• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBERADAAN UMAT DAN BUDAYA HINDU KINI

Dalam dokumen Cover Dinamika Hindu-Cetak (Halaman 152-168)

Sulandjari

B. KEBERADAAN UMAT DAN BUDAYA HINDU KINI

persembahyangan di Candi Prambanan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Foto 17. Seorang tokoh spiritual Kejawen R.W Harjanta Prajapangarsa, yang mengarahkan umatnya melaksanakan

konversi Agama Hindu (Sumber: Koleksi Pribadi)

di desa Sidomukti. Meskipun terkonsentrasi di desa-desa itu, mereka tinggal bersama dengan masyarakat agama lain, seperti Islam dan Kristen. Secara umum masyarakat di wilayah ini masih melakukan tradisi Jawa yang sejak lama menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan mereka. Upacara tradisi yang menunjukkan siklus hidup manusia, selalu diikuti dengan taat, karena ini menyangkut tentang hubungan mereka sebagai manusia dengan leluhur dan Tuhannya. Upacara-upacara itu wajib dilakukan, mengingat bahwa manusia telah mendapat berkah dan perlindungan-Nya, disamping itu upacara itu juga merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur atau nenek moyang yang telah memelihara mereka dari segala sifat dan perbuatan jahat di dunia ini (wawancara dengan Wasi Atmo, di Pura Tunggal Ika, pada 15 November 2018).

Mereka tinggal di lingkungan masyarakat yang memiliki agama yang berbeda. Menariknya mereka lebih suka disebut sebagai masyarakat kejawen yang pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan pengepul (hasil wawancara dengan Cipto Wiyono, Penarik Restribusi Candi Sukuh, pada 12 November 2018). Sementara itu, pada beberapa wilayah Jawa Tengah lainnya seperti Kabupaten Jepara, Sragen dan Sukaharja hanya terdapat sedikit jumlah umat dengan pola hunian berbaur di tengah umat lain. Pada umumnya kehidupan umat yang beragam dengan pola hunian yang membaur ini berlangsung dengan toleransi yang tinggi.

Tabel 13: Umat Hindu Provinsi Jawa Tengah 2017 Hasil Sinkronisasi

No. Kab/ Kota Jumlah Umat

1. Kabupaten Cilacap 1.278

2. Kabupaten Banyumas 1.250

3. Kabupaten Purbalingga 92

4. Kabupaten Banjarnegara 142

5. Kabupaten Kebumen 352

6. Kabupaten Purworejo 121

7. Kabupaten Wonosobo 1.278

8. Kabupaten Magelang 230

9. Kabupaten Boyolali 4.702

10. Kabupaten Klaten 17.740

11. Kabupaten Sukaharja 621

12. Kabupaten Wonogiri 145

13. Kabupaten Karanganyar 4.713

14. Kabupaten Sragen 2.775

15. Kabupaten Grobogan 394

16. Kabupaten Blora 166

17. Kabupaten Rembang 193

18. Kabupaten Pati 123

19. Kabupaten Kudus 73

20. Kabupaten Jepara 657

21. Kabupaten Demak 469

22. Kabupaten Semarang 762

23. Kabupaten Temanggung 515

24. Kabupaten Kendal 470

25. Kabupaten Batang 75

26. Kabupaten Pekalongan 721

27. Kabupaten Pemalang 271

28. Kabupaten Tegal 787

29. Kabupaten Brebes 147

30. Kabupaten Magelang 175

31. Kota Surakarta 1.042

32. Kota Salatiga 762

33. Kota Semarang 17.258

34. Kota Pekalongan 220

35. Kota Tegal 178

Jumlah 60.896

Sumber: Data Dalam Angka, Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Jawa Tengah

Data tersebut di atas menunjukkan bahwa diaspora umat Hindu yang terjadi di seluruh wilayah Jawa Tengah, dan khususnya berpusat di empat bagian wilayah Jawa Tengah sebagaimana telah disebutkan di awal. Kondisi tersebut berimplikasi pada terjadinya saling memengaruhi antara perilaku budaya Jawa dan Bali, atau lebih tepatnya terutama di kota-kota besar, seperti Semarang dan Surakarta terjadi interaksi dan percampuran antara Hindu Kejawen dan Hindu Bali. Beberapa dosen dan mahasiswa di kampus lembaga pendidikan negeri/

swasta di wilayah perkotaan (Universitas Diponegoro dan Universitas Sebelas Maret) menjadi awal dari terjadinya interaksi budaya Jawa dan Bali atau lebih tepatnya Hindu Jawa dan Hindu Bali.

