• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Pidana dan Penyidikan 1. Ketentuan Pidana

BAB II PAJAK DAERAH

2.7. Ketentuan Pidana dan Penyidikan 1. Ketentuan Pidana

menghapuskan. Piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi dapat disebabkan oleh hal-hal di bawah ini103:

1. Wajib pajak meninggal dunia dan tidak meninggalkan harta kekayaan/warisan yang dibuktikan Surat Keterangan Kematian dari lurah dan laporan hasil pemeriksaan petugas Dinas Pendapatan Daerah;

2. Wajib pajak tidak mempunyai harta kekayaan lagi, yang dibuktikan berdasarkan hasil pemeriksaan petugas Dinas Pendapatan Daerah yang menyatakan bahwa wajib pajak benar-benar tidak mempunyai harta kekayaan lagi;

3. Wajib pajak dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan, dan dari hasil penjualan hartanya tidak mencukupi untuk melunasi utang pajaknya;

4. Wajib pajak yang tidak ditemukan.

2.7. Ketentuan Pidana dan Penyidikan

paling banyak dua kali jumlah pajak yang terutang. Dengan adanya sanksi pidana, diharapkan timbulnya kesadaran wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya. Pengertian kealpaan adalah tidak sengaja, lalai, tidak hati- hati, atau kurang mengindahkan kewajibannya sehingga perbuatan tersebut menimbulkan kerugian keuangan daerah105.

Selanjutnya, apabila wajib pajak dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah, dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak empat kali jumlah pajak yang terutang.

Perbuatan atau tindakan yang dilakukan dengan sengaja, dikenakan sanksi yang lebih berat daripada kealpaan, mengingat pentingnya penerimaan pajak bagi daerah106.

Denda yang dikenakan kepada wajib pajak yang dikenakan sanksi karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan daerah merupakan penerimaan negara. Tindak pidana di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu sepuluh tahun sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak atau berakhirnya bagian tahun pajak atau berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan. Hal ini diatur dalam Pasal 39. Ketentuan ini dimaksudkan guna memberikan suatu kepastian hukum bagi wajib pajak, penuntut umum, dan hakim bahwa apabila setelah sepuluh tahun ternyata tindak pidana yang dilakukan oleh wajib pajak baik karena kealpaan atau kesengajaannya tidak diproses secara hukum kesalahan tersebut tidak dapat dituntut lagi.107

Selain terhadap wajib pajak, untuk menjaga keseimbangan terhadap kewajiban antara wajib pajak dan pejabat pajak, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 juga menetapkan ketentuan pidana terhadap pejabat yang tidak mematuhi ketentuan peraturan pajak. Pada Pasal 40 ditentukan bahwa pejabat yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban

105 Pasal 37 ayat 1 UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

106 Pasal 37 ayat 2, Ibid.

merahasiakan keterangan pembayaran, wajib pajak yang disampaikan kepadanya, dipidana dengan pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda paling banyak Rp. 2.000.000,00. Ketentuan ini untuk menjamin bahwa kerahasiaan mengenai perpajakan daerah tidak akan diberitahukan kepada pihak lain dan juga agar wajib pajak memberikan data dan keterangan kepada pejabat mengenai perpajakan daerah dengan tidak ragu-ragu108.

Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat untuk merahasiakan keterangan tentang wajib pajak yang disampaikan kepadanya, dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,00. Perbuatan atau tindakan yang dilakukan dengan sengaja, dikenakan sanksi yang lebih berat.

Penuntutan terhadap tindak pidana di atas dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar. Tuntutan pidana di atas, sesuai sifatnya, adalah menyangkut kepentingan pribadi seseorang atau badan selaku wajib pajak sehingga dijadikan tindak pidana pengaduan.

Besarnya denda maksimal terhadap pejabat, yang karena kealpaan maupun dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya memegang rahasia tentang keterangan yang disampaikan wajib pajak kepadanya, dapat ditinjau kembali dengan peraturan Pemerintah. Denda yang dikenakan kepada pejabat yang dikenakan sanksi karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan daerah merupakan penerimaan negara.

2.7.2. Penyidikan

Pelaksanaan pengenaan dan pemungutan pajak daerah sangat mungkin terjadi tindak pidana di bidang perpajakan daerah. Hanya saja terjadinya tindak pidana tersebut tidak akan begitu saja diketahui, melainkan harus diselidiki oleh pejabat yang berwenang. Oleh karena itu.

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 secara tegas memasukkan penyidikan sebagai salah satu pasal yang harus dilaksanakan.

108 Pasal 40 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang- Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah..

Pasal 42 menentukan bahwa pejabat pajak Pegawai Negeri Sipil (PNS) tertentu di lingkungan Pemerintah daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah, sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. Penyidik di bidang perpajakan daerah adalah pejabat PNS tertentu di lingkungan Pemerintah daerah yang diangkat oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah dilaksanakan menurut ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku109.

Dalam melaksanakan tugasnya penyidik memiliki wewenang untuk melakukan berbagai tindakan yang dipandang perlu untuk menemukan tindak pidana di bidang perpajakan daerah, yaitu:

1. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang pajak daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;

2. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah;

3. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

4. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

5. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

7. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada angka 5;

8. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana pajak daerah;

9. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

10. Menghentikan penyidikan; dan

11. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan daerah menurut hukum yang bertanggung jawab.

Penyidik memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (penyidik Polri), sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. Hal ini perlu diatur karena dalam hukum Indonesia penyidik PNS bertanggung jawab kepada penyidik Polri yang akan memproses lebih lanjut hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik PNS sampai pada tahap menyerahkan kepada pihak kejaksaan yang akan melakukan penuntutan pada sidang pengadilan.

BAB III