• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemajemukan Sebagai Sumber Kemajuan BangsaBangsa

NEGARA MAJEMUK

B. Kemajemukan Sebagai Sumber Kemajuan BangsaBangsa

dan keindahan alam yang tak ternilai harganya. Tambang emas dan hamparan laut yang indah membuat tanah Papua menjadi daya tarik tersendiri. Salah satu lokasi wisata yang terkenal di Papua adalah wilayah Raja Ampat.

8. Suku Dayak

Wilayah Kalimantan merupakan tempat Suku Dayak tinggal.

Mereka tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Suku dayak memiliki banyak ragam, di antaranya Dayak Punan, Meratus, Mayau, Tunjung, dan Mali.

Suku Dayak dikenal dengan beragam kesenian, seperti ukiran dan tarian. Tari Gantar, Tari Kancet Papatai, dan Kancet Ledo adalah contoh tarian Suku Dayak.

9. Suku Minang

Suku Minang mendiami daerah Sumatera Barat dan dikenal dengan Rumah Gadang sebagai rumah adat. Suku Minang juga dikenal sebagai pedagang dan pengusaha yang sukses. Salah satu contohnya adalah keberadaan Rumah Makan Padang di hampir setiap wilayah di Indonesia. Suku Minang juga memiliki kemampuan berpantun yang andal.

B. Kemajemukan Sebagai Sumber Kemajuan

negara ini menyadari kemajemukan tersebut sehingga dalam proses penyatuan Indonesia tetap memperhatikan kemajemukan.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) yang dicetuskan oleh para pendiri bangsa menunjukkan proses persatuan yang tetap menghargai kemajemukan. Contoh lain adalah pengakuan kemajemukan dalam beragam keyakinan yang dianut oleh masyarakat. Penganut agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Konghucu, dan penganut kepercayaan lain dapat hidup dengan sejajar di Indonesia. Negara memberi kebebasan dan kesempatan kepada seluruh warga untuk memilih keyakinan dan agamanya masing-masing. Negara juga menjamin kebebasan untuk beribadah dan mengamalkan ajaran agama yang mereka yakini. Beragam umat beragama dapat hidup rukun dalam jaminan kebebasan dari pemerintah.

Seiring berkembangnya zaman, kemajemukan Indonesia tidak hanya berasal dari aspek budaya, adat istiadat, dan agama.

Perkembangan teknologi menyebabkan beragam pekerjaan baru sehingga menimbulkan keragaman jenis pekerjaan. Semakin banyaknya masyarakat luar negeri yang tertarik untuk datang ke Indonesia untuk kepentingan wisata atau perdagangan membuat percampuran budaya semakin kompleks. Budaya Indonesia bercampur dengan budaya lain sehingga menambah kemajemukan bangsa. Budaya Korea yang dikenal dengan K-Pop adalah contoh bagaimana budaya asing masuk dan digemari di Indonesia. Kemudian tumbuh beragam komunitas yang mencintai budaya tersebut sehingga menambah kemajemukan bangsa.

Di Indonesia juga tumbuh beragam komunitas yang berbasis percampuran dengan budaya asing. Ada Kampung Arab, Kampung India, Kampung Bugis, dan Pecinan sebagai contoh kelompok

masyarakat yang tinggal berdasar kesamaan budaya.

Kekayaan bangsa Indonesia tidak hanya mendapat pengakuan dari dalam negeri. Badan dunia Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti UNESCO telah mengakui kekayaan kebudayaan Indonesia.

UNESCO menjadikan kekayaan kebudayaan tersebut sebagai bagian dari warisan dunia. Beberapa kekayaan budaya bangsa Indonesia yang sudah mendapat pengakuan dunia adalah batik, wayang kulit, rendang, nasi goreng, angklung, songket, dan ulos.

Aneka bahasa yang terdapat di Indonesia juga menarik minat orang dari berbagai penjuru dunia untuk mempelajarinya.

Bahasa Jawa menjadi bahan kajian di beberapa universitas di luar negeri. Seni Pewayangan yang meliputi pertunjukan wayang kulit, sinden (penyanyi jawa), gamelan (musik jawa), dan juga wayang orang menjadi salah satu seni yang digemari. Berbagai masyarakat dari berbagai penjuru dunia datang ke Indonesia untuk belajar kesenian tersebut. Hasil kesenian lain yang juga diminati adalah batik. Setelah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia, batik mengalami perkembangan pesat. Batik tersebar di berbagai penjuru Indonesia, ada batik Kalimantan, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Banyumasan, dan batik lain. Melihat potensi tersebut maka semestinya kemajemukan bangsa ini menjadi sumber kekayaan dan potensi bangsa untuk maju dan berkembang. Kemajemukan bukan menjadi penghalang untuk maju atau menjadi alasan untuk bercerai-berai.

