• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Literasi Kaulinan Barudak Lembur

LITERASI INFORMASI

D. Hasil dan Pembahasan

1. Proses Literasi Kaulinan Barudak Lembur

Latar Belakang

Identifikasi masalah

Kajian Literatur

Tujuan penelitian

Pengumpulan data lapangan

Data Primer Hasil wawancara

Hasil observasi

Data Sekunder Buku rujukan, jurnal, data

daerah, dll

Analisis data Penelitian

Analisis Deskriptif mengenai kaulian barudak lembur

Aanalisi model pelestarian kaulinan barudak lembur

Model pelestarian kaulinan barudak lembur

Menyususn Instrumen Penelitian

85

Permainan tradisional bisa dikategorikan dalam tiga golongan yaitu permainan untuk bermain (rekreatif), permainan untuk bertanding (kompetitif), dan permainan yang bersifat edukatif. Permainan tradisional yang bersifat rekreatif pada umumnya dilakukan untuk mengisi waktu senggang. Permainan tradisional yang bersifat kompetitif, memiliki ciri-ciri: terorganisir, bersifat kompetitif, dimainkan oleh paling sedikit 2 orang, mempunyai kriteria yang menentukan siapa yang menang dan yang kalah, serta mempunyai peraturan yang diterima bersama oleh pesertanya. Sedangkan permainan tradisional yang bersifat edukatif memiliki unsur pendidikan di dalamnya. Melalui permainan seperti ini anak-anak diperkenalkan dengan berbagai macam keterampilan dan kecakapan yang nantinya akan mereka perlukan dalam menghadapi kehidupan sebagai anggota masyarakat. Inilah salah satu bentuk pendidikan yang bersifat non-formal di dalam masyarakat. Permainan-permainan jenis ini menjadi alat sosialisasi untuk anak-anak agar mereka dapat menyesuaikan diri sebagai anggota kelompok sosialnya.

Berdasakan pada hasil penelitian mengenai Kaulinan Barudak Lembur (Sudna) di Desa Sindangkerta Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya dapat disimpulkan bahwa jenis permainan yang dilestarikan oleh masyarakat Desa Sindangkerta ada 12 jenis permainan, setiap permainan memiliki nilai-nilai kehidupan yang diterapkan berdasarkan nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh. Permainan tersebut adalah Permainan Galah, Permainan Baren, Permaiana Encrak, Encrak Jepit, Permainan beklen, Permainan Tak-takan, Permainan Momoroan, Permainan Empet-empetan, Empet-empetan Kalari, Permainan Sepak Cepeng, Permainan Bedil Pecat, Permainan Papancuhan, Permainan Bebentengan.

Dalam setiap permainan yang dilestarikan oleh masyarakat cipatujah memiliki nilai-nilai yang dipertahankan dan dikembangkan. Nilai-nilai tersebut adalah jiwa kepemimpinan, kerja sama, lapang dada, menegakkan keadilan, taat aturan, jujur, jerdik, mengembangkan imajinasi, estetika, dan lain-lain.

Proses literasi kaulinan barudak lembur yang dilakukan oleh Pengelola Saung Budaya Tatar Karang Cipatujah melalui beberapa cara dan beberapa tahap. Tahapan tersebut yakni pendokuementasian kaulinan dalam bernagai bentuk (catatan, foto, dan film), penggalian nilai-nilai yang terkandung dalam setiap kauilinan, dan pembelajaran kepada anak-anak memalui sanggar. Kegiatan literasi ini bila dibuat dalam sebuah bagan alir dapat digambarkan sebagai berikut;

86

Berdasrkan pada bagan di atas, literasi pengetahuan tentang Kaulinan barudak lembur yang dilaksanakan Pengelola Saung Budaya Tatar Karang melalui proses penggalian pengetahuan atau melalui proses pertukaran pengetahuan.

Untuk melestarikan kaulinan barudak lembur perlu adanya pemeliharaan pengetahuan, baik dengan cara saling berbagi pengalaman, dialog, maupun mensimulasikan permainan sehingga menjadikan pengetahuan baru untuk setiap anak-anak. Proses transfer pengetahuan tentang Kaulinan barudak lembur yakni dengan menggunakan empat model konversi pengetahuan, yakni: sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi dan internalisasi.

