• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kasus IV (Diabetes Mellitus)

Dalam dokumen IGA MAWARNI PKL FIXXX (Halaman 67-76)

BAB IV PEMBAHASAN

D. Kasus IV (Diabetes Mellitus)

58 Universitas Aisyah Pringsewu

Intraksi

Antasida tidak memiliki intraksi dengan Omeprazole dan Sucralfate (Medscape.com 2023)

Efek Samping

Diare, perut kembung, mual dan muntah, kram perut, sembelit (Drugs.Com, 2023).

d. Kesimpulan Kasus III Gastritis

Terapi Gastritis yang diberikan oleh dokter kepada pasien merupakan terapi kombinasi antara Antasida, Omeprazole, dan Sucralfate.

Sucralfate bekerja dengam membentuk kompleks ulser dan melindungi dari serangan asam (Ayudia Paramita et al., 2012), Omeprazole bekerja dengan mengurangi sekresi asam (yang normal dan yang dibuat) dengan jalan menghambat enzim H+/K+ATPase secara selektif (Habibie, 2021), sedangkan antasida bekerja dengan membentuk senyawa garam dan air sehingga dapat mengurangi keasaman yang terjadi pada lambung (Lestari et al., 2019).

D. Kasus IV (Diabetes Mellitus)

59 Universitas Aisyah Pringsewu glukosa. Diabetes mellitus dapat muncul akibat penyakit eksokrin

pankreas ketika terjadi kerusakan pada mayoritas islet dari pankreas (Lestari et al., 2021)

- Epidimiologi Diabetes Mellitus

Indonesia menduduki rangking keempat dari jumlah penyandang diabetes terbanyak setelah Amerika Serikat. World Health Organization (WHO) memprediksikan kenaikan jumlah penyandang diabetes di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030.

Laporan statistik dari International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya terdapat 463 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia menderita diabetes mellitus pada tahun 2019. (Lestari et al., 2021)

- Patofisiologi Diabetes Mellitus

Diabetes melitus tipe 1 dapat terjadi karena gangguan terhadap produksi insulin akibat kerusakan sel beta pankreas. Patofisiologi dari DM tipe 1 yakni adanya reaksi autoimun akibat peradangan pada sel beta. Hal ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel beta yang disebut Islet Cell Antibody (ICA). Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi ICA yang ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel beta. Selain karena autoimun, DM tipe 1 juga bisa disebabkan virus cocksakie, rubella, citomegalo virus (CMV), herpes dan lain-lain (Marzel, 2020)

Sedangkan patofisiologi Diabetes melitus tipe II ditandai dengan berbagai keadaan patologis akibat resistensi insulin sedang dan berat pada otot dan hepar, gangguan sensitivitas sel beta dan peningkatan jumlah insulin (hiperinsulinemia).Seiring berjalannya waktu, sekresi insulin dari sel beta pankreas semakin menurun untuk mengatasi resistensi insulin dan timbullah toleransi glukosa yang terganggu (impaired glucose tolerance/IGT) dan akhirnya menjadi DMT2 (Simatupang, 2019).

60 Universitas Aisyah Pringsewu - Tanda dan Gejala

Gejala dari penyakit DM yaitu antara lain:

 Poliuri (sering buang air kecil) Buang air kecil lebih sering dari biasanya terutama pada malam hari (poliuria), hal ini dikarenakan kadar gula darah melebihi ambang ginjal (>180mg/dl), sehingga gula akan dikeluarkan melalui urine. (Lestari et al., 2021)

 Sering merasa haus dan ingin minum air putih sebanyak mungkin (poliploidi). Dengan adanya ekskresi urine, tubuh akan mengalami dehidrasi atau dehidrasi. Untuk mengatasi masalah tersebut maka tubuh akan menghasilkan rasa haus sehingga penderita selalu ingin minum air (Lestari et al., 2021)

 Cepat merasa lapar, Insulin menjadi bermasalah pada penderita DM sehingga pemasukan gula ke dalam sel-sel tubuh kurang dan energi yang dibentuk pun menjadi kurang (Lestari et al., 2021)

