• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecenderungan Masyarakat Indonesia

BAB II POLA HIDUP

D. Kecenderungan Masyarakat Indonesia

Perang ideologi-kultural semakin membara setelah berdirinya masyarakat modern. Maka masyarakat tradisional menegaskan peperangan yang menyeluruh melawan kekuatan imperialisme asing, sebagaimana mereka menegaskan penentangan terhadap kelompok-kelompok lokal yang menjadi eksponen pembaruan versi Barat. Perlu diketahui bahwa secara sosiologis masyarakat sedang mengalami perubahan sosial yang cepat akibat globalisasi, akibatnya bisa dirasakan, khususnya di sekmen-sekmen masyarakat tertentu telah mengalami disorientasi, dislokasi dan alienasi yang semuanya sangat kondusif bagi timbulnya keresahan sosial.33

Secara historis, masyarakat modern lahir dalam lingkup disintegrasi, sehingga negerinya pun berwatak disintegratif.

Padahal lembaga-lembaga ekonomi dan kebudayaannya merupakan institusi lokal. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masyarakat modern merupakan produk undang-undang disintegrasi yang berdampingan dengan agama dan melahirkan disintegrasi dalam berbagai hal.

Sebagai perbandingan, perlu diketahui bahwa masyarakat tradisional lahir, tumbuh, dan mengalami dinamika dalam ayoman integrasi Islam yang lebih luas selama kurang lebih tiga belas abad, kemudian mengalami kemunduran dan dikalahkan oleh masyarakat modern dengan imperialisme dan batasan- batasan disintegrasinya. ltulah sebabnya, masyarakat tradisional merasa tertekan hidup di bawah sistem disintegrasi. Secara historis dan teologis, Islam memang paling tepat bagi mereka.34

33Asep Syaefudin, Merukunkan Umat Beragama (Jakarta:Grafindo Khazanah Ilmu, 2007), 185.

34http://akarsejarah.wordpress.com/2010/09/30/disintegrasi-integrasi-dan- tipologi-masyarakat, diakses 18 Juni 2015

Pada awal mulana diuraikan tentang teori agresifitas individu.

Freud mengatakan bahwa sifat agresifitas manusia merupakan kecenderungan alami untuk merusak, memperoleh kekuasaan mutlak atau untuk mempertahankan diri.7 Pemikirannya dikembangkan berdasarkan pada dorongan libido sex manusia.

Pada prinsipnya, individu mempunyai kecenderungan berperilaku agresif-sadisme harus dipahami sebagai bagian dari unsur perasaan dan luapan cinta. Manusia tidak dapat menolak yang satu lalu menerima yang lain sebab kedua unsur merupakan satu kesatuan sifat dasar manusia. Namun sesudah pengalaman Perang Dunia Pertama, pemikiran Freud berkembang. Ia memisahkan kesatuan antara sifat agresifitas yang cenderung merusak dan ungkapan cinta. Perilaku yang cenderung menghancurkan semua obyek yang tidak disukai merupakan wujud dari ego membenci. Jadi manusia bukan hanya mempunyai insting mempertahankan kesatuan-kesatuan yang serasi (yakni cinta) namun sekaligus pada diri manusia terkandung hasrat yang berlawanan yakni untuk menceraiberaikan bahkan menghancurkan keutuhan melalui agresifitas. Kemungkinan akan terjadi penghancuran semua obyek yang tidak disukai merupakan sumber insting agresifitas. Agresifitas akan lebih meningkat kadarnya jikalau mendapat hambatan besar. Oleh karena itu, perlu ada penyaluran agresifitas secara normal sebab jika agresifitas dikekang maka akan menimbulkan gangguan mental. Demikianlah Freud memberikan jalan keluar untuk mengatasi kecenderungan eskalasi ekerasan dan menghindari gangguan mental. Pendekatan Freud biasanya disebut juga pendekatan “Instingfisisme”. 35

35Transformasi Masyarakat Menuju Masyarakat Tanpa Kekerasan: Sumbangan Teologi bagi Praksis Pembebasan oleh: Pdt. Yuberlian Padele, M.Th (dari: Jurnal INTIM - Jurnal Sekolah Tinggi Theologi di Indonesia Bagian Timur, STT Intim Makassar, dalam http://www. Oaseonline .org/artikel/lian01.html. diakses 20 Juni 2015

