• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecerdasan

Dalam dokumen pengembangan media big book untuk (Halaman 56-65)

BAB II LANDASAN TEORI

4. Kecerdasan

2) Cara Membuat

a) Gunting kain flannel dengan ukuran sebesar buku gambar A 3, bentuk segi empat, buat sebanyak 4 lembar.

b) Gunting karton padi, buat ukuran yang sama dengan kain flannel sebanyak 4 lembar juga.

c) Di tempelkan dua lembar kain flannel yang sudah digunting, lalu di jahit disetiap ujung kain flannel menggunakan jarum dan benang, jangan lupa bagian tengahnya dimasukkan karton padi agar setiap lembarannya menjadi keras seperti buku.

d) Pada setiap halaman ditempeli dengan bermacam-macam gambar sesuai dengan tema, yaitu tema tentang alam. Gambar yang sudah di jahit di sisahkan sedikit, lalu di beri isi dakron, kemudian di jahit lagi untuk menutupnya.

e) Beri nama atau kata-kata pada setiap gambar yang ada di setiap lembaran big book.

f) Beri hiasan baik dari sampul maupun isi lembaran bukunya, agar anak tertarik dengan media telah kita buat.

g) Media big book siap digunakan untuk membantu guru dalam proses pembelajaran.

Peningkatan ini akan tercapai bila lingkungan memberikan rangsangan atau stimulans yang tepat.31

Menurut Binet, kecerdasan adalah kecenderungan untuk mengambil dan mempertahankan pilihan yang tepat, kapasitas untuk beradaptasi dengan maksud memperoleh tujuan yang diinginkan dan kekuatan untuk autokritik.32

Dalam perspektif Gardner kecerdasan adalah sistem komputasi anak yang digunakan untuk mengatasi masalah. Artinya, kecerdasan adalah potensi kemampuan yang dimiliki oleh anak-anak, yang setiap anak memilikinya. Sistem komputasi ini yang kemudian digunakan oleh anak- anak untuk memahami fenomena, kejadian dan ilmu pengetahuan yang didapat dari kegiatan belajar disekolah. Saat belajar inilah, sistem komputasi anak-anak ini bekerja atau di berdayagunakan oleh anak dalam memahami materi belajar. Hasilnya adalah anak-anak akan memiliki pemahaman dan pengetahuan baru atas materi belajar.33

Dari uraian di atas kecerdasan adalah kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak dalam mengatasi masalah dan menghasilkan sesuatu.

Kemampuan ini kemudian digunakan oleh anak-anak untuk memahami fenomena, kejadian dan ilmu pengetahuan yang di dapat dari kegiatan belajar disekolah.

31Anita Yus, Penilaian Perkembangan Belajar Anak Taman Kanak-Kanak, (Jakarta:

Kencana, 2011), H. 18-19

32Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), H. 140

33 Heru Kurniawan, Sekolah Kreatif, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), H. 117

Kecerdasan merupakan kemampuan tertinggi yang dimiliki oleh manusia. Tingkat kecerdasan dapat membantu seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan yang muncul dalam kehidupannya.

Kecerdasan sudah dimiliki sejak manusia lahir dan terus menerus dapat di kembangkan hingga dewasa. Pengembangan kecerdasan akan lebih baik jika di lakukan sedini mungkin sejak anak di lahirkan melalui pemberian stimulasi pada kelima panca indranya.

Kecerdasan merupakan ungkapan dari cara berpikir seseorang yang dapat dijadikan modalitas dalam belajar. Kecerdasan bagi seseorang memiliki manfaat yang besar selain bagi dirinya sendiri dan juga bagi pergaulannya dimasyarakat. Melalui tingkat kecerdasan yang tinggi seseorang akan semakin dihargai di masyarakat apalagi apabila ia mampu berkiprah dalam menciptakan hal-hal baru yang bersifat fenomenal.

Penelitian Gardner telah meruntuhkan dua asumsi umum tentang kecerdasan, yaitu kecerdasan manusia bersifat satuan dan bahwa setiap individu dapat dijelaskan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan yang dapat diukur dan tunggal. Dalam studinya tentang kecerdasan manusia ditemukan bahwa pada hakikatnya:

1) Setiap manusia memiliki delapan (kemudian ditambahkan dua menjadi sepuluh walaupun masih bersifat hipotesis) spektrum kecerdasan yang berbeda-beda dan menggunakannya dengan cara-cara yang sangat individual.