Sebuah pengetahuan yang masih bersifat tacit akan hilang tanpa ada pengembangan sejalan dengan lajunya usia orang yang memilikinya. Akan tetapai pengetahuan yang bersifat tacit ini bila dikembangkan menjadi pengetahuan yang bersifat explicit akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu, orang, sosial, dan budaya.

Mengacu pada konsep tersebut dan konsep literasi budaya literasi kaulinan barudak lembur yang dilaksanakan oleh Pengelola Saung Budaya Tatar Karang cipatujah terbagi dalam dua bentuk yaitu (1) Culture Experience dan (2) Culture Knowledge. Culture Experience merupakan literasi budaya yang dilakukan dengan cara terlibat langsung kedalam sebuah pengalaman kebudayaan. Sebagai contoh sebuah permainan anak-anak.

Untuk melestraian sebuah permainan ini maka dianjurkan untuk belajar dan berlatih permainan tersebut.

Selain ikut terlibat langsung dalam proses berlatih, masyarakat pun dibekali dengan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut. Sedangkan Culture Knowledge adalah literasi budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsikan sebagai pusat belajar masyarakat. Pada dasarnya pusat informasi ini adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan tersebut.

Terkait dengan konsep literasi kebudayaan, literasi kaulinan barudak lembur di desa Sindangkerta sudah berjalan dengan konsep tersebut. Konsep pelestraian ini dimomotori oleh lembaga informasi Saung Budaya Tatar Karang yang dibentuk oleh kelompok masyarkat pencinta budaya Cipatujah. Literasi kaulinan barudak

Model Pelestarian Kaulinan Barudak Lembur

ANJANG SONO Jenis Kaulinan

Barudak Lembur

Nilai-nilai yang terkandung dalam Kaulinan barudak lembur Budaya Kaulinan Barudak Lembur

Galah, Baren, Encrak, Beklen, Tak-takan, Momoroan, Empet-empetan, sepak Cepeng, Bedil Pecat, Papancuhan, Bebentengan

Kepemimpinan, kerjasama, strategi, ketangkasan, jujur, lapang dada, tidak sombong, taat aturan, tidak

mudah menyerah

Pelestarian buadaya kaulinan barudak lembur

Bentuk Pelestarian Culture Experience Culture Knowledge

Dibentuknya pusat informasi Saung Budaya Tatar Karang Cipatujah sekaligus sebagai pusat pembelajar

bagi anak-anak Sindangkerta

Anak-anak diperkenalkan langsung dengan cara bermain kaulinan barudak lembur di bawah bimbingan pengelola Saung Budaya

Tatar Karang Cipatujah

FIlosofi Pelestratian

Silih Asih

1. Niat/ rasa resep 2. Bakat 3. Keyeng/ tekum 4. Dukungan keluarga 5. Dukungan masyarakat

Silih Asah Silih Asuh

87

lembur tersebut menggunakan konsep silih asih, Silih asah, silih asuh. Konsep ini mengacu pada konsep world view budaya Sunda yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom)

Budaya Sunda memiliki world view berisi “silih asih, Silih asah, silih asuh”. Silih asah bermakna saling mencerdaskan, saling memperluas wawasan dan pengalaman lahir batin. Silih asuh mengandung makna membimbing, mengayomi, membina, menjaga, mengarahkan dengan seksama agar selamat lahir dan batin.

Silih asih bermakna tingkah laku yang memperlihatkan kasih sayang yang tulus (Suryalaga, 2003).

Pada dasarnya pengetahuan tacit bisa dikembangkan menjadi pengetahuan explicit dengan proses learning dan pembelajaran. Proses learning tersebut mencakup;

1. Eksternalisasi dimana pengetahuan tacit dituangkan menjadi pengetahuan eksplisit, misalnya dengan menulis laporan kegiatan, menulis catatan dan best practices dan sebagainya.

