• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus III (Gastritis)

Dalam dokumen IGA MAWARNI PKL FIXXX (Halaman 59-67)

BAB IV PEMBAHASAN

C. Kasus III (Gastritis)

50 Universitas Aisyah Pringsewu

Dosis

Dewasa dan anak di atas 12 tahun:1 tablet (30 mg) 2-3 kali sehari; Anak 6-12 tahun: 1/2 tablet 2-3 kali sehari (PIO Nas, 2023).

Kontra indikasi

Kontraindikasi ambroxol adalah adanya riwayat hipersensitivitas terhadap konsumsi ambroxol sebelumnya dan penggunaan pada pasien dengan riwayat ulkus peptikum (Drugs.Com, 2023).

Intraksi

Ambroxol tidak memiliki intraksi dengan Paracetamol, CTM dan Cefadroxil (Medscape.com 2023)

Efek Samping

Ada beberapa efek samping obat ambroxol, yaitu: Mual atau muntah, diare, sakit perut atau sakit maag (Suprayitno, 2018).

d. Kesimpulan Kasus II ISPA

Resep yang dituliskan dokter untuk pasien penderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) memenuhi persyaratan administratif, farmasetik dan klinis. Terapi yang diberikan oleh dokter kepada pasien berupa terapi terapi pokok dengan antibiotik Cefadroxil dan terapi suportif dengan Parasetamol, Clorpheniramin Meleat, dan Ambroxol. Terapi tersebut merupakan terapi kombinasi yang sering digunakan untuk pengobatan ISPA (Septiana et al., 2021). Tidak ada intraksi yang merugikan antar obat (Medscape.com 2023)

C. Kasus III (Gastritis)

51 Universitas Aisyah Pringsewu - Etiologi Gastritis

Menurut (Eka Novitayanti, 2020) etiologi Gatritis akut disebabkan oleh faktor interna (kondisi pemicu yang menyebabkan pengeluaran asam lambung berlebihan) maupin faktor eksterna(menyebabkan iritasi dan infeksi). Faktor dari eksterna berupa : makanan, diet yang salah, makanan banyak, terlalu cepat, makanan berbumbu yang dapat merusak mukosa lambung, seperti rempahrempah, alkohol, kopi, stres. Obat obatan digitalis, iodium, kortison, analgesik, anti inflamasi, bahan alkali yang kuat (soda). sedangkan faktor eskterna anatara lain : toxin, bakteri yang beredar dalam darah misal morbili, difteri, variola. Infeksi pirogen langsung pada dinding lambung seperti streptococus, stapilococcus.

Untuk Gastritis kronis disebabkan oleh benigna atau maglinadari lambung oleh bakteri Helicobacter pylori (H.pylory).

- Epidimiologi Gastritis

Berdasarkan World Health Organization (WHO) tahun 2020 terhadap beberapa negara di dunia dan mendapatkan hasil persentase dari angka kejadian gastritis didunia, mendapati bahwa jumlah penderita gastritis di Negara Inggris 22%, China 31%, Jepang 14,5%, Kanada 35% dan Perancis 29,5%. Kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO adalah 40,8% penderita gastritis. Di beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk (Muhammad, 2022).

- Patofisiologi Gastritis

Patofisiologi gastritis berbeda-beda sesuai etiologinya, namun pada umumnya berkaitan dengan ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor pertahanan yang menjaga integritas lapisan mukosa. Mukosa lambung berperan penting dalam melindungi lambung dari autodigesti oleh HCl dan pepsin. Bila mukosa lambung rusak maka terjadi difusi HDl ke mukosa dan HCl akan merusak mukosa. Kehadiran HCl di mukosa lambung menstimulasi perubahan pepsinogen menjadi pepsin.

Pepsin merangsang pelepasan histamine dari sel mast. Histamin akan

52 Universitas Aisyah Pringsewu menyebabkan peningkatan permeabilitas kepiler sehingga terjadi

perpindahan cairan intrasel ke ekstrasel dan menyebabkan edema dan kerusakan kapiler sehingga timbul perdarahan pada lambung. Biasanya lambung dapat melakukan regenerasi mukosa oleh karena itu gangguan tersebut menghilang dengan sendirinya. Namun bila lambung sering terpapar dengan zat iritan maka inflamasi akan terjadi terus menerus.

Jaringan yang meradang akan diisi oleh jaringan fibrin sehingga lapisan mukosa lambung dapat hilang dan terjadi atropi sel mukosa lambung.

Secara histologi, pada inflamasi akut gastritis ditemukan adanya infiltrasi neutrofilik, sedangkan pada inflamasi kronis dicirikan dengan campuran sel-sel mononuklear, terutama limfosit, sel-sel plasma, dan makrofag (Muhammad, 2022).

