintenance Organization (HMO)

Merupakan bentuk MC yang pertama kali ditemukn dan tertua yang diusulkan pada tahun 1970 di Amerika Serikat untuk mengantisipasi berkembangnya pembiayaan kesehatan melalui asuransi kesehatan swasta dan asuransi kesehatan sosial. Karakteristik HMO adalah sebagai berikut:

a. Menanggung dan memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif (meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif) kepada pasien yang terdaftar dalam program managed care. HMO menyelenggarakan program pencegahan kesehatan untuk meningkatkan “wellness” atau kesehatan, dan mengurangi biaya pengobatan. Seseorang yang akan menjadi anggota HMO harus menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan (annual MCU) dan penilaian risiko kesehatan (Green & Rowell, 2011). Dengan demikian HMO tidak menerima keuntungan dari kondisi sakit pesertanya melainkan dari kesehatan peserta.

b. Nilai penggantian manfaat akan dijamin HMO jika peserta hanya memanfaatkan pelayanan kesehatan di provider jaringan HMO saja, kecuali pada kasus emergensi dan tindakan yang memerlukan keahlian medis khusus seperti rujukan sub spesialis. Jika melakukan pelayanan emergensi maka pembiayaan ditanggung terlebih dahulu oleh peserta, kemudian diganti oleh HMO (R. Kongstvedt, 2020).

c. Pada HMO diterapkan gate-keeping oleh faskes primer, dan pembayaran menggunakan skema co-payment (Green & Rowell, 2011). Mekanisme pembayaran penggantian kerugian pada HMO lebih mudah dibanding skema MC lainnya (R. Kongstvedt, 2020).

d. Tidak memisahkan antara pembelian dengan pemberian pelayanan.

Pengertian pembelian disini misalnya kontrak dengan dokter. Pemberian pelayanan diberikan berdasarkan isi kontrak yang disepakati (Amelung, 2019) e. Menerima pembayaran bulanan atau tahunan yang ditentukan sebelum pelayanan diberikan dengan metode co-payment, dan sepenuhnya menanggung risiko kerugian jika ada selisih yang dibayar dengan harga pelayanan sebenarnya (Amelung, 2019).

144

Gambar 3. Health Maintenance Organization (HMO) Terdapat tiga jenis HMO, yaitu:

a. Closed-panel HMO, yaitu bentuk managed care dengan pelayanan kesehatan disediakan oleh organisasi HMO baik klinik sendiri atau klinik satelit atau oleh dokter yang secara khusus bagian dari HMO. Karakteristik closed-panel HMO adalah:

1. Jumlah provider yang melakukan kontrak lebih sedikit

2. Peserta tidak memiliki pilihan banyak dalam menentukan dokter layanan primer, termasuk juga harus memastikan bahwa dokter tersebut masih melakukan kontrak dengan HMO

3. Dalam kasus rujukan ke dokter spesialis, peserta hanya dapat dirujuk ke dokter spesialis jaringan HMO saja, kecuali rujukan kepada dokter sub spesialis

Close-panel model terdiri dari dua yaitu 1) Staff Model HMO dan 2) Group Model HMO. Staff model merupakan model yang benar-benar murni HMO.

Persamaan antara staff model dengan group model adalah

a. Kurang popular dan sulit dipasarkan karena jarang dokter yang bersedia dipekerjakan dengan gaji tetap, serta kurang popular di dunia asuransi

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6

Upaya kesehatan komprehensif (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif)

Peserta harus menjalankan MCU

Pembayaran dengan Co-payment

Closed-panel HMO = jika peserta wajib melakukan pemeriksaan di faskes yang disediakan HMO (Group model atau Staff model)

Opened-panel HMO = jika peserta boleh melakukan pemeriksaan di faskes yang bukan bagian dari HMO (Direct contract, Individual practice, atau Network)

145

karena tingkat kepercayaan kepada dokter yang dipekerjakan lebih rendah dibanding dokter praktik pribadi (Amelung, 2019)

b. Terbatas pada pelayanan kesehatan yang umum saja (bukan spesialis) (Amelung, 2019), sehingga dapat menjalankan kontrak dengan dokter lain yang dapat memberikan pelayanan medis di luar dokter HMO (R.

Kongstvedt, 2020).

