• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik dalam keluarga

NEGARA MAJEMUK

D. Beragam Konflik dan Cara Mengatasinya

1. Konflik dalam keluarga

kebencian satu sama lain dan menganggapnya sebagai solusi atas perbedaan yang terjadi. Kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Surabaya, Ambon, dan Gorontalo sering mendapatkan liputan media massa karena beragam aksi tawuran pelajar. Upaya untuk menghentikan tawuran pelajar dan mahasiswa sampai saat ini belum membuahkan hasil yang nyata. Generasi muda yang semestinya mengedepankan akal, logika, dan musyawarah untuk menyelesaikan persoalan justru memilih tindak kekerasan.

Apabila kondisi ini terus dibiarkan maka kualitas penerus bangsa ini sungguh memprihatinkan.

Bentuk konflik lain yang penyelesaiannya melalui tindak kekerasan dan kriminal adalah fenomena teror bom.

Ketidakpuasan satu kelompok terhadap kebijakan pemerintah, persoalan agama, suku, dan politik dilampiaskan dengan menggunakan aksi pemboman. Korban tewas akibat aksi ini sudah mencapai puluhan orang dan melukai ratusan orang lainnya. Mereka yang menjadi korban seringkali tidak terkait dengan kepentingan politik dan ideologi tertentu. Di negeri yang sudah merdeka lebih dari setengah abad ini juga masih diwarnai dengan perang antarkampung. Di Jakarta dan beberapa kota lain, perang antarkampung masih sering terjadi.

nilai-nilai yang dianut oleh anggotanya. Nilai dan aturan tersebut diwariskan secara turun-temurun dari orang tua kepada anak- anaknya.

Dalam keluarga, hubungan komunikasi yang paling kental adalah model komunikasi antarpribadi. Kedekatan komunikasi satu sama lain dibangun dengan keterbukaan, saling pengertian, saling menyayangi, dan membantu. Setiap keluarga memiliki tipe komunikasi yang berbeda satu sama lain. Sebagian keluarga menjalankan komunikasi yang otoriter, di mana orang tua tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya. Pada keluarga yang demokratis semua bagian dari keluarga mulai dari orang tua, anak, kakek, nenek, dan anggota keluarga lain diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat.

Beberapa bentuk konflik dalam keluarga, di antaranya pertengkaran antaranak, pertengkaran anak dengan orang tua, dan pertengkaran antarorang tua. Bentuk konflik tersebut bisa bersifat sementara atau konflik berkepanjangan. Jika bentuk konflik tersebut berkepanjangan maka keharmonisan keluarga akan terganggu. Pada model keluarga yang komunikasinya otoriter, konflik antar anggota keluarga biasanya diselesaikan dengan paksaan. Komunikasi tidak digunakan dengan efektif sehingga sering menimbulkan dendam antaranggota keluarga.

Berikut contoh penyelesaian konflik dalam keluarga yang komunikasinya otoriter.

Budi, Rini, dan Yudi adalah tiga bersaudara. Budi adalah adik dari Rini. Budi dan Rini ingin membeli tas baru sebelum masuk sekolah. Orang tua Budi dan Rini hanya mampu membelikan satu

tas baru bagi anaknya. Budi dan Rini masing-masing berpendapat bahwa mereka yang berhak untuk mendapatkan tas baru. Tanpa meminta pendapat dari Budi dan Rini, keduanya tidak dibelikan tas baru. Ayah memilih untuk membelikan tas baru bagi Yudi.

Keputusan ayah tersebut membuat Budi dan Rini kecewa dan merasa jengkel dengan ayah dan Yudi.

Dalam ilustrasi tersebut, keputusan ayah untuk membelikan tas Yudi tidak dikomunikasikan dengan Budi dan Rini. Hal ini membuat mereka kecewa dan merasa jengkel dengan Yudi. Keputusan ayah membelikan tas untuk Yudi ternyata disebabkan kondisi tasnya yang sudah rusak, sementara tas Budi dan Rini masih bagus.

Keputusan ayah sebenarnya tepat, tetapi tidak dikomunikasikan dengan Budi dan Rini sehingga mereka berdua tidak tahu alasan ayah membelikan Yudi tas baru.

Keluarga demokratis yang mengedepankan komunikasi akan memberiikan kesempatan pada setiap anggota keluarga untuk mengemukakan pendapat. Keputusan diambil berdasar musyawarah setelah mendengarkan pendapat semua anggota keluarga. Dalam contoh kasus di atas, ayah bisa mengajak Budi dan Rini berdialog.

Alasan ayah untuk membelikan tas baru bagi Yudi akan bisa dipahami dengan baik oleh mereka berdua jika dikomunikasikan dalam forum keluarga. Dalam dialog terbuka orang tua dan anak bisa mengungkapkan pendapat mereka. Keputusan dalam keluarga dihasilkan melalui musyawarah untuk mufakat.