2. Internalisasi, dimana pengetahuan yang telah dituangkan itu kemudian dibaca sehingga berubah menjadi pengetahuan tacit, dan

3. Transfer pengetahuan tacit melalui sosialisasi, menitoring, pelatihan, dsb. (Setiarso, 2009)

Namun demikian, dalam mengelola pengetahuan mengenai kaulinan barudak lembur masih banyak mengalami hambatan. Salah satu hambatan besar yang dihadapai adalah kesadaran untuk berbagi pengetahuan. Hal ini, merupakan salah satu hal yang menjadi penghalang dalam pendataan dan pendokumentasian pengetahuan kaulinan barudak lembur. Seperti kita ketahui bahwa permainan seperti ini sifatnya turun-temurun secara lisan. Oleh karena itu, bagi masyarakat sangat sulit menemukan dokumen tertulis mengenai permainan ini.

Kesulitan untuk saling berbagi pengetahuan ini disebabkan beberapa faktor antara lain:

1. Alat yang digunakan untuk saling berbagai pengetahuan masih sangat sulit ditemukan dan belum semua orang bisa menggunakan.

2. Sebagian orang menggangap bahwa untuk mendapatkan suatu ilmu pengetahuan memakan banyak biaya dan resources.

3. Adanya pihak yang fokus dalam mengelola pengetahuan itu sendiri menjadi faktor penghambat berbagi pengetahuan. Sebenarnya pengetahuan sudah sangat banyak, baik dalam bentuk tacit ataupun explicit knowledge, namun belum ada yang fokus untuk membuat tools agar setiap orang mudah mengakses knowledge.

4. Kultur masyarakat yang belum sepenuhnya sadar tentang pentingnya berbagi pengetahuan juga sangat menghambat.

Namun, dengan berdirinya Saung Budaya Tatar Karang Cipatujah beberapa kesulitan dalam berbagi pengetahuan bisa teratasi. Proses berbagi pengetahuan ini dapat berjalan dengan konsep silis asih, silih asah dan silih asuh. Konsep tersebut merupakan world view orang sunda. Melalui konsep ini, proses pemeliharaan pengetahuan mengenai kaulinan barudak lembur di wilayan Sindangkerta dilaksanakan melalui empat proses yaitu Socialization (Sosialisasi), Externalization (Eksternalisasi), Combination (Kombinasi), dan Internalization (Internalisasi).

2. Nilai-nilai Kaulinan Barudak Lembur A. Permainan Papancuhan

a) Cara bermaian Papancuhan

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki dan perempuan. Bermain papancuhan dilakukan secara beregu, bisa regu campuran atau kompetisi gender. dikala laut sedang menuju pasang dalam bahasa sunda istilahnya “masangkeun”, anak-anak bermain papancuhan ini, dan sebelumnya mereka mencari dari sampah pantai (sarah) atau membuat batangan kayu sekitar 70 – 100 cm dan diujungnya ada cagak yang funginya untuk duduk ketika air pasang menghampirinya. Permainan ini biasanya dilakukan beregu. Teknik permainannya adalah siap yang belih dulu mampu menancapkan batangan kayu ke pasir dikala ombak sedang surut, dan pancuh (batang kayu) siapa/tim mana yang paling kuat tidak rorobh dikala diterjang ombak, begitu seterusnya.

b) Lokasi bermain Papancuhan

88

Permainan ini berlokasi di pesisir yang datar dan tidak ada karangnya. Permainan ini dilakukan ketik air mulai pasang. Ukuran / wilayah permainan cukup luas, karena permainan ini cukup berbahaya, sehingga antar regu pun harus agak berjauhan. Karena kalau batang kayu terhempas ombak bisa melukai pemain, sehingga biasanya ada tim medisnya dari masing-masing regu, tentunya dulu peralatan medinya dari alam saja.

c) Manfaat permainan Papancuhan

Tujuan utama permainan ini adalah peduli lingkungan pesisir dan keberanian. Oleh karena itu, manfaat permainan ini adalah melatih anak-anak peduli kebersihan lingkungan pesisir dari sampah alami dan melatih keberanian menghadapi air.

d) Nilai-nilai Permainan Papancuhan

Tujuan utama permainan ini adalah peduli lingkungan pesisir dan keberanian. Oleh karena itu, manfaat permainan ini adalah melatih anak-anak peduli kebersihan lingkungan pesisir dari sampah alami dan melatih keberanian menghadapi air.

