I Wayan Tegel Eddy I Gusti Ketut Widana
D. POTENSI, TANTANGAN, JALAN TENGAH, REKOMENDASI
Percandian Bumiayu
Salah satu tinggalan bercorak Hindu di Sumatera Selatan adalah kompleks percandian Bumiayu di kabupaten Muara Enim. Situs ini pertama kali berdiri sekitar abad ke-9 di kawasan kerajaan Sriwijaya. Pada Bumiayu ditemukan setidaknya sebelas gundukan tanah yang memuat bangunan-bangunan bersejarah yang terbuat dari batu bata (Utomo, 2010). Bangunan ini sebagian ditengarai tergolong merupakan bangunan sakral, sebagian lagi termasuk bangunan profan. Selain menjadi tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan, kompleks Bumiayu juga merupakan wilayah permukiman bagi penduduk lokal.
Dari keseluruhan bangunan yang ada, baru empat buah yang selesai direhabilitasi. Pada puing-puing candi dapat dijumpai sejumlah arca di antaranya berwujud Siwa Mahaguru, Agastya, arca Stambha, serta arca-arca yang mengilustrasikan sosok dewata, raksasa dan bhairawi (Sulistyaningsih, 2017).
Secara khusus, Bambang Budi Utomo menjelaskan bahwa setelah dilakukan eskavasi tahun 1992, pada Candi 1 (penamaan untuk salah satu bagian candi di kompleks Bumiayu) ditemukan arca Siwa dan lingga. Selain itu sebelumnya ditemukan juga enam
buah arca, tiga diantaranya yang dapat dikenali melambangkan wujud Siwa Mahadewa, Agastya dan Nandi. Pada Candi 3 terdapat reruntuhan yang diduga merupakan hiasan relief yang berbentuk kepala ular dan kera. Di antara puing-puing tersebut juga terdapat arca perempuan, arca singa, kepala-kepala kecil dengan wajah menyerupai topeng, kepala dari arca-arca binatang, arca berbentuk torso perempuan, dan fragmen kepala arca dengan ekspresi murka dan mata membelalak (Utomo, 2010).
Di samping tinggalan-tinggalan tersebut di atas, masih terdapat temuan-temuan lain yang telah dikaji oleh sejumlah peneliti.
Situs Bumiayu telah menarik perhatian berbagai periset dari beragam latar belakang keilmuan baik dari Indonesia mau- pun mancanegara, sejak era kolonial hingga saat ini. Penelitian kolaborasi untuk menguak sejarah Bumiayu juga dilakukan oleh institusi dalam negeri seperti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan lembaga internasional di antaranya Univer- sitas Pennsylvania dan Ecole Francaise d’Extreme Orient (Siregar, 2018). Keberadaan kompleks percandian Bumiayu ini dipandang penting karena berkontribusi terhadap pengayaan khasanah ilmu pengetahuan terutama seputar sejarah kebudayaan klasik di Nus- antara, dan di Sumatera Selatan secara khusus. Lebih spesifik lagi, mempelajari Bumiayu juga memungkinkan generasi saat ini un- tuk melacak jejak peradaban Hindu di masa lalu.
Kompleks percandian Bumiayu adalah aset berharga yang harus dijaga oleh semua pihak tak terkecuali umat Hindu di sekitar situs, di Sumatera Selatan, dan Indonesia. Sebuah situs sejarah akan semakin terjaga keberadaannya bila berfungsi sebagai museum hidup karena pelestarian dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada pemerintah.
Situs Bumiayu berpotensi menjadi museum hidup karena masih memiliki umat yang dapat terus menjaga dan menghidupi situs dengan berbagai upacara atau ritual keagamaan. Selain oleh masyarakat sekitar, Bumiayu juga dapat menjadi tempat napak tilas dan tirta yatra bagi umat Hindu di Indonesia maupun dunia.
Upaya ini membutuhkan perencanaan matang agar kelestarian situs dan kesakralannya tetap terjaga ketika nanti menjadi destinasi perjalanan relijius umat se-Dharma.
