BAB IV PEMBAHASAN
A. Kasus I (Hipertensi)
Hipertensi adalah suatu kondisi atau keadaan dimana seseorang mengalami kenaikan tekanan darah di atas batas normal yang akan menyebabkan kesakitan bahkan kematian. Seseorang akan dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya melebihi batas normal, yaitu lebih
35 Universitas Aisyah Pringsewu dari 140/90 mmHg. Tekanan darah naik apabila terjadinya peningkatan
sistole, yang tingginya tergantung dari masingmasing individu yang terkena, dimana tekanan darah berfluaksi dalam batas-batas tertentu, tergantung posisi tubuh, umur, dan tingkat stress yang dialami (Fauziah et al., 2021)
- Etiologi Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu : a. Hipertensi Esensial atau Hipertensi primer
Merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga Hipertensi idiopatik. Ini merupakan tipe paling umum dan mencakup ± 95% dari luas kasus Hipertensi. Hipertensi primer biasanya timbul pada umur 30 – 50 tahun dialami (Fauziah et al., 2021)
b. Hipertensi Sekunder atau hipertensi renal
Peningkatan tekanan darah akibat penyakit tertentu dengan penyebab diketahui mencakup ± 5 % dari kasus Hipertensi. Penyebab spesifik diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain – lain dialami (Fauziah et al., 2021).
- Epidimiologi Hipertensi
Data epidemiologis menunjukkan bahwa makin meningkatnya populasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah, baik hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sistolik dan diastolik sering timbul pada usia >65 tahun.
Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia WHO tahun 2011 terdapat sekitar satu milyar orang di dunia menderita hipertensi dan dua per- tiganya berada di negara berkembang yang berpendapatan rendah- sedang seperti di Afrika. Diperkirakan lebih dari 40% orang dewasa di negara tersebut terkena hipertensi.Prevalensi hipertensi diperkirakan akan terus meningkat, dan diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29% orang
36 Universitas Aisyah Pringsewu dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi, sedangkan di Indonesia
angkanya mencapai 31,7% (Sylvestris, 2017) - Patofisiologi Hipertensi
Patofisiologi terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon renin akan diubah menjadi angiotensin I.
Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II (Anggraini, 2009). Renin disintesis dan disimpan dalam bentuk inaktif yang disebut prorenin dalam sel-sel jukstaglomerular pada ginjal. Sel jukstaglomerular merupakan modifikasi dari sel-sel otot polos yang terletak pada dinding arteriol aferen tepat di proksimal glomeruli.
Bila tekanan arteri menurun, reaksi intrinsik dalam ginjal itu sendiri menyebabkan banyak molekul protein dalam sel terurai dan melepaskan renin. Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat dan memiliki efek-efek lain yang juga mempengaruhi sirkulasi. Selama angiotensin II ada dalam darah, maka angiotensin II mempunyai dua pengaruh utama yang dapat meningkatkan tekanan arteri. Pengaruh pertama, yaitu vasokonstriksi, timbul dengan cepat. Vasokonstriksi terjadi terutama pada arteriol dan sedikit lemah pada vena. Cara kedua dimana angiotensin II meningkatkan tekanan arteri adalah dengan bekerja pada ginjal untuk menurunkan ekskresi garam dan air (Sylvestris, 2017)
- Tanda dan Gejala 1) Sakit kepala 2) Gelisah
3) Jantung berdebar 4) Pusing
5) Penghilatan kabur
6) Tekanan darah >140/90 mmHg
37 Universitas Aisyah Pringsewu - Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan
Mengonsumsi makanan sehat yang cukup mengandung zat besi, menghindari asupan garam yang berlebihan, berhenti merokok, berolahraga secara teratur, tidak mengkonsumsi minuman alkohol,serta mengurangi kafein yang berlebihan. Selain dari makanan seperti bayam, zat besi juga bisa didapatkan dari suplemen (Setiawan et al., 2018)
Pengobatan
Diuretik: Obat diuretik seperti hidroklorotiazid bekerja dengan meningkatkan pengeluaran air dan garam melalui urine, sehingga mengurangi jumlah cairan dalam tubuh dan menurunkan tekanan darah (Luh Sonya, 2019).
