BAB II LANDASAN TEORI
5. Kecerdasan Naturalis
Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan spiritual bisa terlihat dai ketertarikan dirinya mempelajari agama, dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tentang Allah SWT, Rasulullah SAW, akan terlihat minatnya untuk belajar membaca Al-Quran, belajar tentang akhlak yang baik, ikut sholat berjamaah dengan orang tua, dan menerapkan nilai-nilai akhlak tersebut dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak ia sadari.41
mengatur segala yang ada di alam raya dengan keselarasan yang sempurna. Seperti penjelasan dalam ayat Al-Quran berikut ini:
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali-Imran: 190).
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali-Imran:191).
Ayat di atas menjelaskan bahwa kecerdasan naturalis dalam islam, membuat manusia menyadari seutuhnya bahwa manusia adalah aktor penanggung jawab dalam mengelolah alam raya, boleh mengambil manfaatnya, tetapi tetap harus memelihara dan menjaga kelestariannya.
Kecerdasan naturalistik adalah kemampuan dalam melakukan kategorisasi dan membuat hierarki terhadap keadaan organisme seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan alam. Salah satu ciri yang ada pada anak- anak yang kuat dalam kecerdasan naturalistik adalah kesenangan mereka pada alam, binatang, misalnya seperti berani mendekati, memegang, mengelus, bahkan memiliki naluri untuk memelihara. Kecerdasan
naturalistik di definisikan sebagai keahlian mengenali dan mengkategori spesies, baik flora maupun fauna, di lingkungan sekitar dan kemampuannya mengolah dan memanfaatkan alam, serta melestarikannya.43
Dari uraian di atas kecerdasan naturalis adalah kemampuan dalam memahami fenomena-fenomena alam, flora (tanaman) dan fauna (hewan), mampu membedakan, mengklasifikasikan, menyenangi, merawat serta suka membersihkan lingkungan sekitar.
Amstrong berpendapat bahwa kecerdasan naturalis, yaitu kecerdasan untuk mencintai keindahan alam melalui pengenalan terhadap flora dan fauna yang terdapat dilingkungan sekitar dan juga mengamati fenomena alam dan kepekaan/kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Campbell, Campbell, dan Dickson menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan naturalis antara lain: sains permulaan, ilmu botani, gejala-gejala alam, atau hubungan antara benda-benda hidup dan tak hidup yang ada dialam sekitar.44
Menurut Sri Widayati, kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali berbagai jenis flora (tanaman), fauna (hewan) dan fenomena alam lainnya, seperti asal usul binatang, pertumbuhan tanaman,
43Muhammad Yaumi dan Nurdin Ibrahim, Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligence), (Jakarta: Kencana, 2013), H. 21
44 Yuliani Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, (Jakarta: Indeks, 2010), H. 62
terjadinya tata surya dan berbagai galaksi, dan lain sebagainya.
Kecerdasan ini ditambahkan oleh Howard Gardner kedalam multiple intelligence. Pada awalnya, ia memasukkan kecerdasan ini kedalam kecerdasan logis-matematis dan visual spasial. Namun, setelah diteliti lebih lanjut berdasarkan kriteria yang ditetapkannya, akhirnya Gardner memisahkan kecerdasan ini sebagai satu kecerdasan yang berdiri sendiri.
Fungsi kecerdasan naturalis akan tampak mencolok ketika kita mengamati tanaman, hewan, serangga, dan benda alam yang ada disekitar kita. Dengan mengenali tabiat atau hukum alam di lingkungan sekitar, kita dapat mengembangkan hukum sebab-akibat yang berlaku di lingkungan tersebut. Di samping itu, dengan kecerdasan naturalis yang baik, kita dapat mengamati pola perubahan alam, seperti perubahan cuaca, gejala gempa, gunung berapi, dan perubahan-perubahan lainnya.
Pada awalnya, kecerdasan ini merupakan senjata utama orang-orang purba untuk bertahan hidup di alam bebas. Mereka dulu hidup dengan berburu dan meramu berbagai tanaman serta buah-buahan untuk dimakan.
Padahal, untuk bisa melakukan itu semua, manusia harus mengenali dan memahami setiap jenis buah-buahan dan biji-bijian yang hendak mereka makan. Minimal mereka harus tahu, mana buah-buahan yang beracun dan tidak dapat dimakan dengan jenis buah-buahan yang dapat dimakan dengan lezat.45
45 Tadkiroatun Musfiroh, Pengembangan Kecerdasan Majemuk, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), H. 29
Sekarang kehidupan yang demikian itu hampir tidak ada lagi.
Namun hal ini bukan berarti kehidupan modern yang sekarang ini tidak memerlukan alam bebas karena semua manusia mempunyai naluri untuk hidup menyatu dengan lingkungannya.
Jika dahulu alam bebas mampu memberi kehidupan terhadap manusia, maka tibalah saatnya sekarang manusia yang harus melestarikan alam bebas tersebut. Mereka yang bisa hidup dan melestarikan alam bebas itulah orang yang mempunyai kecerdasan naturalis tinggi. Dunia perguruan tinggi telah mengembangkan berbagai ilmu, seperti biologi, botani, zoology, dan etomologi untuk kelangsungan kehidupan dialam bebas. Ilmu-ilmu inilah yang menjadi pusat perhatian dan pusat kajian orang-orang naturalis.
