BAB II PAJAK DAERAH
2.3. Jenis Pajak Daerah
di kawasan bandara, pelabuhan laut, perkebunan, kehutanan, pertanian, pertambangan, industri, perdagangan, dan sarana olah raga dan rekreasi;
4) Termasuk dalam obyek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor oleh BUMN dan BUMD.
Dikecualikan dari obyek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor oleh:69
1) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
2) Kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing, dan perwakilan lembaga-lembaga internasional dengan asas timbal balik; dan 3) Subyek pajak lainnya, seperti pemilikan atau penguasaan
kendaraan bermotor yang digunakan untuk keperluan pengolahan lahan pertanian rakyat dan BUMN yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor yang digunakan untuk keperluan keselamatan.
Subyek Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor. Wajib Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor. Dalam hal wajib pajak badan, kewajiban perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa badan tersebut.70
Tarif Pajak Kendaraan Bermotor adalah sebagai berikut:71 1) Kendaran bermotor bukan umum sebesar 1,5%;
2) Kendaraan bermotor umum sebesar 1,0%;
3) Kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar sebesar 0,5%.
Dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dihitung sebagai perkalian dari 2 (dua) unsur pokok, yaitu:72
69 Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, 2008. Pedoman Nasional Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. hal. 22.
70 Ibid. hal. 23.
1) Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB), yang didasarkan atas harga pasaran umum suatu kendaraan bermotor. Yang dimaksud dengan harga pasaran umum adalah harga rata-rata yang diperoleh dari sumber data, antara lain agen tunggal pemegang merek dan/atau asosiasi penjual kendaraan bermotor. Harga pasaran umum yang dipakai sebagai dasar penetapan NJKB adalah harga pasaran umum minggu pertama bulan Desember tahun pajak sebelumnya.
Dalam hal harga pasaran umum tidak diketahui, dapat didasarkan pada faktor-faktor lain seperti: isi silinder dan/atau satuan daya, penggunaan, jenis, merek, tahun pembuatan berat total, banyak penumpang, atau dokumen impor kendaraan bermotor.
2) Bobot, yang mencerminkan secara relatif kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan bermotor. Bobot kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan dapat dihitung berdasarkan faktor-faktor: tekanan gandar, jenis bahan bakar, jenis penggunaan, tahun pembuatan, atau ciri-ciri mesin dari kendaraan bermotor.
Bobot dinyatakan sebagai koefisien tertentu. Koefisien sama dengan 1, berarti kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan oleh kendaraan bermotor tersebut dianggap masih dalam batas toleransi. Koefisien lebih besar dari 1, berarti kendaraan bermotor tersebut membawa pengaruh buruk terhadap kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan.
Contoh menghitung dasar pengenaan pajak :
- NJKB merek dan tahun tertentu adalah sebesar .... : Rp 100 juta.
- Koefisien bobot ditentukan sebesar ...: 1,2 - Dasar pengenaan pajak dari kendaraan
bermotor tersebut adalah Rp 100 juta x 1,2... : Rp 120 juta.
Dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan dan ditinjau setiap tahun. Besarnya pokok Pajak Kendaraan Bermotor yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor.
72 Ibid.
b. Pajak Kendaraan di Atas Air
Obyek Pajak Kendaraan di Atas Air adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan di atas air. Yang dimaksud dengan kendaraan di atas air adalah semua kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan yang digunakan di atas air. Obyek pajak ini meliputi kendaraan di atas air yang digunakan untuk kepentingan penangkapan ikan dengan mesin berkekuatan lebih besar dari 2 PK, dengan ukuran isi kotor kurang dari 20 M3 atau kurang dari 7 GT atau yang digunakan untuk kepentingan pesiar perseorangan (meliputi yacht/pleasure ship/sporty ship) dan untuk kepentingan angkutan perairan daratan. Termasuk dalam obyek Pajak Kendaraan di Atas Air adalah kendaraan di atas air milik BUMN dan BUMD.
