BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
21
22
mencapai tujuan pembelajaran. Strategi Pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru, instruktur dalam proses pembelajaran yang didesain secara khusus baik dalam bentuk metode, pemanfaatan berbagai sumber daya belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Misalnya strategi pembelajaran berbentuk metode, untuk melaksanakan strategi pembelajarannya bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau diskusi dengan memanfaatkan media atau sumber daya yang tersedia termasuk menyediakan dan menggunakan media pembelajaran.
Selanjutnya, mengutip pemikiran J. R David mengatakan bahwa dalam strategi pembelajaran tersirat makna perencanaan.20 Yang artinya, bahwa strategi pembelajaran hakikatnya masih bersifat konseptual berkenaan keputusan-keputusan yang nantinya akan diambil dalam rangka melaksanakan proses pembelajaran.
Pembelajaran Al-qur‟an merupakan upaya membelajarkan siswa untuk belajar membaca dan mengucapkan huruf-huruf Al-qur‟an. Kegiatan ini mengakibatkan peserta didik mempelajari Al-qur‟an dengan cara efektif dan efisien.21 Strategi Guru Al-qur‟an Hadis yang dimaksud di sini adalah segenap usaha, rencana, atau pola yang dilakukan oleh guru Al-qur‟an Hadis dalam mengatasi kesulitan baca Al-qur‟an pada peserta didik.
20 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, 127.
21 Muhaimin M.A, Strategi Belajar Mengajar, (Surabaya: Citra Media, 1996), 99.
23
Untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik, strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru Al-qur‟an Hadis dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada 3 jenis strategi yang berkaitan dengan pembelajaran, yakni:22
1) Strategi pengorganisasian pembelajaran.
Reigeluth, Bunderson dan Meril menyatakan strategi mengorganisasi isi pelajaran disebut sebagai struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk membuat urutan dan mensintesis fakta, konsep, prosedur dan prinsip yang berkaitan. Strategi pengorganisasian, lebih lanjut dibedakan menjadi dua jenis, yaitu strategi mikro dan strategi makro. Startegi mikro mengacu kepada metode untuk pengorganisasian isi pembelajaran yang berkisar pada satu konsep, atau prosedur atau prinsip. Strategi makro mengacu kepada metode untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu konsep atau prosedur atau prinsip.
Strategi makro berurusan dengan bagaimana memilih, menata urusan, membuat sintesis dan rangkuman isi pembelajaran yang saling berkaitan.
2) Strategi penyampaian pembelajaran
Strategi penyampaian isi pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Fungsi strategi penyampaian pembelajaran adalah:
22 Mulyono dan Ismail Suardi Wekke, Strategi Pembelajaran di Abad Digital, (Yogyakarta: CV. Adi Karya Mandiri, 2018), 7-8.
24
(1) menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar, dan (2) menyediakan informasi atau bahan-bahan yang diperlukan pebelajar untuk menampilkan unjuk kerja.
3) Strategi pengelolaan pembelajaran
Strategi pengelolaan pembelajaran merupakan komponen variabel metode yang berurusan dengan bagaimana menata interaksi antara pebelajar dengan variabel metode pembelajaran lainnya. Strategi ini berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian mana yang digunakan selama proses pembelajaran. Wahyuningsih berpendapat Paling tidak, ada 3 (tiga) klasifikasi penting variabel strategi pengelolaan, yaitu penjadwalan, pembuatan catatan kemajuan belajar peserta didik, dan motivasi
b. Kesulitan Belajar Baca Al-qur‟an
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kesulitan merupakan kesusahan, sesuatu yang sulit, keadaan yang sulit.23 Belajar membaca Al-qur‟an merupakan aktivitas ibadah yang paling utama dalam rangka mengenal dan mengucapkan huruf-huruf hijahiyah yang ada pada ayat-ayat Al-qur‟an dengan kaidah ilmu tajwid yang baik dan benar. Baik dari segi makhôrijal al-huruf tempat keluarnya huruf hijahiyah, hukum bacaan maupun dalam panjang pendeknya pengucapan huruf Al-qur‟an. Jadi dengan demikian kesulitan belajar
23 Kemdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (KBBI V 0.4.0, 2016-2020) Beta diakses dari aplikasi: https://github.com/yukuku/kbbi4
25
baca Al-qur‟an merupakan kesusahan yang dialami oleh peserta didik dalam mengucapkan huruf-huruf hijahiyah yang terdapat dalam ayat- ayat Al-qur‟an. Dalam belajar baca Al-qur‟an membutuhkan niat, tekad, konsentrasi dan kesungguhan sebagai wujud usaha keras agar bisa menguasai bacaan dalam ayat-ayat dan surat dalam Al-qur‟an.
