• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBERADAAN UMAT DAN BUDAYA HINDU DI JAWA TIMUR

Dalam dokumen Cover Dinamika Hindu-Cetak (Halaman 194-200)

Ni Putu Suwardani Arya Suharja

A. KEBERADAAN UMAT DAN BUDAYA HINDU DI JAWA TIMUR

Eksistensi umat Hindu di Provinsi Jawa Timur tidak dapat dilepaskan dari sejarah kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, terutama periode setelah kepindahan pusat kerajaan Mataram Kuna dari Karaton Ratu Boko di Yogyakarta ke hulu Sungai Brantas sampai surutnya Kerajaan Majapahit. Ingatan kolektif tentang latar belakang sejarah dan identitas kultural sebagai

“keturunan pelarian Majapahit” merupakan jawaban yang umum atas pertanyaan: Siapakah umat Hindu di Jawa Timur?.

Jika dilihat dari proses masuknya agama Hindu di Jawa Timur, terdapat berbagai variasi pendapat. Demikian juga dengan sejarah masuknya agama Hindu di berbagai daerah yang ada di Jawa Timur. Pengaruh agama Hindu dapat dilihat dari

peninggalan berupa candi-candi, bentuk pemerintahan kerajaan, susunan masyarakat yang mulai mengenal raja, nenek moyang mulai percaya kapada dewa-dewa, serta mengantarkan bangsa Indonesia memasuki zaman sejarah (Soekmono, 1973:7).

Pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, terdapat lima agama yang berkembang di Indonesia yaitu agama Islam, Kristen, Khatolik, Hindu dan Buddha. Kemudian pengakuan resmi dari negara Indonesia terhadap agama Kong Hu Cu baru datang pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di tahun 2000. Sehingga saat ini ada enam agama yang mendapat pengakuan di Indonesia, yaitu agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Jika dilihat dari persebarannya, pulau Bali dan pulau Lombok bagian barat merupakan pulau dengan konsentrasi penduduk beragama Hindu terbesar di Indonesia.

Umat Hindu di Jawa Timur sangat heterogen, dari segi latar belakang etnik komunitas umat Hindu di Jawa Timur sebagian besar adalah suku Jawa, suku Tengger dan suku Bali, dan sebagian kecil berlatar belakang suku Madura, etnik Tionghoa, etnik India (terutama India bagian Selatan), dan suku-suku bangsa dari seluruh Indonesia. Untuk tiga suku bangsa yang merupakan latar belakang sebagian besar umat Hindu Jawa Timur: suku Jawa, suku Tengger dan suku Bali, seluruhnya terkait dengan “sejarah”

atau ingatan kolektif, bahwa mereka adalah keturunan warga kerajaan Majapahit yang melakukan eksodus besar-besaran pasca-jatuhnya Majapahit. Sebagian besar informan penelitian ini menyatakan alasan yang melatar-belakangi eksodus itu adalah karena alasan prinsip, bahwa leluhur mereka tidak bersedia konversi menjadi penganut agama Islam, kemudian melakukan perjalanan panjang dengan dua pola besar: Pertama, eksodus ke arah hutan dan lereng-lereng gunung, seperti lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru, lereng Gunung Arjuno dan perbukitan sekitarnya, Alas Purwo dan Semenanjung Blambangan, bahkan sampai ke lereng Gunung Lawu (Jawa Tengah), Gunung Merapi (Jawa Tengah dan DIY) dan perbukitan Gunung Kidul (DIY); Kedua, menyeberang ke Pulau Bali.

Penemuan kembali identitas ke-Hindu-an setelah selama 500 tahun bertahan sebagai penganut Kejawen, penganut

agama Tengger dan penganut berbagai aliran Kebathinan Jawa, distimulasi perjumpaan (encounter) di era modern dengan umat Hindu dari suku Bali yang merantau di berbagai kota besar di pulau Jawa. Proses konfirmasi nilai dan asimilasi ini berlangsung alamiah, terutama atas dasar “perasaan senasib-seperjuangan”

dalam mempertahankan warisan nilai-nilai kerohanian dan kebudayaan Hindu. Terdapat 44 kelompok komunitas Aliran Kebathinan/Penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa di provinsi Jawa Timur. Kelompok yang berintegrasi menjadi penganut Hindu Dharma kebanyakan berasal dari kelompok Budha Jawi Wisnu, dan Sanatana Dharma Majapahit Pancasila (Sadhar Mapan).