Kerjasama dengan Pemerintah dan Masyarakat di Pulau Bali Hubungan antara umat Hindu di Sumatera Selatan dan masyarakat di Bali selama ini terjalin dengan baik diantaranya tecermin dari solidaritas ketika salah satu mengalami musibah atau bencana. Ketika terjadi erupsi di Gunung Agung, Bali, umat Hindu di Sumatera Selatan mengumppulkan sumbangan dan membawa langsung bantuan ke Pulau Bali. Demikian juga ketika masyarakat di Sumatera Selatan membutuhkan asupan pengetahuan keagamaan, beberapa kali mengundang pakar dari Bali untuk berbagi ilmu. Ke depan diharapkan semakin sering masyarakat Bali maupun pemerintah Bali menjalin kerjasama dengan umat di Sumatera Selatan baik dalam bidang keilmuan, terkait keagamaan, beasiswa, pariwisata, usaha maupun aspek- aspek lainnya.
Pendidikan Agama Hindu di Sekolah, Pengangkatan Guru Agama, Buku Agama
Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2007 secara jelas menyebutkan pendidikan agama adalah :
“pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang- kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.”
Dari kutipan Pasal 1 Bab I tersebut di atas diketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah pada seluruh jenjang dilindungi oleh undang-undang. Untuk lebih jelasnya, termakhtub dalam pasal 3 bahwa “Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama.” Hal ini didukung pula dengan UU nomor 20 tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab V tentang Peserta Didik Pasal 12 yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak
“mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.
Walau memberikan mata pelajaran agama adalah hak
Berdasarkan informasi yang diperoleh peneliti selama berada di provinsi Sumatera Selatan, diketahui bahwa penyelenggaraan pendidikan agama Hindu di sekolah tidak otomatis ada, tetapi seringkali harus dibarengi dengan usaha umat untuk memperjuangkannya. Salah satu alasan yang menyebabkan sulitnya pengadaan pelajaran agama di sekolah ialah tidak adanya guru agama Hindu di sekolah terkait. Merujuk kepada PP Nomor 5 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, dijelaskan bahwa untuk setiap sekolah negeri, penyediaan guru agama dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah daerah sementara untuk sekolah swasta (yang diselenggarakan oleh masyarakat) guru agama disediakan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. Jika sekolah swasta tidak bisa mengangkat guru agama tertentu, maka pemerintah dan/
atau pemerintah daerah wajib menyediakannya sesuai kebutuhan satuan pendidikan.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, tanggungjawab penyelenggaraan pendidikan setingkat SD/SMP berada pada pemerintah daerah (kabupaten/kota, sementara pemerintah provinsi bertanggungjawab terhadap pendidikan setingkat SMA/SMK. Peraturan ini juga menyatakan wewenang pemerintah untuk mengalokasikan anggaran untuk tenaga pengajar, infrastruktur sekolah, pembangunan sekolah dan siswa. Demikian halnya dengan penentuan kebutuhan (formasi) guru juga menjadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota dan provinsi.
Dari hasil wawancara sejumlah pihak, tercatat bahwa tidak semua pemimpin daerah baik bupati, walikota maupun guber- nur menyikapi wewenang ini secara maksimal. Tidak semua memiliki kesadaran dan terdorong melakukan tindakan nyata untuk keberlangsungan dan keberlanjutan pendidikan agama Hindu di daerahnya. Pengangkatan guru sudah seharusnya men- jadi tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota dan provinsi, namun apa yang tercantum dalam regulasi tidak selalu sama dengan realita. Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Agama Provinsi Sumatera Selatan, Drs. Ketut Gede Ri- asa Astawa, menyatakan, pengangkatan guru agama Hindu di
Sumatera Selatan dibuka untuk satu orang per sepuluh tahun.
Terakhir pengangkatan guru agama ialah tahun 2010. Kondisi ini mengakibatkan banyak murid Hindu tidak mendapatkan pelaja- ran agama Hindu di sekolah melainkan terpaksa harus mempe- lajari ilmu agama lain yang menyebabkan murid bersangkutan tidak dapat memperoleh nilai maksimal dalam pelajaran. PHDI se-provinsi Sumatera Selatan telah mencoba berkomunikasi den- gan setiap pimpinan daerah guna memperjuangkan dibukanya formasi baru untuk guru agama Hindu, namun upaya ini tidak mendapat tanggapan serius. Hal ini seyogyanya diperhatikan oleh pemerintah daerah, karena banyak guru-guru agama PNS akan segera pensiun. Jika pengangkatan guru agama Hindu ti- dak segera dilakukan, maka berpotensi terjadi kekosongan guru agama di sejumlah sekolah atau wilayah.
