NEGARA MAJEMUK
C. Kemajemukan Dan Potensi Konflik
Inilah krisis paling serius, lebih serius daripada berbagai krisis ekonomi-politik yang dihadapi bangsa ini. Kesadaran spritual di atas penting dikembangkan sebagai basis “nasionalisme baru”
berbeda dengan konsep kewilayahan di berbagai belahan dunia dan bangsa lain. Persoalannya adalah bagaimana kesadaran itu berfungsi di tengah mobilitas sosial dan kesadaran rasional dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan? Kesadaran kenusantaraan yang primordial tersebut nampak semakin pudar dalam lapis sosial lebih tinggi dan masyarakat yang semakin meng-kota. Bhinneka Tunggal Ika bukan slogan politik.
Nasionalisme tidak bergantung pada mitos saja, tetapi juga harus melihat realita kebhinnekaan Indonesia. Dan inilah yang selamaDan inilah yang selama ini diabaikan. Momentum kemerdekaan semestinya menjadi saat tepat untuk menyegarkan kembali gagasan nasionalisme tersebut. Harapannya bisa mengatasi berbagai retakan-retakan kebhinnekaan yang mulai menjurus pada tindakan anarkhis yang membahayakan keutuhan bangsa. Perhatian terhadap nasionalisme penting agar kemajemukan benar-benar menjadi kekayaan dan potensi kemajuan, bukan menjadi penyebab kehancuran.
keragaman budaya memiliki potensi bagi terjadinya disintegrasi atau perpecahan bangsa. Perbedaan latar belakang budaya tidak jarang dipakai sebagai alat untuk memicu munculnya pertikaian antarkelompok. Salah satu persoalan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah konflik antarkelompok yang jumlahnya cenderung meningkat. Berbagai konflik horizontal yang dipicu persoalan politik, ekonomi, sosial, suku, agama dan ras (SARA) mencerminkan jauhnya bangsa ini dari sikap arif dan matang dalam bertindak.
Berikut contoh berita tentang konflik SARA.
FKUB Diminta Aktif Cegah Konflik Sara 22 Juli 2012 | 23:12 wib
SLEMAN, suaramerdeka.com - Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu meminta jajaran pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) aktif memberikan edukasi kepada masyarakat.
Upaya ini untuk mencegah konflik sara sebagaimana yang terjadi di wilayah Kecamatan Depok, beberapa bulan lalu.
“Kami sangat menyayangkan adanya konflik tersebut. Ke depan, Pemkab berharap jajaran FKUB dapat melaksanakan tugas lebih baik dari kepengurusan sebelumnya,” tandas Yuni.
Kondisi di Sleman diakuinya memang rawan konflik. Salah satunya dipengaruhi posisi kabupaten ini sebagai pusat pendidikan di Provinsi DIY. Ketua FKUB Sleman, Sularno mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi konflik sara.
Di antaranya melalui sosialisasi kepada perwakilan tokoh masyarakat di Kecamatan Cangkringan, Berbah, dan Depok, serta memberikan rekomendasi. “Tapi memang ada beberapa konflik
bernilai sara yang terkadang sulit dipecahkan dengan mediasi, sehingga kami menggunakan bantuan pengacara,” ungkapnya.
Konflik berdasar SARA menjadi ancaman bagi persatuan bangsa. Salah satu contoh konflik yang mengemuka adalah konflik pertanahan. Data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menunjukkan, sepanjang tahun 2011 terdapat 163 konflik agraria di Indonesia dengan jumlah rakyat atau petani yang menjadi korban meninggal akibat konflik ini mencapai 22 orang. Tahun 2010 terdapat 106 konflik agraria dengan tiga orang meninggal.
