• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Kedatangan Hindu di Sumatera Selatan

Dalam dokumen Cover Dinamika Hindu-Cetak (Halaman 70-75)

I Wayan Tegel Eddy I Gusti Ketut Widana

A. Sejarah Kedatangan Hindu di Sumatera Selatan

Mulai abad ke-13 Sriwijaya ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit. Ekspansi ini hanya berlangsung sampai abad ke-14.

Setelah Majapahit, wilayah Sumatera bagian Selatan dikuasai oleh Kesultanan Palembang sejak awal abad ke-15. Kekuasaan kemudian berganti di bawah naungan kolonialisme Barat lalu penjajahan Jepang. Seluruh interaksi tersebut di atas niscaya memunculkan kontak kebudayaan dengan orang-orang lintas bangsa yang secara langsung dan tidak ikut memengaruhi kultur setempat termasuk melalui penetrasi ajaran agama.

Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang tumbuh

menguasai perdagangan di daerah Selat Malaka. Oddyen mengatakan bahwa setelah jalan pelayaran ke negeri Cina semakin dikenal dan dikembangkan, maka lokasi geografis pantai timur Sumatra dan pulau-pulau lepas pantainya semakin penting. Hal ini menjadi incaran penguasa setempat. Sriwijaya merupakan keatan pertama yang berhasil mendominasi wilayah yang memegang kunci perdagangan dan pelayaran itu. Seiring dengan pentingnya wilayah tersebut, maka penguasaan daerah pantai timur Sumatra telah mendorong Sriwijaya menjadi kekuatan maritime yang cukup disegani dan diperhitungkan dalam kancah pengusaan jalur maritim.

Jejak Sriwijaya merambah berbagai tempat terbukti dari persebaran prasasti-prasasti penanda keberadaan Sriwijaya ditemukan tersebar luas diberbagai wilayah Sumatra Selatan,Bangka,Jambi,Lampung, bahkan Thailand dan India Selatan. Tercatat kurang lebih enam belas prasasti tinggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar luas di berbagai wilayah.

Temuan prasasti terbanyak terdapat di wilayah Sumatra Selatan, yaitu Prasasti Kedukan Bukit, Telaga Batu, Talang Tuwo, Kota Kapur, Boom Baru ,prasasti emas Swarnapattra, Kambang Unglen, prasasti Siddhayatra dan prasasti Bukit Siguntang.

Adanya sebaran prasasti tersebut membuktikan betapa luasnya kekuasaan Sriwijaya pada masa lalu.

Kecuali temuan prasasti di wilayah Sumatra Selatan juga ditemukan candi atau kompleks percandian dan benda-benda atribut keagamaan Buddha maupun Hindu yang berupa arca, stupika, tablet, dan manik-manik, serta temuan komoditas dagang berupa keramik. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan bahari yang Berjaya hingga ke Asia Tenggara. Situs-situs masa Kerajaan Sriwijaya banyak ditemukan di wilayah Sumatra Selatan, selain juga berbagai bentuk artefak, ekofak dan fitur.

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada umumnya ditulis dalam huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno, dan prasasti-prasasti ini berisi tentang peringatan, kutukan, sumpah serta keagamaan.

Sebagian besar tinggalan Kerajaan Sriwijaya bersifat agama Buddha, namun juga terdapat situs yang memiliki latar

keagamaan Hindu. Situs percandian Bumiayu merupakan situs tinggalan Sriwijaya yang bercora Hindu dan mempunyai luas sekitar 15 ha terdiri atas 11 gundukan tanah. Beberapa di antaranya telah dibuka dan berhasil ditampakkan bangunan yang terbuat dari batu bata. Diantara reruntuhan bangunan candi itu ditemukan beberapa arca seperti Agastya, Siwa Mahadewa, dan arca Stambha. Dari informasi prasasti dan hasil penelitian arkeologis membuktikan bahwa Dapuntahyang sudah memikirkan penataan lingkungan kotanya, dimana rakyat tinggal di tepian sungai pada rumah kolong atau rmah rakit, para pejabat kerajaan tinggal di darat, bangunan suci ditempatkan di daerah yang tinggi, dan taman kota ditempatkan di hulu sungai yang bermuara di kota kerajaan. Semua itu mengambil lokasi di sebelah utara sungai Musi, sedangkan di sebelah selatannya masih merupakan rawa-rawa dangkal.