- Tanda dan Gejala

Gejala penyakit gastritis dapat berbeda pada setiap penderitanya. Bahkan, kondisi ini juga bisa terjadi tanpa disertai dengan gejala. Namun, penderita gastritis biasanya mengalami gejala sebagai berikut (Premesti

& Riyadi, 2022) :

Nyeri yang terasa panas atau perih pada bagian ulu hati

Mual dan muntah

Perut menjadi kembung

Hilangnya nafsu makan

Berat badan menurun secara tiba-tiba hingga gangguan pencernaan

Terjadi muntah darah - Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gastritis adalah sebagai berikut (Premesti & Riyadi, 2022) :

 Menghindari tidur setelah makan

53 Universitas Aisyah Pringsewu

 Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun untuk menghindari infeksi bakteri

 Membatasi asupan minuman berkafein dan beralkohol

 Mejaga berat badan ideal

 Menerapkan posisi tidur yang baik untuk mencegah naiknya asam lambung

Pengobatan

Beberapa pilihan obat untuk gastritis adalah sebagai berikut :

Antasida

Antasida merupakan golongan obat gastritis basa lemah yang bereaksi dengan asam hidroklorik, akan membentuk senyawa garam dan air sehingga dapat mengurangi keasaman yang terjadi pada lambung.

Antasida yang biasa digunakan dalam melakukan pengobatan asam lambung yaitu garam alumunium dan magnesium, contohnya adalah alumunium hidroksida dan magnesium hidrogsida (Asiki et al., 2020)

H2 Bloker

H2 secara klinis dapat digunakan sebagai reseptor histamin yang dapat menghambat terjadinya sekresi asam lambung. Meskipun H2 bersifat antagonis akan tetapi antagonis reseptor H2 bloker ini dapat digunakan sebagai penghambat terjadinya sekresi asam lambung yang dikatakan lebih efektif untuk menghambat sekresi asam nokturnal. Mekanisme kerja dari H2 bloker ini secara kompetitif akan memblokir perlekatan histamin pada reseptornya sehingga sel paritel tidak dapat dirangsang untuk mengeluarkan asam lambung, yang termasuk kedalam golongan H2 bloker adalah ranitidin (Asiki et al., 2020).

Proton Pump Inhibitor

Obat asam lambung golongan PPI ini bekerja dengan memblokir kerja dari enzim K+H+ATPase (pompa proton) yang kemudian akan memecah K+H+ATP sehingga dihasilkan energi yang dapat digunakan untuk mengeluarkan asam HCl dari kanalikuli sel parietal ke dalam lumen lambung. PPI ini bekerja mencegah terjadinya pengeluaran asam

54 Universitas Aisyah Pringsewu lambung dari sel kanalikuli, sehingga dapat menyebabkan pengurangan

rasa sakit pasien pada tukak serta mengurangi sktifitas faktor agresif pepsin dengan pH >4 dan meningkatkan efek eradikasi oleh regimen triple drugs. Obat golongan PPI yang bisa digunakan untuk pengobatan asam lambung yaitu lansoprazol dan omeprazol (Habibie, 2021).

Sucralfate

Sucralfate merupakan obat asam lambung yang digunakan untuk mengobati dan mencegah terjadinya luka pada dinding mukosa lambung.

Obat ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada lambung, untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah (Asiki et al., 2020).

ANALISIS RESEP a. Resep

Gambar 4. 3 Resep Gastritis b. Skrining Kelengkapan Resep

FORMULIR PENGKAJIAN RESEP

INDIKATOR YA TIDAK TINDAK LANJUT

Persyaratan Administratif

Nama Dokter

55 Universitas Aisyah Pringsewu

No. SIP

Alamat

Paraf Dokter

Tgl Resep

Nama, Tgl Lahir/Umur Pasien Persyaratan Farmasetik

Nama Obat

Bentuk Sediaan

Dosis

Jumlah Obat

Aturan Pakai

Persyaratan Klinis

Tepat Indikasi

Tepat Dosis

Tepat Waktu Penggunaan

Tabel 4. 3 Formulir pengkajian resep kasus 3 c. Obat Dalam Resep

1. Sucralfate

Indikasi

Sucralfate diindikasikan untuk mengobati tukak lambung, luka epitel, mukositis akibat kemoterapi, proktitis radiasi, penyakit Behcet, hingga luka bakar. Namun, FDA dan BPOM hanya menyetujui penggunaannya secara umum untuk mengatasi tukak lambung, gastritis kronis, dan perdarahan saluran cerna (Ayudia Paramita et al., 2012).