Beta-bloker: Obat beta-bloker seperti propranolol bekerja dengan memblokir reseptor beta-adrenergik di jantung dan pembuluh darah, mengurangi jumlah denyut jantung dan tekanan darah (Puspitasari et al., 2022).
ACE inhibitor: Obat ACE inhibitor seperti enalapril bekerja dengan menghambat enzim ACE, sehingga mengurangi produksi hormon angiotensin II yang menyebabkan pembuluh darah menyempit.
Akibatnya, pembuluh darah melebar dan tekanan darah menurun (Puspitasari et al., 2022).
ARB (Angiotensin II receptor blocker): Obat ARB seperti losartan bekerja dengan mengikat reseptor angiotensin II, sehingga mencegah efek vasoconstrictor angiotensin II dan menyebabkan pembuluh darah melebar, menurunkan tekanan darah (Luh Sonya, 2019).
Calcium channel blocker: Obat calcium channel blocker seperti amlodipin bekerja dengan menghambat aliran kalsium ke sel otot polos pada pembuluh darah, menyebabkan pembuluh darah melebar dan tekanan darah menurun (Puspitasari et al., 2022).
38 Universitas Aisyah Pringsewu
Vasodilator: Obat vasodilator seperti minoxidil bekerja dengan melebarkan pembuluh darah dan mengurangi resistensi aliran darah, sehingga menurunkan tekanan darah (Luh Sonya, 2019)
ANALISIS RESEP a. Resep
Gambar 4. 1 Resep Hipertensi b. Skrining Kelengkapan Resep
FORMULIR PENGKAJIAN RESEP
INDIKATOR YA TIDAK TINDAK LANJUT
Persyaratan Administratif
Nama Dokter √
No. SIP √
Alamat √
Paraf Dokter √
Tgl Resep √
Nama, Tgl Lahir/Umur Pasien √ Persyaratan Farmasetik
Nama Obat √
Bentuk Sediaan √
Dosis √
39 Universitas Aisyah Pringsewu
Jumlah Obat √
Aturan Pakai √
Persyaratan Klinis
Tepat Indikasi √
Tepat Dosis √
Tepat Waktu Penggunaan √
Tabel 4. 1 Formulir pengkajian resep kasus 1 c. Obat Dalam Resep
1. Candesartan
Indikasi
Candesartan digunakan untuk menangani hipertensi, serta untuk menangani gagal jantung pada orang dewasa (Drugs.Com, 2023)
Mekanisme
Candesartan bekerja dengan cara menghambat pengikatan angiotensin II ke reseptor angiotensin I pada jaringan tubuh. Hal ini mengakibatkan pelebaran pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lancar dan tekanan darah akan menurun (Drugs.Com, 2023)
Dosis
4, mg, 8 mg, 16 mg, 32 mg. Dosis dapat disesuaikan dengan respons tubuh pasien. (Drugs.Com, 2023)
Kontra indikasi
Adanya riwayat hipersensitivitas terhadap Candesartan. Selain itu, obat ini juga tidak disarankan pada ibu hamil dan ibu menyusui karena potensinya untuk menimbulkan abnormalitas pada janin/bayi.
Intraksi
Candesartan tidak memiliki intraksi dengan Amlodipin, Cefadroxil, dan Ambroxol (Medscape.com 2023).
Efek Samping
Efek samping candesartan dapat berupa hipotensi, pusing, penurunan fungsi ginjal, hiperkalemia, dan reaksi alergi seperti ruam kulit, urtikaria dan dapat menyebabkan cedera atau kematian pada janin yang sedang berkembang (Drugs.Com, 2023).
40 Universitas Aisyah Pringsewu 2. Amlodipin
Indikasi
Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan lini pertama hipertensi dan dapat digunakan sebagai agen tunggal untuk mengontrol tekanan darah pada sebagian besar pasien (Drugs.Com, 2023).
Mekanisme
Obat ini bekerja dengan cara melemaskan otot pembuluh darah. Dengan begitu, pembuluh darah akan melebar, darah dapat mengalir dengan lebih lancar, dan tekanan darah dapat menurun (Puspitasari et al., 2022).
Dosis
2.5 mg; 5 mg; 10 mg. Dosis dapat ditingkatkan berdasarkan kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan. Dosis maksimal 10 mg 1 kali sehari (Drugs.Com, 2023).