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia selalu memperingati hari kemerdekaan yang diproklamirkan pada tahun 1945 silam. Zaman berubah, generasi berganti tetapi perayaan kemerdekaan baik di kota maupun di desa selalu meriah. Lomba olahraga di kampung-kampung sampai seremonial kenegaraan

selalu digelar di hari bersejarah ini. Anak-anak sekolah berpakaian rapi, memegang bendera, dan berjalan keliling kampung sambil berteriak “merdeka” seakan mengenang kembali para pendahulu bangsa ini ketika menyambut hari kemerdekaan. Tak ketinggalan di berbagai tempat, bendera merah putih dikibarkan, umbul- umbul dipasang, gapura desa diperbarui, dan berbagai spanduk ucapan selamat hari kemerdekaan terpampang di sepanjang jalan. Aneka acara dibuat mulai dari lomba makan krupuk, panjat pinang, gerak jalan, tirakatan, panggung hiburan, karnaval, sampai pentas wayang kulit semalam suntuk yang semuanya merupakan luapan kegembiraan bangsa ini menyambut peringatan hari kemerdekaan.

Kini 60 tahun lebih usia bangsa ini, suatu usia yang semestinya menunjukkan kematangan, kearifan, dan kemapanan dalam bertindak dan tentu saja kemampuan untuk merealisasikan hakekat kemerdekaan. Namun, jika kita cermati keadaan masyarakat kita sekarang ini, harapan tersebut tentunya masih jauh dari kenyataan. Krisis berkepanjangan yang dialami bangsa ini tidak saja berakibat secara ekonomi, tetapi juga semakin menjauhkan dari sikap dewasa.

Berbagai konflik horizontal yang dipicu persoalan politik, ekonomi, sosial, suku, agama, dan ras (SARA) mencerminkan jauhnya bangsa ini dari sikap arif dan matang dalam bertindak.

Lihatlah pemilihan kepala daerah yang berdarah-darah dan penuh amuk massa, aksi tawur antarwarga, maupun kekerasan dalam berbagai bentuk. Belum lagi keinginan beberapa daerah untuk merdeka yang semakin menguat. Kesemuanya itu memunculkanKesemuanya itu memunculkan kekhawatiran ancaman perpecahan nasional akibat berbagai kasus yang tak henti-hentinya terjadi selama ini. Muncullah

pesimisme bahwa “persatuan dan kesatuan” yang didengungkan selama ini tampaknya tidak sekokoh yang dibayangkan. Suatu bentuk tanpa isi, karena persatuan bersifat seremonial belaka.

Begitu seremoni usai, maka muncullah gejala-gejala yang mengkhawatirkan itu.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa dalam ancaman serius. IndonesiaIndonesia yang selalu digembar-gemborkan sebagai bangsa yang bersatu ternyata begitu mudah dipecah-belah. Semangat nasionalisme yang menunjukkan loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa dan negara semakin kabur dan hanya berhenti pada tataran seremonial belaka. Semua itu menjadi renungan bersama bangsa ini sehingga kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai upacara bendera, kemeriahan, atau bahkan sekedar rutinitas yang datang setiap tahun.

Retakan-retakan kebhinnekaan yang mulai menguat di tengah masyarakat kita semestinya mendapat perhatian serius dari semua pihak. Jika tidak kita perhatikan dengan serius maka keutuhan bangsa ini bisa jadi tinggal kenangan. Satu per satu wilayah Indonesia akan memilih untuk merdeka dan pada akhirnya Indonesia tinggal menjadi kenangan sejarah. Persoalannya, bagaimanakah kita bisa mengatasi ancaman tersebut?

Jika kita mau menggali dan belajar dari sejarah perjalanan bangsa ini, maka jawaban pertanyaan tersebut bisa kita temukan. Generasi 1908 yang dipelopori Boedi Oetomo, generasi 1928 dengan Sumpah Pemuda, dan generasi 1945 yang berhasil mencetuskan proklamasi telah memberi pelajaran bagaimana persatuan dan kesatuan bangsa ini dibentuk. Kuncinya terletak pada kemauan untuk menghargai dan menerima kebhinnekaan,

mengikis egoisme primordial dan membangun kesadaran kebangsaan.