Mekanisme

Mekanisme kerja sukralfat adalah membentuk kompleks ulser dan melindungi dari serangan asam, serta menghambat aktivitas pepsin dan membentuk ikatan garam dengan empedu (Ayudia Paramita et al., 2012).

Dosis

Dosis sucralfate : 1 gram, 4 kali sehari (setiap waktu makan dan sebelum tidur) (Drugs.Com, 2023).

56 Universitas Aisyah Pringsewu

Kontra indikasi

Kontraindikasi Sucralfate adalah riwayat hipersensitivitas terhadap Sucralfate atau komponennya. Peringatan penggunaan khususnya pada pasien dengan penyakit ginjal kronik dan hemodialisis, karena peningkatan risiko toksisitas aluminium (Asiki et al., 2020)

Intraksi

Sucralfate tidak memiliki intraksi dengan Omeprazole dan Antasida (Medscape.com 2023)

Efek Samping

Efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi sukralfat adalah konstipasi atau diare, mulut kering, sakit perut, mual, muntah, perut kembung, atau gangguan pencernaan, pusing, kantuk, dan insomnia (Ayudia Paramita et al., 2012).

2. Omeprazole

Indikasi

Omeprazole digunakan untuk mengobati kelebihan asam lambung pada kondisi seperti tukak lambung non-kanker , penyakit refluks gastroesofageal ( GERD ), dan tukak duodenum aktif (Asiki et al., 2020).

Mekanisme

Omeprazole merupakan obat golongan penghambat pompa proton yang mekanisme kerjanya mengurangi sekresi asam (yang normal dan yang dibuat) dengan jalan menghambat enzim H+/K+ATPase secara selektif dalam sel-sel parietal, dan kerjanya panjang akibat kumulasi di sel-sel tersebut (Habibie, 2021).

Dosis

Dewasa: 20–40 mg, 1 kali sehari selama 4–8 minggu. Dosis pemeliharaan 10 mg, 1 kali sehari. Jika perlu, dosis pemelilharaan dapat ditingkatkan (Iskendiarso & Andaja, 2012).

57 Universitas Aisyah Pringsewu

Kontra Indikasi

Omeprazole dikontraindikasikan pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap omeprazole ataupun obat penghambat pompa proton lainnya. Omeprazole juga dikontraindikasikan pada pasien yang mengonsumsi nelfinavir karena dapat terjadi penurunan konsentrasi obat nelfinavir (Habibie, 2021).

Intraksi

Omeprazole tidak memiliki intraksi dengan Sucralfate dan Antasida (Medscape.com 2023)

Efek Samping

Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan omeprazole adalah sakit kepala, sakit perut atau perut kembung. mual atau muntah, diare, dan sembelit (Iskendiarso & Andaja, 2012).

3. Antasida Doen

Indikasi

Untuk mengurangi gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak duodeni (Lestari et al., 2019).

Mekanisme

Antasida merupakan golongan obat gastritis basa lemah yang bereaksi dengan asam, akan membentuk senyawa garam dan air sehingga dapat mengurangi keasaman yang terjadi pada lambung (Lestari et al., 2019).

Dosis

Dewasa : 1 - 2 tablet, 4 kali per hari. Anak (6-12 tahun) : 0.5-1 tablet, 3-4 kali per hari. (PIO Nas, 2023).

Kontra Indikasi

Kontraindikasi terutama diberikan pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas pada kandungan antasida. Pasien yang menderita gagal ginjal berat tidak disarankan mengkonsumsi antasida yang mengandung kadar natrium yang tinggi karena dapat mempengaruhi tekanan darah (Drugs.Com, 2023).

58 Universitas Aisyah Pringsewu

Intraksi

Antasida tidak memiliki intraksi dengan Omeprazole dan Sucralfate (Medscape.com 2023)

Efek Samping

Diare, perut kembung, mual dan muntah, kram perut, sembelit (Drugs.Com, 2023).

d. Kesimpulan Kasus III Gastritis

Terapi Gastritis yang diberikan oleh dokter kepada pasien merupakan terapi kombinasi antara Antasida, Omeprazole, dan Sucralfate.

Sucralfate bekerja dengam membentuk kompleks ulser dan melindungi dari serangan asam (Ayudia Paramita et al., 2012), Omeprazole bekerja dengan mengurangi sekresi asam (yang normal dan yang dibuat) dengan jalan menghambat enzim H+/K+ATPase secara selektif (Habibie, 2021), sedangkan antasida bekerja dengan membentuk senyawa garam dan air sehingga dapat mengurangi keasaman yang terjadi pada lambung (Lestari et al., 2019).

D. Kasus IV (Diabetes Mellitus)

Dalam dokumen IGA MAWARNI PKL FIXXX (Halaman 59-67)

Dokumen terkait