Sedangkan Perbedaan keduanya dijelaskan pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Perbedaan Group Model HMO dengan Staff Model HMO (Amelung, 2019)(R. Kongstvedt, 2020)

Group Model HMO Staff Model HMO HMO menjalankan kontrak dengan

satu grup pelayanan kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada member

HMO secara langsung

mempekerjakan dokter. Pada kasus tertentu HMO membayar dokter yang merupakan karyawan dari sebuah Grup (disebut staff-based organization)

HMO membayar grup pelayanan kesehatan dengan sistem kapitasi, dan grup membayar dokter kombinasi gaji dan

insentif/tunjangan

HMO membayar dokter dengan gaji tetap dan hanya sedikit tunjangan

Grup bertanggung jawab atas seluruh pengelolaan pelayanan ke member, dan dokter merupakan bagian/karyawan dari grup.

HMO bertanggung jawab penuh terhadap seluruh pengelolaan pelayanan ke member

b. Open-panel HMO yaitu bentuk managed care dengan pelayanan kesehatan disediakan oleh individu-individu dokter dan tenaga medis lainnya yang bukan merupakan bagian dari atau sebagai karyawan dari HMO atau disebut independent contractors (R. Kongstvedt, 2020) (Green & Rowell, 2011).

Pada tipe ini dokter tidak hanya menjalankan kontrak dengan HMO saja namun juga dengan skema asuransi kesehatan dan MC lainnya. Jumlah provider pelayanan kesehatan yang terlibat dalam open-panel umumnya lebih banyak dibanding close-panel (R. Kongstvedt, 2020). Terdiri dari dua jenis:

1) Direct contract model HMO; dan 2) Individual Practice Association (IPA) model. Perbedaan kedua jenis skema tersebut digambarkan pada tabel berikut.

146

Tabel 1. Perbedaan IPA dengan Direct Model HMO (R. Kongstvedt, 2020)

IPA Direct Model

Pelayanan kesehatan tidak langsung menjalankan kontrak dengan HMO, melainkan melalui IPA

Pelayanan kesehatan langsung menjalankan kontrak dengan HMO HMO tidak membayar langsung ke

provider, namun melalui IPA umumnya dengan metode kapitasi.

IPA membayar ke provider bisa dengan kapitasi atau metode lainnya seperti fee for service

HMO langsung membayar pelayanan kesehatan kepada provider

Risiko kerugian pada provider lebih tinggi, sehingga umumnya

melakukan re-asuransi

Risiko kerugian provider lebih rendah

Tugas HMO sebagian dijalankan oleh IPA, seperti penerimaan iuran, manajemen medis, dll

HMO menjalankan seluruh tugas dan fungsinya

c. Network model HMO merupakan pengembangan dari group model HMO, dan umumnya digunakan pada kontrak MC tertentu seperti pada grup pelayanan kesehatan yang sangat besar. Pembayaran kepada grup umumnya dengan metode kapitasi.

2. Point of Service (POS)

Skema ini merupakan pengembangan dari HMO yang mulai berkembang pada akhir tahun 1990-an, dan merupakan perpaduan antara HMO dengan asuransi kesehatan tradisional serta lebih menyerupai PPO (R. Kongstvedt, 2020).

Karakteristik skema POS adalah memberi kebebasan kepada pasien untuk memilih pelayanan kesehatan yang akan dikunjunginya, bisa kepada pelayanan kesehatan yang bekerjasama dengan managed care, atau pelayanan kesehatan yang ditentukan sendiri oleh pasien. Pembayaran kepada pelayanan kesehatan yang tidak bekerjasama dengan managed care akan lebih mahal dibanding yang bekerjasama (Green & Rowell, 2011).

Skema POS pada dasarnya dikembangkan dari HMO, dan terdiri dari dua jenis yaitu:

147

1. Cost Sharing POS Plan, yang terdiri dari (a) POS dengan cost sharing rendah jika peserta memanfaatkan pelayanan di dalam jaringan HMO; dan (b) POS dengan cost sharing tinggi jika peserta memanfaatkan pelayanan kesehatan di luar jaringan HMO

2. Triple Option Plan, yaitu (a) POS dengan cost sharing rendah jika menggunakan skema HMO dan memanfaatkan jaringan PPO sebagai bagian dari skema; dan (b) POS dengan cost sharing tinggi jika memanfaatkan skema HMO dan diikuti dengan skema PPO. Dengan demikian skema Triple Option Plan memberikan pilihan pemeriksaan kesehatan kepada pasien lebih banyak dibanding model managed care lainnya, dan disebut juga cafetaria plan atau flexible benefit plan (Green & Rowell, 2011).