Belajar membaca Al-qur‟an sejatinya sangatlah mudah, tidak ada kesusahan dalam mempelajarinya hanya saja yang penting sering diulangi dan diucapkan. Yang sering membuat sulit membaca Al- qur‟an adalah bayangan kesulitan dalam diri peserta didik itu sendiri sehingga energi mukjizat Al-qur‟an hilang disebabkan keyakinan yang belum matang. Dari itulah, seorang guru harus sering dan senantiasa memberikan motivasi kepada peserta didiknya sebelum belajar dan sesudah belajar membaca Al-qur‟an. Bayangan kesulitan itu tidak seharusnya ditampilkan, bahkan dibuang jauh-jauh dan segera menampilkan sebuah keyakinan bahwa belajar membaca Al-qur‟an itu mudah karena Allah SWT sendiri yang memberikan jaminan kemudahan sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Al-Qomar: 17 berikut ini;24
ٰا قلاا قل ل
م لهف م
24 Departemen Agama RI, Al-qur‟an dan Terjemahnya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-qur‟an, 1992), Al-qur‟an Surat Al-Qomar [54]: 17
26
Artnya: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-qur‟an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qomar: 17)
Ayat di atas mengajarkan kepada kita semua bahwa salah satu mukjizat Al-qur‟an adalah memberikan kemudahan kepada siapa saja dalam mempelajarinya. Proses belajar mengajar itu berlandaskan dua asas yaitu perhatian terhadap tingkat pemikiran siswa, pengembangan potensi akal, jiwa dan jasmaniyahnya dengan metode yang dapat membawanya kea rah kebaikan dan keterbimbingan.
Hikmah turunnya Al-qur‟an secara bertahap itu kita melihat adanya suatu metode yang berfaedah bagi kita dalam mengaplikasikan kedua asas tersebut. Sebab turunnya Al-qur‟an itu telah meningkatkan pendidikan umat islam secara bertahap dan bersifat alami untuk memperbaiki jiwa manusia, meluruskan perilakunya, membentuk kepribadian dan menyempurnakan eksistensinya sehingga jiwa itu tumbuh kokoh di atas pilar-pilar yang kokoh dan mendatangkan buah yang baik bagi kebaikan peserta didik. Sistem belajar mengajar yang tidak memperhatikan tingkat pemikiran siswa dalam tahap-tahap pengajaran, pembinaan bagian-bagian ilmu di atas suatu yang bersifat menyeluruh dan mutlak, serta dari yang umum menjadi yang khusus, atau tidak memperhatikan pertumbuhan aspek- aspek kepribadian yang bersifat intelektual, rohani dan jasmani
27
maka ia adalah sistem pendidikan yang gagal dan tidak akan memberikan hasil ilmu pengetahuan kepada siswa selain hanya menambah kebekuan dan kemunduran.25
Demikian halnya guru yang tidak memberikan kepada para siswanya porsi materi yang sesuai dan hanya menambah beban kepada mereka di luar kesanggupannya untuk mempelajari cara membaca Al- qur‟an, memahaminya maupun ke ranah menghafalkannya.
Mengajarkan kepada siswa sesuatu yang tidak bisa mereka jangkau serta tidak memperhatikan keadaan mereka dalam upaya terapi dalam kesulitan yang dialami oleh siswa ketika proses belajar membaca Al- qur‟an dengan baik dan benar, bersifat kasar dank eras dalam mengajarkan peserta didik, menanganinya dengan tergesa-gesa, tidak bertahap dan bijaksana maka guru juga termasuk guru yang gagal galam mengajarkan Al-qur‟an kepada peserta didiknya. Guru seperti itu telah mengubah proses belajar mengajar menjadi pertualangan menyesatkan yang mengerikan sehingga ruang belajar tersebut menjadi tempat yang tidak lagi disenangi oleh peserta didik.
c. Keutamaan Membaca Al-qur‟an sesuai ilmu tajwid
Sebelum masuk dalam pembahasan keutamaan membaca Al- qur‟an, rasanya sebuah keutamaan dalam membaca Al-qur‟an tidak akan bisa diraih manakalah mengabaikan pondasi awal tentang cara membaca Al-qur‟an sesuai ilmu tajwid. Para ulama mendefinisikan
25 Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-qur‟an, (Jakarta: Pustaka Al- kautsar, 2015), 149.
