PERANAN PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH
5.2. Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu pendapatan yang diperoleh daerah dan dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan, meliputi:
1) pajak daerah;
2) retribusi daerah, termasuk hasil dari pelayanan badan layanan umum (BLU) daerah;
3) hasil pengelolaan kekayaan pisahkan, antara lain bagian laba dari BUMD, hasil kerja sama dengan pihak ketiga;
dan
4) lain-lain PAD yang sah.
b. Dana perimbangan, yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi;
c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Sumber penerimaan daerah yang kedua, yaitu pembiayaan yang bersumber dari244:
1) sisa lebih perhitungan anggaran daerah;
2) penerimaan pinjaman daerah;
3) dana cadangan daerah; dan
4) hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.
ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Keuangan Daerah.
Rencana penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah merupakan bagian dari anggaran pendapatan yang harus dapat direalisasikan oleh satuan kerja perangkat daerah atau instansi yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya melakukan pemungutan dari masing-masing jenis pajak daerah dan retribusi daerah dimaksud. Dengan demikian, keberadaan dan peranan penerimaan kedua jenis pungutan tersebut adalah sebagai penopang sumber pembiayaan anggaran belanja daerah untuk membiayai penyelenggaraan urusan wajib dan urusan pilihan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah, dengan mengacu kepada Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, di mana besarnya disesuaikan dan diselaraskan dengan pembagian kewenangan antara Pusat dan Daerah.
Semua sumber keuangan yang melekat pada setiap urusan pemerintah yang diserahkan kepada daerah menjadi sumber keuangan daerah.
Daerah diberikan hak untuk mendapatkan sumber keuangan yang antara lain berupa: kepastian tersedianya pendanaan dari pemerintah sesuai dengan urusan pemerintah yang diserahkan; kewenangan memungut dan mendayagunakan pajak dan retribusi daerah dan hak untuk mendapatkan bagi hasil dari sumber-sumber daya nasional yang berada di daerah dan dana perimbangan lainnya; hak untuk mengelola kekayaan Daerah dan mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah serta sumber- sumber pembiayaan. Dengan pengaturan tersebut, dalam hal ini pada dasarnya pemerintah menerapkan prinsip “uang mengikuti fungsi”.
Dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
pada ayat (1) Pasal 155 menyebutkan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah.
Adapun sumber pendapatan daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 157, terdiri dari:
a. Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu:
1. Hasil Pajak Daerah;
2. Hasil Retribusi Daerah;
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan daerah yang dipisahkan;
4. Lain-lain PAD yang sah.
b. Dana Perimbangan;
c. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang sah.
Melihat komponen penerimaan PAD tersebut, tentu dalam pelaksanaannya perlu dicermati bahwa peranan pajak daerah dan Retribusi Daerah cukup besar dalam PAD baik untuk APBD Provinsi maupun untuk APBD Kabupaten/Kota. Dalam Pasal 158 ayat (1) UU tersebut menyebutkan bahwa pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang yang pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah, dan pada ayat (2) menyebutkan Pemerintah Daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang telah ditetapkan undang- undang.
Untuk Pemerintah Provinsi di Indonesia dari berbagai jenis Pajak Daerah yang sangat signifikan kontribusi penerimaannya dalam APBD adalah yang bersumber dari pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, sedangkan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan, kontribusinya masih relatif kecil jika dibandingkan dengan ketiga jenis pungutan pajak di atas, demikian pula penerimaan atas Pajak Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air. Hal ini disebabkan pengenaan obyek pajaknya terbatas pada Kendaraan di Atas Air dengan ukuran isi kotor kurang dari 20 m3 atau kurang dari GT.7 dan Kendaraan di Atas Air yang digunakan untuk kepentingan penangkapan ikan
dengan mesin berkekuatan lebih dari 2 PK sebagaimana diatur dalam dalam PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
Bahwa peran Pajak Provinsi tersebut di samping mendukung sumber Pendapatan Provinsi juga sebagian realisasinya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota sebagaimana diatur pada Pasal 77 Peraturan Pemerintah tersebut, yaitu:
1. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi yang bersangkutan paling sedikit 30% (tiga puluh persen);
2. Hasil Penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi yang bersangkutan paling sedikit 70% (tujuh puluh persen);
3. Bagian Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan lebih lanjut dengan peraturan daerah provinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar daerah kabupaten/kota.