Meskipun skema ini sempat menarik minat perhatian, namun akhirnya dihentikan atau tidak digunakan lagi. Penyebabnya antara lain (R. Kongstvedt, 2020):

a. Membutuhkan biaya pelayanan yang lebih tinggi dibanding HMO, karena tidak adanya mekanisme gate-keeping bagi pasien yang akan berobat ke dokter spesialis terutama yang berasal dari faskes primer di luar jaringan POS.

Biaya untuk membayar dokter spesialis ternyata tidak mampu diimbangi dengan cost sharing dari pasien.

b. Kompleksitas pelayanan POS yang berakibat pada pemahaman yang salah baik dari peserta maupun pemberi pelayanan kesehatan sehingga menimbulkan biaya administrasi yang tinggi.

Gambar 5. Skema Point of Service Plan (POS)

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6

Peserta bebas memilih faskes

Pembayaran kepada faskes yang tidak kerjasama lebih mahal

148 3. Organisasi HMO Berbasis Pelayanan

1. Preferred Provider Organization (PPO)

PPO merupakan kelanjutan pengembangan dari HMO. Awal mula PPO dikembangkan di kota Denver, Colorado, Amerika Serikat pada tahun 1970-an (R. Kongstvedt, 2020). Bentuk managed care ini ditandai dengan adanya rumah sakit, gabungan kelompok dokter dan pelayanan kesehatan lainnya yang melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan asuransi, perusahaan/organisasi bisnis, dan organisasi pelayanan kesehatan lainnya untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan harga yang ekonomis tertentu secara fee-for- service (Green & Rowell, 2011).

Istilah preferred pada kependekan PPO muncul karena rumah sakit dan dokter yang sepakat memberikan potongan harga kepada pasien merupakan pilihan (preferred) perusahaan asuransi kesehatan (insurer). Adapun karakteristik PPO adalah sebagai berikut (R. Kongstvedt, 2020):

a. Peserta yang ditanggung oleh kontrak PPO akan membayar lebih murah (dalam bentuk cost sharing) jika berobat ke jaringan rumah sakit atau dokter PPO, dibandingkan jika berobat ke rumah sakit/dokter di luar jaringan PPO atau yang tidak melakukan kontrak PPO dengan perusahaan asuransi.

b. Berbeda dengan HMO, pada PPO pasien tidak perlu mendapatkan rujukan dari fasker primer untuk berobat ke dokter spesialis jaringan PPO, karena ada perjanjian untuk mengendalikan biaya pelayanan

c. Kontrak dengan provider dapat terjadi dalam dua mekanisme: (1) non- selective PPO yaitu kontrak antara penyeleggara MC dengan provider yang tidak ditentukan kriterianya. Biasanya non-selective PPO terjadi pada wilayah dengan jumlah provider yang berminat kontrak PPO lebih sedikit dibanding jumlah total provider di wilayah tersebut; dan (2) selective PPO yaitu kontrak dengan memberlakukan kriteria selektif bagi provider yang ingi bergabung dalam jaringan. Kriteria tersebut ditentukan dengan metode-metode meliputi menganalisis jarak terhadap jaringan yang ada (location-based network need), melakukan penilaian terhadap parameter-parameter yang ditetapkan (credentials), dan menganalisis pola pelayanan/praktik. Selective PPO

149

umumnya diterapkan pada wilayah dengan provider yang banyak berminat bergabung dalam jaringan.

d. Teknik Utilization Review yang digunakan umumnya adalah mengoptimalkan surat rujukan (pre-certification) dan case management. Sementara mandatory second opinion jarang diterapkan karena tidak efektif.

e. Jika terjadi tindakan medis yang tidak sesuai dengan aturan PPO, maka yang mendapat sangsi atau denda adalah provider, bukan member/pasien

f. Jika member memanfaatkan pelayanan kesehatan (kecuali emerjensi) di luar jaringan PPO maka nilai pertanggungan manfaat akan berkurang, umumnya sebesar 20% terhadap biaya yang ada.

g. Biaya pelayanan kesehatan PPO lebih murah dibanding asuransi kesehatan tradisional, namun lebih tinggi dibanding HMO. Hal ini disebabkan provider PPO tidak memiliki keleluasaan untuk melakukan kontrak dengan jaringan lain yang lebih besar.