Berbeda dengan Freud. Pendekatan yang dikembangkan oleh Skinner biasanya disebut dengan pendekatan

“Behaviorisme”. Pendekatan ini lebih mempertimbangkan hubungan timbal balik antara individu yang secara sengaja terbentuk melalui “pembiasaan” baik melalui mekanisme masyarakat lingkungannya. Faktor pendidikan individu mengikuti mekanisme masyarakat lingkungan, dipertimbangkan sebagai yang mempengaruhi pembentukan individu manusia dan bukan karena naluri (berlawanan dengan Freud). Sebagai contoh: salah satu kecenderungan masyarakat feodalistis, yakni tidak akan memberikan kesempatan kepada individu dari strata tertentu, misalnya strata yang lebih rendah, untuk mengembangkan potensinya secara bebas, sama seperti kebebasan yang dimiliki oleh strata lain. Namun dalam masyarakat yang sudah berubah, masyarakat modern yang cenderung lebih dinamis, setiap individu memiliki kesempatan yang terbuka untuk mengembangkan kemampuan ke arah yang lebih trampil yang lebih profesional. Oleh karena yang dipentingkan dalam dunia industri sekarang ini, yakni ketrampilan individu yang profesional. Hal ini akan mengakibatkan pergeseran peran- peran utama dalam masyarakat. Kemampuan untuk hidup (life skill) akan mengembangkan kemampuan seseorang untuk berperan dalam masyarakat dan memasuki pasar tenaga kerja.36

Peran-peran utama dalam masyarakat bukan lagi berdasarkan cara-cara masyarakat tradisional, yakni yang

36Zamroni, Paradigma Pembangunan pendidikan Nasional Dalam Mewujudkan Peradaban Bangsa dalam Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru (Jakarta:

Gramedia Widiasarana Indonesia bekerja sama dengan Center For Education and Community Development Studies, 2002), 41.

lebih memperhitungkan garis keturunan tertentu yang mempunyai hak-hak istimewa, namun peran-peran istimewa dan yang dihargai dalam masyarakat sekarang ini yaitu individu-individu yang memiliki ketrampilan-ketrampilan dan kecakapan khusus (profesional). Pertanyaannya yang muncul yakni, apakah yang dapat dikatakan dengan perubahan-perubahan peran yang terjadi dalam masyarakat?

Skinner memberi makna terhadap pergeseran peran-peran dalam masyarakat. Menurut dia, pergeseran peran-peran dalam masyarakat sekarang ini, merupakan akibat dari kesadaran untuk mempertahankan dua sisi sekaligus: sisi ideal maupun daya cipta setiap elemen.11 Kedua unsur inilah yang merupakan kunci, yang memungkinkan terjadinya suatu perubahan. Unsur eksploitasi mendapat ruang yang besar dalam kerangka mempertahankan ke dua sisi, yaitu mempertahankan sifat ideal dan kekuatan mencipta saling tarik menarik. Kemungkinan eksploitasi akan terjadi.

Hanya saja, Skinner memaknai eksploitasi secara positif.

Setiap elemen menjadi sangat kreaktif untuk menciptakan tehnik-tehnik persaingan yang semakin ketat dalam mempertahankan atau merebut posisi.

Teknik-teknik yang dipakai dalam persaingan dapat juga menimbulkan penolakan satu terhadap yang lain. Tetapi menurut Skinner, tidak semua penolakan menimbulkan frustrasi atau sikap ingin menyerang lawan. Penolakan yang dilakukan karena unsur kerelaan berdasarkan kesepakatan merupakan pelarangan namun sebaliknya penolakan yang disertai unsur paksaan merupakan kesewenang-wenangan. Yang terakhir inilah yang akan menimbulkan agresifitas.12 Misalnya, seorang anak kecil yang sedang asyik bermain kelereng, tiba-tiba dihentikan keasyikannya oleh pengasuhnya. Rasa kecewa anak tersebut

dapat menimbulkan berbagai sikap, entahkah marah, menangis, berteriak, merontak dan lain-lain. Perlakuan sang pengasuh akan dimasukan dalam kategori tindakan sewenang-wenang (tidak adil), jikalau sang anak memberi reaksi yang ditimbulkan akibat penghambatan keasyikan sang anak mengandung unsur paksaan. Namun jikalau penghentian keasyikan yang dilakukan karena berdasarkan kesepakatan - misalnya karena mengingatkan bahwa telah habis waktu untuk bermain sesuai yang sudah disepakati sebelumnya - merupakan kategori pelarangan. Jikalau mekanisme kerja lingkungan masyarakatnya lebih cenderung menekankan prestasi, persaingan sehat, kerjasama antar elemen dan bukan saling meniadakan, menjaga agar kesepakatan tidak diingkari, maka individu akan terdidik menyesuaikan dengan mekanisme masyarakat lingkungannya.

