Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia
V. Simpulan
wilayah di Indonesia memiliki variasi persoalan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya permasalahan yang sering mengemuka adalah tentang minimnya guru yang dapat mengajarkan agama Hindu. Banyak anak-anak Hindu dinyatakan tidak dapat mengikuti pelajaran agama karena minimnya guru agama Hindu. Di beberapa tempat pada masa lalu, bahkan mereka mengikuti pelajaran agama lain. Mungkin pertimbangannya unuk memperoleh nilai agama daripada tidak memiliki nilai agama. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan masalah keyakinan yang hendaknya diperoleh sebagai pembentukan manusia yang bersifat religius yaitu Hindu?
Betapa pentingnya memetakan persoalan ini yang dihadapi oleh beberapa daerah yang memiliki umat Hindu di Indonesia.
Apabila permasalahan ini sudah dapat dipetakan permasalahannya, maka diupayakan untuk membuat peta jalan (roadmap) kegiatan pembinaan umat Hindu yang lebih baik di Indonesia. Peta jalan ini menjadi sangat signifikan terutama yang dapat dijadikan panduan dasar dalam melihat potensi dan dinamika umat yang memiliki pola tempat tinggal yang berbeda antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Selain itu, perlu ditelusuri bagaimana aspek sejarah, pola migrasi yang dilakukan, jumlah dan kegiatan ritus dan situs Hindu di sebuah wilayah, penerapan ajaran Tri Hita Karana yang berkaitan dengan lingkungan dan pembangunan keberlanjutan (sustainability) (Ardhana, 2016). Bagaimana peran wanita Hindu, pemuda Hindu (youth) dalam dinamika umat Hindu di era Millenial ini. Hindu Center diharapkan akan memiliki peran sentral dan strategis, dimana Universitas Hindu Indonesia (UNHI) menjadi tulang punggung (backbones) dalam kajian-kajiannya yang berkaitan dengan pembinaan umatnya, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional.
agama yang jumlah penduduk yang beragama Hindu lebih sedikit. Permasalahan yang dihadapi oleh umat Hindu seperti ini juga terjadi dengan agama-agama minoritas lainnya yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, upaya untuk memahami dan memaknai gerakan Hindu di Indonesia sebagai sebuah lembaga keagamaan yang bercirikan kelompok minoritas kreatif (creative minority) semestinya dikembangkan. Ini sangat signifikan dalam konteks pemahaman masyarakat Indonesia yang bukan sebagai negara agama, tetapi sebagai sebuah masyarakat multikultur yang mana kelompok mayoritas hendaknya mengapresiasi kelompok minoritas dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.
Pengelolaan Hindu Center menjadi sebuah keniscayaan, karena kontribusi umat Hindu di Indonesia sangat signifikan dari dahulu hingga sekarang. Peningkatan peran Hindu Center sangatlah diperlukan untuk melakukan kajian-kajian tidak hanya yang bersifat akademis, tetapi yang berkaitan dengan hal-hal praktis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat atau umat Hindu di seluruh Indonesia. Kerjasama di kalangan internal umat Hindu perlu ditingkatkatkan dan berbagai komunikasi lintas agama, etnis, tradisi kepercayaan juga menjadi penting dilakukan untuk penguatan pemahaman kehidupan agama antara yang satu dengan yang lainnya. Edukasi seperti ini sangat penting dilakukan terutama terhadap generasi muda Hindu yang memerlukan tempat atau media komunikasi yang baik dan strategis sehingga berbagai permasalahan keumatan dapat dibahas dan dicarikan solusinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Agung. I Gusti Agung. 1968. Lambang Swastika. Denpasar.
Ardhana, I Ketut. 2016. “Religious Teachings on Sustainability in the Context of Hinduism in Bali”, paper presented at the Asian Conference, A Call to Dialogue on the Sustainabilty of Life in the Asian Context, held by the JCAP (Jesuit Conference of Asia Pasific) at the University Sanata Dharma Yogyakarta, from August 8 to 10.
Ardhana, I Ketut dan I Ketut Setiawan 2014, Raja Udayana Warmadewa.
Denpasar: Pemerintah Kabupaten Gianyar and Center for Bali Studies, Pusat Kajian Bali-Universitas Udayana.
Ardhana. I Ketut. 2012a. “Cultural Relationships between India and Indonesia: Viewing from the Collective Memories”. Paper presented at the India-ASEAN Academic Seminar on “India and Indonesia-Shared History & Culture and Opportunities for Deepening People to People Contacts held by Indian Embassy in Jakarta, Cultural Consulate of India in Denpasar and University of Udayana, in Denpasar Bali, 30 October.
Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M. A., Dra. Sulanjari, M. A., Dra.
Anak Agung Rai Wahyuni, M.Si., Dr. I Ketut Setiawan, M.
Hum. 2017. PURA BESAKIH, CANDI SUKUH, DAN CANDI CETHO: Persamaan, Perbedaan Arsitektur, dan Indigenisasi Budaya di Bali dan Jawa Tengah. Denpasar: Pustaka Larasan.