28
tajwid sebagai “memberikan kepada huruf akan hak-hak dan tertibnya, mengembalikan huruf kepada makhraj dan asalnya serta menghaluskan pengucapannya dengan cara yang sempurna tanpa berlebihan, tergesa- gesa dan dipaksa-paksakan”.26 Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu mempunyai kaidah-kaidah tertentu yang harus dipedomani dalam pengucapan huruf-huruf dari makhrajnya disamping harus pula diperhatikan hubungan setiap huruf dengan sebelum dan sesudahnya dalam cara pengucapannya. Oleh karena itu ia tidak dapat diperoleh hanya sekedar dipelajari namun juga harus melalui latihan, praktik dan menirukan orang yang baik bacaannya.
Sesungguhnya Al-qur‟an itu harus dibaca dengan cara tahqiq, yaitu dengan cara memberikan kepada setiap huruf akan haknya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh para ulama, atau dengan cara tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang. atau dengan cara hadar, yaitu membaca dengan cepat tetapi tetap memperhatikan syarat-syarat pengucapan yang benar. Dan ada pula bacaan dengan cara tadwir, yaitu pertengahan antara tahqiq dan hadar.
Membaca Al-qur‟an adalah sunnah yang terbaik dalam Islam dan dianjurkan memperbanyaknya agar setiap muslim terutama peserta didik hidup kalbunya dan cemerlang akalnya dalam menangkap materi pelajaran yang lain karena mendapat siraman cahaya Kitab Allah yang dibacanya.
26 Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-qur‟an, 230
29
Keutamaan membaca Al-qur‟an sangatlah banyak, orang yang senantiasa membaca dan mengajarkan Al-qur‟an merupakan suatu kemuliaan tersendiri bagi seorang yang belajar maupun yang mengajarkan Al-qur‟an. Pembelajaran Al-qur‟an memiliki nilai-nilai yang sangat baik untuk perkembangan peserta didik, baik itu dari segi nilai-nilai agama-moral maupun akhlak. Hal ini tidak diragukan lagi bagi ummat manusia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW,
“saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)27
Allah SWT sudah menjanjikan bagi orang yang membaca Al- qur‟an dengan satu huruf saja akan memberikan ganjaran pahala satu kebaikan, satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat yakni dalam satu huruf dibalas dengan 10 kebaikan. Ibadah yang paling utama yakni membaca Al-qur‟an. Akan tetapi, kebanyakan orang menyepelekan akan hal itu, mereka lebih suka membuka gadget, ikut mendengarkan gosip-gosip para selebritis di TV padahal itu juga tidak membawa keberuntungan baginya, malah itu adalah ladang dosa karena secara tidak sadar ia juga ikut menggibah orang yang ada di dalam TV tersebut, na’udzubillah.
Al-qur‟an adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT secara Mutawattir yang sangat mulia. Al-qur‟an adalah wahyu, kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril AS
27 Muhdir, “Sistem Pembelajaran Tahfidz Al-qur‟an Dengan Metode Al-Qosimi Di Sekolah Dasar Islam Al-Mujahiddin Cilacap” (Tesis, FTIK IAIN Purwokerto, 2018), 128.
30
lalu disampaikan kepada sang kekasih Allah SWT yakni Nabiyyuna Muhammad SAW sebagai penyempurna kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Al-qur‟an merupakan ajaran yang jelas dan terang petunjuk bagi kehidupan manusia yang langsung datangnya dari Allah SWT.28 Al-qur‟an berasal dari kata Qara’ah yang berbentuk mashdar yakni dengan arti isi maf’ul yaitu maqru (dibaca).
Al-qur‟an adalah pedoman manusia, petunjuk bagi kesenjangan hidup selama di dunia bagi orang-orang yang beriman yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Kemuliaan seseorang tergantung bagaimana ia menerapkan dan mengaplikasikan Al-qur‟an di dalam kehidupan sehari-harinya, bahwasanya kata beriman tidak butuh pembuktian yang hanya sekedar dilidah saja akan tetapi seseorang perlu adanya pembuktian yang nyata kepada Tuhan-Nya, bahwa memang benar Al-qur‟an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril AS, untuk ummat manusia, sebagaimana Allah SWT berfirman di dalam QS. Asy-Syu‟araa ayat 192-196, yakni;
28 Sayyid Ahmad Al-Marzuqi, Kitab Terjemah Dan Syarah „Aqidatul „Awam, (Surabaya:
Al-Hidayah, 2009), 56.