Gambar 4. Skema Preferred Provider Organization (PPO) 2. Provider Network atau Exclusive Provider Organization (EPO)

EPO pada dasarnya hampir sama dengan PPO (R. Kongstvedt, 2020). EPO adalah skema managed care yang memberikan manfaat pelayanan kesehatan menggunakan jaringan provider (network provider) kepada anggota yang

Gabungan kelompok dokter & RS melakukan kontrak dengan perusahaan asuransi, perusahaan & yankes lainnya

Harga pelayanan ekonomis & pembayaran secara fee for services

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6

150

membutuhkan. Jaringan provider adalah sekelompok dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan yang menjalankan kontrak dengan managed care, biasanya pembayaran dengan cara fee-for-service atau FFS. Peserta managed care dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar organisasi EPO. Namun, umumnya peserta tersebut harus membayar harga pelayanan kesehatan lebih mahal dibanding jika menjalani pelayanan kesehatan di provider anggota EPO (Green & Rowell, 2011).

Dengan demikian pada EPO, organisasi/perusahaan managed care menawarkan produk MC kepada sekelompok orang/pasien dengan provider pelayanan kesehatan yang sudah ditentukan sebelumnya. Bila digambarkan akan nampak seperti pada gambar 3 di bawah.

Gambar 6. Skema Exclusive Provider Organization (EPO)

3. Integrated Delivery System (IDS)

IDS adalah jenis managed care yang ditawarkan kepada sekelompok orang/pasien oleh sekelompok provider (seperti: rumah sakit, klinik rawat jalan, atau kelompok dokter). Model ini terdiri dari:

a. Physician-Hospital Organization (PHO)

Pada model ini provider kesehatan, dokter, dan fasilitas pelayanan kesehatan melakukan negosiasi dengan perusahaan asuransi, organisasi penyelenggara managed care, atau penyelenggara jaminan kesehatan lainnya, untuk memberikan pelayanan kesehatan.

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6

Network provider (kelompok dokter, faskes) ditawarkan kontrak eksklusif oleh perusahaan managed care

Pembayaran fee for service

Boleh memanfaatkan pelayanan di luar network provider (umumnya lebih mahal)

151

Gambar 7. Skema Physician-Hospital Organization (PHO) b. Management Service Organization (MSO)

Pada model ini rumah sakit, asosiasi dokter, atau pihak ketiga menjalankan pelayanan kesehatan. Kontrak managed care dilakukan antara pihak pembayar (misalnya perusahaan, kelompok orang) dengan rumah sakit atau dokter. Kontrak umumnya berisi skedul pembayaran, penanganan administrasi pelayanan, dan penagihan.

Gambar 8. Skema Management Service Organization (MSO)

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6 Provider (dokter dan faskes)

menawarkan pelayanan kesehaan ke perusahaan managed care

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6

Perusahaan (kelompok orang) dengan provider (rumah sakit, dokter) melakukan

kontrak Managed Care

152 c. Group Practice Without Walls (GPWW).

Pada model ini sekelompok dokter yang memiliki lisensi/ijin membentuk badan hukum untuk memberikan pelayanan kesehatan. Pengertian group practice adalah sekelompok orang yang memiliki kewenangan (lisensi) untuk menjalankan praktik medis di suatu wilayah.

Gambar 9. Skema Group Practice Without Wall (GPWW) d. Integrated Provider Organization (IPO)

Pada model ini dibentuk sebuah badan hukum untuk menawarkan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh rumah sakit, dokter (sebagai karyawan IPO), dan fasilitas kesehatan lainnya (misal: klinik).

Gambar 10. Skema Integrated Provider Organization (IPO)

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6

Sekelompok dokter (berizin) membentuk badan hukum atau perusahaan managed care

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6 Rumah sakit, dokter & faskes

lain membentuk badan hukum atau perusahaan managed care

Dokter bertindak sebagai karyawan

153 e. Medical foundation.

Pada model ini managed care dijalankan organisasi nirlaba yang menjalankan kontrak dengan klinik.

Gambar 11. Skema Medical Foundation

Berdasarkan penjelasan di atas, jenis IDS dapat dibedakan sebagaimana disajikan pada tabel 3 berikut.

