• Tidak ada hasil yang ditemukan

LITERASI INFORMASI

E. DAFTAR PUSTAKA

2. Rekomendasi

134 D. Simpulan dan Rekomendasi

135 F. Daftar Pustaka

Afifuddin dan Beni Ahmad Saebani. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Pustaka Setia.

BSNI. (2009). Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta: Badan Standar Nasional Indonesia.

Ishak.. (2006). Mahasiswa Progam Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FK-UI dalam Memenuhi Tugas Journal Reading. Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.2, No.2, Desember.

Laloo, Bikika Tariang. (2002). Information needs, Information Seeking Behavior and Users. Newdelhi: Ess Ess publication.

Meho, Lokman I, Helen R. Tibbo. (2003). Modelling the information-seeking behavior of social scientists: Ellis study Revisited. New Jersey: Wiley Periodical, Inc.

Purwno. (2008). Strategi Penelusuran Informasi Melalui Internet. Makalah seminar Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri, Jakarta. Diunduh pada 15 November, 2016.

Diunduh dari: http://eprints.rclis.org/12193/1/Strategi_Penelusuran_melalui_Internet.pdf.

Rahardjo, S. Gudnanto. (2011). Pemahaman Individu Teknik Non Tes. Kudus: Nora Media Enterprise.

Rahman, Faizal. (2013). “Karakteristik Kebutuhan Informasi Jurnalis Deteksi Jawa Pos Surabaya (Studi Deskriptif Mengenai Karakteristik Kebutuhan Informasi Jurnalis DetEksi Jawa Pos Surabaya dalam Penyampaian Informasi”.

Surabaya: Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Riady, Yasir. (2013). Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Program Doktoral dalam Penyususnan Disertasi. Visi Pustaka: Jaringan Informasi Antar Perpustakaan V, 15 no 2. Jakarta: UPBJJ-UT.

Rozinah, Siti. (2012). Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Dalam Penulisan Skripsi (Studi Kasus di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta). Tesis. Depok: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Salam, Syamsir dan Jaenal Arifin. (2006). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: UIN Jakarta Press.

Sugiyono. (2010). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Efraim, Turban, dkk. (2006). Introduction to Information: Pengantar Teknologi Infromasi. Jakarta: Salemba Infotek.

Yusuf, Pawit M dan Priyo Subakti. (2010). Teori dan Praktik Penelusuran Informasi: Information Retrival. Jakarta:

Kencana.

136

MEMBANGUN KOMUNITAS DAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT (TBM) BAGI ANAK-ANAK USIA DINI DI DESA NARAWITA KECAMATAN CICALENGKA

KABUPATEN BANDUNG Oleh, Sukaesih, Encang Saepudin

Universitas Padjadjaran e-mail: [email protected]

Abstrak

Kegiatan ini mengkaji tentang Membangun Komunitas Dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bagi Anak-Anak Usia Dini Di Desa Narawita Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung. Dengan Metode atau Teknik PRA ‘Participatory Rural Appraisal, dan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, Focus Group Discussion, dan studi pustaka kegiatan ini bertujuan untuk membangun komunitas dan taman bacaan masyarakat sebagai pusat belajar anak usia dini. Responden dalam penelitian ini adalah lembaga pendidikan anak usia dini dan para kader PKK desa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dengan tersedianya taman bacaan masyarakat ini dapat menjadi sarana belajar baik bagi anak-anak usia dini maupun para orang tua anak-anak terutama ibu rumah tangga muda untuk memperluas pengetahuan mereka. Koleksi yang paling diminati adalah majalah, buku resep makanan, dan buku agama, sedangkan waktu yang paling banyak pengumjungnya adalah pagi dan sore hari.

