LITERASI INFORMASI
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Peran Teacher Library sangat besar pada program literasi di sekolah. Program meningkatkan minat baca siswa telah berjalan dengan baik. Penulis menyarankan untuk mengadakan program lomba membaca, menulis, meresensi buku ataupun story telling dan sebagainya untuk menarik siswa agar lebih senang untuk datang keperpustakaan. Guru sebagai pentransfer informasi didalam kelas tentu mempunyai peran yang sangat penting dilingkungan sekolah. oleh karna itu peneliti memberi saran untuk bekerjasama dengan petugas perpustakaan, misalnya dengan mengadakan kegiatan membaca bersama diperpustakaan atau story telling.
155 DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ahmadi, R.(2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media Akhyak. (2005). Profil Pendidikan Sukses. Surabaya : Elkaf
Bafadal, I. (2009). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
Hermawan, Rahman dan Zulfikar Zen. (2006). Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto
Moleong, LJ. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Mudhofir. (1992). Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung Remaja : Rosdakarya Mudjito. (2007). Meteri Pokok Pembinaan Minat Baca. Jakarta : Universitas Terbuka.
Nasution. (2003). Metode Reseach. Jakarta : Bumi Aksara.
Noerhayati. (1987). Pengelolaan Perpustakaan Jilid I. Bandung : Alumni
Prastowo,A. (2012). Manajemen Perpustakaan Sekolah Profesional. Jogjakarta: Diva Press Sinaga, D. (2011). Mengelola Perpustakaan Sekolah. Bandung : Bejana
Sudarsono, B.,dkk. (2007). Literasi Informasi : Pengantar Untuk Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Sugiono. (2014). Metode Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Suharyoto. (2014). Mengenal dan Mengelola Perpustakaan. Yogyakarta : Naafi Book Media Suhendar, Y. (2014). Cara Mengelola Perpustakaan Sekolah Dasar. Jakarta: Prenada Suherman.(2013). Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah. Bandung : Literate
Suryana, A. (2007). Tahap-Tahapan Penelitian Kualitatif. Diktat Kuliah Pada Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
Sutarno NS, 2006. Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Sagung Seto.
Suwarno, W. (2011). Pengetahuan Dasar Kepustakaan;Sisi Penting Perpustakaan dan Pustakawan. Bogor: Ghalia Indonesia.
Yusuf, P. (2005). Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta : Kencana.
Publikasi Departemen atau Lembaga Pemerintah
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Internet
Aziz, S. (2005). Strategi Peningkatan MutuPada Perpustakaan Perguruan Tinggi.
[Online], Diakss dari: lontar.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-135727.pdf. Pada Tanggal 20 Agustus 2016 Bagyoastuti, WS. (2015) . Peran Kepala Sekolah dan Pustakawan dalam
Pemberdayaan Perpustakaan SD Muhammadiyah Sapen dan SD Negeri Giwangan Yogyakarta.UNY. [Online].
Diakses dari: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/12825 Pada Tanggal 7 Desember 2015 Baruroh, U. (2013). Hubungan Guru dan Pustakawan Dalam Pemanfaatan
Perpustakaan Di SMAN 1 Kedungreja Cilacap Jawa Tengah. (Online).