Kontra indikasi
Kontraindikasi amlodipine adalah penggunaan pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap obat ini. Amlodipine juga sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan syok kardiogenik, stenosis aorta berat, angina tidak stabil, hipotensi berat, gagal jantung, dan gangguan hepar.
(Drugs.Com, 2023).
Intraksi
Amlodipin tidak memiliki intraksi dengan Cefadroxil, dan Ambroxol (Medscape.com 2023)
Efek Samping
Efek samping yang mungkin terjadi dalam penggunaan obat adalah: Sakit kepala, pusing, mengantuk, debaran jantung, sakit perut, mual, edema, kelelahan (Puspitasari et al., 2022)
3. Cefadroxil
Indikasi
Tablet Cefadroxil merupakan antibiotik yang dugunakan untuk mengatasi infeksi saluran pernafasan, saluran kemih dan kelamin serta infeksi kulit dan jaringan lunak (Drugs.Com, 2023).
41 Universitas Aisyah Pringsewu
Mekanisme
Cefadroxil bekerja dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri sehingga bakteri tidak dapat bertahan hidup (Widyastuti et al., 2018)
Dosis
125 mg; 250 mg; 500 mg; 1000 mg (Drugs.Com, 2023).
Kontra indikasi
Kontraindikasi cefadroxil adalah penderita yang mengalami alergi terhadap golongan obat sefalosporin. Pemberian cefadroxil juga perlu diperhatikan pada penderita yang memiliki riwayat alergi terhadap golongan penisilin dan betalaktam (Drugs.Com, 2023).
Intraksi
Cefadroxil tidak memiliki intraksi dengan Candesartan, dan Ambroxol (Medscape.com 2023)
Efek Samping
Efek samping dari konsumsi cefadroxil dapat melibatkan saluran pencernaan, seperti mual, muntah, dan diare. Konsumsi cefadroxil juga dapat menyebabkan disfungsi hepar yang ditunjukkan dengan peningkatan enzim hepar, peningkatan LDH, kolestasis, dan gagal hepar.
Namun kondisi gagal hepar jarang terjadi (Widyastuti et al., 2018) 4. Ambroxol
Indikasi
Sebagai agen mukolitik pada gangguan saluran nafas akut dan kronis khususnya pada eksaserbasi bronkitis kronis dan bronkitis asmatik dan asma bronkial (Drugs.Com, 2023).
Mekanisme
Mekanisme kerja Ambroxol adalah dengan memecah serat mukopolisakarida pada dahak. Cara kerja tersebut akan membuat dahak menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan saat batuk (Suprayitno, 2018).
42 Universitas Aisyah Pringsewu
Dosis
Dewasa dan anak di atas 12 tahun:1 tablet (30 mg) 2-3 kali sehari; Anak 6-12 tahun: 1/2 tablet 2-3 kali sehari (PIO Nas, 2023).
Kontra indikasi
Kontraindikasi ambroxol adalah adanya riwayat hipersensitivitas terhadap konsumsi ambroxol sebelumnya dan penggunaan pada pasien dengan riwayat ulkus peptikum (Drugs.Com, 2023).
Intraksi
miliki intraksi dengan Candesartan, Cefadroxil, dan Amlodipin (Medscape.com 2023)
Efek Samping
Beberapa efek samping yang dapat timbul setelah mengonsumsi obat ambroxol, yaitu: Mual atau muntah, dan diare (Suprayitno, 2018).
d. Kesimpulan Kasus Hipertensi
Penyakit hipertensi merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Salah satu pencegahan dari penyakit ini adalah mengurangi konsumsi natrium, Sedangkan untuk pengobatannya biasanya dokter akan meresepkan obat antihipertensi. Terapi yang diberikan dokter untuk salah satu pasien hipertensi di Puskesmas pardasuka adalah Candesartan dan Amlodipin.
kombinasi kedua obat tersebut tidak menimbulkan intraksi, bahkan penelitian menyatakan bahwa pemberian Candesartan dan Amlodipin secara bersamaan mengurangi tekanan darah lebih banyak dibandingkan pemberian amlodipin tunggal (Kim et al., 2018). Resep yang dituliskan dokter untuk pasien hipertensi telah memenuhi persyaratan administratif, farmasetik dan klinik.
B. Kasus II (ISPA)