Sebagai solusi alternatif atas situasi ini, PHDI membuat surat resmi ditujukan ke dinas pendidikan agar nilai agama Hindu untuk siswa sekolah dapat diambil dari pasraman.
Langkah ini sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 tentang Keagamaan Hindu yang menyebutkan di Bab I Pasal 1 Ayat 1 bahwa “Pendidikan Keagamaan Hindu adalah jalur pendidikan formal dan nonformal dalam wadah Pasraman.” Dengan kata lain, jika suatu sekolah tidak memiliki guru agama, maka murid-murid bisa belajar pendidikan agama Hindu, mengikuti ujian dan mendapatkan nilai rapor dari pasraman. Pembimas Hindu Sumatera Selatan mengadakan seleksi penyuluh agama Hindu yang bertugas untuk mengajar siswa di pasraman maupun memberikan Dharma Wacana atau ceramah keagamaan di pura-pura maupun tempat tertentu pada momen tertentu bagi masyarakat umum yang beragama Hindu. Para penyuluh agama Hindu ini bekerja dengan sistem kontrak. Adapun untuk penempatan penyuluh didasarkan atas permintaan PHDI kabupaten/kota. Banyak pihak, termasuk PHDI setempat, berharap agar para penyuluh agama Hindu ini kelak dapat diangkat menjadi guru karena selama ini mereka belum mendapatkan penghasilan yang layak dan tidak jarang melakukan pekerjaannya tanpa imbalan tetapi hanya demi pengabdian bagi agama dan umat.
Permasalahan lain yang muncul adalah ketersediaan buku agama yang layak. Perwakilan PHDI Kota Palembang mengeluhkan terbatasnya jumlah buku agama Hindu yang menggunakan kurikulum baru dan sulitnya mendapatkan buku tersebut. Ditengarai salah satu penyebab kelangkaan buku bermutu karena distribusi buku tidak lagi dilakukan oleh Bimas.
Sebagai solusi menghadapi ini, umat terpaksa harus mem- fotocopy buku untuk kemudian diedarkan ke pendidik agama di sekolah. Pembicaraan ini muncul pada saat rapat internal PHDI se-Sumatera Selatan di Pura Agung Sriwijaya. Sebagai alternatif solusi, sempat tercetus ide untuk mengunduh buku di internet. Hal ini tentu sebenarnya tidak layak dilakukan karena menyalahi aturan copyright. Walau demikian, untuk sementara ini adalah cara terbaik bagi mereka sebagai alternatif solusi atas permasalahan di lapangan.
Pertanian dan Perkebunan
Para transmigran asal Bali yang datang karena program pemerintah ketika tiba di Sumatera Selatan masing-masing Kepala Keluarga (KK) mendapatkan jatah tanah seluas dua hektar untuk digarap menjadi lahan produktif. Saat itu masih banyak lahan tidur atau lahan yang tidak dimanfaatkan karena dianggap gersang oleh transmigran. Dalam perjalanannya, sebagian transmigran menggunakan lahan tersebut untuk persawahan.
Pada saat bersamaan, mereka bekerja di perkebunan karet sebagai penyadap dan atau sebagai pekerja di perkebunan kelapa sawit.
Dari pengalaman tersebut dan menimbang prospek perkebunan karet maupun kelapa sawit, tak sedikit transmigran yang kemudian secara bertahap berusaha memperluas lahannya untuk ditanami salah satu atau dua jenis tanaman tersebut disamping padi. Dari keuntungan yang ada mereka terus berinvestasi untuk menambah luas tanah.
Sekitar tahun 2005 hingga 2007, jerih payah tersebut membuahkan hasil. Warga yang membuka perkebunan karet merasakan dampak signifikan dari melesatnya harga karet kala itu mencapai Rp 18.000 sampai Rp 25.000 per kilogram. Sebagai gambaran, lahan per hektar biasanya dapat menghasilkan 150
sampai 300 kilogram per bulan. Menurut beberapa narasumber, tidak sedikit orang Bali di Sumatera Selatan yang memiliki lahan karet seluas 100 sampai 300 hektar. Dapat dibayangkan, jika dikalkulasikan, mereka memperoleh keuntungan fantastis pada masa itu. Karet biasanya dijual kepada pengepul untuk selanjutnya diekspor ke luar negeri. Mencermati kecenderungan tren ini, sejumlah transmigran memutuskan menutup lahan persawahannya dan mengubahnya menjadi perkebunan karet.