Inilah yang dimaksud oleh Skinner, bahwa perilaku individu akan dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, agama, dan bukan insting manusia. Oleh karena itu, pendekatan ini sering juga disebut “Environmentalisme”.37

Rowan Gibson menggambarkan betapa sulitnya memprediksi masa depan dalam sebuah metafora berikut : The lesson of the last three decades is that no body can drive to the future on cruise control. Kesulitan untuk meprediksi masa depan ini terjadi karena sistem kehidupan di era global memaksa semua orang bahkan negara harus berada dalam keadaan saling tergantung.38 Menurut Arstein (dalam Panudju,1999:69-76)

37Transformasi Masyarakat Menuju Masyarakat Tanpa Kekerasan:

Sumbangan Teologi bagi Praksis Pembebasan oleh: Pdt. Yuberlian Padele, M.Th (dari:

Jurnal INTIM - Jurnal Sekolah Tinggi Theologi di Indonesia Bagian Timur, STT Intim Makassar, dalam http://www.oaseonline.org/artikel/lian01.html. 20 Juni 2015

38R. Gibson, Rethinking Business dalam Rowan Gibson, Rethinking the Future (London : Nicholas Brealey Publishing limited, 1997), 1.

tingkat peran serta masyarakat atau derajat keterlibatan masyarakat terhadap program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah digolongkan menjadi delapan tipologi tingkat peran serta masyarakat. Secara garis besar tipologi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Manipulation atau manipulasi

Tingkat peran serta ini adalah yang paling rendah dimana masyarakat hanya dipakai namanya sebagai anggota dalam berbagai badan penasihat advising board. Dalam hal ini tidak ada peran serta masyarakat yang sebenarnya dan tulus, tetapi diselewengkan dan dipakai sebagai alat publikasi dari pihak penguasa.

2. Therapy atau penyembuhan

Dengan berkedok melibatkan peran serta masyarakat dalam perencanaan, para perancang memperlakukan anggota masyarakat seperti proses penyembuhan pasien dalam terapi. Meskipun masyarakat terlibat dalam banyak kegiatan, pada kenyataannya kegiatan tersebut lebih banyak untuk mengubah pola pikir masyarakat yang bersangkutan daripada mendapatkan masukan dari mereka.

3. Informing atau pemberian informasi

Memberi informasi kepada masyarakat tentang hak- hak mereka, tanggung jawab dan berbagai pilihan, dapat menjadi langkah pertama yang sangat penting dalam pelaksanaan peran serta masyarakat. Meskipun demikian yang sering terjadi penekanannya lebih pada pemberian informasi satu arah dari pihak pemegang kuasa kepada masyarakat. Tanpa adanya kemungkinan untuk memberikan umpan balik atau kekuatan untuk negosiasi dari masyarakat. Dalam situasi saat itu

terutama informasi diberikan pada akhir perencanaan, masyarakat hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mempengaruhi rencana.

4. Consultation atau konsultasi

Mengundang opini masyarakat, setelah memberikan informasi kepada mereka, dapat merupakan langkah penting dalam menuju peran serta penuh dari masyarakat.

Akan tetapi cara ini tingkat keberhasilannya rendah karena tidak adanya jaminan bahwa kepedulian dan ide masyarakat akan diperhatikan. Metode yang sering dipergunakan adalah survei tentang arah pikir masyarkat, pertemuan lingkungan masyarakat dan dengar pendapat dengan masyarakat.

5. Placation atau perujukan

Pada tingkat ini masyarakat mulai mempunyai beberapa pengaruh meskipun beberapa hal masih tetap ditentukan oleh pihak yang mempunyai kekuasaan. Dalam pelaksanaannya beberapa anggota masyarakat yang dianggap mampu dimasukkan sebagai anggota dalam badan-badan kerjasama pengembangan kelompok masyarakat yang anggota-anggota lainnya wakil-wakil dari berbagai instansi pemerintah. Walaupun usul dari masyarakat diperhatikan namun suara masyarakat itu sering kali tidak didengar karena kedudukannya relatif rendah atau jumlah mereka terlalu sedikit dibanding anggota dari instansi pemerintah.

