Sulandjari
A. SEJARAH HINDU DI JAWA TENGAH
Data historis menunjukkan bahwa Hindu sudah ada di wilayah Jawa Tengah sejak abad ke-6, yakni dengan berdirinya Kerajaan Kalingga yang lokasinya berada di pesisir utara Jawa Tengah. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, bersama dengan Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.
Kerajaan ini (Kalingga) yang dipimpin Ratu Shima, merupakan pendahulu dari Kerajaan Mataram Kuna. Diduga kerajaan ini berpusat di wilayah di pesisir Laut Jawa di sekitar Pekalongan.
Peninggalan Kerajaan Kalingga adalah Prasasti Sojomerto dan Prasasti Tukmas. Prasasti Tukmas bercerita tentang sebuah mata air di lereng Gunung Merapi, menyerupai Sungai Gangga di India. Sedangkan Prasasti Sojomerto bercerita tentang seorang tokoh bernama Dapunta Sailendra. Terdapat juga prasasti lain berbahasa Sangsekerta yang berada di Gunung Wukir, Desa Canggal, Kecamatan Kadiluwih, Distrik Salam, Kedu Selatan. Isi prasasti itu antara lain menyebutkan tentang pendirian lingga di Pulau Jawa, oleh Raja Sanjaya (Sartono Kartodirdjo, et.al: 78-79).
Dalam perkembangannya kemudian, seiring dengan perjalanan waktu berabad-abad lamanya, penguasaan raja-raja Hindu di Jawa Tengah ternyata berpengaruh dalam praktik keagamaan masyarakat di Jawa Tengah. Pada gilirannya terjadi semacam akulturasi antara nilai-nilai spiritual agama Hindu dengan pandangan hidup masyarakat Jawa, yang pada akhirnya membentuk apa yang disebut sebagai kejawen. Eksistensi spiritualitas dan mistisisme Jawa yang masih eksis hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh spiritual Hindu/Budha yang datang
sebelum Islam. Kejawen merupakan agama dan pandangan hidup orang Jawa, yang mengacu pada seperangkat tatanan hidup yang diyakini oleh masyarakat Jawa baik sebagai agama maupun sebatas nilai-nilai pandangan hidup dalam bingkai tradisi. Kejawen merupakan agama lokal yang diyakini dianut oleh leluhur orang Jawa, jauh sebelum kedatangan agama-agama Hindu, Budha, Kristen dan Islam. Sebagai tradsisi kejawen merupakan pandangan hidup yang berpengaruh dalam praktik keagamaan orang-orang Jawa dalam agama-agama di atas.
Kejawen merupakan salah satu pandangan dan praktik spiritual, yang pada umumnya memiliki persamaan yakni menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantarnya. Selain itu simbol- simbol yang berhubungan dengan tradisi Jawa seperti keris, wayang, gamelan, mantra menjadi sarana yang penting dalam praktik spiritual kejawen. Tuhan Yang Esa serta nilai-nilai keseimbangan hidup dan keluhuran budi menjadi dasar dari ajaran kejawen. Dua bentuk ritual yang biasanya dilakukan adalah: bertapa dan puasa (wawancara dengan Michel Indrawati 48 tahun, Ketua Yayasan Budilaksanapada 12 November 2018 di Pura Sahasra Adipura).
Perkembangan umat Hindu di Jawa Tengah pada mulanya lebih terkonsentrasi di wilayah di sekitar Candi Prambanan. Pada masa kini, perkembangan agama Hindu Jawa berlangsung secara berbeda-beda di setiap wilayah. Pada wilayah sekitar candi, seperti Yogyakarta, perkembangan agama Hindu lebih bersifat sporadis. Sementara di wilayah Klaten perkembangan Hindu Jawa mengalami persentase tertinggi. Cukup sering terjadi bahwa keberadaan candi atau situs Hindu di suatu daerah akan berpengaruh bagi masyarakat lokal untuk menghubungkan diri kembali dengan agama Hindu.