Peranan diaspora Bali dalam proses konfirmasi nilai, asimilasi dan pembentukan kantong-kantong (enclaves) komunitas Hindu di Jawa Timur dibenarkan oleh hampir seluruh informan penelitian ini. Sebagian kecil informan mengetengahkan faktor pendidikan modern, ketahanan budaya dan kemandirian masyarakat umat Hindu Jawa Timur sebagai faktor dominan terjadinya konfirmasi nilai dan integrasi umat Hindu Jawa Timur. Sosialisasi dan pelayanan pada periode awal antara lain dilakukan olehSidra dan Ketut Sudira, dan diteruskan oleh beberapa dosen senior IKIP Malang, seperti Hoykas, Drs.

Suru Kertawangi, sampai angkatan Drs. Nyoman Sumertika dan Sumber Artha yang lebih muda (Wawancara dengan Prof.

Dr. Nyoman Nurjaya, MH. 25 November 2018 dan. Dr. Ketut Sudiartha, MSi., 29 November 2018).

Kehadiran diaspora Bali di berbagai daerah di Indonesia memperlihatkan bahwa etnis Bali juga berada di luat tanah kelahirannya. Secara historis, menurut Dwipayana (2004),kemunculan diaspora Bali didasarkan pada beberapa konteks dan tujuan-tujuan tertentu (modus). Ketika memasuki era negara nasional, perpindahan penduduk Bali didasarkan atas beberapa modus antara lain merantau secara swakarsa, merantau karena keinginan untuk pergi dari daerah asalnya secara sukarela. Ada beberapa alasan etnis Bali keluar Bali yaitu mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik. Pada era awal kemerdekaan, orang Bali mulai masuk ke beberapa kota besar di Jawa yang memiliki institusi pendidikan yang terkemuka

seperti Jakarta, Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Bandung.

Dengan berbagai alasan, para perantau terpelajar ini selanjutnya ada yang menetap di rantau, ada yang sebagian pulang ke Bali.

Keberadaan diaspora Bali di Jawa Timur menyebar di seluruh kabupaten dan kota. Kota-kota yang ditempati diaspora Bali dengan jumlah yang cukup besar adalah Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Gresik. Para diaspora orang Bali telah membentuk diaspora dengan mendirikan perkumpulan dari tingkat paling rendah yaitu tempek (sektor) sampai pada tingkat banjar yang ada pada setiap kabupaten seperti Banjar Surabaya dan Banjar Sidoarjo. Beberapa perkembangan yang terjadi pada saat etnis Bali membentuk diaspora Bali di Jawa Timur antara lain penerapan model-model perkumpulan yang sama dengan di Bali seperti yang telah disebutkan di atas, akulturasi budaya Bali dengan budaya setempat sehingga menghasilkan kultur baru, dan bahkan melebur dengan identitas lokal. Organisasi sosial dan keagamaan serta lembaga-lembaga pendidikan juga telah terbentuk dan secara rutin mengadakan pertemuan atau rapat- rapat baik yang bersifat formal maupun nonformal. Dalam kaitan ini, para anggota masyarakat berinteraksi secara intens agar terus terjadi ikatan di antara sesama orang Bali.

Salah satu daerah di Jawa Timur yang memiliki banyak penduduk beragama Hindu adalah Dusun Dodol, Desa Wonoagung, Kabupaten Malang. Dusun Dodol merupakan wilayah Kabupaten Malang bagian Barat, yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Kediri. Dusun Dodol, Desa Wonoagung masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang. Wilayahnya meliputi Desa Sukosari, Bayem, Pondok Agung, Wonoagung, Pait dan Kasembon. Dari enam Desa yang berada di wilayah Kecamatan Kasembon, pemeluk agama Hindu hanya berada di Desa Wonoagung.

Pada tahun 2013 jumlah penduduk di Desa Wonoagung sebanyak 4.268 jiwa. Jumlah tersebut merupakan gabungan penduduk dari Dusun Wungurejo, Wonerejo, Dodol, Temurejo, Tempuran, Sepukul, Toyomerto, Sempukidul, Sempulor dan Jabongarut (PNPM, 2013b:4). (PNPM. 2013b. Rekapitulasi Hasil Pemetaan Sosial Tingkat Kecamatan. Malang: Kantor PNPM Kasembon.)

Warga Desa Wonoagung pada tahun 2013 terbagi dalam tiga golongan agama, 3.780 jiwa beragama Islam, 97 jiwa beragama Kristen dan 681 jiwa beragama Hindu (Anonim, 2013b). Dari 681 jiwa yang beragama Hindu, 544 jiwa terdapat di Dusun Dodol, sisanya 137 jiwa terdapat di Dusun Wonorejo dan Tempuran.