 Berat badan menurun, ketika tubuh tidak mampu mendapatkan energi yang cukup dari gula karena kekurangan insulin, tubuh akan bergegas mengolah lemak dan protein yang ada di dalam tubuh untuk diubah menjadi energi akibatnya berat badan lama – kelamaan akan menurun(Lestari et al., 2021)

 Gejala lain atau gejala tambahan yang dapat timbul adalah kaki kesemutan, gatal-gatal, atau luka yang tidak kunjung sembuh, pada wanita kadang disertai gatal di daerah selangkangan dan pada pria ujung penis terasa sakit (balanitis) (Lestari et al., 2021)

- Pencegahan dan Pengobatan Pencegahan

Pencegahan diabetes mellitus dapat dilakukan dengan rutin berolahraga, menjaga berat badan tetap ideal, menerapkan pola makan sehat, melakukan pengecekan gula darah secara berkala, mengelola stress, rajin minum air putih, dan menghentikan kebiasaan merokok. (Lestari et al., 2021)

61 Universitas Aisyah Pringsewu - Pengobatan

Adapun macam – macam obat diabetes mellitus adalah sebagai berikut :

 Biguanida

Obat diabetes ini bekerja dengan mengurangi pembentukan glukosa di organ hati dan meningkatkan fungsi insulin dalam mengendalikan kadar gula darah. contoh dari golongan biguanida adalah metformin.

(Simatupang, 2019)

 Sulfonilurea

Sulfonilurea merupakan obat diabetes tipe 2 yang berfungsi untuk menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pankreas memproduksi lebih banyak insulin. Contoh golongan obat ini adalah Glimeprid dan Glibenclamid (Simatupang, 2019)

 Meglitinide

Obat diabetes golongan meglitinide bekerja dengan merangsang pankreas menghasilkan lebih banyak insulin. Obat untuk diabetes melitus ini bekerja lebih cepat. Durasi efeknya pada tubuh juga lebih pendek dari pada obat golongan sulfonilurea. Repaglinide dan nateglinide adalah contoh dari obat golongan meglitinide.

(Simatupang, 2019)

 Thiazolidinediones

Obat diabetes golongan ini memiliki cara kerja dengan mengurangi pembentukan glukosa di hati dan meningkatkan aktivitas insulin.

Salah satu contoh jenis obat golongan ini adalah pioglitazone (Simatupang, 2019)

 Inhibitor DPP-4

Inhibitor DPP-4 mampu merangsang pelepasan insulin ketika gula darah meningkat yang terjadi setelah makan dan menghambat pelepasan glukosa dari hati. Kabar baiknya, obat diabetes ini jarang menyebabkan hipoglikemia. contoh dari golongan ini adalah Sitagliptin, Linagliptin (Simatupang, 2019)

62 Universitas Aisyah Pringsewu

 Inhibitor Alfa-Glukosidase

Inhibitor alfa-glukosidase bekerja dengan menghambat pemecahan karbohidrat dari makanan menjadi glukosa untuk mengendalikan kadar gula darah. Contoh dari obat diabetes ini adalah acarbose dan miglitol (Simatupang, 2019)

 Inhibitor SGLT2

Obat diabetes golongan ini dapat memengaruhi fungsi penyaringan darah di ginjal dengan menghambat kembalinya glukosa ke aliran darah. Glukosa yang berlebihan kemudian akan keluar dari tubuh melalui urine. Contoh obat diabetes dari golongan ini adalah empagliflozin dan dapagliflozin (Simatupang, 2019)

 Agonis reseptor GLP-1 (Inkretin Mimetik)

GLP-1 bekerja dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas setelah makan. Obat agonis reseptor GLP-1 bekerja dengan cara meniru kerja GLP-1 tersebut. Contoh obat golongan agonis reseptor GLP-1 adalah Exanatide, Semaglutide, Albiglutide (Simatupang, 2019)