Khusus untuk perkebunan kelapa sawit, dari keterangan beberapa narasumber, sebagian transmigran pada awalnya bekerjasama dengan PT Plasma. Masyarakat bisa membeli langsung lahan yang sudah ditanami kelapa sawit ke PT Plasma.
Lahan yang dibeli minimal satu kapling (2 hektar). Ini adalah cara paling praktis, karena tinggal menerima gaji saja tanpa harus mengurus kebun. Pilihan ini banyak ditempuh karena tidak mudah mengelola perkebunan kelapa sawit. Walau demikian, ada juga masyarakat yang memilih membangun sendiri lahan perkebunan kelapa sawit dengan luas pada umumnya minimal sepuluh hektar. Dari mulai menanam sampai masa panen membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Setelah itu, pemilik bisa langsung menikmati hasil perkebunan.
Perubahan signifikan baru terjadi beberapa tahun kemudian ketika harga karet menurun drastis karena muncul persaingan dengan negara lain antara lain, Malaysia, Vietnam dan Thailand.
Harga karet anjlok menjadi hanya Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per kilogram. Meski begitu, para transmigran asal Bali yang menjadi pemilik kebun tetap mendulang keuntungan walau tidak sefantastis sebelumnya. Beberapa di antara mereka menutup lahan karet dan kembali mengolah sawah karena padi dianggap lebih menjanjikan.
Dalam prosesnya hingga saat ini, baik pengelolaan lahan sawah maupun kebun oleh transmigran Bali, terbukti memberikan kesejahteraan bagi masyarakat transmigran Bali dan membawa dampak positif yakni membuka lapangan pekerjaan bagi transmigran lain, biasanya berasal dari Pulau Jawa. Sebagian transmigran Jawa memang ada yang mengelola lahan sendiri dan sukses, namun ada juga yang memilih menjadi penyadap
atau bekerja di lahan orang lain.
Walau demikian, permasalahan pendudukan lahan juga pernah terjadi. Sekitar tahun 2018, beberapa oknum dari Suku Komering menduduki lahan milik orang Bali dan memasang kayu di sekeliling kebun untuk menandai bahwa tanah tersebut adalah milik mereka. Mereka menyatakan bahwa tanah ini adalah tanah warisan nenek moyang yang seharusnya tidak direbut be- gitu saja oleh pendatang. Konflik ini berlangsung cukup lama. Pe- milik kebun berusaha menyelesaikan permasalahan namun tidak kunjung menemukan titik temu. Ia menghubungi Ketua PHDI OKI, Agung Santosa, dan bersama-sama melapor ke polisi, na- mun permasalahan tetap terjadi. Teror terus diluncurkan oleh ok- num dengan meneror ke rumah pemilik kebun. Demi rasa aman, pemilik kebun memutuskan keluar dari rumah dan berlindung serta tinggal untuk sementara waktu di Pura setempat.
Kasus ini kemudian dilaporkan ke Ketua PHDI Provinsi Sumatera Selatan, I Gusti Bagus Surya Negara. Setelah itu, Ketua PHDI Sumatera Selatan bersama Ketua PHDI OKI dan pihak lainnya menghadap Gubernur Provinsi Sumatera Selatan saat itu yakni Alex Noerdin. Dengan komunikasi dan lobi yang baik, terutama menekankan juga bahwa kasus ini bisa mencoreng nama Palembang sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Games yang sebentar lagi akan terselenggara, maka keputusan penting terjadi. Gubernur membantu proses penyelesaian kasus tersebut.
Menurut keterangan Ketua PHDI OKI, beberapa hari kemudian oknum-oknum sudah meninggalkan lahan dan mencabut kayu- kayu yang dipasang sebelumnya.
Agung Santosa menjelaskan banyak orang Bali pemilik kebun yang terus memperluas tanah untuk lahan perkebunan dengan membeli dari penduduk lokal. Akibatnya, semakin lama penduduk lokal menyadari tanah mereka sudah habis dan me- munculkan konflik sosial. Kasus ini dapat dicegah salah satunya dengan cara tidak membeli semua tanah milik penduduk lokal.