Kebhinnekaan Indonesia itu bukan sekedar mitos, tetapi realita yang ada di depan mata kita. Harus kita sadari bahwa pola pikir dan budaya orang Jawa itu berbeda dengan orang Minang, Papua, Dayak, Sunda, dan lainnya. Elite pemimpin yang berasal dari kota-kota besar dan metropolitan bisa jadi memandang Indonesia secara global, akan tetapi elite pemimpin nasional dari budaya lokal tertentu memandang Indonesia berdasarkan jiwa, perasaan, dan kebiasaan lokalnya. Ini saja menunjukkan kalau cara pandang kita tentang Indonesia berbeda. Jadi tanpa kemauan untuk menerima dan menghargai kebhinnekaan maka sulit untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Apa yang dilakukan oleh pendahulu bangsa ini dengan membangun kesadaran kebangsaan atau nasionalisme merupakan upaya untuk menjaga loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa. Permasalahannya, mengapa nasionalisme kita sekarang ini nampaknya tidak mampu menjaga keutuhan bangsa? Hal tersebut tidak terlepas dari sifat nasionalisme kita yang tidak operasional atau hanya berhenti pada tataran konsep dan slogan politik. Nasionalisme bisa berfungsi sebagai pemersatu beragam suku, tetapi perlu secara operasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan objektif setiap warga dalam suatu negara- bangsa. Tradisi dari suatu bangsa yang gagal memenuhi fungsi pemenuhan kebutuhan hidup objektif akan kehilangan peranobjektif akan kehilangan peran sebagai peneguh nasionalisme. Hal ini bisa memperlemah kesatuan politik negara bersangkutan, terlebih bagi negara- bangsa yang terdiri dari beragam suku dan kepulauan seperti Indonesia.

Nasionalisme sebagai basis ideologi kebangsaan yang dibangun dari pengalaman kolektif perang kemerdekaan sudah tidak fungsional memecahkan berbagai persoalan kebangsaan di abad informasi. Saat ini diperlukan tafsir baru nasionalisme sebagai kesadaran kolektif di tengah pola kehidupan baru yang mengglobal dan terbuka. Batas-batas fisik negara-bangsa yang terus mencair menyebabkan kesatuan negara kepulauan seperti Indonesia amat rentan terhadap serapan budaya global yang tidak seluruhnya sesuai tradisi negeri ini. Di samping itu realisasi otonomi daerah yang kurang tepat akan memperlemah nilai dan kesadaran kolektif kebangsaan di bawah payung nasionalisme.

Menurut Profesor Abdul Munir Mulkhan, kekukuhan nasionalisme di dalam diri bangsa ditentukan posisi dan seberapa ia berakar dalam „dunia batin“ warga bangsa tersebut.

Nasionalisme yang sekedar konsensus politik nasional, akan mudah pudar bersama perubahan sosial yang semakin cepat di era global ini. Wawasan nasionalisme akan tetap segar jika ia juga merupakan daya spritual dan kesadaran hidup di dalam diri orang atau warga bangsa. Karena itulah nasionalisme seharusnya selalu disegarkan kembali dan didialogkan bersama seluruh warga suatu bangsa tersebut. Nasionalisme yang berhenti sebagai doktrin ideologis kenegaraan kurang berakar dalam kesadaran hidup warga. Kesadaran nasionalisme (NKRI) tumbuh kukuh dalam diri Kesadaran nasionalisme (NKRI) tumbuh kukuh dalam diri rakyat kebanyakan yang rela berkorban bagi kepentingan nusa bangsanya, ketika mereka merasa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kebangsaan itu. Kesadaran primordial rakyat nampak lebih kental dibanding elite yang lebih rasional. Namun ketika rakyat itu melihat praktek kekuasaan yang egois bagi kepentingan elite, muncul kritik dan pemberontakan budaya.

Inilah krisis paling serius, lebih serius daripada berbagai krisis ekonomi-politik yang dihadapi bangsa ini. Kesadaran spritual di atas penting dikembangkan sebagai basis “nasionalisme baru”

berbeda dengan konsep kewilayahan di berbagai belahan dunia dan bangsa lain. Persoalannya adalah bagaimana kesadaran itu berfungsi di tengah mobilitas sosial dan kesadaran rasional dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan? Kesadaran kenusantaraan yang primordial tersebut nampak semakin pudar dalam lapis sosial lebih tinggi dan masyarakat yang semakin meng-kota. Bhinneka Tunggal Ika bukan slogan politik.

Nasionalisme tidak bergantung pada mitos saja, tetapi juga harus melihat realita kebhinnekaan Indonesia. Dan inilah yang selamaDan inilah yang selama ini diabaikan. Momentum kemerdekaan semestinya menjadi saat tepat untuk menyegarkan kembali gagasan nasionalisme tersebut. Harapannya bisa mengatasi berbagai retakan-retakan kebhinnekaan yang mulai menjurus pada tindakan anarkhis yang membahayakan keutuhan bangsa. Perhatian terhadap nasionalisme penting agar kemajemukan benar-benar menjadi kekayaan dan potensi kemajuan, bukan menjadi penyebab kehancuran.