31
Artnya: “dan sesungguhnya Al-qur‟an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al-qur‟an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang dahulu”. (QS. Asy-Syu‟araa: 192-196).29
2. Jenis-Jenis dan Klasifikasi Strategi Pembelajaran
Abdul Majid menjelaskan tentang jenis-jenis atau klasifikasi strategi pembelajaran dalam bukunya yang berjudul strategi pembelajaran sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Ghofur dalam Tesisnya yakni:30
29 Departemen Agama RI, Al-qur‟an dan Terjemahnya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-qur‟an, 1992), QS. Asy-Syu‟araa [26]: 192-196.
30 M. Abdul Ghofur, “Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Penanaman Karakter Siswa: Studi Komparasi di SMKN 1 Cihampelas dan SMK Fajar Kencana Batujajar Kab. Bandung Barat” (Tesis, FTIK UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2018), 20-22.
32
1. Strategi Pembelajaran Langsung (Direct)
Strategi sembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan.
Pada strategi ini termasuk di dalamnya metode-metode ceramah, pertanyaan didaktis (mendidik), pengajaran eksplisit, praktek dan latihan serta demonstrasi. Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah yang lemah.
2. Strategi Pembelajaran Tak Langsung (Inderect)
Pembelajaran yang tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan siswa yang tinggi dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis. Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resource person). Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan siswa untuk terlibat dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada siswa ketika mereka melakukan inkuiri. Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, non-cetak dan sumber manusia.
Pada strategi pembelajaran tidak langsung ini sama halnya dengan tata cara pengajaran pada metode Iqro‟ yang disusun oleh KH.
As‟ad Human yang terdiri dari 6 jilid di mana sistem pengajarannya menggunakan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sehingga
33
pembelajarannya berfokus pada siswa dan guru hanya memberikan contoh dan pengarahan saja. Selain metode Iqro‟, yang menggunakan strategi belajar tidak langsung juga diterapkan pada metode baca Al- qur‟an Qiro‟ati yang hampir sama dengan metode Iqro‟ terdiri dari 6 jilid hanya saja metode Qiro‟ati ini membutuhkan ketelitian, ketegasan, waspada dan tidak boleh menuntun.
3. Strategi Pembelajaran Interaktif (Interactive)
Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi di antara peserta didik. Seaman dan Fellenz mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan dan pengetahuan guru atau kelompok serta mencoba mencari alternatif dalam berpikir. Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokan dan metode- metode interaktif. Di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil, atau pengerjaan tugas kelompok dan kerja sama siswa secara berpasangan.
4. Strategi Pembelajaran Melalui Pengalaman (Experiental Learning) Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada siswa dan berorientasi kepada aktivitas.
Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah pada proses belajar dan bukan hasil belajar. Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh,
34
di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.
5. Strategi Pembelajaran Mandiri (Indepedent Study)
Strategi belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian dan peningkatan diri. Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Strategi belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil.
Kelebihan dari strategi ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta belum dewasa, sulit menggunakan pembelajaran mandiri.
3. Metode dalam Mengajarkan Al-qur‟an yang Tepat a. Metode Pengajaran Al-qur‟an
Metode pengajaran yang sesuai merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan tepat dan cepat berdasarkan waktu yang telah ditentukan sehingga memperoleh hasil yang maksimal. Adapun metode-metode pembelajaran Al-qur‟an yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan peserta didik antara lain:31
31 Zainal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran, (Pekalonga:
STAIN Press, 2011), 113.
35 1) Metode ceramah
Metode ceramah merupakan cara penyampaian materi pembelajaran secara lisan dari pendidik kepada sekelompok peserta didik. Dalam metode ini, pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik antara lain berlatih mendengarkan dan menyimak, mengkaji apa yang diceramahkan, pemahaman konsep, fakta dan proses mencatat bahan pelajaran yang disampaikan dalam ceramah.
2) Metode Praktik
Metode praktik merupakan metode mengajar dengan cara menyuruh siswa melakukan kegiatan praktik agar memiliki ketegasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari yang telah dipelajari. Dalam pengaplikasian pada pembelajaran baca Al- qur‟an yakni guru mempraktekkan cara membaca dan mengucapan huruf Al-qur‟an dengan baik dan benar lalu kemudian siswa menirukan sesuai dengan bunyi yang dibacakan oleh guru.