Penyederhanaan Upakara
Dalam kultur Hindu, upakara adalah komponen penting yang tidak terpisahkan dari kegiatan upacara yang dilaksanakan
oleh umat. Bagi sebagian masyarakat Hindu di Sumatera Selatan, keberadaan upakara menjadi suatu wacana penting karena di satu sisi, umat ingin tetap menjalankan tradisi upakara yang berasal dari kampung halamannya di Bali, di sisi lain, muncul pemikiran kritis dari masyarakat tentang tingginya pengeluaran yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan upakara.
Terlebih, menurut mereka, masih ada umat yang terjebak dengan pandangan bahwa semakin kompleks atau mewah suatu upakara, maka akan semakin baik. Tidak adanya standar yang pasti mengenai pembuatan upakara dan penjelasan perihal makna setiap komponennya ditengarai dapat menimbulkan kebingungan di kalangan generasi muda ke depan.
Mencermati hal tersebut, umat Hindu di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan berinisiatif untuk merumuskan pakem upakara untuk pelaksanaan upacara Catur Yadnya. Tahun 2017, PHDI OKI menerbitkan buku Pedoman Praktis Catur Yadnya. Buku ini disusun oleh PHDI OKI bersama Yayasan Widya Dharma, Peradah Kabupaten OKI, Wanita Hindu Dharma Indonesia dan Pokja Penyuluh OKI.
Buku ini memuat standar-standar suatu upakara berikut variasi atau modifikasi yang dilakukan dengan tujuan menyatukan persepsi dan menyederhanakan upakara tanpa menghilangkan makna esensinya. Hal ini dilakukan karena masyarakat di kabupaten OKI berupaya meninggalkan sima chara yang berasal dari daerah masing-masing di Bali sehingga menyesuaikan dengan tatanan baru di tanah rantauan. Keterbatasan sarana dan prasarana di Sumatera Selatan menyebabkan umat membutuhkan cara baru dalam menjalankan ritual.
Upaya ini mengemuka setelah munculnya kesadaran baru dalam memandang konsep tingkatan Yadnya yang terdiri dari Nista, Madya dan Utama. Sebagian umat Hindu di Sumatera Selatan memperoleh kesimpulan bahwa esensi atau makna Yadnya tidak dipengaruhi oleh ketiga tingkatan tersebut. Suatu upacara yang dilangsungkan dengan cara-cara utama tidak berarti lebih baik daripada yang memilih nista atau madya. Hal ini menjadi landasan dalam merumuskan kembali jenis upakara
untuk pelaksanaan Catur Yadnya di Kabupaten OKI, Sumatera Selatan.
Melalui pedoman ini, umat memperoleh penjelasan umum tentang tujuan, makna atau filosofi, jenis-jenis dan tata cara pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, serta Dewa Yadnya. Selain itu, diuraikan pula berbagai macam upakara berikut fungsinya, alat-alat perlengkapan dan penjelasan unsur-unsur dasar upakara tersebut. Buku ini juga memuat mantra-mantra yang diucapkan selama berlangsungnya prosesi upacara terkait. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) diketahui bahwa kondisi ini merupakan hal umum yang terjadi di berbagai wilayah di Sumatera Selatan.
Keberadaan Pura Kahyangan Swarna Dwipa
Indonesia adalah tuan rumah penyelenggaraan Asian Games XVIII tahun 2018 tepatnya di kota Jakarta dan Palembang.
Kedua kota ini membenahi sarana dan prasaran penunjang kegiatan olahraga terbesar di Asia tersebut salah satunya dengan memperbaiki venue pertandingan dan perlombaan, salah satunya Jakabaring Sport City yang berlokasi di Palembang, Sumatera Selatan. Salah satu syarat venue untuk Asian Games adalah tersedianya tempat beribadah lengkap untuk seluruh agama.
Oleh karena itu, didirikan beberapa tempat persembahyangan di kawasan Jakabaring Sport City, termasuk di antaranya adalah Pura Kahyangan Swarna Dipa. Peletakan batu pertama pembangunan ini dilakukan pada Minggu, 9 Juli 2017 oleh Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama (Kemenag), I Ketut Widnya, dengan disaksikan langsung Ketua Umum PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Ketua PHDI Sumsel I Gusti Bagus Surya Negara dan perwakilan pemerintah provinsi Sumatera Selatan kala itu.
