RETRIBUSI DAERAH
3. Prinsip dan Sasaran Penetapan Tarif Retribusi Daerah
3.3. Dasar Hukum Retribusi Daerah
3.3.4. Pengawasan Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah
Dalam rangka pengawasan peraturan daerah yang menetapkan pemungutan retribusi pada suatu daerah, baik jenis retribusi sesuai dengan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 maupun jenis retribusi lainnya, disampaikan kepada pemerintah (dalam hal ini kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan) paling lama lima belas hari setelah ditetapkan. Penetapan jangka waktu lima belas hari ini telah mempertimbangkan administrasi pengiriman peraturan daerah dari daerah yang tergolong jauh dari Jakarta136.
Jika suatu peraturan daerah tentang retribusi daerah bertentangan dengan kepentingan umum dan atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, pemerintah (dalam hal ini Menteri Dalam Negeri dengan pertimbangan Menteri Keuangan) dapat membatalkan peraturan daerah dimaksud. Pembatalan peraturan daerah tentang retribusi daerah, dilakukan paling lama satu bulan sejak diterimanya peraturan daerah dimaksud. Penetapan jangka waktu satu bulan ini dilakukan dengan pertimbangan untuk mengurangi dampak negatif dari pembatalan peraturan daerah dimaksud. Ketentuan pengawasan dan pembatalan peraturan daerah tentang retribusi daerah dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku137.
Pembatalan peraturan daerah tersebut berlaku sejak tanggal ditetapkan. Walaupun pada akhirnya dibatalkan, tetapi terlihat ada jangka waktu pemberlakuan peraturan daerah tersebut (sejak ditetapkan sampai
135 Ibid. hal. 454.
136 Ibid.
137 Ibid. hal. 454-455.
dengan diajukan kepada Menteri Dalam Negeri, diperiksa, dan dibatalkan), yang berarti terjadi pemberlakuan pemungutan retribusi daerah yang diatur dalam peraturan daerah tersebut pada daerah bersangkutan. Hal ini berakibat pada saat diberlakukan tentunya akan ada wajib retribusi yang terutang retribusi sehingga harus membayar retribusi yang terutang. Jika wajib retribusi telah membayar retribusi terutang sebelum peraturan daerah dimaksud dibatalkan, ia tidak dapat mengajukan restitusi kepada Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
Ketentuan ini tampaknya akan merugikan wajib retribusi. Oleh karena itu, sebaiknya untuk menetapkan retribusi daerah, Pemerintah Daerah bersama mengkaji secara cermat dasar pengenaan retribusi dimaksud138. 3.4. Tatacara Pelaksanaan Pemungutan Retribusi Daerah
Sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 Pasal 26 pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan. Artinya seluruh proses kegiatan pemungutan retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun, dalam pengertian ini bukan berarti bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh bekerja sama dengan pihak ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan retribusi, Pemerintah Daerah dapat mengajak bekerja sama badan-badan tertentu yang karena profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas pemungutan jenis retribusi tertentu secara lebih efisien. Kegiatan pemungutan retribusi yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan perhitungan besarnya retribusi yang terutang, pengawasan penyetoran retribusi, dan penagihan retribusi139.
Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) atau dokumen lain yang dipersamakan. SKRD adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi. Dokumen lain yang dipersamakan, antara lain, berupa karcis masuk, kupon, dan kartu langganan. Jika wajib retribusi tertentu tidak membayar retribusi tepat pada waktunya atau kurang membayar, ia
138 Ibid. hal. 455.
dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar dua persen setiap bulan dari retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah (STRD). STRD merupakan surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda. Tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi daerah ditetapkan oleh kepala daerah140.
Pada penjelasan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997, pungutan retribusi daerah yang berkembang selama ini didasarkan pada Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah ternyata menunjukkan beberapa kelemahan.
Kelemahannya antara lain141:
1. Hasilnya kurang memadai jika dibandingkan dengan biaya penyediaan jasa oleh daerah;
2. Biaya pemungutannya relatif tinggi;
3. Kurang kuatnya prinsip dasar retribusi terutama dalam hal pengenaan, penetapan, struktur, dan besarnya tarif retribusi;
4. Adanya beberapa jenis retribusi yang pada hakikatnya bersifat pajak karena pemungutannya tidak dikaitkan secara langsung dengan pelayanan Pemerintah Daerah kepada pembayar retribusi;
5. Adanya jenis retribusi perizinan yang tidak efektif dalam usaha untuk melindungi kepentingan umum dan kelestarian lingkungan;
dan
6. Adanya jenis retribusi yang mempunyai dasar pengenaan atau objek yang sama.
Hal ini membuat jenis-jenis retribusi perlu diklasifikasikan dengan kriteria tertentu agar memudahkan penerapan prinsip dasar retribusi sehingga mencerminkan hubungan yang jelas antara tarif retribusi dengan pelayanan yang diberikan Pemerintah Daerah. Dalam rangka penyederhanaan jenis retribusi, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 menetapkan secara tegas golongan/jenis Retribusi Daerah yang dapat dipungut oleh daerah. Penyederhanaan tersebut diharapkan dapat
140 Ibid. hal. 456.
141 Ibid. hal. 47-48.
meningkatkan penerimaan daerah dari sumber Retribusi Daerah mengingat penetapan retribusi yang dapat dipungut daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 didasarkan, antara lain pada potensinya yang cukup besar142.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 menetapkan retribusi daerah ke dalam tiga golongan, yaitu retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha, dan retribusi perizinan tertentu. Penggolongan ini didasarkan pada jasa yang diberikan oleh Pemerintah Daerah yang menjadi objek retribusi.
Meskipun tidak semua jasa yang diberikan oleh Pemerintah Daerah dapat dipungut retribusinya, tetapi hanya jenis-jenis jasa tertentu yang menurut pertimbangan sosial ekonomi layak untuk dijadikan objek retribusi143.
Untuk menjamin hak wajib retribusi dalam mempertahankan haknya, wajib retribusi diberi hak untuk mengajukan keberatan atas penetapan retribusi yang dilakukan oleh kepala daerah. Selain itu, wajib retribusi diberikan hak untuk mendapatkan pengembalian apabila ternyata terdapat kelebihan pembayaran retribusi. Hal ini adalah hak yang semula tidak diatur dalam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1957144.
Di sisi lain diatur pula kewenangan kepala daerah untuk melakukan pemeriksaan terhadap wajib retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan retribusi daerah. Hal ini dimaksudkan agar kepala daerah mengetahui apakah wajib retribusi telah memenuhi kewajiban dengan benar. Selain itu, juga diatur ketentuan pidana terhadap wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah. Untuk mengetahui ada tidaknya tindak pidana di bidang retribusi daerah, kepala daerah dapat menunjuk pejabat tertentu untuk melakukan penyidikan terhadap wajib retribusi.
Ketiga hal ini semula tidak diatur dalam Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1957145.
142 Ibid. hal. 48.
143 Ibid.
144 Ibid.
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tidak banyak mengubah ketentuan tentang retribusi daerah dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997. Beberapa hal yang diubah antara lain mempertegas kriteria penetapan jenis/golongan retribusi, pemberian kewenangan kepada daerah untuk menentukan jenis retribusi selain yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, dan memberikan sebagian hasil retribusi tertentu daerah kabupaten kepada desa. Hal lainnya adalah penegasan tentang tata cara pengesahan peraturan daerah tentang retribusi daerah yang dibuat oleh suatu daerah provinsi atau kabupaten/kota. Dengan demikian, sebagian besar ketentuan retribusi daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tetap diberlakukan dalam pengenaan dan pemungutan retribusi daerah.