Bentuk-bentuk konflik dalam keluarga seperti pertengkaran orang tua dengan anak, perbedaan pendapat antaranak, orang tua dengan menantu, ayah dengan ibu, semua bisa diselesaikan jika komunikasi dikedepankan. Pentingnya peran komunikasi

dalam menyelesaikan konflik keluarga perlu dibarengi dengan kemauan untuk membuka diri dan mengembangkan dialog.

Komunikasi anak dengan orang tua seringkali putus di tengah jalan. Banyak anak yang memilih mengabaikan peran orang tua untuk membantu permasalahan mereka. Contohnya adalah kasus keterlibatan remaja dalam tindakan kekerasan, narkoba, terlibat tawuran, menjadi anggota geng motor dan kenakalan lainnya. Remaja seperti ini biasanya tidak terbuka pada keluarga. Hubungan komunikasi seolah terputus setelah mereka terlibat dalam berbagai kenakalan tersebut. Semestinya komunikasi dalam keluarga bisa menjadi benteng bagi anak agar tidak terjerumus dalam tindakan melawan hukum dan norma masyarakat. Berikut contoh petikan berita yang menggambarkan pentingnya peran orang tua dan keluarga agar anak tidak terjerumus perbuatan kriminal.

Polri Imbau Orangtua Waspadai Anak Terlibat Geng Motor Polhukam | Senin, 16 April 2012 15:51 WIB

Metrotvnews.com, Jakartav: Kepolisian mengimbau para orangtua mengawasi dan mengontrol anak mereka, khususnya yang menggunakan sepeda motor. Hal itu guna mengantisipasi para remaja tergabung dalam geng motor, dan kerap turun ke jalan untuk balapan liar.

“Kalau sampai jam 3-4 pagi belum pulang, kenapa? Apalagi kalau mengendarai motor dengan knalpot bising dan tidak memakai lampu. Seharusnya mereka mulai berpikir apakah terkait dengan geng motor,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (16/4).

Saud mengatakan pihaknya kesulitan memberantas geng- geng motor yang marak tumbuh di kota-kota besar, tanpa kerja sama dari orangtua. Keberadaan mereka dinilai membuat resah masyarakat. Tak jarang kegiatan para anggota geng motor berujung keonaran, bahkan melanggar pidana.

“Kita akan menidak tegas para pelaku, walaupun pelanggaran ringan seperti pelanggaran lalu-lintas. Tapi kalau tindakan pidana seperti penganiayaan, pembunuhan, dan pengancaman, akan diproses pidana untuk memberikan efek jera kepada pelaku tersebut,” kata Saud. (IKA)

Dalam berita tersebut dicontohkan pentingnya kewaspadaan dari orang tua untuk mengamati perilaku anak-anaknya. Orang tua harus membuka komunikasi dengan anak agar mereka mengetahui masalah anaknya. Komunikasi dalam keluarga merupakan implementasi dari komunikasi antarpribadi yang dilakukan dalam lingkup keluarga. Dalam keluarga, kegiatan komunikasi menjadi kegiatan teratur yang terpola. Untuk membiasakan komunikasi yang teratur perlu dibuat acara yang melibatkan semua anggota keluarga. Acara makan bersama ketika pagi dan malam hari bisa dimanfaatkan untuk membicarakan setiap persoalan keluarga.

Di beberapa keluarga ada acara liburan bersama yang dilakukan ketika libur sekolah. Anak-anak bisa memanfaatkan liburan dengan orang tuanya agar hubungan lebih dekat. Perayaan hari besar keagamaan seperti Idul Fitri juga bisa dimanfaatkan untuk mempererat hubungan dalam keluarga. Dalam momen Idul Fitri biasanya orang lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain. Karena itu dalam keluarga ketika terjadi konflik antara orang tua dengan anak bisa memanfaatkan Idul Fitri

untuk membangun komunikasi efektif. Di sekolah sering digelar kegiatan bersama yang melibatkan orang tua dan anak. Dalam peringatan Kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus biasanya digelar berbagai lomba. Kegiatan tersebut sering melibatkan orang tua dan anak. Acara seperti ini bermanfaat untuk meningkatkan keakraban dalam keluarga.

Orang tua harus memberi kesempatan anak-anaknya mengemukakan masalah. Terkadang anak merasa takut untuk mengungkapkan persoalannya karena orang tua tidak memberi kesempatan untuk berkomunikasi. Dalam keluarga yang tidak membuka pintu komunikasi bagi anak, biasanya sering terjadi konflik terpendam. Anak yang tidak puas dengan keputusan orang tua tidak bisa mengeluarkan pendapatnya sehingga timbul amarah yang terpendam. Amarah dalam diri anak bisa menjadi bom waktu yang memicu konflik dalam keluarga. Apabila dalam keluarga ada komunikasi yang terbuka, maka anak bisa mengeluarkan pendapat mereka.

Komunikasi efektif dalam keluarga sejatinya bisa menjadi solusi atas beragam persoalan yang terjadi di masyarakat.

Keluarga sebagai bagian dari masyarakat akan membantu memberikan pondasi yang kuat bagi kerukunan dan kedamaian.

Karena itu beragam konflik yang mungkin muncul dari keluarga semestinya segera dicarikan jalan keluar agar tidak berlarut- larut.