1. Kewaspadaan

Pertimbangannya; kewaspaan akan terbentuk dalam permainan ini. Hal ini bisa terlihat dalam permainnya yang nenantang alam yakni ombak pantai yang cukup deras. Setiap anggota kelompok harus waspada dalam menghadapi alam. Apalagi alat yang digunakan berupa batang kayu yang tersebar/ berserakan di pantai. Apabila tidak berhati-hati bisa terpeleset atau terbawa arus ombak.

2. Estetika

Pertimbangan; Setiap anak bisa mengembangkan imajinasinya dan estetika dalam membuat papancuhan.

3. Jiwa sehat dan bersih lingkungan

Pertimbangannya; sejak usia dini anak-anak diperkenalkan kepada lingkungan yang sehat dan bersih. Sampah yang berserakan dipantai akan dipilih dan digunakan sebagai bahan untuk membuat papancuhan. Oleh karena itu anak-naka dipupuk untuk memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Anak-anak sedang bermain papancuhan

89 B. Permainan Bebentengan

a) Cara bermaian Bebentengan

Permainan bebentengan biasanya dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan. Permainan ini polanya beregu, dari masing-masing regu ada pengawasnya, para pengawas ini bertanggung jawab atas keselamatan dan keutuhan karya dari hempasan ombak pasang. Regu yang bermain boleh lebih dari duga regu, lebih banyak lebih baik. Yang menang adalah yang bentengnya kuat dihempas ombak, dan regu yang paling cepat menyelesaikan membuat benteng serta benteng yang paling menarik itulah pemenangnya, biasanya ada tim penilai dari luar regu.

b) Lokasi bermaian Bebentengan

Lokasi bermain bebentengan adalah wilayah pesisir yang menghampar dan tidak ada karanya,dan dimainkan ketika air mulai surut. Ukuran/wilayah permainan tidak terlalu luas seperti kaulinan papancuhan, karena bebentengan tidak terlalu beresiko, hanya perlu kewwaspadaan kalau-kalau empasan ombak ke bebentengan bisa masuk mata.

c) Manfaat bermaian Bebentengan

Tujuan permainan bebentengan adalah menumbuhkan rasa peduli lingkungan dengan membuat kaulinan dari pasir yang ada di pesisir, mengembangkan imajinasi dengan memanfaatkan potensi alam yang ada dengan kewaspadaan karena sewaktu-waktu air pasang bisa menghempasnya. Oleh karena itu, manfaat permainan ini yaitu melatih kemampuan imajinasi dan kewaspadaan dari alam yang ada disekelilingnya.

d) Nilai-nilai Permainan Bebentengan

Tujuan permainan bebentengan adalah menumbuhkan rasa peduli lingkungan dengan membuat kaulinan dari pasir yang ada di pesisir, mengembangkan imajinasi dengan memanfaatkan potensi alam yang ada dengan kewaspadaan karena sewaktu-waktu air pasang bisa menghempasnya. Oleh karena itu, manfaat permainan ini yaitu melatih kemampuan imajinasi dan kewaspadaan dari alam yang ada disekelilingnya.

1. Kewaspadaan

Pertimbangannya; kewaspadaan akan terbentuk dalam permainan ini. Hal ini bisa terlihat dalam permainnya yang nenantang alam yakni ombak pantai yang cukup deras. Setiap anggota kelompok harus waspada dalam menghadapi alam. Apalagi alat yang digunakan sebagai benteng adalah lumpur/ pasir pantai. Selain itu pada permainan ini menumbuhkan kesiapsiagaan anak sejak dini tentang kerusakan alam yang disebabkan oleh obmbak. Dengan adanya benteng ini kerusakan alam seperti abrasi bisa ditanggulangi.

2. Estetika

Pertimbangan; Setiap anak bisa mengembangkan imajinasinya dan estetika dalam membuat benteng sebagai bentuk pertahanan daratan dari serangan ombak.

90 3. Jiwa sehat dan bersih lingkungan

Pertimbangannya; sejak usia dini anak-anak diperkenalkan kepada lingkungan yang sehat dan bersih. Sampah yang berserakan dipantai akan dipilih dan digunakan sebagai bahan untuk membuat benteng. Oleh karena itu anak-naka dipupuk untuk memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Anak-anak sedang bermain bebentengan

D. Simpulan dan Rekomendasi

Dokumen terkait