Dikecualikan dari obyek Pajak Kendaraan di Atas Air adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan di atas air oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing, dan perwakilan lembaga-lembaga internasional dengan asas timbal balik, dan orang pribadi atau badan atas kendaraan di atas air printis (kapal yang digunakan untuk pelayanan angkutan perintis), serta subyek pajak lain antara lain BUMN yang memiliki atau menguasai kendaraan di atas air yang digunakan untuk keperluan keselamatan seperti kapal pandu dan kapal tunda. Sedangkan kendaraan di atas air milik BUMN dan BUMD tidak dikecualikan sebagai obyek pajak kendaraan di atas air.73
Subyek Pajak Kendaraan di Atas Air adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan di atas air.
Wajib Pajak Kendaraan di Atas Air adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan di atas air. Dalam hal wajib pajak badan, kewajiban
perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa badan tersebut. Sedangkan Tarif Pajak Kendaraan di Atas Air adalah 1,5%.74
Dasar pengenaan Pajak Kendaraan di Atas Air dihitung berdasarkan Nilai Jual Kendaraan di Atas Air (NJKAA), yang didasarkan atas harga pasaran umum suatu kendaraan di atas air. Yang dimaksud dengan harga pasaran umum adalah harga rata-rata yang diperoleh dari sumber data, antara lain dari tempat penjualan kendaraan di atas air. Harga pasaran umum yang dipakai sebagai dasar penetapan NJKAA adalah harga pasaran umum minggu pertama bulan Desember tahun pajak sebelumnya. Dalam hal harga pasaran umum tidak diketahui, dapat didasarkan pada faktor-faktor lain seperti penggunaan, jenis, merek, tahun pembuatan atau renovasi, isi kotor, banyak penumpang atau berat muatan maksimum yang diizinkan, dokumen impor kendaraan di atas air.75
Dasar pengenaan Pajak Kendaraan di Atas Air ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan dan ditinjau setiap tahun.
Besarnya pokok Pajak Kendaraan di Atas Air yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Kendaraan di Atas Air dan pemungutannya merupakan satu kesatuan dengan pengurusan administrasi kendaraan bermotor lainnya. Khusus pemungutan pajak kendaraan bermotor untuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak dilakukan hanya oleh Pemerintah Daerah.
Ad.2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA)
a. Balik Nama Kendaraan Bermotor
Obyek Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah penyerahan kendaraan bermotor. Yang dimaksud dengan kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan
74 Ibid. hal. 26.
75 Ibid.
digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. Termasuk dalam obyek bea balik nama kendaraan bermotor adalah penyerahan kendaraan bermotor kepada BUMN dan BUMD dan pemasukan kendaraan bermotor dari luar negeri untuk dipakai secara tetap di Indonesia.
Dikecualikan dari obyek Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah penyerahan kendaraan bermotor kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, kedutaan, konsulat, perwakilan asing dan lembaga-lembaga internasional dengan asas timbal balik, dan subyek pajak lain yang ditetapkan dengan peraturan daerah.
Termasuk dalam pengecualian obyek bea ini adalah pemasukan kendaraan bermotor dari luar negeri untuk dipakai sendiri oleh orang pribadi yang bersangkutan, diperdagangkan, dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia (maksimum selama 3 tahun berturut-turut), serta digunakan untuk pameran, penelitian, contoh, dan kegiatan olah raga bertaraf internasional.
Subyek Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan bermotor. Wajib Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan bermotor.76
Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah sebagai berikut:77 1) Penyerahan pertama sebesar:
a) 10% untuk kendaraan bermotor bukan umum;
b) 10% untuk kendaran bermotor umum;
c) 3% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.
2) Penyerahan kedua dan selanjutnya sebesar:
a) 1,0% untuk kendaraan bermotor bukan umum;
b) 1,0% untuk kendaran bermotor umum;
76 Ibid, hal. 28.
c) 0,3% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat- alat besar.
3) Penyerahan karena warisan sebesar:
a) 0,10% untuk kendaraan bermotor bukan umum;
b) 0,10% untuk kendaran bermotor umum;
c) 0,03% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.
Dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB), yang didasarkan atas harga pasaran umum suatu kendaraan bermotor. Dalam hal harga pasaran umum tidak diketahui, dapat didasarkan pada faktor-faktor lain seperti isi silinder dan/atau satuan daya, penggunaan, jenis, merek, tahun pembuatan, berat total, banyak penumpang, atau dokumen impor kendaraan bermotor. Dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan dan ditinjau setiap tahun.
Besarnya pokok Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan bea balik nama kendaraan bermotor.
c. Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air
Obyek Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air adalah penyerahan kendaraan di atas air. Yang dimaksud dengan kendaraan di atas air adalah semua kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan yang digunakan di atas air. Obyek bea ini meliputi kendaraan di atas air yang digunakan untuk kepentingan penangkapan ikan dengan mesin berkekuatan lebih besar dari 2 PK, dengan ukuran isi kotor kurang dari 20 M3 atau kurang dari 7 GT atau yang digunakan untuk kepentingan pesiar perseorangan (meliputi yachtlpleasure ship/sporty ship) dan untuk kepentingan angkutan perairan daratan.
Dikecualikan dari obyek Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air adalah penyerahan kendaraan di atas air kepada Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, kedutaan, konsulat, perwakilan asing dan lembaga- lembaga internasional dengan asas timbal balik, dan subyek pajak lain yang ditetapkan dengan peraturan daerah. Termasuk dalam pengecualian obyek bea ini adalah pemasukan kendaraan di atas air dari luar negeri untuk dipakai sendiri oleh orang pribadi yang bersangkutan, diperdagangkan, dikeluarkan kembali dari wilayah pabean Indonesia (maksimum selama 3 tahun berturut-turut), serta digunakan untuk pameran, penelitian, contoh, dan kegiatan olah raga bertaraf internasional.78
Subyek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air adalah orang pribadi atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan di atas air.
Wajib Pajak Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air adalah orang pribadi atau badan yang menerima penyerahan kendaraan di atas air.
Tarif Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air adalah sebagai berikut:
a) Penyerahan pertama sebesar 5%;
b) Penyerahan kedua dan selanjutnya sebesar 1%;
c) Penyerahan karena warisan sebesar 0,1%.
Dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air dihitung berdasarkan Nilai Jual Kendaraan di Atas Air (NJKAA), yang didasarkan atas harga pasaran umum suatu kendaraan di atas air. Dalam hal harga pasaran umum tidak diketahui, dapat didasarkan pada faktor-faktor lain seperti penggunaan, jenis, merek, tahun pembuatan atau renovasi, isi kotor, banyak penumpang atau berat muatan maksimum yang diizinkan, dokumen impor kendaraan di atas air. Dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan dan ditinjau setiap tahun.
Besarnya pokok Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air.
Ad.3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB)
Obyek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah bahan bakar kendaraan bermotor (bensin, solar, dan bahan bakar gas) yang disediakan atau dianggap digunakan untuk kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan di atas air.
Subyek Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah konsumen bahan bakar kendaraan bermotor. Wajib Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan bahan bakar kendaraan bermotor.79
Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah 5%. Dalam harga eceran bahan bakar kendaraan bermotor sudah termasuk Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
Dasar pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah nilai jual bahan bakar kendaraan bermotor, yaitu harga jual sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
Besarnya pokok Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
Ad.4. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT&AP)
Obyek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah: pengambilan atau pemanfaatan, atau pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan, tidak termasuk air laut.
Dikecualikan dari obyek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah pengambilan, pemanfaatan, atau pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan:80
79 Ibid, hal. 31.
80 Ibid, hal. 32.
a. Oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan BUMN/ BUMD yang khusus didirikan untuk eksploitasi dan pemeliharaan pengairan serta mengusahakan air dan sumber-sumber air;
b. Yang digunakan untuk kepentingan pengairan pertanian rakyat, keperluan dasar rumah tangga;
c. Lainnya yang diatur dengan peraturan daerah.
Subyek Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah orang pribadi atau badan yang mengambil atau memanfaatkan, atau mengambil dan memanfaatkan air bawah tanah dan/atau air permukaan.