SKRINING RESEP a. Resep

Gambar 4. 4 Resep DM

63 Universitas Aisyah Pringsewu b. Skrining Kelengkapan Resep

FORMULIR PENGKAJIAN RESEP

INDIKATOR YA TIDAK TINDAK LANJUT

Persyaratan Administratif

Nama Dokter

No. SIP

Alamat

Paraf Dokter

Tgl Resep

Nama, Tgl Lahir/Umur Pasien Persyaratan Farmasetik

Nama Obat

Bentuk Sediaan

Dosis

Jumlah Obat

Aturan Pakai

Persyaratan Klinis

Tepat Indikasi

Tepat Dosis

Tepat Waktu Penggunaan

Tabel 4. 4 Formulir pengkajian resep kasus c. Obat Dalam Resep

1. Glimepirid

Indikasi

Glimepiride merupakan sulfonilurea generasi kedua yang mendapat persetujuan FDA pada tahun 1995 untuk digunakan dalam peningkatan kontrol glikemik pada orang dewasa dengan diabetes mellitus tipe 2 (PIO Nas, 2023).

Mekanisme

Glimepiride bekerja menurunkan kadar gula darah dengan merangsang pelepasan insulin dari sel beta pankreas yang masih berfungsi. Obat ini juga dapat meningkatkan sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin (Darusman & Siti, 2021).

Dosis

Dosis awal 1 mg sehari; disesuaikan dengan respon pada tahap pemberian interval 1 mg pada minggu 1-2. Dosis maksimum harian 4mg,

64 Universitas Aisyah Pringsewu diminum secepatnya sebelum atau suapan pertama makan (PIO Nas,

2023)

Kontra indikasi

Kontraindikasi glimepiride mencakup kelompok pasien dan kondisi berikut :

- Ketoasidosis diabetik - Diabetes melitus tipe I

- Hipersensitivitas terhadap glimepiride (PIO Nas, 2023).

Intraksi

Glimepirid tidak memiliki intraksi dengan Allupurinol, Omeprazol, dan Citirizine (Medscape.com 2023).

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi dalam penggunaan obat Glimeperid adalah gangguan pada saluran cerna, seperti muntah, nyeri lambung dan diare. Reaksi alergi, gangguan metabolisme berupa hiponatremia.

Perubahan pada akomodasi atau kaburnya penglihatan. Reaksi hematologik seperti leukopenia, trombositopenia, anemia hemolitik, anemia aplastik, dan pansitopenia (Darusman & Siti, 2021).

2. Allupurinol

Indikasi

Allupurino diindikasikan untuk hiperurisemia seperti artritis gout, nefrolitiasis, kondisi malignan yang menyebabkan nefropati asam urat akut, gangguan enzim yang menyebabkan produksi asam urat berlebih, batu ginjal kambuhan akibat hiperurikosuria yang tidak teratasi dengan cairan, diet atau terapi lain (Sandy & Susilawati, 2021).

Mekanisme

Mekanisme kerja obat ini adalah dengan cara menghambat xanthine oxidase, sehingga mengurangi produksi asam urat tanpa mengganggu sintesis purin (Sandy & Susilawati, 2021).

65 Universitas Aisyah Pringsewu

Dosis

Dewasa, dosis awal 100 mg/ hari dapat ditingkatkan tergantung respon.

100-200 mg/hari untuk kondisi ringan; 300-600 mg/ hari untuk kondisi sedang - parah. Anak (dibawah 15 tahun), 100-300 mg per hari, respon terapi harus dipantau selama 48 jam dan penyesuaian dosis jika diperlukan (PIO Nas, 2023).

Kontra Indikasi

Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan kondisi hipersensitif terhadap Allopurinol. Penggunaan obat allopurinol juga perlu dihentikan pada pasien yang mengalami reaksi alergi, misalnya ruam (PIO Nas, 2023).

Intraksi

Allopurinol tidak memiliki intraksi dengan Glimepiride, Omeprazol, dan Citirizine (Medscape.com 2023)

Efek Samping

Ruam, mual, dan muntah (PIO Nas, 2023).