Mengenai profil umat di Jawa Tengah, secara garis besar terdiri atas Pegawai Negeri Sipil (PNS), polisi,TNI, pengusaha, dan petani. Profesi sebagai politisi, misalnya selaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang aktif dalam kegiatan partai politik, hingga saat ini masih kurang. Adapun dalam kegiatan organisasi, pengembangan peran wanita cukup signifikan. Pada wilayah Kota Semarang, Kabupaten Klaten, dan Surakarta, aktivitas mereka cukup menonjol terutama di bidang pembinaan pemuda dan wanita. Pada umumnya mereka lebih banyak terlibat dalam pemberdayaan umat di bidang seni dan budaya yang dilakukan lewat media TVRI dan RRI (wawancara dalam FGD Pada 10 November 2018 di Pura Girinatha Semarang). Terkait dengan itu adalah kegiatan umat dalam melaksanakan atau memaknai konsep budaya (Jawa), melalui pelaksanaan tradisi budaya seperti selamatan, nyekar (bersembahyang dan menabur bunga) di makam keluarga/leluhur pada bulan Suromenurut kalender Jawa. Meskipun demikian, umat di kota seperti Semarang tidak begitu mengenal cerita rakyat yang sebenarnya mengandung ajaran moral dibanding umat di daerah lain atau di kota yang lebih dekat dengan budaya keraton, seperti Surakarta dan daerah sekitarnya. Dengan kata lain, tradisi lokal Jawa tampak lebih melekat pada praktik hidup umat Hindu di daerah, daripada di ibukota/Semarang. Napas modernisasi misalnya lebih terasa dalam gaya hidup umat di perkotaan, sebagai contoh adalah gaya berbusana umat ketika mulai memasuki areal pura.

Mereka tampak membedakan gaya berbusana sesuai dengan tujuan mereka ke pura. Pakaian nasional menjadi pilihan ketika mereka hanya memasuki areal pura di bagian wantilan. Sedikit berbeda dengan umat yang ingin memasuki areal Pura Mandiri Seta di Baluwarti Surakarta misalnya, umat biasa menggunakan busana adat Jawa. Akan tetapi ketika upacara persembahyangan di pura, pada umumnya pengaruh Bali lebih tampak. Ini terlihat dari busana adat yang dikenakan umat yang menunjukkan gaya berpakaian seperti kebiasaan umat Hindu di Bali.

Upacara Keagamaan

Pada umumnya tradisi setempat akan berpengaruh lebih mendalam terhadap hakekat dari perilaku beragama umat.

Apalagi di tengah derasnya pengaruh budaya global yang identik dengan modernisasi, yang salah satu subnya adalah pemikiran tentang efisiensi dan rasionalisasi. Pada gilirannya, bagi umat setempat perilaku Hindu akan lebih dimaknai sebagai pelaksanaan tradisi dan agama yang lebih efisien, baik dari aspek waktu, kepentingan dan biaya. Di sisi lain bagi umat pendatang, hal itu akan menciptakan pemikiran dan perilaku beragama secara lebih terbuka dan toleran, paling tidak selama mereka tinggal dan melangsungkan hidupnya di tempat mereka bekerja (wawancara dengan Drs. I Nyoman Suludi, M.Pd, M.Si, dosen UNS Surakarta, pada tanggal 16 Februari 1952). Pada wilayah pedesaan, yakni di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar, upacara keagamaan dilakukan dengan cara tradisi setempat.

Upacara yang dipimpin oleh seorang pemangku di Candi Cetho, Kabupaten Karanganyar, misalnya adalah odalan yang berlangsung pada hari Selasa Kliwon atau Malam Rabu Manis.

Adapun di Candi Sukuh, masih di Kabupaten Karanganyar, pada saat bulan Suro masyarakat setempat melakukan makemit(sembahyang yang dilakukan semalam suntuk) dengan menyampaikan sesaji. Menurut konsep Jawa sesuai yang mereka yakini, sesaji dalam wujud apapun itu tidak masalah, yang penting isinya terdiri dari: palawija, kelapa,dan benang putih yang ditempatkan pada tempat berbentuk cething(tempat nasi) yang terbuat dari bambu/plastik. Bahan sesaji lain yang diperlukan adalah jenang liman (bubur berwarna 5 (lima) macam), yang memiliki makna filosofis sebagai 5 kiblat dan 4 pancer, yakni warna kuning, merah, putih, hitam mengitari warna coklat di tengah-tengah.