Tahun 1967 tersebar informasi di masyarakat bahwa mengikuti salah satu agama yang dianggap sah sesuai Undang Undang merupakan solusi terbaik bagi mereka yang belum masuk agama tertentu yang ada di Indonesia. Informasi ini muncul sebagai dampak dari kekhawatiran masyarakat saat itu, khususnya pasca Gerakan 30 September 1965. Sebagian masyarakat menduga, bila ada di antaranya yang belum menganut salah satu agama yang diakui di Indonesia, kemungkinan akan
“dicap” sebagai komunis. Kondisi itu kemudian direspon oleh pemerintah waktu itu dengan memfasilitasi usaha penyuluhan dari tokoh-tokoh berbagai agama kepada masyarakat—yang sering disebut sebagai—kejawen, agar dapat segera menentukan pilihan agamanya. Pilihan itu selanjutnya akan segera disahkan melalui sistem administrasi kependudukan, yakni pembuatan identitas diri dalam bentuk Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Sebagian dari kalangan masyarakat kejawen menyatakan bahwa esensi ajaran agama Hindu tampaknya lebih banyak memiliki kesesuaian dengan dasar ajaran kejawen (hasil wawancara dengan Anak Agung Darmaja 54 tahun, TNI AD Kodam Diponegoro pada tanggal 10 November 2018, di Pura Giri Natha Semarang).
Tanggal 29 Maret 1967 menjadi tonggak perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah, yakni ketika penganut kejawen yang dipimpin oleh seorang tokoh spiritual kejawen yang berasal dari keluarga lingkungan keraton Baluwarti Surakarta, R.Hardjanta Pradjapangarsa, melakukan upacara sudhiwadani atau melaksanakan konversi ke agama Hindu yang diadakan oleh Parisadha Hindu Dharma Yogyakarta (Dra. Nukning Sri Rahayu, M.SI: 31-32). Upacara ini merupakan upacara yang wajib dilakukan bagi umat non Hindu yang ingin memeluk agama Hindu. Upacara ini tidak saja berfungsi sebagai pencatatan administratif bagi yang menjalankannya, tetapi juga bermakna sebagai bentuk penyucian diri dan pernyataan spiritual bahwa yang bersangkutan siap melaksanakan seluruh ajaran agama Hindu. Dalam pidato sambutan acara itu dikatakan bahwa Bali menjadi benteng terakhir dari kebudayaan Hindu Majapahit, yang khususnya dipancarkan dari daya magis Pura Besakih, Pura Silayukti, Gunung Agung dan Gunung Rinjani. Perkembangan umat Hindu di Jawa Tengah ini juga didorong oleh adanya migrasi orang-orang Bali terutama dari wilayah Kabupaten Karangasem di Bali Timur ke luar Bali setelah Gunung Agung meletus pada tahun 1963.
Selanjutnya R. Hardjanta Pradjapangarsa giat melakukan perjalanan ke wilayah Surakarta dan sekitarnya yaitu Karanganyar, Boyolali, dan Klaten untuk memberi motivasi bagi penganut kejawen/ kebatinan untuk melakukan upacara
sudiwardaniyang menetapkan Hindu sebagai pilihan agama yang dianutnya. Mayoritas dari mereka memilih untuk memeluk agama Hindu, karena menurut mereka ada kedekatan prinsip dalam pemahaman dan kebiasaan dalam implementasi kepercayaan mereka dengan Agama Hindu (hasil wawancara dengan Atmo Sentono 60 tahun, Pemangku Pura Tunggal Ika Desa Kemuning, pada 12 November 2018, di Desa Kemuning). Sekitar 12.000 orang di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, dan 10.000 orang di Candi Prambanan mengikuti upacara sudiwardani secara massal sebagai tanda bahwa mereka memutuskan untuk konversi memeluk agama Hindu. Suatu jumlah yang sangat besar, sehingga sempat terjadi kekurangan surat formulir pernyataan. Muncullah kemudian kantong-kantong wilayah pemukiman masyarakat Hindu (Jawa) yang lebih besar, dan terutama menyebar di empat kabupaten tersebut di atas.