Apa bahayanya jika seseorang tidak mempunyai kecerdasan naturalis? Biasanya, orang yang rendah kecerdasan naturalisnya akan bersikap tidak terlalu ramah pada lingkungan. Bahkan, ia terkesan mengesampingkan lingkungan hidup mereka. Sekedar contoh, banyak kita saksikan orang yang membuang sampah sembarangan, menebang hutan secara liar, menangkap ikan dengan racun, dan lain sebagainya. Tidak sekedar itu, mereka juga tidak begitu senang dengan nuansa alam, seperti rumah hijau, tanaman hias, ikan hias, hewan peliharaan, sehingga kegiatan-kegiatan seperti mendaki gunung, kemping, apalagi menanam pohon seperti pak tani. Hal-hal yang disenangi orang ini adalah rumah
mewah yang dilengkapi dengan pendingin ruangan atau air control (AC) dan halaman luas tanpa tanaman.
Orang yang rendah kecerdasan naturalisnya juga mempunyai kecenderungan untuk melakukan eksploitasi terhadap lingkungan sekitarnya. Misalnya, mereka tidak segan-segan berburu binatang, seperti burung, ayam hutan, bajing/tupai, kelelawar, lebah, dan lain sebagainya sacara membabi buta. Tanaman-tanaman di sekeliling rumahnya dirusak tanpa ada rasa sayang sedikitpun. Bahkan, anak-anak dengan kecerdasan naturalis rendah akan mencoret-coret (dengan tujuan merusak) dinding, menyiksa kucing dan anjing, serta binatang peliharaan lain dirumahnya, mencabuti tanaman-tanaman hias di sekeliling rumahnya, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, kecerdasan naturalis sangat dibutuhkan setiap orang sejak mereka berusia dini karena kecerdasan ini mampu menjaga dan memelihara nalurinya untuk hidup nyaman di alam bebas bersama dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lain.46
b. Jenis Kegiatan dalam Pengembangan Kecerdasan Naturalis
1) Mengembangkan Kecerdasan Naturalis Melalui Media Film Animasi M. Tholib menyatakan bahwa film animasi tidak hanya sekadar film kartun saja, tetapi dapat juga digunakan untuk media-media pendidikan, informasi, dan media pengetahuan lainnya yang tidak
46 Suyadi, Teori Pembelajaran Anak Usia Dini, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), H.
136-138
dapat dijangkau melalui kamera foto atau video. Film animasi adalah media audio-visual berupa serangkaian gambar diam yang diproyeksikan sehingga terlihat hidup (bergerak) dan mengandung pesan yang efektif karena memiliki gambar menarik dan interaktif.
Film dapat memberi stimulan pada daya apresiasi anak. Kisak-kisah yang ditampilkan lewat film dapat membantu anak memahami dan merespon kehidupan sekitarnya. Penayangan film animasi dilakukan secara bertahap, film animasi diunduh dari youtube. Beberapa kekurangan dalam menggunakan media film animasi yaitu:
a) Memerlukan kemampuan khusus untuk membuat gambar atau membuat efek gambar agar nampak hidup.
b) Tidak semua film animasi dapat dijadikan media pembelajaran, kecuali jika film tersebut sengaja dirancang dan dipoduksi dengan tujuan khusus.
c) Membutuhkan alat pendukung yang komplek, seperti televisi atau laptop dan LCD.47
2) Peningkatan Kecerdasan Naturalis Melalui Bermain Messy Play Bermain messy play membantu anak dalam bersantai, mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang kreatif, mencoba dengan berbagai bahan, belajar mencampur warna, membuat seperti yang dicontohkan, design, pola, dan irama, serta mengembangkan
47Fera Rizkiana Amalia, upaya Mengembangkan Kecerdasan Naturalis melalui Media Film Animasi pada Anak Kelompok B TK Islam As-Salam Desa Tlogo Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, (Semarang, Institut Agama Islam Negeri Salatiga, 2018), H. 56-57
koordinasi mata-tangan, dan melatih kemampuan dalam menuangkan, mengukur, mencampur, menyerok, dan memukul. Pada saat anak mencoba melakukan setiap kegiatan sendiri, anak dapat membedakan perlakuan antara yang satu dengan lainnya. Bermain messy play membuat anak mengerti sebab dan akibat terhadap apa yang dilakukannya. Setiap anak yang melakukan bermain messy play akan merasakan manfaat yang berbeda-beda, antara satu anak dengan yang lainnya. Hasil yang didapatkan anak pada setiap tindakan anak juga akan berbeda-beda. Adapun bentuk kegiatan bermain messy play yang dapat meningkatkan kecerdasan naturalis anak bervariasi, diantaranya yaitu dengan kolase, menggambar dan playdough.48
3) Mengoptimalkan Kecerdasan Naturalis Anak melalui Metode Eksperimen
Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen, anak diberi pengalaman untuk mengalami sendiri tentang suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan tentang suatu objek keadaan. Metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak akan mendapatkan pengalaman secara langsung melalui eksperimen menanam tanaman. Anak akan belajar secara langsung mengenai pengenalan tanaman yang ada di lingkungan
48Luluk Iffatur Rocmah, Peningkatan Kecerdasan Naturalis melalui Bermain Messy Play terhadap Anak Usia 5 – 6 Tahun, Jurnal Pedagogia ISSN 2089 -3833 Volume. 5, No. 1, Februari 2016, H. 50
sekitarnya. Beberapa kelemahan dalam menggunakan metode eksperimen adalah:
a) Apabila sarana tidak tersedia atau kurang memadai proses eksperimen akan menjadi tidak efektif
b) Metode ini dilaksanakan bila siswa belum matang untuk melaksanakan eksperimen. Hal ini berarti melaksanakan eksperimen memerlukan keterampilan yang mahir dari pihak guru.