Upacara agama Hindu yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Candi Sukuh dan Cetho ini adalah Hari Raya Nyepi.

Bantennya berupa daksina yang ditempatkan di cething dengan jajan (kue) pasar, serta nasi beserta lauk pauknya. Banten ini adalah merupakan persembahan kepada leluhur. Komponen wajib yang harus ada dalam setiap sesaji adalah buah-buahan, seperti pisang. Menurut konsep falsafah Jawa, buah itu harus dimakan yang paling terakhir karena pisang ini berfungsi untuk menghindari hal-hal yang buruk yang setiap saat mengancam

manusia. Para penganut Hindu Jawa (kejawen) meyakini konsep ini dan tidak berani untuk melanggarnya (wawancara dengan Kasmin, Pengelola di Candi Sukuh pada 12 November 2018).

Tradisi budaya lain yang hingga kini masih dijalankan oleh masyarakat Hindu Jawa adalah seperti tingkeban yakni upacara yang dilakukan ketika kehamilan wanita sudah mencapai umur 8 bulan, dengan tujuan agar proses melahirkan nanti berlangsung dengan lancar dan selamat. Biasanya tetangga akan diundang untuk ikut menyaksikan jalannya upacara sambil diberi bancaan (berupa nasi gudangan/ sayur-sayuran dan dawet). Ini semua melambangkan kesuburan dan kebahagiaan menyambut calon bayi lahir ke dunia. Setelah bayi lahir dengan selamatada proses upacara lagi yang harus dilakukan disebut sebagai upacara selapanan. Upacara ini dilakukan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan kepada bayi. Selain upacara untuk memaknai kelahiran, umat juga menjalankan ritual terkait dengan kematian. Menariknya, pada setiap upacara kematian, masyarakat Hindu Jawa menghendaki upacara dipimpin oleh seorang pemangku (hasil wawancara dengan Priyanta Ketua Parisadha Kecamatan Ngargoyoso pada 12 November 2018 di Pura Tunggal Ika).

Pusat aktivitas ritual lain umat Hindu ialah di sekitar lereng Gunung Lawu, Dusun Jlono, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, tepatya pada setiap pergantian Tahun Saka, mulaidari upacara Tawur Kesanga hingga pelaksanaan Catur Brata. Dusun kecil yang terletak di lereng Gunung Lawu ini dihuni oleh sekitar 60 keluarga, dan sekitar setengahnya adalah penganut Hindu,sisanya pemeluk Islam dan Kristen. Karena banyak pemeluk Hindu yang sudah lama bermukim di sini, maka wilayah di lereng utara GunungLawu itu disebut sebagai Bali Kecil.Mayoritas dari mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan para pengikut setia raja Majapahit terakhir yang diyakinimengasingkan diri menjelang kejatuhan Majapahit. Terkait dengan hal itu adalah ramalan Joyoboyo atau sumpah Sabdo Palon dan Naya Genggong yang meramalkan bahwa setelah runtuhnya kekuasaan Hindu, akan tiba waktunya ketikakekuatan Hindu akan kembali berjaya di Nusantara.

Adapun hubungan internal antarwarga yang diwarnai

dengan rasa toleransi juga memengaruhi pandangan umat Hindu Jawa di Karanganyar terhadap budaya/tradisi Hindu dari Bali. Dalam pelaksanaan upacara keagamaan, pemangku bebas menggunakan ikat kepala/udeng Bali atau Jawa. Dalam setiap upacara salah satu sarana sesaji yang harus ada adalah daksina , kemudian pada setiap hari raya Nyepi umat dengan khusuk akan mengikuti seperti umat di Bali mengikutinya, walau mereka lebih suka disebut sebagai umat Hindu Jawa, daripada Hindu Bali. (Wawancara dengan Kasimin, Penarik Restribusi Candi, pada12 November 2018).