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari Sriwijaya adalah rasa toleransi dalam kehidupan beragama. Sebuah bukti arkeologis dalam bentuk arca batu menggambarkan toleransi tersebut.

Arca Bodhisattwa Awalokiteswara yang ditemkan di situs Bingin Jungut pada bagian punggungnya terdapat kata: “Dang Accaryya Syuta”. Dang Accaryya adalahgelar seorang pendeta Hindu, Syuta adalah nama sang pendeta, dan Boddhisattwa Awalokiteswara adalah arca yang dipuja oleh penganut ajaran Buddha Mahayana. Ini artinya, seorang pendeta Hindu memberikan persembahan atau hadiah kepada masyarakat pemeluk ajaran Buddha Mahayana.

Dalam kehidupan keagamaan, sebuah surat menyurat antara seorang maharaja Sriwijaya yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan pemberian hadiah kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis, dan sekaligus mohon dikrim mubalig untuk mengajarkan agama Islam di Sriwijaya. Ini artinya meskipun di Kerajaan Sriwijaya sebagian besar masyarakatnya memeluk ajara Buddha Mahayana, namun agama dan ajaran lain diberi kesempatan berkembang. Boleh jadi sekitar abad ke-9-10 agama Islam sudah ada di Kerajaan Sriwijaya sejalan dengan majunya intensitas perdagangan dengan Persia. Berita asing lainnya juga menyebutkan adanya bangunan Gereja Nestorian di

daerah Barus.

Hal lain yang dapat diteladani dari Kerajaan Sriwijaya adalah kedaulatan di laut. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, para saudagar asing yang datang darimanapun, baik dari Tiongkok, India atau Persia, kalau berdagang di wilayah Sriwijaya harus menggunakan kapal Sriwijaya. Barang-barang dagangan yang diperdagangkan di kota Sriwijaya, sebelum dijual kedaerah lain di wilayah kedaulatan Sriwijaya, harus dipindahkan ke kapal Sriwijaya. Ciri dari kapal Sriwijaya adalah dibuat dengan teknik

“papan-ikat dan kupingan-pengikat”. Bukti arkeologis ditemukan di dasar perairan Nusantara, sebuah yang dibuat dengan teknik

“papan-ikat dan kupingan-pengikat”msarat dengan muatan yang berasal dariberbagai bangsa, seperti keramik Tiongkok, kaca Persia, dan arca India. Ini artinya bahwa kapal-kapal yang berlalu-lalang di perairan sebelah barat Nusantara setidaknya di wlayah kedaulatan Sriwijaya adalah kapal yang berbendera Sriwijaya.

Seiring pesatnya perkambagan agama Buddha di Sriwijaya berkembang juga agama Hindu. Sejak abad ke-6 M agama Hindu sudah muncul dan berkembang di kota Kapur, Bangka yang kemudian menyebar ke Palembang. Agama Hindu menalami kejayaan di daerah pedalaman. Hal ini terbukti dengan ditemukannya kompleks percandian Bmiayu yang berkronologi dari abad ke-9-13 M. Selain di Bumiayu agama Hindu juga menyebar ke Teluk Kijing yang diperkirakan pada abad ke-8 M, Lesung Batu dan Musi Rawas sekitar abad ke-9-10 M.

Dinamika agama Hindu di Sumatera Selatan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kerajaan Sriwijaya yang diperkirakan berpusat di Bukit Siguntang (Kota Palembang).

Jejak kerajaan ini dibuktikan oleh adanya berbagai temuan berupa artefak, situs, fitur dan ekofak. Selain itu keberadaan kerajaan ini ditunjukan melalui enam belas prasasti yang tersebar di berbagai wilayah di Nusantara di antaranya Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Bangka, hingga prasasti di negara Thailand dan India bagian Selatan. Secara umum, prasasti paling banyak ditemukan di wilayah Sumatera Selatan, seperti Prasasti Telaga Batu, Kedukan Bukit, Kota Kapur, Boom Baru, Talang Tuwo,