2) Setiap manusia dapat mengembangkan ke semua kecerdasan sampai mencapai suatu tingkat yang memadai.

3) Setiap kecerdasan bekerja sama satu sama lain secara kompleks karena dalam tiap kecerdasan ada berbagai cara untuk menumbuhkan salah satu aspeknya.34

b. Mendeteksi Kecerdasan Anak Sejak Dini

IQ merupakan satuan skor yang menunjukkan taraf kemampuan skolastik seseorang. Secara umum tes IQ hanya terbatas sebagai alat untuk mengukur kemampuan verbal, logika matematika, dan spatial, yaitu sejumlah kemampuan yang dikembangkan di dalam lingkup akademis alias di sekolah. Sebagai alat untuk mengukur potensi kecerdasan akademis, IQ tepat digunakan untuk meramalkan kesuksesan seorang anak di bidang akademis kelak. Bahkan sejak dini, anak sudah dapat diukur sejumlah potensi akademisnya sehingga dapat ditentukan apakah ia siap atau tidak untuk masuk sekolah.

Kecerdasan dapat di deteksi sejak dini, yaitu sejak seorang anak mampu menampilkan perilaku tertentu. Tentu saja kecerdasan pada bayi tidak sama dengan kecerdasan balita dan anak. Pada bayi ranah kecerdasan masih di seputar perkembangan kemampuan motor dan bahasa. Bayi yang cerdas akan memiliki kemampuan motor dan berbahasa yang melebihi bayi seusianya. Sementara pada anak dan balita,

34Yuliani Nurani Sujiono, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, (Jakarta: Indeks, 2010), H. 48

kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal, dan sosial.

Untuk mendeteksi tingkat kecerdasan bayi dan balita, orang tua perlu memahami perkembangan yang normal pada bayi dan balita sehingga dapat dijadikan patokanatau ukuran dalam menentukan apakah seorang anak sudah mampu mencapai tahap perkembangan seperti anak seusianya atau belum. Merangsang kecerdasan anak sudah dapat dilakukan sejak dini, orang tua hanya perlu memastikan sudah seberapa jauh peduli dan menghargai setiap kemampuan yang dimiliki anak.35 c. Pengertian Kecerdasan Jamak

Kecerdasan majemuk (multiple intelligence) adalah sebuah teori yang menghadirkan model pemanfaatan otak yang relatif baru. Menurut teori ini kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa) atau kecerdasan logika. Dengan kata lain, seseorang dapat memiliki kecerdasan sesuai dengan kebiasaan yang disukainya.36

Kecerdasan jamak (multiple intelligence) adalah sebuah penilaian yang melihat secara deskriptif bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu.

Pendekatan ini merupakan alat untuk melihat bagaimana pikiran manusia

35Ayunita Deviant, Panduan Lengkap Mencerdaskan Otak Anak Usia 0-6 Tahun, (Yogyakarta: Araska, 2013), H. 26-27

36M. Fadlillah, Dkk., Edutaintent Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta: Kencana, 2014), H.

16

mengoperasikan dunia, baik itu benda-benda yang kongkrit maupun hal- hal yang abstrak. Bagi Gardner tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan. Berdasarkan pemaparan tersebut, hendaknya orang tua dan guru selayaknya harus jeli dan cermat dalam menilai dan menstimulasi kecerdasan anak dalam sebuah rangcang proses pembelajaran bagi anak usia dini.37

Dari uraian di atas kecerdasan jamak adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah, memungkinkan seseorang untuk mendeskripsikan suatu situasi di mana sasarannya akan diperoleh.

Teori kecerdasan majemuk, di sisi lain, mempluralkan konsep tradisional. Kecerdasan adalah kemampuan komputasi, kemampuan untuk memproses jenis informasi tertentu yang berasal dari faktor biologis dan psikologis manusia. Suatu kecerdasan melibatkan kemampuan untuk memecahkan masalah atau merancang produk yang merupakan konsekuensi dari komunitas atau latar budaya tertentu. Keahlian pemecahan masalah memungkinkan seseorang untuk mendeskripsikan suatu situasi di mana sasarannya akan diperoleh dan menentukan rute yang memadai menuju sasaran itu.38

37 Yuliani Nurani Sujiono, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, (Jakarta: Indeks, 2010), H. 49

38 Howard Gardner, Multiple Intelligences, (Jakarta: Daras Books, 2013), H. 19

Pada awalnya, kecerdasan ini hanya terdiri dari 7 jenis kecerdasan.