Untuk Kabupaten/Kota dalam komponen pendapatan asli daerah selain yang bersumber dari pajak daerah juga yang bersumber dari penerimaan retribusi daerah, di mana sesuai potensinya tidak sama besarnya antar kabupaten/kota di Indonesia seperti Pajak Hotel; Pajak Restoran, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C, Pajak Parkir di mana sesuai ketentuan Pasal 73 peraturan pemerintah tersebut disebutkan adanya pajak lain-lain yang menyebutkan bahwa selain jenis pajak kabupaten/kota yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah tersebut, dengan peraturan daerah dapat ditetapkan jenis pajak lainnya sesuai kriteria yang ditetapkan dalam undang-undang.
Dalam hal ini terdapat perbedaan kewenangan untuk menetapkan pajak baru hanya kepada Kabupaten/Kota, sedangkan untuk provinsi, jenis pajaknya sudah dibatasi sebagaimana yang telah diatur dalam Undang- Undnag Nomor 34 Tahun 2000.
Dengan demikian bahwa upaya untuk meningkatkan sumber penerimaan PAD baik yang bersumber dari pajak daerah maupun retribusi daerah mutlak dilakukan dalam mendukung sumber dana daerah untuk membiayai kegiatan pelaksanaan otonomi daerah terutama penyelenggaraan tugas-tugas pemerintah otonom, pelaksanaan pembangunan daerah dan pemberian pelayanan kepada masyarakat di berbagai bidang terutama kesejahteraan rakyat. Kondisi ini tentu dituntut adanya inovasi dan kreasi dari daerah dalam pelaksanaan tugas-tugas otonom yang terkait dengan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah. Semakin meningkat penerimaan PAD (seperti Pajak Daerah Provinsi) pada setiap tahun maka mempunyai korelasi meningkatnya penerimaan bagi hasil pajak provinsi kepada masing-masing kabupaten/kota yang dihitung dengan memperhatikan aspek potensi dan aspek pemerataan.
Hal yang sama juga telah diatur bagi hasil pajak kabupaten kepada desa yaitu tecantum pada Pasal 78 Peraturan Pemerintah tersebut sebagai berikut:
1. Hasil Penerimaan Pajak Kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10%
(sepuluh persen) bagi Desa di wilayah Daerah Kabupaten yang bersangkutan;
2. Bagian Desa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar desa;
3. Penggunaan bagian Desa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan sepenuhnya oleh Desa yang bersangkutan.
Potensi pungutan pajak daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota dapat dikelola secara optimal oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) atau Instansi terkait yang didukung dengan sumber daya manusia (SDM) petugas yang profesional dan terampil, dan ditopang oleh sarana dan prasarana operasional tentu obyek potensi pungutan pajak daerah yang ada dapat diperoleh secara maksimal.
Oleh karenanya di samping upaya terhadap peningkatan potensi pajak daerah tersebut juga terhadap jenis-jenis retribusi daerah dapat dilaksanakan upaya penggaliannya melalui pemetaan obyek retribusi daerah
yang dikelola oleh masing-masing SKPD sesuai kewenangannya, diharapkan dengan adanya peningkatan pelayanan kepada masyarakat (pemberian jasa) sesuai dengan filosofis dan azas pemungutan retribusi daerah. Hal ini tentu akan mendukung keberhasilan daerah untuk meningkatkan realisasi dari sektor retribusi yang secara keseluruhan (bruto) disetor ke kas daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota sesuai jenis penerimaan dan kewenangan masing-masing.