Prasasti Swarnapattra, Kambang Unglen, Bukit Siguntang dan Prasasti Siddhayatra. Seluruh temuan ini umumnya menegaskan luasnya wilayah kekuasaan Sriwijaya berikut budaya yang menyertai keberadaan kerajaan ini. Kultur Sriwijaya cenderung bercorak agama Buddha. Kerajaan maritim ini dipengaruhi oleh peradaban India dan Tiongkok. Pada akhir abad ke-7 ibukota Sriwijaya yakni Bukit Siguntang (Palembang) ditengarai menjadi salah satu tempat utama untuk mempelajari agama Buddha di kawasan Asia Tenggara.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan agama Buddha di Sriwijaya, ajaran agama Hindu perlahan mulai dikenal dan menyebar di wilayah kerajaan. Sebelum muncul di Sriwijaya atau kini kawasan Kota Palembang, agama Hindu berkembang terlebih dahulu di Kota Kapur, Bangka. Beberapa tinggalan kebudayaan Hindu di Sumatera Selatan yang masih ada hingga saat ini adalah kompleks percandian Bumiayu yang terletak di Kabupaten Muara Enim. Temuan ini menunjukkan agama Hindu pernah mencapai kejayaan khususnya di kawasan pedalaman Sumatera Selatan. Agama Hindu diperkirakan juga menyebar hingga ke wilayah Lesung Batu dan Musi Rawas pada abad 9 hingga 10 Masehi. Sebelumnya, pada abad ke-8 Masehi, kepercayaan ini telah melingkupi daerah Teluk Kijing (Sulistyaningsih, 2017). Jumlah umat Hindu semakin berkurang setelah masuknya agama Islam di Sumatera Selatan.

Berabad setelahnya, umat Hindu di daerah tersebut mulai bertambah pasca dilaksanakannya program transmigrasi yang memberangkatkan sebagian masyarakat dari Pulau Bali ke kabupaten-kabupaten di Sumatera Selatan. Secara umum, program transmigrasi di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerataan pembangunan daerah terutama mempercepat pembangunan di kawasan tertinggal atau yang masih terisolir serta untuk menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa (Direktorat Bina Potensi Kawasan Transmigrasi, 2015). Menurut Patrice Levang, propaganda transmigrasi oleh pemerintah memiliki ambisi mewujudkan kebijakan sosial dengan menolong rakyat miskin di Indonesia; serta mendorong kebijakan pembangunan yakni dengan mengolah lahan-lahan

luas yang belum terjamah. Sementara tujuan sampingannya adalah melakukan integrasi suku di Indonesia sehingga diharapkan dapat merekatkan persatuan dan kesatuan (Levang, 2003).

Transmigrasi dari Bali berlangsung pertama kali sekitar tahun 1958 dengan dibiayai oleh pemerintah. Pemerintah memberikan lahan kepada transmigran di Desa Nusa Raya, Kecamatan Belitang III Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Pemerintah mengimbau agar lahan tersebut dapat diolah menjadi lahan produktif. Namun, kondisi lahan tersebut masih banyak yang ditumbuhi tanaman liar sehingga harus dibersihkan sendiri oleh transmigran. Menghadapi kondisi baru di tanah rantauan, terlebih masih ada beberapa daerah transmigran dengan medan tidak datar (naik-turun), beberapa transmigran tidak sanggup tinggal lebih lama. Mereka yang tidak mampu beradaptasi, memutuskan untuk kembali ke Bali. Sebagian lainnya tetap di daerah tersebut, ada juga yang pindah ke daerah lain dengan permukaan tanah yang lebih datar sehingga lebih mudah untuk membuka lahan persawahan.

Setelah itu transmigrasi bergulir kembali pada tahun 1963.

Transmigrasi Nusa Bali ini dilatarbelakangi oleh bencana Gunung Agung di Bali. Masyarakat pergi ke Sumatera Selatan dengan harapan dapat memulai kehidupan baru dan mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Tahun 1980, transmigrasi kembali diadakan dengan membuka lahan di Kabupaten Banyuasin dan Desa Bangun Sari di Kabupaten Musi Rawas. Kemudian tahun 1990-an pemerintah mengadakan transmigrasi dari Bali ke Jiwa Baru, Kabupaten Muara Enim. Keseluruhan transmigrasi ini membawa gelombang baru perpindahan masyarakat beragama Hindu ke Sumatera Selatan yang kemudian terus berkembang hingga saat ini. Selain transmigrasi yang diselenggarakan pemerintah, masyarakat Bali juga banyak yang merantau ke Sumatera Selatan secara mandiri maupun karena pindah tugas atau utusan dinas

Dalam dokumen Cover Dinamika Hindu-Cetak (Halaman 70-75)