3) Metode Talaqi
Metode talaqi ini hampir mirip dengan pelaksanaan pada metode praktik. Hanya saja metode talaqi ini sering digunakan dalam menghafal Al-qur‟an. Metode talaqi dalam membaca Al- qur‟an yaitu guru membaca dan menyampaikan ilmu di depan murid sedangkan murid menyimaknya dan diakhiri dengan pertanyaan dari guru kemudian murid membaca di depan guru dan
36
guru membenarkan jika ada kesalahan pengucapan dan cara baca Al-qur‟an yang dilakukan oleh siswa.
4) Metode Pembiasaan
Metode ini mengutamakan proses yang akan melahirkan pembiasaan. Metode ini hendaknya diterapkan kepada peserta didik sedini mungkin sebab peserta didik biasanya memiliki daya ingat yang kuat dan sikap yang belum matang sehingga siswa sangat mudah mengikuti, meniru dan membiasakan aktivitasnya dalam kehidupan sehari-hari.
Metode yang digunakan dalam mengajarkan Al-qur‟an di atas berangkat dari firman Allah SWT dalam Al-qur‟an Surat Al-A‟raf ayat 204:
أ ل ا عم اف قلا ق ا إ لعل ا ص
مح
Artnya: “Dan apabila dibacakan Al-qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al- a‟raf : 204)32.
b. Buku metode pengajaran Al-qur‟an
Buku pengajaran metode baca Al-qur‟an sangatlah banyak, hanya saja ada beberapa buku metode baca Al-qur‟an yang sering digunakan oleh guru dan lembaga pendidikan dan pengajaran Al-qur‟an sebagai berikut:
32 Departemen Agama RI, Al-qur‟an dan Terjemahnya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-qur‟an, 1992), QS. Al-a‟raf [7]: 176.
37 1) Buku metode Iqra‟
Metode iqra‟ adalah cara cepat membaca Al-qur‟an yang terdiri dari 6 jilid, dilengkapi buku tajwid praktis dan dalam waktu relatif singkat. Metode ini dalam praktek pelaksanaannya tidak membutuhkan alat-alat yang bermacam-macam dan metode ini dapat ditekankan pada bacaan (mengeluarkan bacaan huruf atau suara huruf Al-qur‟an) dengan fasih dan benar sesuai dengan makhrojnya dan bacaannya.33
Adapun kelebihan Metode Iqro‟ adalah sebagai berikut:
a) Dalam sistem pengajarannya menggunakan sistem cara belajar siswa aktif (CBSA)
b) Penerapannya bersifat klasikal yakni membaca secara bersama maupun cara eksitensi yakni siswa yang lebih tinggi jilidnya bisa menyimak siswa yang lebih rendah jilidnya
c) Anak didik mudah menerima yang telah diberikan oleh ustadz melalui buku-buku pelajaran (Iqro‟)
d) Anak didik dapat membaca huruf Al-qur‟an dengan lancar dan sesuai makhrojnya.
e) Anak didik dapat membaca Al-qur‟an dengan lancar sesuai dengan bacaan kalimatnya (tajwid).
Sedangkan kelemahan metode Iqro‟ adalah sebagai brikut:
33 KH. As‟ad Humam, Buku Iqro‟ Cara Cepat Belajar Membaca Al-qur‟an, (Yogyakarta:
Balai Litbang LTPQ Nasional, 2017),
38
a) Anak didik hanya bisa membaca huruf Al-qur‟an dengan baik dan lancar
b) Anak didik kurang dapat menulis Al-qur‟an terutama pada huruf atau kalimat yang pendek dari surat Al-qur‟an.
c) Tidak ada media yang menjadi sarana belajar membaca metode Iqro‟,
d) Tidak dianjurkan melantunkan dengan nada atau berirama.
2) Metode Al-Baghdadiyah.
Metode Al-Baghdady adalah metode tersusun (tarkibiyah), maksudnya yaitu suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah proses ulang atau lebih kita kenal dengan sebutan metode alif, ba‟, ta‟. Metode ini adalah metode yang paling lama muncul dan metode yang pertama berkembang di Indonesia.
Cara pembelajaran metode ini adalah a) Hafalan
b) Ejaan
c) Modul tidak variatif
d) Pemberian contoh yang absolute
Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, yaitu:
a) Kelebihan : Santri akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi, santri sudah hafal huruf-huruf hijaiyah. Santri yang lancar akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya karena tidak menunggu orang lain.