Kemudian, penelitian dilanjutkan dan ditemukan dua jenis kecerdasan lagi sehingga jumlahnya menjadi 9 (sembilan). Kemudian pada tahun 1983, hasil temuan tersebut dipublikasikan dalam bentuk buku yang berjudul frames of mind: the theory of multiple intelligence. Adapun kesembilan jenis kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan linguistik, logika- matematika, visual, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, spiritual dan naturalis.39

c. Jenis-Jenis Kecerdasan

1) Linguistic Intelligence (Kecerdasan Linguistik)

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Para pengarang, penyair, jurnalis, pembicara, dan penyiar berita memiliki tingkat kecerdasan linguistik yang tinggi.

2) Logical-Matematical (Kecerdasan Logika-Matematika)

Kecerdasan logika-matematika merupakan kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Para ilmuan, ahli matematika, akuntan, insinyur, dan pemrogram komputer, semuanya menunjukkan kcerdasan logika-matematika yang kuat.

39 Suyadi, Teori Pembelajaran Anak Usia Dini, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), H.

126

3) Visual-Spatial Intelligence (Kecerdasan Visual-Spasial)

Kecerdasan visual-spasial merupakan membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot, pemahat, pelukis dan arsitek. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk merasakan bayanagan, mengemudikan diri sendiri dan objek melalui ruangan, dan menghasilkan atau mengurangi informasi grafik.

4) Bodily-Kinesthetic Intelligence (Kecerdasan Kinestetik-Tubuh)

Yaitu memungkinkan seseorang untuk menggerakkan objek dan keterampilan-keterampilan halus. Jelas kelihatan pada diri atlet, penari, ahli bedah, dan seniman yang mempunyai keterampilan teknik.

Pada masyarakat barat, keterampilan-keterampilan fisik tidak dihargai sebesar keterampilan kognitif seseorang, tapi kemampuan ini hanya digunakan untuk bertahan hidup dan sebagai ciri penting pada peran- peran bergengsi.

5) Musical-Intelligence (Kecerdasan Musikal)

Jelas kelihatan pada seseorang yang memiliki sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada. Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain: komposer, konduktor, musisi, kritikus dan pembuat alat musik begitupun pendengar yang sensitif.

6) Interpersonal Intelligence (Kecerdasan Interpersonal)

Merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Hal ini terlihat pada guru, pekerja

sosial, artis atau politisi yang sukses. Sebagaimana budaya barat mulai mengenalkan hubungan antara akal dan tubuh, maka hal ini perlu disadari kembali pentingnya nilai dari keahlian dalam perilaku interpersonal.

7) Intrapersonal Intelligence (Kecerdasan Intrapersonal)

Merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Beberapa individu yang memiliki kecerdasan semacam ini adalah ahli ilmu agama, ahli psikologi, dan ahli filsafat.40

8) Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan eksistensialis atau kecerdasan spiritual akan mampu mendekatkan kita sebagai manusia dengan Tuhan. Dalam konteks ini, anak dapat kita perkenalkan pada keyakinan atau akidah agama untuk menyulut potensi spiritual yang sudah tertanam dalam dirinya sejak lahir. Pada perkembangannya, anak yang memiliki kecerdasan spiritual akan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka akan menyerahkan segala urusan dan permasalahan hanya kepada Allah SWT, melakukan aktivitasnya hanya dengan niat beribadah kepada Allah SWT, sehingga sangat menghargai hasil sekecil apapun.

40Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligence), (Jakarta: Kencana, 2013), H. 21-22

Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan spiritual bisa terlihat dai ketertarikan dirinya mempelajari agama, dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah SWT, Rasulullah SAW, akan terlihat minatnya untuk belajar membaca Al-Quran, belajar tentang akhlak yang baik, ikut sholat berjamaah dengan orang tua, dan menerapkan nilai-nilai akhlak tersebut dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak ia sadari.41

Dalam dokumen pengembangan media big book untuk (Halaman 56-65)

Dokumen terkait