c) Memerlukan waktu yang panjang. Keterbatasan waktu dalam eksperimen dapat berakibat terputusnya pemahaman siswa terhadap topik yang menjadi pokok bahasan, sehingga tujuan pengajaran tidak tercapai dengan baik.
d) Memerlukan keterampilan atau kemahiran dari pihak guru dalam menggunakan serta membuat alat-alat ekperimen.
e) Bagi guru yang telah terbiasa dengan menggunakan metode ceramah secara rutin, cenderung memandang metode eksperimen sebagai suatu pemborosan dan memberatkan.49
49Lestari Oktafiah, Mengoptimalkan Kecerdasan Naturalis Anak melalui Metode Eksperimen pada Kelompok B1 Pendidikan Anak Usia Dini Kemala Bhayangkari 26 Kota Bengkulu, (Bengkulu:
Universitas Bengkulu, 2014), H. 15-17
c. Indikator Kecerdasan Naturalis
Adapun dimensi dan indikator kecerdasan naturalis anak usia dini, yaitu:50 Tabel 2.1
Dimensi dan Indikator Kecerdasan Naturalis Anak Usia Dini Dimensi 3-4 Tahun 4-5 Tahun 5-6 Tahun Naturalis 1. Menyenangi
hewan peliharaan 2. Menyukai tumbuhan yang ditanam disekitarnya 3. Mulai
menjaga kebersihan lingkungan.
1. Menyenangi hewan peliharaan 2. Merawat
tumbuhan yang ditanam
3. Menjaga kebersihan lingkungan 4. Memperkirakan
kondisi alam dari gejala yang dilihat bila diberi stimulus (pertanyaan).
1. Menyenangi beberapa hewan peliharaan
2. Merawat hewan peliharaan
3. Merawat
tumbuhan yang ditanam
4. Menjaga kebersihan lingkungan dengan proaktif 5. Memperkirakan kondisi alam dari gejala yang dilihat
6. Menentukan kualitas
cuacadari situasi yang dirasakan (siang-panas).
50 Anita Yus, Penilaian Perkembangan Belajar Anak Taman Kanak-Kanak, (Jakarta:
Kencana, 2011), H. 29
d. Cara Mengembangkan Kecerdasan Naturalis
Sujiono dan Sujiono menguraikan cara mengembangkan kecerdasan naturalis pada anak, yaitu:
1) Beri kesempatan pada anak didik untuk mengetahui kemampuan yang ada pada dirinya.
2) Ceritakan “kondisi akhir” sebagai keteladanan dan inspirasi bagi mereka, misalnya: ahli-ahli binatang, para penelitian alam.
3) Buatlah kegiatan-kegiatan khusus yang dapat dimasukkan kedalam kecerdasan naturalis, missal: “carrer day” dimana para dokter hewan dan ahli binatang menceritakan tentang kecerdasan naturalisnya.
4) Karya wisata ke kebun binatang, pengalaman empiris praktis, misalnya mengamati alam dan makhuk hidup, buat rak pameran simulasi ekosistem, dan buat papan permainan.
Stimulasi bagi pengembangan kecerdasan naturalis: jalan-jalan di alam terbuka, berdiskusi mengenai apa yang terjadi dalam lingkungan sekitar, membawa hewan peliharaan ke kelas lalu anak di beri tugas mencatat perilaku hewan tersebut, kegiatan ekostudi agar anak memiliki sikap peduli pada alam sekitar. Sebagai contoh pada saat anak belajar menghitung, ajaklah anak untuk menghitung, spesies hewan yang terancam punah, tentu saja dengan memakai contoh gambar dengan penjelasan yang dapat di mengerti.51
51 Yuliani Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, (Jakarta: Indeks, 2010) H. 48-63.
Dari uraian di atas stimulasi yang dapat meningkatkan kecerdasan naturalis pada anak adalah mengajak anak jalan-jalan ke alam terbuka seperti ke taman, kebun binatang, dan mengajarkan tentang cara menjaga lingkungan sekitar. Sedangkan dalam pembahasan ini peneliti akan membahas cara meningkatkan kecerdasan naturalis melalui media big book. Dimana media big book ini berisikan gambar tentang pemandangan alam sekitar, mengenalkan tentang binatang dan gejala alam.