Untuk memperdalam pengetahuan agama Hindu sejumlah pemudaantara lain bernama Sri Djangkung Djaka Sularsa dan Sutarta dikirim ke Bali. Siswa-siswa ini kemudian berhasil kembali ke daerahnya sebagai pinandita. Aktivitas dan keberhasilan tokoh spiritual kejawen dari keraton Surakarta ini dalam memotivasi umatnya melakukan konversi agama Hindu, pada gilirannya telah menempatkannya sebagai wakil ketua PHDI Provinsi Jawa Tengah (Hasil wawancara dengan Cleo 55 tahun, staf pengurus Yayasan Budhilaksana pada 12 November 3018, di Pura Sahasra Adipura).
Sebagai bentuk antisipasi terhadap Penetapan Presiden I Tahun 1965 tentang agama yang diakui adalah Islam, Kristen, Budha dan Hindu Dharma, R. Hardjanta membentuk Yayasan Sanatana Dharma Majapahit Pancasila (Sadharmapan). Yayasan ini memiliki dasar pada Ketuhanan Yang Maha Esa, dan bertujuan untuk mengantarkan warganya mencapai kebahagiaan lahir batin dalam masyarakat Pancasila. Sebagai titik tolak dari perkembangan umat Hindu di Jawa Tengah, bisa dikatakan bermula dari daerah di Surakarta dan sekitarnya. Konversi agama Hindu secara massal yang diikuti oleh pengiriman siswa ke Bali, dan berhasil lulus sebagai pinandita, serta penyelenggaraan pendidikan spiritual Hindu yang dikelola oleh Sadharmapan, menjadi elemen-elemen penting yang mendorong gerak dinamika
perkembangan sejarah Hindu di wilayah Jawa Tengah. Dari tempat ini terjadi mobilitas umat ke berbagai wilayah lainnya, seperti Klaten, Boyolali dan ibukota Jawa Tengah, Semarang.
Hal ini terjadi karena latar belakang antara lain pekerjaan, melanjutkan pendidikan, bahkan perkawinan.
Kabupaten Klaten yang dianggap sebagai salah satu kan- tong umat terbesar di Jawa Tengah, sebagian besar umatnya berasal dari pengikut kejawen atau yang sering disebut sebagai kaum Islam Abangan. Melalui bimbingan dan pengajaran le- wat siaran RRI dari tokoh-tokoh Kejawen/Hindu,S.H. Soebard- jo, Supanggih dan Rama Hardjanta, kaum kejawen melakukan konversi ke agama Hindu. Dengan demikian opsi bagi mereka untuk segera menentukan pilihan kepada agama - agama yang diakui pemerintah pasca tahun 1965, menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya perkembangan jumlah umat Hindu di Jawa Tengah, terutama di Klaten. Di sisi lain peristiwa ini juga mengungkapkan adanya kesesuaian unsur falsafah ajaran ke- jawen dengan ajaran agama Hindu (R.W. Hardjanta, 1955: 8-10).
Sementara itu di ibukota Semarang dinamika perkembangan Hindu boleh dikatakan terjadi pada tahun 1979. Umat Hindu di daerah ini merupakan migran dari daerah lain (Boyolali, Klaten) karena alasan pekerjaan, dan pendidikan. Kebanyakan di antara mereka berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil, Tentara Nasional Indonesia, wiraswasta dan mahasiswa.
Foto 14. Upacara persembahyangan menjelang Sudhiwadani di Candi Prambanan (Koleksi Pribadi)
Foto 16. Umat Hindu Jawa Tengah menjelang upacara
persembahyangan di Candi Prambanan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Foto 17. Seorang tokoh spiritual Kejawen R.W Harjanta Prajapangarsa, yang mengarahkan umatnya melaksanakan
konversi Agama Hindu (Sumber: Koleksi Pribadi)