6. Partnership atau kemitraan

Pada tingkat ini, atas kesepakatan bersama, kekuasaan dalam berbagai hal dibagi antara pihak masyarakat dengan pihak pemegang kekuasaan. Dalam hal ini disepakati bersama untuk saling membagi tanggung jawab dalam perencanaan, pengendalian keputusan,

penyusunan kebijaksanaan dan pemecahan berbagai masalah yang dihadapi.

7. Delegated power atau pelimpahan kekuasaan

Pada tingkat ini masyarakat diberi limpahan kewenangan untuk membuat keputusan pada rencana atau program tertentu. Untuk memecahkan perbedaan yang muncul, pemilik kekuasaan yang dalam hal ini adalah pemerintah harus mengadakan tawar menawar dengan masyarakat dan tidak dapat memberikan tekanan-tekanan dari atas.

8. Citizen control atau masyarakat yang mengontrol Pada tingkat ini masyarakat memiliki kekuatan untuk mengatur program atau kelembagaan yang berkaitan dengan kepentingan mereka. Mereka mempunyai kewenangan dan dapat mengadakan negosiasi dengan pihak-pihak luar yang hendak melakukan perubahan. Dalam hal ini usaha bersama warga dapat langsung berhubungan dengan sumber-sumber dana untuk mendapatkan bantuan atau pinjaman dana, tanpa melewati pihak ketiga.39

8 CITIZEN CONTROL DEGREES OF CITIZEN POWER 7 DELEGATED POWER

6 PARTNERSHIP

5 PLACATION DEGREES OF TOKENISM 4 CONSULTATION

3 INFORMING

2 THERAPY NON PARTICIPATION 1 MANIPULATION

Tipologi Tingkat Peran Serta Masyarakat dari Arnstein

Sumber: Panudju 1999 diolah, 2003

39http://perencanaankota.blogspot.com/2011/11/tipologi-tingkat-peran- serta-masyarakat.html, diakses 21 Juni 2015

Dari ke delapan tipologi tersebut, menurut Arnstein secara umum dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu sebagai berikut:

a) Tidak ada peran serta atau non participation yang meliputi manipulation dan therapy.

b) Peran serta masyarakat dalam bentuk tinggal menerima beberapa ketentuan atau degrees of tokenism yang meliputi informing, consultation dan placation.

c) Peran serta masyarakat dalam bentuk mempunyai kekuasaan atau degrees of citizen power yang meliputi partnertship, delegated power dan citizen control.

Meskipun tipologi tersebut di atas berdasarkan kasus- kasus peremajaan kota, dapat pula dipakai sebagai gambaran atau contoh pada kegiatan-kegiatan lain. Untuk mengukur tingkat peran serta dapat dilakukan dengan mengukur tingkat peran serta individu atau keterlibatan individu dalam kegiatan bersama yang dapat diukur dengan skala yang dikemukakan Chapin dan Goldhamer (dalam Slamet,1994:82-89). Chapin mengungkapkan bahwa skala peran serta dapat diperoleh dari penilaian-penilaian terhadap kriteria-kriteria tingkat peran serta sosial yaitu:

a) Keanggotaan dalam organisasi atau lembaga-lembaga sosial b) Kehadiran dalam pertemuan

c) Membayar iuran/sumbangan

d) Keanggotaan di dalam kepengurusan

e) Kedudukan anggota di dalam kepengurusan.

Menurut Goldhamer untuk mengukur peran serta dengan menggunakan lima variabel yaitu:

a) Jumlah asosiasi yang dimasuki b) Frekuensi kehadiran

c) Jumlah asosiasi dimana dia memangku jabatan d) Lamanya menjadi anggota.

Berdasarkan skala peran serta individu tersebut maka dapat disimpulkan skala untuk mengukur peran serta masyarakat yaitu:

a) Frekuensi kehadiran anggota kelompok dalam pertemuan b) Keaktifan anggota kelompok dalam berdiskusi

c) Keterlibatan anggota dalam kegiatan fisik

d) Kesediaan memberi iuran rutin atau sumbangan berbentuk uang yang telah ditetapkan.40

E. Globalisasi dan Implikasinya bagi Eksistensi Budaya