Secara umum dapat dikatakan bahwa dalam praktik upacara keagamaan di wilayah Jawa Tengah terjadi semacam kolaborasi antara budaya Hindu Bali dan Hindu Jawa. Komponen yang kolaboratif tersebut dapat dilihat dari gaya busana upacara dan beberapa hari raya pelaksanaan ritual agama, seperti Melasti dan Tawur kesanga menjelang Hari Raya Nyepi yang diwarnai pesta arakan ogoh-ogoh seperti di Bali. Masyarakat Hindu Jawa di Kabupaten Boyolali dan Klaten melaksanakan praktik prosesi keagamaan ini dengan meriah tetapi khusuk. Sering terjadi bahwa dalam upacara ini melibatkan anggota masyarakat umat lain, baik yang menjalankan fungsinya sebagai anggota arakan ogoh-ogoh maupun ikut menjaga ketertiban dan keamanan jalannya prosesi ritual keagamaan ini. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa terjadi harmonisasi kehidupan beragama di wilayah ini. Terkait dengan hal tersebut, dalam aspek tujuan sesaji atau banten dalam praktik keagamaan sama dengan Hindu Bali, yakni untuk Tuhan, leluhur dan roh yang ada di sekitar manusia (wawancara dalam FGD, 10 November 2018 di Pura Girinatha Semarang).

Khusus di Klaten,kabupaten yang terdiri dari 26 kecamatan dan 400 desa ini memiliki total 47 pura. Oleh karenanya tradisi Bersih Desa menjadi wajib untuk diselenggarakan melalui upacara dengan doa dan sesajen. Doa pengiring biasanya yang diakhiri dengan ucapan Om Santhi, Santhi, Santhi, Om (Bali), tetapi setelah itu ditutup dengan ucapan bahasa Jawa “matur nuwun.“ Hal ini kiranya menjadi contoh lain betapa kentalnya budaya lokal Jawa di samping pengaruh dari Hindu Bali(hasil wawancara dalam FGD pada tanggal 13 November 2018, di kampus STHD Klaten). Dominasi budaya Jawa dalam praktik

hidup masyarakat Hindu Jawa juga terasa dari pernyataan bahwa

“....orang Hindu Bali meninggal dikremasi, tetapi orang Hindu Jawa meninggal dikubur...”

Adat Setempat

Mirip seperti di Bali, praktik ritual Hindu di Jawa Tengah cukup sulit dipisahkan dengan adat. Sebagai gambarannya adalah ritual Mendak Tirta yang merupakan tradisi umat Hindu Boyolali menjelang Nyepi. Menjelang Nyepi umat Hindu melakukan tradisi Mendak Tirtaatau Melasti (di Bali). Mendak Tirtaadalah tradisi umat Hindu Boyolali untuk mengambil air suci di sumber mata air Siraman Dalem Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali. Prosesi ritual ini diawali dengan kirab dari Pura Suci Saraswati Desa Ngaru-Aru, Pengging Banyudono.

Kirab diawali dengan doa dan menabuh kendang serta gamelan.

Upacara ini biasanya diikuti selain oleh umat Hindu di Boyolali, juga dari Surakarta dan Sukaharja. Dalam kirab yang menempuh perjalanan sekitar 1 km itu, umat bersama-sama mengarak (membawa dengan cara ditempatkan di kendaraan yang berjalan) gunungan beragam hasil bumi (yang disusun seperti gunung), sebagai wujud syukur atas berkah kesejahteraan dan kedamaian seluruh umat. Sesaji dan dua gunungan yang disebut gunungan lanangdan gunungan wadon itu kemudian dibawa menuju Umbul Ngabean di Desa Pengging. Air siraman Dalem Pengging ini merupakan satu dari tujuh mata air yang akan digunakan dalam ritual tawur kesanga. Enam sumber lainnya diambil dari Salatiga, Semarang, Klaten dan Sragen. Air dari ketujuh mata air tersebut dimanfaatkan sebagai sarana penyucian diri umat Hindu dengan alam semesta (hasil wawancara dalam FGD di STHD Klaten pada 13 November 2018). Ritual kemudian berlangsung dengan doa bersama di tengah asap harum dari kemenyan yang dibakar, setelah itu diakhiri diakhiri dengan rayahan (berebut secara ramai-ramai) gunungan yang terbuat dari berbagai jenis makanan tradisional.

Termasuk sebagai minoritas, umat Hindu di Boyolali tetap dapat menjalankan kegiatan kepercayaannya dengan baik.

Toleransi keagamaan masyarakat di Boyolali sangat tinggi. Umat Hindu di kabupaten ini tinggal lebih terkonsentrasi di Kecamatan

Banyudono, dan berada di empat desa, yakni Desa Ngaru- aru, Desa Jembungan, Desa Benda, dan Desa Kataon, sejumlah sekitar 400 orang. Salah satu wujud toleransi tinggi tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan ritual mendak tirta yang menjadi agenda tahunan di Kecamatan Banyudono, dan dipusatkan di Pura Buana Suci Saraswati, Desa Ngaru-aru. Pura yang dibangun pada tahun 1970-an ini termasuk salah satu pura terbesar dalam melaksanakan acara keagamaan umat Hindu.