Kata Kunci: taman bacaan, anak usia dini, komunitas, koleksi

137 A. Pendahuluan

1. Latar Belakang

Desa Narawita merupakan salah satu dari 12 Desa yang berada diwilayah Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Desa Narawita berpenduduk 5.595 jiwa, perempuan 2723 jiwa dan laki-laki 2876 jiwa dengan Luas Wilayah Desa 302 Ha. Selain itu, jumlah penduduk berdasarkan usia terdiri atas 0-14- 1.677 jiwa, 14-64- 3.795 jiwa, dan 65 + - 127 jiwa. Ditinjau dari jumlah penduduk dan luas wilayah tersebut, maka Desa Narawita merupakan Desa yang sangat potensial dalam mendukung pelaksanaan pembangunan di wilayah Kecamatan Cicalengka. Walaupun letaknya cukup jauh dari Ibu kota Kecamatan namun desa ini berbatasan dengan desa yang ada di kecamatan Nagreg dan kecamatan Cikancung. Selain itu, Desa Narawita dapat sebagai penghubung melalui jalur transportasi lewat darat antar 3 (tiga) kecamatan tersebut.

Dilihat dari topografi dan kontur tanah Desa Narawita Kecamatan Cicalengka secara umum berupa dataran tinggi dan lereng gunung yang berada pada ketinggian 700 mdl diatas permukaan laut. Desa Narawita terdiri dari empat Dusun yang dikepalai oleh 4 Kepala Dusun, 13 RW dan 30 RT. Mengingat keadaan seperti tersebut di atas maka dalam melaksanakan berbagai tugas Kepala Desa terus memacu para perangkat desa dan masyarakat serta lembaga yang ada di Desa seperti BPD, LPMD, Tim Penggerak PKK Desa, Linmas, GAPOKTAN, beserta para tokoh Agama dan tokoh Masyarakat dalam rangka melaksanakan pembangunan menuju peningkatan Kinerja Pembangunan Desa

Desa Narawita Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung Jawa Barat adalah desa yang sebagian besar penduduknya berpenghidupan sebagai petani tradisional, terutama sawah dan ladang sebagai lahan utama usaha pertanian mereka. Sawah sebagai lahan penghidupan utama di sektor pertanian di desa ini tidak bertambah, bahkan semakin berkurang akibat bertambahnya penduduk yang bermukim di sini.

Sebagian besar anak-anak dari keluarga atau penduduk miskin sebagaimana disebutkan pada paragraf di atas, tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan pra sekolah baik pendidikan formal (taman- kanak-kanak) maupun informal (Bambim, PAUD non-formal). Bahkan sebagian dari mereka ada yang tidak bias menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan biaya untuk biaya sekolah (untuk membeli pakaian seragam, buku, dan lain-lain) yang cukup besar menurut ukuran mereka. Sedangkan berdasarkan pada jumlah penduduk usia anak-anak mencapai 30% yakni 1.677 jiwa.

Padahal, Pendidikan pra sekolah dinilai menjadi pendidikan yang menjadi dasar bagi pendidikan selanjutnya. Mendidik anak tidak dapat secara asal-asalan, dikarenakan nilai penting pendidikan usia dini. Hal ini mengingat pendidikan tidak dapat dilaksanakan secara mendadak ketika anak sudah besar. Justru ketika masih kecil itulah pendidikan perlu direncanakan sebaik mungkin. karena pendidikan pada masa itu merupakan proses meletakkan dasar dan pondasi. Pendidikan lanjutan tinggal meneruskan apa yang telah diperoleh ketika kecil. Pendidikan dalam bentuk pembiasaan, penanaman nilai-nilai, serta aspek-aspek dasar terjadi ketika anak-anak masih kecil. Untuk itulah setiap lembaga pendidikan pra sekolah harus memiliki dasar- dasar seperti itu secara kokoh dan komprehensif.

Usia di bawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi anak hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa.

Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah dibengkokkan.

138

Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orang tua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak.

Sesungguhnya anak-anak usia muda tidak “complicated” ’ruwet’ dalam belajar, tetapi orang tua atau guru yang bermasalah. Pada umumnya kita selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang kita inginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman kita terhadap perkembangan jiwa anak, sehingga kita sering memperlakukannya dengan tidak/kurang tepat.