Tabel 3. Perbedaan Skema Managed Care Integrated Delivery System No Skema IDS

Penyelenggara Managed Care (Pembiayaan)

Pemberi Pelayanan Kesehatan 1 Physician-Hospital

Organization (PHO)

Perusahaan/organisasi penyelenggara managed care

Sekelompok dokter yang berpraktik di RS atau fasilitas kesehatan secara sendiri-sendiri (tidak berbadan hukum) 2 Management

Service Organization (MSO)

Perusahaan atau sekelompok orang penyelenggara Managed Care

Rumah sakit atau asosiasi dokter

3 Group Practice without Walls (GPWW)

Perusahaan

penyelenggara Managed Care

Sekelompok dokter yang membentuk badan hukum

INSURED (Peserta)

PROVIDER (Yankes) INSURER

(Pengelola)

1 2

3

4 5

6

Managed care dijalankan oleh organisasi nirlaba (misalnya Yayasan) dan melakukan

kontrak dengan faskes lainnya

154 No Skema IDS

Penyelenggara Managed Care (Pembiayaan)

Pemberi Pelayanan Kesehatan 4 Integrated Provider

Organization (IPO)

Organisasi yang dibentuk oleh RS dan sekelompok dokter

Rumah sakit dan dokter IPO

5 Medical foundation Yayasan kesehatan atau organisasi nir laba

Rumah sakit, Klinik atau Dokter

4. Kesimpulan

Managed care merupakan upaya yang dilakukan oleh perusahaan asuransi atau organisasi pembiayaan kesehatan untuk mengendalikan biaya dan mutu pelayanan dengan sistem yang mengintegrasikan antara pembiayaan dan pelayanan kesehatan dengan tetap mempertimbangkan pembagian risiko. Dengan sistem ini memungkinkan terjadinya selective contract antara penyelenggara asuransi kesehatan dengan pemberi pelayanan kesehatan dan peserta asuransi.

Terdapat dua bentuk skema/organisasi managed care yang utama yaitu MC berbasis asuransi (insurance-based managed care) dan MC berbasis pelayanan (provider-based managed care). MC berbasis asuransi terdiri dari Health Maintenance Organization (HMO) dan Point-of-Service (POS). Sedangkan MC berbasis pelayanan meliputi Preffered Provider Organization (PPO), Exclusive Provider Organization (EPO) dan Integrated Delivery System (IDS).

C. LATIHAN

1. Sebutkan perbedaan antara non-selective PPO dengan selective PPO ! 2. Sebutkan perbedaan antara PPO dengan EPO/Provider Network !

3. Pada Integrated Provider Organization, siapakah yang bertindak sebagai pemberi pelayanan kesehatan?

4. Apakah yang dimaksud dengan Physician-Hospital Organization 5. Sebutkan jenis teknik utilization review yang dilakukan oleh PPO

6. Sebutkan perbedaan antara staff model HMO dengan group model HMO ditinjau dari mekanisme pembayaran

7. Sebutkan perbedaan antara IPA dengan Direct model HMO ditinjau dari risiko

155 8. Sebutkan karakteristik closed-panel HMO.

9. Berdasarkan gambar berikut, bagaimana karakteristik insured dan provider pada jenis EPO

10. Apakah perbedaan antara Management Service Organization (MSO) dengan Physician-Hospital Organization (PHO).

156

DAFTAR PUSTAKA

Amelung, V. E. (2019). Healthcare Management: Managed Care Organisations and Instruments (2nd ed.). Springer Berlin Heidelberg.

Bhattacharya, J., Hide, T., & Tu, P. (2014). Health Economics. Palgrave Macmillan.

Djasri, H. (n.d.). Mekanisme Pengawasan dalam Jaminan Kesehatan: Tinjauan Kepustakaan.

PKMK FK UGM.

Duston, P. S. (2016). Analyzing Form, Function, and Financing of the US Health Care System. CRC Press.

EY Insurance. (2015). The Future of Health Insurance: A Roadmap through Change.

Finkelstein, A. (2015). Moral Hazard in Health Insurance. Columbia University Press.

Fradin, G. (2010). Understanding Health Insurance: A Guide for Broker, Administrators, Students, and Healthcare Practitioners. National Association of Health Underwriter.

George, D., Fombaron, N., & Doherty, N. (2013). Adverse Selection in Insurance Contracting. In G. Dione (Ed.), Handbook of Insurance (2nd ed.). Springer Science+Business.

Getzen, T. E. (2013). Health Economics and Financing (5th ed.). John Wiley & Sons.

Gleeson, R. K. (2004). Medical Underwriting. In M. A. Rothstein (Ed.), Genetics and Life Insurance: Medical Underwriting and Social Policy (pp. 73–94). The MIT Press.

Global Burden of Disease Health Financing Collaborator Network. (2018). Trends in Future Health Financing and Coverage: Future Health Spending and Universal Health Coverage in 188 countries, 2016–40. The Lancet, 391(10132), 1783–1798.

