BAB IV ANTISIPASI ANCAMAN DAN
D. Peneguhan Identitas dan
basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai”.
7. Menjaga Keasrian Objek Wisata dalam negeri
a. Salah satu ciri-ciri dampak negatif globalisasi adalah perjalanan dan perlancongan antarbangsa yang semakin meningkat. Indonesia sebagai begara yang kaya akan objek-objek wisata yang indah hendaknya memanfaatkannya dengan seoptimal mungkin.
Salah satu usaha adalah menjaga keasrian objek wisata tersebut.
b. Sebenarnya selain Bali, banyak lagi pulau-pulau di Indonesia yang memiliki tempat yang sangat indah untuk dikunjungi. Namun banyak lokasi yang tidak terjaga keasriannya sehingga tidak menarik untuk dikunjungi. Maka seharusnya masyarakat selalu menjaga keasrian objek wisata di daerah masing- masing misal wisata garut dan taman matahari di bogor.
c. Cara-cara menjaga keasrian objek wisata dalam negeri seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencoret-mencoret tembok, melakukan penghijauan disekitar pegunungan, tidak membuang sampah ke sungai yang nantinya bermuara ke laut, melestarikan terumbu karang, dan sebagainya.212
pendidikan dalam pengembangan moral. Menurut Jarolimek, pendidikan moral berusaha untuk mengembangkan pola perilaku seseorang sesuai dengan kehendak masyarakatnya.
Kehendak itu berwujud moralitas atau kesusilaan yang berisi nilai-nilai dan kehidupan yang berada dalam masyarakat.
Karena menyangkut dua aspek: nilai-nilai dan kehidupan nyata, maka pendidikan moral lebih banyak membahas masalah dilema (seperti makan buah simalakama) yang berguna untuk mengambil keputusan moral yang terbaik bagi diri dan masyarakatnya.213 Sedangkan pendidikan karakter sering disamakan dengan pendidikan budi pekerti. Seseorang dapat dikatakan berkarakter atau berwatak jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.214
Budi pekerti, watak atau karakter, itulah bersatunya gerak fikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan, yang lalu menimbulkan tenaga. Dengan adanya budi pekerti itu, tiap- tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berpribadi), yang memerintah atau menguasai diri sendiri (mandiri).
Inilah manusia yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besarnya.215 Salah satu faktor terpenting dalam pembentukan karakter ialah pengaruh kelompok terhadap individu selama masa kanak-kanak dan pemuda. Banyak kegagalan integrasi dalam kepribadian
213Nurul Zuriah, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan: Menggagas Platform Pendidikan Budi Pekerti secara Kontekstual dan Futuristik (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 19.
214http://kongrespendidikan.web.id/pendidikan-sebagai-sarana-peneguhan- karakter-bangsa-di-era-global.html, diakses pada 7 Agustus 2015
215Ki Hadjar Dewantara, Karya Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama:
Pendidikan(Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977) , 25.
terjadi karena adanya konflik antara dua kelompok yang berbeda di mana seorang anak menjadi bagian dari keduanya, sementara kegagalan-kegagalan lain yang timbul dari konflik antara selera kelompok dan selera individu.216
Pendidikan yang selama ini cenderung lebih fokus pada transfer of knowledge (pengetahuan-kognitif) seringkali dipersalahkan karena mengabaikan transfer of values (nilai- afektif). Menurut Thomas Lickona sebagaimana diungkapkan dalam Nurul Zuriah (2007) menawarkan sejumlah tugas pendidik yang walaupun berat, namun perlu dilaksanakan sebagai ujung tombak dan penanggung jawab pendidikan moral di sekolah, yaitu:
1. Pendidik haruslah menjadi seorang model (role model/
living model) sekaligus mentor dari peserta didik dalam mewujudkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sekolah.
2. Masyarakat sekolah haruslah merupakan masyarakat yang bermoral.
3. Perlunya mempraktikkan disiplin moral.
4. Menciptakan situasi demokratis di ruang-ruang kelas.
5. Mewujudkan nilai-nilai melalui kurikulum.
6. Budaya kerjasama (cooperative learning).
7. Menumbuhkan kesadaran berkarya.
8. Mengembangkan refleksi moral.
9. Mengajarkan resolusi konflik.217
Pada setiap individu yang hidup dalam komunitas tumbuhlah kesadaran baik akan individualitasnya maupun akan solidaritasnya. Pada awal abad ke-20, generasi kaum intelektual
216Bertrand Russel, Pendidikan dan Tatanan Sosial (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993), 68.
217Zuriah, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti.., 12-16.
sebagai protagonis modernisasi merasa tidak lagi memiliki identitas tradisional di satu pihak, namun belum mempunyai identitas modern di pihak lain.218 Dalam konteks Sosiologi, barangkali itulah contoh nyata terjadinya proses anomie.
Selanjutnya diungkapkan bahwa situasi krisis identitas dapat menimbulkan kesadaran kolektif sebagai dasar pembentukan solidaritas. Kondisi tersebut bisa diparalelkan dengan kondisi di era global saat ini, dimana krisis identitas di era global menjadi prasyarat bagi tumbuhnya kesadaran kolektif, seperti halnya kondisi umum dalam masyarakat: 1) apa yang seharusnya, 2) apa yang senyatanya, 3) terjadi aneka problematika, yang akhirnya 3) memerlukan solusi/pemecahannya.219
Pada masa kolonialisme, muncul kesadaran bahwa ideologi nasionalisme perlu direvitalisasi agar hasil perjuangan berupa negara kebangsaan tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga dikembangkan berdasarkan etos yang diterbitkkan waktu diperjuangkan sebagai counter-ideology melawan kolonialisme.
Hal tersebut analog dengan kesadaran yang perlu ditumbuhkan di era global, yaitu bagaimana nilai-nilai lokal dan nasional dapat dipertahankan dan dikembangkan sebagai counter-hegemony melawan kekuatan global.220 Pola-pola resistensi kebudayaan lokal hadir sebagai oposisi dari kebudayaan global. Pentinglah kiranya untuk mengakui bahwa tipe resistensi kultural merupakan suatu bentuk yang amat khusus dari aktivitas oposisionis.221
218Sartono Kartodirjo, Multi Dimensi Pembangunan Bangsa: Etos Nasionalisme dan Negara Kesatuan (Yogyakarta: Kanisius, 1999), 37.
219http://kongrespendidikan.web.id/pendidikan-sebagai-sarana-peneguhan- karakter-bangsa-di-era-global.html, diakses pada 7 Agustus 2015
220Kartodirjo, Multi Dimensi Pembangunan Bangsa.., 36.
221Idi Subandy Ibrahim, Ecstacy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia (Bandung: Mizan Pustaka 1997), 293.
Dalam konteks globalisasi melalui media, seiring dengan capaian-capaian mutakhir di bidang teknologi komunikasi serta kecenderungan kian bebasnya lalu lintas siaran internasional, terpaan media dan lingkup pengaruhnya juga akan semakin meluas. Untuk mengantisipasi dampak negatif yang ditimbulkannya, para pemikir seperti Paulo Freire dan Ivan Illich mengajak kita untuk memilih media alternatif sebagai counter terhadap media besar tersebut.222 Dalam kondisi demikian, tentunya kita juga perlu mengutamakan sikap dan daya kritis dalam menyeleksi setiap pengaruh yang datang, mencerna dengan seksama unsur-unsur globalisasi berdasarkan nilai-nilai sendiri, sehingga tidak begitu saja tertelan oleh globalisasi.223