Namun seiring berjalannya waktu, berdasarkan wawancara tanggal 28 November 2018 dengan kepala dusun, Misdi (42 tahun) dan warga setempat, Krimiasih (40 tahun), diketahui hasil pendataan umat pada tahun 2018 menunjukkan justru jumlah umat Hindu jauh lebih banyak dibandingkan dengan umat Islam dan umat Kristen.

Dusun Dodol, Desa Wonoagung

Pada awalnya sebelum tahun 1967, di Dusun Dodol sudah berkembang agama Islam, Hindu dan Kristen. Agama Islam merupakan agama mayoritas penduduk ketika itu, sedangkan penduduk yang beragama Hindu dan Kristen jumlahnya sangat sedikit. Agama Islam yang ada di Dusun Dodol merupakan warisan agama yang diperoleh turun temurun dari para leluhur, sebelum tahun 1967 terdapat langgar kecil yang terbuat dari “gedek” atau bambu. Penduduk yang beragama Islam menjalankan ajaran agama Islam seperti ngaji dan melakukan khitan atau sunat bagi anak laki-laki yang sudah akil balik (Wawancara dengan Adi Sucipto, tanggal 27 November 2018)

Pada tahun 1965, bangsa Indonesia menghadapi peristiwa G30S atau Gerakan 30 September. Peristiwa tersebut mengakibatkan terjadinya perpindahan keyakinan secara besar- besaran yang dilakukan oleh penduduk di Dusun Dodol. Pada tahun 1965, pemerintah menetapkan PKI sebagai partai terlarang, yang kemudian terjadi aksi “pembersihan” terhadap anggota PKI yang dilakukan oleh aparat negara dan aktivis Islam. Penumpasan terhadap orang-orang PKI tejadi di daerah Bali, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Peran para aktivis Islam dalam pembersihan dan pembunuhan masal tahun 1965-1966 menimbulkan isu agama yang menghebohkan.

Para aktivis Islam sangat gencar menyerukan kepada kaum muslimin untuk memperkokoh dan menyempurnakan dasar- dasar akidah agama Islam. Melihat antusias para aktivis Islam

dalam menyerukan kesadaran beragama mendapat tanggapan yang positif bagi umat muslim lainnya, namun bagi sebagian masyarakat lainnya, yang dilakukan oleh aktivis Islam cenderung tidak menarik. Dampak dari peristiwa G30S menyebabkan perpindahan agama secara besar-besaran di beberapa wilayah Indonesia, terlebih didaerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tahun 1965 banyak masyarakat Indonesia yang tidak ingin menyebut diri mereka orang muslim dan lebih senang menyebut diri mereka orang Kristen, lebih-lebih di wilayah bekas daerah PKI (Ricklefs, 2001:576).

Akibat peristiwa G30S tahun 1965 menyebabkan beberapa penduduk di Dusun Dodol yang beragama Islam mengadakan musyawarah desa. Penduduk di Dusun Dodol merasa takut, cemas dan tertekan melihat peristiwa pembunuhan yang terus menerus terjadi. Terlebih sebelum membunuh korbannya orang- orang Islam mengucapkan kata “Allahhuakbar” kemudian menumpas korbannya satu persatu yang mereka anggap sebagai orang PKI. Pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Islam membuat masyarakat di Dusun Dodol berpikir mengenai agama Islam yang mereka anut.

Pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang Islam terhadap orang-orang PKI membuat penduduk di Dusun Dodol yang beragama Islam akhirnya bersama-sama melakukan musyawarah desa. Hasil dari musyawarah tersebut memutuskan agama Islam tidak lagi sesuai dengan hati nurani penduduk, sehingga penduduk di Dusun Dodol sepakat untuk keluar dari agama Islam dan mencari agama baru yaitu agama Hindu.

Jumlah penduduk yang melakukan perpindahan keyakinan secara besar-besaran tahun 1967 dari agama Islam menjadi agama Hindu sampai saat ini tidak diketahui secara pasti (Wawancara denganYateman, tanggal 27 November 2018).

Dipilihnya agama Hindu atas pertimbangan, orang Islam mengenal adanya tradisi selamatan bagi ibu hamil 3bulanan, 9 bulanan, mendem ari-ari, selamatan bagi orang meninggal dan lain sebagainya. Hal serupa juga dilakukan oleh orang Hindu, sehingga dengan pertimbangan tersebut pada tahun 1967 penduduk di Dusun Dodol memutuskan untuk berpindah keyakinan menjadi umat beragama Hindu (Wawancara dengan

Dalam dokumen Cover Dinamika Hindu-Cetak (Halaman 194-200)