3. Citirizine

Indikasi

Cetirizine adalah suatu antihistamin generasi kedua yang digunakan secara umum untuk mengatasi gejala akibat reaksi alergi, seperti mata berair, bersin-bersin, atau gatal di kulit, tenggorokan, maupun hidung (Supriyanto, 2022).

Mekanisme

Cetirizine bekerja dengan menghambat histamin yang diproduksi oleh tubuh selama reaksi alergi (Assem & Hardia, 2021).

Dosis

Dosis: Dewasa dan anak diatas 6 tahun: 10mg/hari pada malam hari bersama makanan. Anak 3-6 tahun: 5 mg/hari pada malam hari atau 2,5 mg pada pagi dan malam hari (PIO Nas, 2023).

66 Universitas Aisyah Pringsewu

Kontra Indikasi

Kontraindikasi Cetirizine pada seseorang yang memiliki riwayat hipersensitivitas dengan Cetirizine (PIO Nas, 2023).

Intraksi

Cetirizine tidak memiliki intraksi dengan Glimepiride, Omeprazol, dan Allopurinol (Medscape.com 2023).

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi adalah: Gangguan jantung:

Takikardia. Gangguan gastrointestinal: Sakit perut, mulut kering, mual, diare, muntah. Selain itu Cetirizine juga memiliki efek sedatif (Supriyanto, 2022).

4. Omeprazole

Indikasi

Omeprazole digunakan untuk mengobati kelebihan asam lambung pada kondisi seperti tukak lambung non-kanker , penyakit refluks gastroesofageal ( GERD ), dan tukak duodenum aktif (Asiki et al., 2020).

Mekanisme

Omeprazole merupakan obat golongan penghambat pompa proton yang mekanisme kerjanya mengurangi sekresi asam (yang normal dan yang dibuat) dengan jalan menghambat enzim H+/K+ATPase secara selektif dalam sel-sel parietal, dan kerjanya panjang akibat kumulasi di sel-sel tersebut (Habibie, 2021).

Dosis

Dewasa: 20–40 mg, 1 kali sehari selama 4–8 minggu. Dosis pemeliharaan 10 mg, 1 kali sehari. Jika perlu, dosis pemelilharaan dapat ditingkatkan (Iskendiarso & Andaja, 2012)

Kontra Indikasi

Omeprazole dikontraindikasikan pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap omeprazole ataupun obat penghambat pompa proton lainnya. Omeprazole juga dikontraindikasikan pada pasien yang

67 Universitas Aisyah Pringsewu mengonsumsi nelfinavir karena dapat terjadi penurunan konsentrasi obat

nelfinavir (Habibie, 2021).

Intraksi

Omeprazole tidak memiliki intraksi dengan Glimepiride, Omeprazol, dan Cetirizine (Medscape.com 2023).

Efek Samping

Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah menggunakan omeprazole adalah sakit kepala, sakit perut atau perut kembung. mual atau muntah, diare, dan sembelit (Iskendiarso & Andaja, 2012).

d. Kesimpulan Kasus IV Diabetes Milletus

Terapi Diabetes Milletus yang diresepkan dokter adalah obat golongan Sulfonilurea yaitu Glimepirid. Sulfonilurea merupakan obat diabetes tipe 2 yang berfungsi untuk menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pankreas memproduksi lebih banyak insulin (Darusman &

Siti, 2021). Didalam resep terdapat beberapa obat indikasi lain seperti omeprazole untuk gastritis, Allupurinol digunakan untuk asam urat dan diberikan antihistamin yaitu Citirizine. Dari beberapa obat tersebut tidak ada intraksi merugikan sehingga tidak akan mempengaruhi kinerja dari obat Diabetes Milletus (Medscape.com 2023).

E. Kasus V (Reumatoid Arthritis)

Dalam dokumen IGA MAWARNI PKL FIXXX (Halaman 67-76)

Dokumen terkait