Dari data KPA, konflik agraria yang terjadi pada tahun 2011 melibatkan 69.975 kepala keluarga dengan luasan areal konflik mencapai 472.048,44 hektar. Dari 163 konflik agraria tahun 2010, rinciannya 97 kasus di sektor perkebunan, 36 kasus di sektor kehutanan, 21 kasus di sektor infrastruktur, 8 kasus di sektor pertambangan, dan 1 kasus di wilayah tambak atau pesisir. Dari sebaran konflik, Jawa Timur sebagai wilayah yang paling banyak dengan 36 kasus, disusul Sumatera Utara (25), Sulawesi Tenggara (15), Jawa Tengah (12), Jambi (11), Riau (10), Sumatera Selatan (9), dan sisanya tersebar di sejumlah provinsi.
Konflik lain yang juga berkembang adalah konflik politik.
Lihatlah pemilihan kepala daerah yang berdarah-darah dan penuh amuk massa, aksi tawur antarwarga, maupun kekerasan dalam berbagai bentuk. Belum lagi keinginan beberapa daerah untuk merdeka yang semakin menguat. Pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilihan presiden juga berpotensi untuk memicu perpecahan bangsa. Meski berjalan cukup aman, tetapi gesekan antarpendukung partai ataupun presiden nampak nyata di permukaan. Kesemuanya itu memunculkan kekhawatiran
ancaman perpecahan nasional akibat berbagai kasus yang tak henti-hentinya terjadi selama ini.
Muncullah pesimisme bahwa “persatuan dan kesatuan”
yang didengungkan selama ini tampaknya tidak sekokoh yang dibayangkan. Suatu bentuk tanpa isi, karena persatuan bersifat seremonial belaka. Begitu seremoni usai, maka muncullah gejala-gejala yang mengkhawatirkan itu. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa dalam ancaman serius. Indonesia yang selalu digembar- gemborkan sebagai bangsa yang bersatu ternyata begitu mudah dipecah-belah. Semangat nasionalisme yang menunjukkan loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa dan negara semakin kabur dan hanya berhenti pada tataran seremonial belaka. Semua itu menjadi renungan bersama bangsa ini sehingga kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai upacara bendera, kemeriahan, atau bahkan sekedar rutinitas yang datang setiap tahun.
Ketika pertikaian antarkelompok di Sambas, Sampit, Ambon, dan Poso sudah mereda, sekarang ini muncul benih- benih permusuhan antarkelompok yang baru. Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) yang dimaksudkan sebagai sarana memberi kesempatan kepada warga masyarakat untuk memilih pemimpin mereka secara langsung ternyata tidak lepas dari pertikaian. Ketidakpuasan satu kelompok terhadap kelompok yang lain ditunjukkan dalam bentuk penggalangan massa untuk pamer kekuatan. Seringkali aksi massa tersebut diikuti dengan konflik fisik dan tindakan anarkis.
Pertikaian antarkelompok juga dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa yang menjadi generasi penerus perjalanan bangsa ini. Mereka melakukan tawuran massal untuk menyatakan
kebencian satu sama lain dan menganggapnya sebagai solusi atas perbedaan yang terjadi. Kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Surabaya, Ambon, dan Gorontalo sering mendapatkan liputan media massa karena beragam aksi tawuran pelajar. Upaya untuk menghentikan tawuran pelajar dan mahasiswa sampai saat ini belum membuahkan hasil yang nyata. Generasi muda yang semestinya mengedepankan akal, logika, dan musyawarah untuk menyelesaikan persoalan justru memilih tindak kekerasan.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan maka kualitas penerus bangsa ini sungguh memprihatinkan.
Bentuk konflik lain yang penyelesaiannya melalui tindak kekerasan dan kriminal adalah fenomena teror bom.
Ketidakpuasan satu kelompok terhadap kebijakan pemerintah, persoalan agama, suku, dan politik dilampiaskan dengan menggunakan aksi pemboman. Korban tewas akibat aksi ini sudah mencapai puluhan orang dan melukai ratusan orang lainnya. Mereka yang menjadi korban seringkali tidak terkait dengan kepentingan politik dan ideologi tertentu. Di negeri yang sudah merdeka lebih dari setengah abad ini juga masih diwarnai dengan perang antarkampung. Di Jakarta dan beberapa kota lain, perang antarkampung masih sering terjadi.