Pendidikan yang dilandasi dengan kreativitas adalah strategi yang cocok untuk anak usia dini.

Meskipun usianya sudah cukup tua, teori-teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan pada awal abad ke-20 masih sangat layak diberlakukan. Untuk masa sekarang yang lingkungannya menuntut gerak dan aktivitas yang lebih responsif, teori-teori tersebut membutuhkan modifikasi sesuai dengan konteks di mana anak belajar.

Prinsip belajar aktif kreatif sudah dimulai sejak abad ke-14. Pada waktu itu sudah diajarkan oleh para ahli pendidikan bahwa apabila anak tidak diaktifkan secara mental dan fisiknya apa yang masuk ke otak mereka tidak akan mudah dicerna dan akibatnya tidak menjadi milik anak. Sudah menjadi alamnya bahwa anak kecil tidak mau diam tetapi selalu ingin bergerak, apalagi anak-anak yang jumlah neuronnya ratusan milyar. Di pihak lain tidaklah dapat dipungkiri suatu fenomena di masyarakat bahwa “Anak Cerdas” demikian bagi orang tua atau pengasuh sering menimbulkan rasa jengkel dan penasaran. Sebenarnya kalau kita bersedia memahaminya maka kreatif itu sendiri sebenarnya ada dua jenis. Yang pertama, kreatif dapat hanya muncul dalam bentuk pikiran atau ide. Yang kedua, anak yang kreatif lalu diikuti dengan aktif, hal ini pada umumnya terjadi pada anak usia dini. Jadi aktif dan kreatif sebetulnya bergabung menjadi satu yang tidak terpisahkan bahwa anak diajak untuk inovatif dengan pengertian mampu menciptakan dan membuat improvisasi.

Menurut Moleong terdapat Delapan kecerdasan mencakup kecerdasan linguistik (menggunakan kata- kata), logika-matematika (kemampuan menggunakan bilangan), spasial (mempersepsikan warna, garis, luas), kinestetik tubuh (kemampuan mengekspresikan ide dan perasan dalam gerakan tubuh), musikal (kepekaan terhadap ritme, melodi, dan bunyi alat musik), interpersonal (kemampuan memahami maksud orang lain), intrapersonal (memahami potensi dan situasi diri), dan naturalis (memahami sifat-sifat alam).

Selain itu Menurut Moleong, delapan jenis kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak, emosional, spritual. Semua jenis kecerdasan harus dirangsang pada diri anak usia dini, mulai dari saat lahir hingga masa awal memasuki sekolah (7-8 tahun).

Kemampuan ekonomi juga menjadi salah satu faktor penyebab dari terham beratnya pendidikan anak usia dini, sedikitnya pendapatan dan naiknya harga kebutuhan pokok mengharuskan kaum ibu ikut bekerja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini yang menyebabkan perhatian akan pendidikan anak usia dini terbengkalai.

Pembangunan komunitas dan taman bacaan masyarakat ini tentu saja tidak bisa menyelesaikan semua permasalahan kehidupan dan penghidupan masyarakat pedesaan yang tergolong miskin atau prasejahtera. Kegiatan ini setidaknya berusaha mulai dari awal melakukan langkah-langkah nyata yang didasarkan atas kebutuhan nyata penduduk miskin pedesaan, yakni yang prioritasnya adalah pada masalah Kemandirian dalam masalah keterjangkauan pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu (keluarga miskin atau prasejahtera), seperti sudah dikemukakan pada awal tulisan ini.