Pura Kahyangan Swarnadwipa ini dibangun di atas lahan seluas 30 meter x 25 meter pemberian Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Dibandingkan tempat ibadah lainnya di Jakabaring Sport City, hanya pura ini yang pembangunannya dilakukan secara swakelola oleh umat langsung karena dibutuhkan pengetahuan dan keahlian spesifik untuk mendirikannya. Hal ini sesuai
dengan usulan dari PHDI Sumatera Selatan. Pura ini didirikan menggunakan anggaran terbatas dari pemerintah melalui Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI sebesar lima ratus juta rupiah.
Untuk menutupi kekurangan pembiayaan, PHDI setempat menggalang sumbangan dari umat Hindu di Sumatera Selatan dan Corporate Social Responsibility sejumlah perusahaan termasuk bantuan 2000 sak semen Baturaja—usaha yang dikelola oleh koperasi PHDI Sumatera Selatan. Total dana yang digelontorkan untuk membangun pura ini sekitar 2,4 miliar rupiah. Biaya ini digunakan untuk membangun tempat persembahyangan yang layak. Pura ini unik karena sepenuhnya beratap demi menjaga keamanan dan kenyamanan umat terutama ketika hujan.
Keberadaan Pura Kahyangan Swarnadwipa di Jakabaring Sport City telah menambah jumlah tempat suci bagi umat Hindu di Kota Palembang.
Foto 6. Pura Kahyangan Swarnadwipa (flickr.com)
Setelah hajatan Asian Games 2018 selesai, keberadaan pura mulai dipertanyakan oleh umat Hindu terutama ketua PHDI dari sejumlah kabupaten di Sumatera Selatan. Hal ini diungkapkan dalam rapat internal PHDI seluruh kabupaten Sumatera Selatan dan juga pada sesi Focus Group Discussion. Salah satu yang dipermasalahkan adalah status pura. Hal mana terkait dengan pihak mana yang berkewajiban menjadi pengurus atau pengempon
pura terlebih ketika ada hari raya atau odalan perlu ada kepastian siapa yang akan bertanggungjawab merawat dan mengelola pura. Sampai saat penelitian ini dilakukan, pura masih dikelola di bawah PHDI Provinsi Sumatera Selatan. Sejauh ini sudah dilakukan macaru kecil dan ngulapin di Pura Kahyangan Swarna Dipa. Ketika melaspas gede sudah diadakan kelak, pimpinan PHDI seluruh kabupaten/kota se-Sumatera Selatan diharapkan berkumpul kembali untuk membicarakan perihal pengelolaan pura agar tidak hanya mengandalkan PHDI Provinsi Sumatera Selatan karena merupakan milik bersama.
Terlepas dari wacana ini, Pura Kahyangan Swarna Dipa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat non Hindu karena desainnya yang unik. Dari penelusuran peneliti via situs berita online, sejumlah pihak memproyeksikan pura ini sebagai salah satu destinasi wisata reliji di Sumatera Selatan. Namun demikian, ide ini harus dikaji terlebih dahulu oleh PHDI dan umat Hindu di Sumatera Selatan serta stakeholder terkait.
Kurangnya Organisasi Keumatan
Dalam rangka menunjukkan identitas dan eksistensi masyarakat Bali (Hindu) di Provinsi Sumatera Selatan, perlu adanya organisasi atau institusi keumatan yang berperan dalam memperjuangkan berbagai kepentingan umat Hindu sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dalam wadah NKRI yang be-bhinneka tunggal ika. Data di bawah ini menunjukkan keberadaan lembaga keagamaan Hindu di Sumatera Selatan secara kuantitas :
Tabel 10: Jumlah Lembaga Hindu di Provinsi Sumatera Selatan
No. Kab/ Kota Nama Lembaga Hindu
PHDI WHDI PERADAH KMHDI YAYASAN
1 Palembang 1 1 1 1 1
2 Prabumulih 1 1 - 1 -
3 Lubuk Linggau - - - - -
4 Pagar Alam - - - - -
5 Lahat - - - - -
6 Banyuasin 1 1 - - -
7 Musi Banyuasin 1 1 1 - -