Goldstein, R. L., Goldstein, K., & Dwelle, T. L. (2015). Introduction to Public Health:

Promises and Practises (2nd ed.). Springer.

Green, M. A., & Rowell, J. C. (2011). Understanding Health Insurance: A Guide to Billing and Reimbursement (10th ed.). Delmar.

Gunawan, A. (2020). Prudential Luncurkan Asuransi Kesehatan Murni PRUSolusi Sehat - Finansial Bisnis.com. Bisnis.Com.

https://finansial.bisnis.com/read/20200630/215/1259677/prudential-luncurkan-asuransi- kesehatan-murni-prusolusi-sehat

Hungelmann, J. (2009). Insurance for Dummies (2nd ed.). Wiley Publishing.

Institute of Medicine. (2001). Coverage Matters: Insurance and Healthcare. National Academy Press.

Institute of Medicine. (2015). Financing Population Health Improvement: Workshop Summary. The National Academies Press.

Louberge, H. (2013a). Development in Risk and Insurance Economics: The Past 40 Years. In Handbook of Insurance (2nd ed.). Springer Science+Business.

157

Louberge, H. (2013b). Development in Risk and Insurance Economics: The Past 40 Years. In G. Diones (Ed.), Handbook of Insurance (2nd ed.). Springer Science+Business.

Marcinko, D. E., & Hetico, H. R. (2006). Dictionary of Health Insurance and Managed Care.

Springer.

Maysita, H., Rudi, R., Warsono, W., & Nusyirwan, N. (2019, October 24). MENENTUKAN PREMI ASURANSI KESEHATAN UNTUK PERAWATAN RUMAH SAKIT PADA STATUS PERORANGAN DAN JOINT LIFE. Seminar Nasional SMIAP V 2019.

http://snsmiap.fmipa.unila.ac.id/2019/

McKee, M., Khoshaba, B., & Karanikolos, M. (2013). Evaluating Health Care Systems. In Oxford Handbook of Public Health Practice. Oxford University Press.

Morissey, M. A. (2008). Health Insurance. AUPHA Press.

Paolucci, F. (2011). Healthcare Financing and Insurance: Options for Design. Springer Berlin Heidelberg.

Pauly, M. V., McGuire, T. G., & Baros, P. P. (2012). Handbook of Health Economics.

Elsevier.

Persatuan Aktuaris Indonesia. (n.d.). Siapa itu Aktuaris? AKTUARIS.ORG.ID | Society Of Actuaries Of Indonesia. Retrieved November 24, 2020, from

https://www.aktuaris.or.id/page/content/9/kenapa-menjadi-aktuaris

Powell, D., & Goldman, D. (2016). Moral Hazard and Adverse Selection in Private Health Insurance. In NBER (No. 21858). https://doi.org/10.7249/wr1032

Pratama, W. P. (n.d.). Banyak Ibu Hamil Daftar BPJS Kesehatan Sebelum Lahiran, Lalu Menunggak - Finansial Bisnis.com. Bisnis.Com. Retrieved July 26, 2020, from

https://finansial.bisnis.com/read/20191021/215/1161360/banyak-ibu-hamil-daftar-bpjs- kesehatan-sebelum-lahiran-lalu-menunggak

R. Kongstvedt, P. (2020). Health Insurance and Managed Care: What They Are and How They Work (5th ed.). John and Bartlett.

Rejda, George E. (2008). Principles of Risk Management and Insurance (10th ed.). Pearson - Addison Wesley.

Rejda, Geroge E., & McNamara, M. J. (2016). Principles of Risk Management and Insurance (13th ed.). Pearson Education.

Rickel, A. U., & Wise, T. N. (2000). Understanding Managed Care: An Introduction for Health Care Professional. Karger AG.

Rovner, J. (2013). Medical Underwriting. In Health Care Policy and Politics A to Z.

Springer. https://doi.org/10.4135/9781452240121.n220

Samuel, D. I. (2012). Managed Health Care in the New Millenium: Innovative Financial Modelling for the 21th Century. CRC Press.

Sarwo, Y. B. (2015). Tinjauan Yuridis terhadap Kecurangan (Fraud) dalam Industri Asuransi Kesehatan di Indonesia. Jurnal Ilmiah Hukum Unika Atma Jaya.

Dalam dokumen Buku Asuransi Kesehatan & Managed Care (Halaman 143-160)