2. Tujuan Kajian

Tujuan kajian ini adalah membangun komunitas dan taman bacaan masyarakat sebagai pusat belajar anak usia dini dengan rincian tujuan khusus sebagagai berikut;

1. Membentuk komunitas sebagai motor pengerak taman bacaann masyarakat

2. Membangun Taman Bacaat Masyarakat yang memjadi pusat belajar anak-anak usia dini

139 B. Metode

Metode atau Teknik yang digunakan dalam kajian ini adalah Participatory Rural Appraisal dan Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan FGD. Konsep metode Participatory Rural Appraisal pada dasarnya adalah kerangka konseptual, prinsip-prinsip, nilai ideologis, visi yang ingin dicapai, serta metode yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan pemikiran tentang partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.

Sebagai metodologi, PRA merupakan kerangka kerja yang memiliki latar belakang teoretis yang menggunakan satu paradigma tertentu. Dalam tataran pelaksanaan, metode Participatory Rural Appraisal merupakan alat-alat untuk mengembangkan proses-proses partisipasi masyarakat dalam pembangunan. (Rianingsih Djohani, 2003).

Pemilihan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan (PRA) karena metode ini memungkinkan masyarakat secara bersama-sama menganalisis masalah kehidupan dalam rangka merumuskan perencanaan dan kebijakan secara nyata. Hal ini sejalan dengan tujuan penerapan metode Participatory Rural Appraisal yakni pengembangan program bersama masyarakat, penerapannya perlu senantiasa mengacu pada siklus pengembangan program Penerapan pendekatan dan teknik Participatory Rural Appraisal dapat memberi peluang yang lebih besar dan lebih terarah untuk melibatkan masyarakat. Selain itu, melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal akan dapat dicapai kesesuaian dan ketepatgunaan program dengan kebutuhan masyarakat sehingga keberlanjutan (sustainability) program dapat terjamin

C. Hasil dan Pembahasan

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006 mempublikasikan bahwa membaca bagi masyarakat Indonesia belum menjadi sarana untuk memperoleh informasi. Untuk memperoleh informasi masyarakat lebih memilih memilih menonton televisi dan mendengarkan radio. Hal ini terlihat dari jumlah masyarakat yang menonton televisi (85,9%) dan mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca (23,5%). Data ini mengandung arti bahwa membaca untuk mendapatkan informasi baru dilakukan oleh 23,5% dari total penduduk Indonesia.

Data lain yang disampaikan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menunjukkan bahwa minat baca masyarakat yang paling rendah di ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah negara Indonesia. Rendahnya minat baca ini dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia yang baru sekitar 0,001. Angka ini berarti dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi.

Rendahnya minat baca masyarakat tidak terlepas dari kurangnya kesadaran publik akan arti penting membaca bagi peningkatan kemampuan dan kesejahteraan diri, selain belum lunturnya budaya lisan yang berkembang di masyarakat. Dismping itu, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat cepat dan memanjakan masyarakat dengan suguhan-suguhan yang menarik. Seperti maraknya media elektronik (televisi dan internet) yang kebanyakan berisi tayangan hiburan dapat menjauhkan masyarakat dari budaya membaca.

Faktor lain yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat adalah kondisi ekonomi masyarakat. Kondisi ekonomi menyebabkan akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu semakin sulit.

Jangkankan untuk membeli buku, apalagi membeli koran, atau bacaan lainnya untuk memenuhi kebutuhan

140

pokok sehari-hari pun sudah kesulitan. Selain itu, komitmen pemerintah menyediakan buku dan bahan bacaan yang berkualitas dan murah, perpustakaan umum, juga masih rendah.

Disamping itu, rendahnya minat baca disebabkan oleh beberapa hal (1) Kebiasaan yang didominasi budaya mendengarkan atau tutur. Pada saat ini masyarakat masih berpegang budaya lisan, sehingga mencari informasi lebih lebih banyak dilakukan dari mulut kemulut dan bukan bahan tertulis. Hal tersebut dipertegas oleh Venayaksa (2014) bahwa Indonesia secara umum bisa dikatakan memegang estafet kebudayaan lisan/tutur. (2) Pengelolaan pusat kegiatan belajar masyarakat yang didalamnya terdapat taman bacaan masyarakat belum tersedia dengan memadai, (3) Terdapat media tandingan terutama televisi yang menyajikan berbagai hiburan yang menyita waktu.