Wajib Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah orang pribadi atau badan yang mengambil atau memanfaatkan, atau mengambil dan memanfaatkan air bawah tanah dan/atau air permukaan.
Tarif Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah:
a. Air bawah tanah sebesar 20%; dan b. Air permukaan sebesar 10%.
Dasar pengenaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah nilai perolehan air, yang dihitung menurut sebagian atau seluruh faktor-faktor:
a. Jenis sumber air;
b. Lokasi sumber air;
c. Tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
d. Volume air yang diambil, atau dimanfaatkan, atau diambil dan dimanfaatkan;
e. Kualitas air;
f. Luas areal tempat pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
g. Musim pengambilan, atau pemanfaatan, atau pengambilan dan pemanfaatan air;
h. Tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan, pemanfaatan atau pengambilan dan pemanfaatan air.
Besarnya nilai perolehan air, sepanjang digunakan untuk kegiatan BUMN, BUMD yang memberikan pelayanan publik, pertambangan minyak dan gas alam ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan.
Besarnya pokok Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.
Sedangkan jenis pajak kabupaten/kota terdiri dari:81 1. Pajak Hotel;
2. Pajak Restoran;
3. Pajak Hiburan;
4. Pajak Reklame;
5. Pajak Penerangan Jalan;
6. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C; dan 7. Pajak Parkir.
Ad.1. Pajak Hotel
Obyek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan hotel dengan pembayaran, termasuk:
a. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek;
b. Dalam pengertian rumah penginapan termasuk rumah kos dengan jumlah kamar 10 (sepuluh) atau lebih yang menyediakan fasilitas seperti rumah penginapan. Sedangkan yang dimaksud dengan fasilitas penginapan/fasilitas tinggal jangka pendek, antara lain: gubuk pariwisata (cottage), motel, wisma pariwisata, pesanggrahan (hostel), losmen, dan rumah penginapan;
c. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan, antara lain: telepon,
81 Pasal 2 ayat (2), UU No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
faksimil, teleks, fotokopi, pelayanan cuci, setrika, taksi dan pengangkutan lainnya, yang disediakan atau dikelola hotel;
d. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel, bukan untuk umum;
e. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.
Dikecualikan dari obyek Pajak Hotel adalah:82
a. Penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan/atau fasilitas tempat tinggal lainnya yang tidak menyatu dengan hotel;
b. Pelayanan tinggal di asrama dan pondok pesantren;
c. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan di hotel yang dipergunakan oleh bukan tamu hotel dengan pembayaran;
pertokoan, perkantoran, perbankan, salon yang dipergunakan oleh umum di hotel;
d. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel dan dapat dimanfaatkan oleh umum.
Subyek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada hotel. Wajib Pajak Hotel adalah pengusaha hotel.83
Tarif Pajak Hotel paling tinggi 10%. Daerah dapat menetapkan sendiri tarif Pajak Hotel sesuai kebijakan daerah sepanjang tidak melebihi 10% dan ditetapkan dalam peraturan daerah. Dasar pengenaan Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel. Besarnya pokok Pajak Hotel yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Hotel.84
Ad.2. Pajak Restoran
Obyek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan restoran dengan pembayaran. Termasuk dalam obyek Pajak Restoran adalah rumah
82 Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Op.Cit. hal. 34-35.
83 Ibid, hal. 35.
makan, cafe, bar, dan sejenisnya. Pelayanan di restoran/rumah makan meliputi penjualan makanan dan/atau minuman di restoran/rumah makan, termasuk penyediaan penjualan makanan/ minuman yang diantar/dibawa pulang.
Dikecualikan dari obyek Pajak Restoran adalah:85 a. Pelayanan usaha jasa boga/katering;
b. Pelayanan yang disediakan oleh restoran atau rumah makan yang peredarannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan dengan peraturan daerah.
Subyek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada restoran. Wajib Pajak Restoran adalah pengusaha restoran. Tarif Pajak Restoran paling tinggi 10%. Daerah dapat menetapkan sendiri tarif Pajak Restoran sesuai kebijakan daerah sepanjang tidak melebihi 10% dan ditetapkan dalam peraturan daerah.86
Dasar pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada restoran. Besarnya pokok Pajak Restoran yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Restoran.