Ritual mendak tirtadi Klaten biasa disebut sebagai melasti.

Pada wilayah ini acara ritual melasti uniknya juga dimaknai sebagai simbol terjaganyaloyalitas kepada negara. Melalui melasti, umat Hindu menjunjung solidaritas kebersamaan dan keutuhan NKRI. Jadi, manusia tidak saja menjaga hubungannya dengan alam semesta, tetapi juga dengan Tuhan dan sesamanya. Sebagai bangsa Indonesia,kiranya ikut menjaga persatuan, kebersamaan, dan keutuhan NKRI. Rangkaian upacara itu diadakan di Umbul Geneng, Desa Ngerundul, Kecamatan Kebonarum Klaten.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Klaten Wisnu Hendrata memaknai upacara melasti menjelang Hari Raya Nyepi sebagai upacara pembersihan alam semesta termasuk bumi pertiwi dan seisinya.

Salah satu wujud kepedulian dari pimpinan PHDI Provinsi Jawa Tengah terhadap kepentingan umat dalam menjalankan prosesi adat dan agama adalah diserahkannya bantuan seper- angkat gamelan oleh Pembimas Hindu Jawa Tengah kepada PHDI Kabupaten Karanganyar. Gamelan merupakan produk bu- daya untuk memenuhi kebutuhan seni bagi manusia. Gamelan Jawa menyuarakan irama musik yang lembut dan mencer- minkan keselarasan hidup, sebagaimana falsafah hidup yang menuntun praktik hidup masyarakat Jawa. Dalam ritual Hindu di Jawa, gamelan Jawa memegang peran penting dalam pelaksa- naan upacara keagamaan, mengingat gamelan Jawa merupakan pengiring tembang yang mengandung filosofis kehidupansep- erti: maskumambang, mijil, gambuh, kinanthi dan asmarandana.

Masing-masing gending ini menggambarkan tahap kehidupan manusia sejak lahir sampai saatnya menghadap ke hadirat-Nya.

Secara umum, fungsi gamelan antara lain sebagai iring-iringan tari, iring-iringan upacara adat dan agama, pertunjukan way-

ang, dan upacara pernikahan. Intinya gamelan berfungsi sebagai sarana untuk mempertahankan tradisi budaya warisan leluhur (http://phdi.or.id/beritapembimas-hindu-jateng-serahkan-bantuan- gamelan-pada-phdi-kab-karanganyar).

Adat yang menjadi bagian dari budaya, seringkali menjadi aset penting yang menarik bagi wisata budaya karena masih dipelihara dan dijaga keberadaannya. Beberapa adat di wilayah Boyolali ini terdiri dari bentuk ritual dan permainan anak di antaranya :

a. Sedekah Gunung

Upacara ini diselenggarakan di Desa Lencoh Kecamatan Selo setiap malam 1 Suro. Acara ini merupakan prosesi persembahan kepala kerbau dan sesaji ke kawah gunung Merapi sebagai tanda syukur masayarakat Surakarta dan sekitarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upacara ini dimeriahkan dengan tarian dan atraksi oleh masyarakat setempat pada pukul 22.00-24.00, dan diakhiri dengan kirab potongan kepala kerbau serta gunungan nasi jagung sebagai sesaji yang diletakkan di pasar. Ada tiga acara utama dalam upacara ini, yakni kirab kepala kerbau;

kirab sesaji Gunung Merapi, serta kirab ratusan obor. Tradisi ini bermula dari ritual tolak bala yang dilakukan Pakubuwana X dari Kasunanan Surakarta, dengan menumbalkan seekor kerbau ke Gunung Merapi. Kini masyarakat hanya menumbalkan bagian kepalanya saja.

b. Kirab Budaya

Tradisi ini berada di Desa Samiran Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, dan dilaksanakan setiap tanggal 2 Suro dan dimulai dari pelataran gua raja, yang diyakini dulu sebagai tempat peristirahatan Pangeran Diponegoro. Kirab ini dimulai dengan pengambilan air suci di tempat itu kemudian diarak beserta iring- iringan nasi tumpeng dan hasil bumi dari kawasan sekitar Selo.