Candi Gedong Songo
Ardhana, I Ketut. 2012b, “Indian Influences on the Balinese Culture in the Context of Harmony and Human Securities”, dalam International Seminar on “Cultural Exchange between India and Southeast Asian World”, held by Udayana University in cooperation with Global Association of Indo-Asean Studies and Hankuk University of Foreign Studies, Korea, Denpasar 8-9 February.
Eiseman, Fred. B. Jr. 2000, Bali: Skala and Niskala, Essays on Religion, Ritual and Art. Periplus
Falyey, Lindsay. 2015. Understanding Southeast Asia: Syncretism and
Communalities. Songkhla: Thailand: TSU Press.
Gottowik,Volker. 2005. Die Erfindung des Barong: Mythos, Ritual und Alteritat auf Bali. Berlin-Germany: Dietrich Reimer Verlag GmbH.
Gust, Heike, 1994. “Der Balinesische Hinduismus in Geschichte und Gegenwart”, Master Unpublished Thesis. Passau: Universitat Passau.
Hylland Eriksen, Thomas. 2002. Ethnicity and Nationalism:
Anthropological Perspective. London: Pluto Press.
Khrisna, Anand. 2002. Javanese Wisdom: Butir-butir Kebijakan Kuno Bagi Manusia Modern. Jakarta: Gramedia.
Parisada Hindu Dharma Kabupaten Badung. Keputusan Pesamuhan Sulinggih dan Walaka Se Kabupaten Badung Tanggal 26 Juli 1986 di Pengasraman Uluwatu.
Pudja, G. 1972/ 1982. Siwa Sasana (Text Terjemahan dan Penjelasan).
Jakarta: Mayasari.
Pudja, Gede. 1963. Sosiologi Hindu Dharma. Djakarta: Jajasan Pembangunan Pura Pita Maha.
Pudja. Gede. 1974. Weda Satu Studi Mengenai Kedudukan Weda sebagai Sumber Hukum dan Ajaran Agama Hindu. Jakarta:
Pudja, G. 1981. Bhagawadgita (Pancama Weda). Jakarta: Lembaga Peneliti dan Pengembangan Weda.
Putra. Cudamani: Pengertian Upacara Ngaben.
Ravindra, Ravi. 2017. The Bhagavad Gita: A Guide to Navigating The Battle of Life. Delhi: Jaico Publishing House.
Rubinstein, Raechelle dan Linda H. Connor. (eds.). 1999. Staying Local in the Global Village: Bali in The Twentieth Century. Honolulu:
University of Hawai’I Press.
Rudia Adiputra, I Gede, I Wayan Suarjaya dan I Gede Sura. 1984.
Tattwa Darsana. Jakarta: Proyek Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agama.
Sri Margana (ed.). 2017. Kapita Selekta (Pendidikan) Sejarah Indonesia:
Kumpulan Tulisan Seminar Sejarah Nasional. Yogyakarta: Ombak.
Sri Margana (ed.). 2017. Pluralisme dan Identitas: Pengalaman dan
Pandangan Berkebangsaan. Yogyakarta: Ombak.
Sugiarto, R. n.d. Maitri Upanisad. Jakarta: Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.
Sudiarto, R. 1982. Sweta Swatara Upanisad. Jakarta: Departemen Agama RI Proyek Pengadaan Kitab Suci Hindu.
Sadia. I Ketut, Ida Bagus Darmana dan I Ketut Tika. 1982. Weda Untuk PGA Hindu. Jakarta: Proyek Pembinaan Mutu Pendidikan Agama Hindu dan Budha.
Ramstedt, Martin. 2004. “Introduction: Negotiating Identities- Indonesia Hindus’ between Local, National and Global Interest”, dalam Martin Ramstedt (ed.), Hinduism in Modern Indonesia: A Minority religion between local, national and global interests. Routledge Curzon, Oxford.
Ramstedt, Martin. 1999. “Hinduismus und Naturkulte”, dalam Bernhard Dahm und Roderich Ptak (eds.). Sudostasien Handbuch: Geschichte, Gesellschaft, Politik, Wirtschaft, Kultur.
Munchen: C.H. Beck Verlag.
Sugiarto, R. 1983. Atharwa Weda (Weda Sruti). Lembaga Penterjemahan Kitab Suci Weda.
Sugiarto, R. 1984. Rg Weda Mandala VIII. Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Hindu.
Staab, Christiane. 1997. Balinesische Dorforganisationen und ihre Bewertungen in der Literatur. Passau: Lherstuhl fur Sudostasienkunde: Universitat Passau.
Sura, I Gede/ Mei 1991. Samkhya Yoga. Denpasar: Kungkungan.
Surpha, I Wayan. Eksistensi Desa Adat di Bali Dengan Diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun1979 (Tentang Pemerintahan Desa). Denpasar: Upada Sastra.
Surpha, I Wayan. 1970. Kramaning Muspa. Badung: Parisada Hindu Dharma Kabupaten Badung.
Titib, I Made. 1986. Weda Walaka. Jakarta: Penerbit PT Dharma Nusantara Bahagia.
Titib, I Made. 1997. Perkawinan dan Kehidupan Keluarga Menurut Kitab Suci Weda. Surakarta: Paramita.