Diakses dari:
http://digilib.uinsuka.ac.id/8228/1/BAB%20I,%20V,%20DAFTAR%20PUAKA.pdf Pada Tanggal 04 April 2015
156
Cahyono, TY. (2014). Layanan Prima dan Nilai Tambah. (Online). Diakses dari:
library.um.ac.id/.../layanan%20prima%20dan%20nilai%20tambah.pdf pada tanggal 11 April 2015
Esaunggul. (2015). Metode Penelitian. (Online). Diakses dari:
http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-1112-BABIII.pdf pada tanggal 10 mei 2015
Ifla.(2002). Pedoman Perpustakaan Sekolah. (Online). Diakses dari:
http://www.ifla.org/VII/s11/pubs/school-guidelines.htm pada tanggal 11 april 2015
Lab Gunadarma.(2015). Observasi dan Wawancara. (Online). Diakses dari :
http://ps-menengah.lab.gunadarma.ac.id/wp-content/uploads/2009/11/OBSERVASI-dan- WAWANCARA.pdf pada tanggal 10 mei 2015
Miles, MB dan Hubarman Michael A. (1984). Qualitative Data Analysis; A Sourccebook of New Methods. London : Sage Publication, Beverly Hills Mubarok, A. (2014). Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah Sebagai Sumber
Belajar Sejarah Di Ma Nu Safinatul Huda Karimunjawa Kabupaten Jepara.(Online). Diakses dari:
http://ejournal.ikipveteran.ac.id/index.php/dimensi/article/viewFile/375/376 Nababan. (2008). Bab2c.pdf. (Online). Diakses dari:
http://repository.widyatama.ac.id/bitstream/handle/10364/1056/bab2c.pdf?sequence=8 pada tanggal 05 April 2016
Nurazizah. (2008). Usaha Pustakawan dalam Meningkatkan Kualitas Layanan Di
Perpustakaan FIB UI. [ Online ]. Diakses dari : http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124408-RB13n438e- Usaha%20pustakawan-HA.pdf Pada Tanggal 14 Desember 2015
Perpusnas. ( 2011)). Rekomendasi Hasil Rapat Koordinasi Komisi I: Program
Pengembangan Karir Pustakawan Berbasis Kompetensi. [Online]. Diakses dari:
old.perpusnas.go.id/iFileDownload.aspx Pada Tanggal 26 mei 2016 Perpusnas, (2011). Standar Nasional Indonesia Bidang Kepustakawanan.[Online].
Diakses dari: old.perpusnas.go.id/iFileDownload.aspx Pada Tanggal 20 Agustus 2016.
Rahayu, A.(2008). Metode Penelitian.(Online). Diakses dari: 106
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126719-306.872%20RAH%20p%20-%20Psychological%20Well- Being%20-%20Metodologi.pdf Pada Tanggal 10 mei 2015
Sahayu. (2013). Menentukan Sumber Data. [Online]. Tersedia Di :
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Dra.%20Wening%20Sahayu,%20M.Pd./Menentu kan%20Sumber%20Data.pdf
157
PENDIDIKAN LITERASI MEDIA SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI BAGI KAUM REMAJA PERKOTAAN
Studi Kasus Pendidikan Literasi Media Internet Bagi Kaum Remaja Perkotaan di Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat
Ilham Gemiharto
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363
Abstrak
Perkembangan media internet saat ini membawa begitu banyak kemudahan bagi penggunanya. Dengan menggunakan telepon pintar dengan harga terjangkau saat ini, layanan kualitas koneksi data yang semakin baik dan biaya akses internet yang relatif murah, membuat media internet seolah menjadi kebutuhan pokok bagi kaum remaja di perkotaan. Hal tersebut membuat internet dapat menembus batas dimensi kehidupan penggunanya, sehingga dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Di usia mereka, kaum remaja perkotaan belum mampu memilah aktivitas internet yang bermanfaat, sehingga mereka cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka tanpa mempertimbangkan terlebih dulu efek positif atau negatif yang akan diterima saat menggunakan media internet. Terlebih lagi, berbagai situs internet seolah menjadikan kaum remaja sebagai “tambang emas” demi keuntungan bisnis mereka. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana pendidikan literasi media sebagai upaya pemenuhan kebutuhan informasi bagi kaum remaja di perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) serta teknik analisis data deskriptif, dengan informan penelitian adalah kaum remaja perkotaan di Kota Cimahi, para orangtua dan pendidik, dan para pejabat terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan literasi media memiliki peran signifikan dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi positif bagi kaum remaja perkotaan, dan memberikan kesadaran akan terhadap hak mereka untuk mendapatkan informasi yang positif dari media internet. Penelitian ini merekomendasikan untuk merancang suatu model pendidikan literasi media bagi kaum remaja perkotaan yang dapat diimplementasikan di kota-kota lain di Indonesia.
Kata Kunci: Literasi Media, Kebutuhan Informasi, Remaja Perkotaan, Media Internet, Kota Cimahi.