Ribuan warga ikut serta mengiringi arak-arakan tumpeng dan air tersebut, dengan berpakaian adat, menuju ke pesanggrahan Kebo Kanigara untuk menyatukan air yang diambil dari Gua Raja dengan air dari pesanggrahan Kebo Kanigoro.

c.Sadranan

Sadranan merupakan tradisi masyarakat untuk mem- bersihkan makam leluhur, serta ziarah ke kubur dengan me- nyampaikan doa yang diiringi kenduri yang berupa berbagai kue atau jajanan pasar dan nasi tumpeng. Tradisi ini dilakukan setiap tahun pada setiap pertengahan bulan Ruwah (penanggalan Jawa) menjelang datangnya bulan Ramadhan. Selain berdoa kepada leluhur, dan keluarga yang telah meninggal, sadranan bertujuan pula untuk melestarikan budaya peninggalan nenek moyang yang sudah berlangsung turun temurun. Acara dimulai dengan membersihkan makam, kemudian dilanjutkan dengan nyekar (menabur bunga di atas makam) sambil berdoa bersama. Setelah itu dilanjutkan dengan makan bersama. Sadranan diikuti tidak hanya oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

d.Ngalap Berkah Paringan Apem Kukus Keong Emas

Upacara ini dilakukan di kawasan wisata Pengging di lingkungan makam Astana luhur R.Ng.Yosodipuro pada hari Jumat pertengahan Bulan Sapar. Beliau adalah seorang pujangga Kasunanan keraton Surakarta. Masyarakat Pengging sering memohon petunjuk atas segala masalah yang terjadi, di samping itu para petani memohon bantuannya untuk mengatasi serangan hama keong mas. Petani kemudian mengambil keong mas, dan kemudian dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janur yang dibentuk seperti keong mas. Setiap panen, janur bekas balutan keong mas itu digunakan untuk membuat apem kukus.

Apem kukus itu kemudian dibagi-bagikan kepada petani sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas hasilpanen yang diberikan, serta berkurangnya hama keong. Tradisi bagi-bagi apem hingga kini masih tetap dijalankan. Bagi masyarakat yang berhasil mendapatkan apem, yakin bahwa hidupnya akan dipenuhi dengan berkah.

e.Ritual Kungkum di Pemandian Tirto Marto

Pemandian ini terletak di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono.

Pemandian ini dahulu digunakan oleh raja Kasunanan Surakarta dan keluarganya. Di dalam pemandian ini terdapat tiga buah umbul, yakni umbul penganten,umbul ngabean,dan umbul

duda. Kini di pemandian ini sering digunakan oleh peziarah untuk mengadakan ritual kungkum, yakni ritual merendam diri peziarah di dalam air sebatas leher yang dimulai pukul 24.00- 03.00 pada setiap malam Jumat.

f.Legenda Bandung Bondowoso

Masyarakat percaya bahwa dulu Kerajaan Pengging—bersamaan waktunya dengan Kerajaan Boko di Prambanan—dipimpin oleh seorang raja yang arif bernama Prabu Damar Moyo dan memiliki anak bernama Bandung Bondowoso. Pria inilah yang terkait dengan legenda Roro Jongrang dan Candi Prambanan.

g.Pengging Fair

Untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI, di Desa Pengging Kecamatan Banyudono diselenggarakan pasar malam dan festival seni budaya yang berlangsung setahun sekali, selama satu minggu pada bulan Agustus. Pasar malam dimeriahkan oleh pedagang setempat mapun dari luar daerah. Hal ini merupakan peristiwa penting bagi masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi dan kreativitas ekonominya.

h. Makam Ki Ageng Kebo Kenanga

Makam terletak di di Dukuh Pengging, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono. Tokoh ini juga dikenal sebagai Ki Ageng Pengging. Puteranya bernama Joko Tingkir, kemudian menjadi Sultan Hadiwijaya, merupakan pendiri Kesultanan Pajang.

Banyak orang mengunjungi tempat ini untuk bersemedi dengan berbagai tujuan. Menurut Babad Tanah Jawi, Kebo Kenanga bersahabat dengan Syech Siti Jenar yang kemudian terlibat konflik dengan Kesultanan Demak.

i.Candi Lawang

Candi Lawang merupakan candi Hindu abad ke-9. Asal katanya adalah lawang yang berarti pintu, karena bentuk pintunya yang cukup unik. Seperti candi Hindu pada umumnya, Candi Lawang juga menghadap ke barat. Pada ruang utamanya terdapatyoni, tetapi tidak ada lingga. Yoni ini memiliki saluran berlubang sebagai tempat keluarnya air. Pada sekeliling candi tidak ditemukan

Dalam dokumen Cover Dinamika Hindu-Cetak (Halaman 152-168)