Ad.3. Pajak Hiburan
Obyek Pajak Hiburan adalah penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran. Yang dimaksud dengan hiburan, antara lain berupa tontonan film, kesenian, pagelaran musik dan tari, diskotik, karaoke, klab malam, permainan bilyar, permainan ketangkasan, panti pijat, mandi uap, dan pertandingan olahraga.
Dikecualikan dari obyek Pajak Hiburan adalah penyelenggaraan hiburan yang tidak dipungut bayaran, seperti hiburan yang diselenggarakan dalam rangka pernikahan, upacara adat, kegiatan keagamaan.87
85 Ibid, hal. 36.
86 Ibid.
87 Ibid, hal. 36-37.
Subyek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menonton dan/atau menikmati hiburan. Wajib Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan. Tarif Pajak Hiburan paling tinggi sebesar 35%. Daerah dapat menetapkan sendiri tarif Pajak Hiburan sesuai kebijakan daerah sepanjang tidak melebihi 35% dan ditetapkan dalam peraturan daerah. Khusus untuk hiburan tradisional, tarif pajak ditetapkan lebih rendah dari tarif terendah untuk hiburan lainnya.
Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk menonton dan/atau menikmati hiburan.
Besarnya pokok Pajak Hiburan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Hiburan.
Ad.4. Pajak Reklame
Obyek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan reklame, antara lain berupa:
a. reklame papan/billboard/videotron/megatron;
b. reklame kain;
c. reklame melekat (stiker);
d. reklame selebaran;
e. reklame berjalan, termasuk pada kendaraan;
f. reklame udara;
g. reklame suara;
h. reklame film/slide;
i. reklame peragaan.
Dikecualikan dari obyek Pajak Reklame adalah penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta mingguan, warta bulanan, dan sejenisnya, serta penyelenggaraan reklame lainnya yang ditetapkan dengan peraturan daerah.
Subyek Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan atau memesan reklame. Wajib Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame. Dalam hal reklame diselenggarakan langsung oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan reklame untuk kepentingan sendiri, maka wajib Pajak
Reklame adalah orang pribadi atau badan tersebut. Apabila penyelenggaraan reklame dilaksanakan melalui pihak ketiga, misalnya perusahaan jasa periklanan, maka pihak ketiga tersebut menjadi Pajak Reklame.88
Tarif Pajak Reklame paling tinggi sebesar 25%. Daerah dapat menetapkan sendiri tarif Pajak Reklame sesuai kebijakan daerah sepanjang tidak melebihi 25% dan ditetapkan dalam peraturan daerah. Dasar pengenaan Pajak Reklame adalah nilai sewa reklame, yang diperhitungkan dengan memperhatikan lokasi penempatan, jenis, jangka waktu penyelenggaraan, dan ukuran media reklame. Besarnya pokok pajak reklame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan Pajak Reklame.
Ad.5. Pajak Penerangan Jalan
Obyek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik, di wilayah daerah yang tersedia penerangan jalan yang rekeningnya dibayar oleh Pemerintah Daerah. Yang dimaksud dengan penggunaan tenaga listrik adalah penggunaan tenaga listrik baik yang disalurkan dari PLN maupun bukan PLN.
Dikecualikan dari obyek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik:
a. Oleh instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah;
b. Pada tempat-tempat tertentu yang digunakan kedutaan, konsulat, perwakilan asing, dan lembaga-lembaga internasional dengan asas timbal balik sebagaimana berlaku untuk pajak negara;
c. Yang berasal dari bukan PLN dengan kapasitas tertentu yang tidak memerlukan izin dari instansi teknis terkait;
d. Lainnya yang diatur dengan peraturan daerah.
Subyek Pajak Penerangan Jalan adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan tenaga listrik. Wajib Pajak Penerangan Jalan adalah
88 Ibid, hal. 38.