158 A. Pendahuluan
Sejak pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat dunia dalam suatu demonstrasi di International Computer Communication Conference (ICCC) pada bulan Oktober 1972, internet telah mengalami perkembangan pesat. Dari yang semula hanya beberapa node di lingkungan ARPANET (Advanced Research Projects Agency NETwork), internet diperkirakan mempunyai lebih dari 100 juta pengguna pada Januari 1997. Pada akhir tahun 2000, diperkirakan terdapat lebih dari 418 juta pengguna yang terus naik menjadi 945 juta pengguna di akhir tahun 2004 (Pendit, 2005: 104). Dan, berdasarkan sebuah situs yang bernama Internet World Stats, diketahui bahwa jumlah pengguna internet di dunia hingga bulan Maret 2008 mencapai angka 1.407.724.920.
Hal ini mengindikasikan bahwa kehadiran internet sebagai media informasi dan komunikasi semakin diterima dan dibutuhkan oleh masyarakat dunia.
Tak terkecuali di Indonesia, pentingnya penggunaan internet juga makin disadari oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Terbukti dari data statistik Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengenai jumlah pengguna internet di Indonesia yang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, mulai dari 512.000 di tahun 1998 menjadi 4.500.000 di tahun 2002, kemudian menjadi 25.000.000 pada akhir tahun 2007. Hingga kemudian melonjak jumlahnya pada akhir tahun 2014, dimana jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai angka 75.000.000 orang, dimana 96 persen atau sejumlah 72.000.000 pengguna memilki akun media sosial. Dari jumlah pengguna internet tersebut 22.500.000 atau 30 persen diantaranya merupakan pengguna berusia remaja usia Sekolah Menengah Atas di perkotaan.
Penggunaan media internet menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari remaja di perkotaan. Studi Kemenkominfo pada 2014 lalu menemukan bahwa 98 persen dari remaja di perkotaan tahu tentang media internet dan bahwa 80 persen diantaranya adalah pengguna media internet. 20 persen remaja yang tidak menggunakan internet, bertempat tinggal di pedesaan dan tidak memiliki perangkat atau infrastruktur untuk mengakses media sosial atau mereka memiliki akses namun dilarang oleh orang tua untuk mengakses internet. Perubahan struktur media di Indonesia, terutama dengan meningkatnya penggunaan ponsel, telah mengubah akses terhadap media internet di kalangan remaja. Para remaja sebelumnya menggunakan personal computer untuk mengakses media internet, kini menggunakan telepon pintar atau smartphone untuk mengakses media internet sehari-hari.
Dengan intensitas penggunaan media internet yang jauh lebih tinggi menimbulkan perubahan yang cukup signifikan dalam pola komunikasi remaja, dimana komunikasi dengan teman sebaya, guru, dan keluarga dilakukan melalui media internet. Sebaliknya komunikasi tatap muka mengalami penurunan secara signifikan pula. Survey yang dilakukan Kemenkominfo pada 2014 menemukan bahwa pola komunikasi para remaja didominasi komunikasi melalui media internet sebesar 80 persen, dan 20 persen saja yang dilakukan melalui komunikasi tatap muka.
Surevey tersebut juga menyebutkan bahwa 88% akses remaja perkotaan terhadap media internet didominasi oleh media sosial. Media sosial adalah sebagai bagian dari media internet merupakan sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Sosial media memiliki berbagai bentuk termasuk majalah, forum internet, weblog, blog sosial, microblogging, wiki, podcast, foto atau gambar, video, peringkat dan bookmark sosial. Dengan menerapkan satu set teori-teori dalam bidang media penelitian (kehadiran sosial, media kekayaan) dan proses sosial (self-presentasi, self-disclosure) Kaplan dan Haenlein
159
menciptakan skema klasifikasi untuk berbagai jenis media sosial dalam artikel Horizons Bisnis mereka diterbitkan dalam 2010. Menurut Kaplan dan Haenlein (2010:59) ada enam jenis media sosial, yaitu 1) Proyek kolaborasi, misalnya Wikipedia, 2) Microblog, misalnya Twitter, 3) Situs berbagi media, misalnya Youtube, 4) Situs jejaring sosial, misalnya Facebook, 5) Permainan virtual, misalnya Point Blank, 6) Virtual Sosial, misalnya Second Life.
Kaplan dan Haenlein (2010:68) mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran muatan diantara pengguna tertentu (user-generated content). Media sosial mempunyai ciri - ciri dalam hal pesan yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa keberbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet, pesan yang di sampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper, pesan yang disampaikan cenderung lebih cepat di banding media lainnya, dan penerima pesan yang menentukan waktu interaksi.
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri.
Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.
Menurut Mayfield (2010:23), media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas.
Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat. Tak terkecuali, keinginan untuk aktualisasi diri dan kebutuhan menciptakan personal branding.
Perkembangan dari media sosial ini sungguh pesat, ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah anggota yang di miliki masing - masing situs jejaring sosial ini. Pada bulan November 2016, jumlah pengguna Facebook sudah mencapai angka 1,79 miliar orang di seluruh dunia. Sementara Twitter telah memiliki pengguna sebanyak 317 juta orang di seluruh dunia (Zephoria, 2016:97).
Kerangka sarang lebah dapat mendefinisikan bagaimana layanan media sosial terfokus pada tujuh blok bangunan fungsional yang mirip sarang lebah, yaitu identitas, percakapan, berbagi, kehadiran, hubungan, reputasi, dan kelompok. Bangunan blok tersebut membantu memahami kebutuhan dari audiens media sosial.
Sebagai contoh, pengguna LinkedIn peduli tentang identitas, reputasi dan hubungan, sedangkan pengguna YouTube mengutamakan berbagi, percakapan, kelompok dan reputasi.
Banyak perusahaan membangun media sosial sendiri dan mencoba untuk menghubungkan tujuh fungsi merek mereka. Ini adalah komunitas yang melibatkan orang-orang di sekitar tema yang lebih sempit, dengan menggunakan media sosial seperti Facebook atau Google+
Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Twitter, Path dan Instagram. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik
160
untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi atau feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.
Masa remaja merupakan suatu masa di mana individu mengalami perubahan dari masa anak-anak ke masa remaja. Masa remaja juga diartikan sebagai masa dimana seseorang menunjukkan tanda-tanda pubertas dan berlanjut hingga dicapainya kematangan seksual.
Masa remaja dibagi menjadi masa remaja awal dan masa remaja akhir:
1. Masa remaja awal berada pada rentang usia 13 sampai 17 tahun.
2. Masa remaja akhir berada pada rentang usia 17 sampai dengan 21 tahun.
Remaja mulai berfikir mengenai keinginan mereka sendiri, berfikir mengenai ciri-ciri ideal bagi mereka sendiri dan orang lain membandingkan diri mereka dengan orang lain, serta mau berfikir tentang bagaimana memecahkan suatu masalah dan menguji pemecahan masalah secara sistematis.
Masa remaja awal berada pada masa puber yaitu suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat-alat seksual dan tercapainya kemampuan reproduksi. Remaja disebut juga dengan istilah
“Teenagers” (usai belasan tahun). Menurut Buhler (dalam Hurlock, 1980:205) pada masa pubertas atau masa remaja awal terdapat gejala yang disebut gejala “negative phase”, istilah “phase” menunjukkan periode yang berlangsung singkat. “negative” berarti bahwa individu mengambil sikap “anti” terhadap kehidupan atau kehilangan sifat-sifat baik yang sebelumnya sudah berkembang.
Memasuki usia remaja, seseorang mulai mengalami beberapa perubahan, diantaranya adalah perubahan perkembangan kognitif dan sosial dalam diri individu yang akan mempengaruhi perilaku, sikap dan nilai-nilai sepanjang masa remaja (Mukhtar dkk., 2003). Terkait dengan hadirnya internet yang telah terintegrasi dalam kehidupan keseharian mereka, perubahan perkembangan kognitif dan sosial pada remaja ini tentunya juga akan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam menggunakan internet.
Mukhtar dkk. (2003) mendefinisikan perubahan perkembangan kognitif adalah perubahan proses berpikir masa anak-anak yang berorientasi konkrit menjadi proses berpikir tahapan yang lebih tinggi, yaitu kemampuan mengembangkan pikiran secara abstrak (formal operations stage). Tahap operasional formal (formal operation stage) ini merupakan tahap terakhir perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh Piaget. seorang ahli psikologi yang terkenal dengan teori perkembangan kognitif remaja. Piaget (dalam Santroks, 2004) mengemukakan bahwa sekitar usia 11 sampai 15 tahun remaja mulai berada pada tahap ini. Lebih lanjut, Piaget menjelaskan bahwa pada tahap ini terjadi kematangan kognitif pada remaja, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi remaja berpikir secara abstrak, dimana seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual atau pengalaman yang nyata sebagai dunia kognitif mereka (Papalia dan Olds, 2001).
Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (peer groups). Hal ini karena perkembangan sosial pada masa remaja lebih banyak melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih
161
banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstrakurikuler dan bermain dengan teman (Papalia dan Olds, 2001). Untuk itu, tidak mengherankan jika kelompok teman sebaya dijadikan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup (life style). Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).
Remaja pada umumnya memiliki keinginan untuk menyendiri, gelisah, memilki perasaan yang peka, mengalami pertentangan sosial dan kurang percaya diri (lack of self confidence). Rasa percaya diri merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan individu, karena kepercayaan diri merupakan keyakinan dalam diri seseorang untuk dapat menanggapi segala sesuatu dengan baik sesuai dengan kemampuan dirinya yang dimiliki. Kepercayaan diri juga merupakan keyakinan dalam diri yang berupa perasaan dan anggapan bahwa dirinya dalam keadaan baik sehingga memungkinkan individu tampil dan berperilaku dengan penuh keyakinan. Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia untuk menghadapi tantangan hidup dengan melakukan sesuatu. Setiap individu mempunyai hak untuk menikmati kebahagiaan dan kepuasan atas apa yang telah dicapainya, tetapi akan sulit dirasakan apabila individu memiliki kepercayaan diri yang rendah.
Remaja yang percaya diri memiliki suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan dirinya sendiri, mampu melakukan hal yang disukainya, mampu berinteraksi dengan orang lain, dan mempunyai hasrat untuk berprestasi serta dapat mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Sementara remaja yang kurang percaya diri, seringkali merasa dirinya kecil, tidak berharga, tidak berarti, tidak berdaya menghadapi tindakan orang lain. dan biasanya takut melakukan kesalahan sehingga takut ditertawakan orang lain. Selain itu remaja yang kurang percaya diri akan cenderung menghindari situasi yang membutuhkan komunikasi. Mereka cenderung takut pada orang lain yang akan mengejeknya atau menyalahkannya, sehingga cenderung menghadapi banyak masalah dalam pergaulan. Remaja yang kurang percaya diri juga cenderung bersikap emosional, sehingga kurang mampu menerima dengan pendapat orang lain.
Fenomena kurang percaya diri ini banyak terjadi pada remaja. Dimana banyak terjadi perubahan.
Dalam rentang usia 13 tahun akan mengalami perubahan fisik. Pubertas (puberty) yaitu suatu periode di mana kematangan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja gejala pubertas ini dapat ditandai dengan “menarche” atau haid pertama” pada anak perempuan dan “Pollutio atau mimpi basah” pada anak laki- laki. Perubahan pubertas ini lebih mengarah pada perubahan fisik. Perubahan ini yang sering menimbulkan masalah pada remaja. Perubahan fisik yang dialami remaja mempengaruhi keadaan psikologis. Perubahan fisik yang terjadi berkaitan dengan masalah penampilan. Jadi sudah perhatian pada penampilan fisiknya, di sini lebih mengarah pada penampilan secara fisik yaitu kaitannya dengan cara berpakaian, dan berdandan.
Pada usia remaja awal (usia SLTP) remaja mengalami perubahan fisik yang terkadang belum mencapai taraf proporsional. Sehingga menyebabkan mereka kurang percaya diri terhadap penampilannya. Cara berpakaian, dan berdandan mempunyai faktor besar pada kepercayaan diri mereka. Remaja berusaha untuk mengikuti tren atau mode anak yang seusia mereka. Dengan kekurangan fisik yang dimilikinya mereka cenderung menggunakan pakaian sebagai cara untuk menutupi kekurangannya. Remaja akan merasa lebih percaya diri jika cara berpakaian dan cara berdandan mereka sesuai dengan model teman-teman mereka yang seusia sehingga tidak merasa minder atau malu jika mereka berkumpul dengan teman sebayanya.
Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa kematangan yang lebih awal meningkatkan kerentanan anak perempuan atas sejumlah masalah. Hal ini sebagai akibat dari ketidakmatangan sosial dan kognitif (daya pikir) mereka, dihubungkan dengan perkembangan fisik yang lebih awal. Remaja awal akan merasa minder, kurang percaya diri jika merasa ada kekurangan yang ada pada dirinya. Jika hal ini terjadi pada mereka bisa