Untuk mendongkrak minat baca masyarakat sebagai bentuk tindak lanjut pembelajaran yang berkelanjutan dibutuhkan dukungan pihak keluarga, tokoh masyarakat, masyarakat secara umum, pemerintah, dan lembaga sosial kemasyarakatan. Dengan terintegrasinya berbagai elemen masyarakat diharapkan terbentuknya lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang pendidikan dan penyediaan bahan bacaan. Lembaga tersebut seperti perpustakaan, rumah baca atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM).

Dalam Petunjuk Teknis Pengajuan dan Pengelolaan TBM Tahun 2012 disebutkan bahwa Taman Bacaan Masyarakat adalah lembaga pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan dan memberikan layanan di bidang bahan bacaan, berupa: buku, majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan multi media lain, yang dilengkapi dengan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola yang berperan sebagai motivator.

Kegiatan Perluasan dan Penguatan TBM merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas layanan dan hasil pendidikan keaksaraan melalui Taman Bacaan Masyarakat. Kegiatan ini dapat diakses oleh para penyelenggara program pendidikan masyarakat yang memenuhi persyaratan. Agar para penyelenggara dapat memperoleh bantuan Perluasan dan Penguatan taman bacaan. Adapun tujuannya adalah (1) Meningkatkan kemampuan keberaksaraan dan keterampilan membaca, (2) Menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca, (3) Membangun masyarakat membaca dan belajar, (4) Mendorong terwujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat, (5) Mewujudkan kualitas dan kemandirian masyarakat yang berpengetahuan, berketerampilan, berbudaya maju, dan beradab.

Fungsi yang melekat pada taman bacaan masyarakat dalah sebagai (1) sumber belajar, (2) sumber informasi, dan (3) sarana rekreasi-edukasi. Sebagai sumber belajar taman bacaan masyarakat menyediakan bahan bacaan utamanya buku. Buku merupakan sumber belajar yang dapat mendukung masyarakat pembelajar sepanjang hayat, seperti buku pengetahuan untuk membuka wawasan, juga berbagai keterampilan praktis yang bisa dipraktekkan setelah membaca, misal praktek memasak, budidaya ikan, menanam cabe dan lainnya. Sebagai sumber informasi taman bacaan masyarakat dengan menyediakan bahan bacaan berupa koran, tabloid, referensi, booklet-leaflet, dan/atau akses internet dapat dipergunakan masyarakat untuk mencari berbagai informasi. Sebagai tempat rekreasi-edukasi- dengan buku-buku nonfiksi yang disediakan memberikan hiburan yang mendidik dan menyenangkan. Lebih jauh dari itu, TBM dengan bahan bacaan yang disediakan mampu membawa masyarakat lebih dewasa dalam berperilaku, bergaul di masyarakat lingkungan.

Dari tujuan dan fungsi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya taman bacaan masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam segala bidang dan mampu menggali produk unggulan yang menjadi ciri khas daerah ini. Dengan peningkatkan pengetahuan dan keterampilan, maka sumberdaya manusia pada daerah ini diharapkan mampu bersaing untuk mendapatkan lapangan pekerjaaan sehingga diharapkan juga dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya dan pada akhirnya dapat berubah dari masyarakat pra sejahtera (miskin) menjadi masyarakat sejahtera yang ada di daerah.

141

Pelayanan yang dapat dilaksanakan oleh taman bacaan masyarakat yakni (1) Membaca ditempat, dengan menyediakan ruangan baca untuk anak-anak dan didukung dengan variasi bahan bacaan bermutu, sesuai dengan kebutuhan pengguna terutama anak-anak. (2) Meminjamkan buku, artinya buku dapat dibawa pulang untuk dibaca dirumah dalam waktu tertentu dan peminjam wajib mengembalikan buku, (3) Pembelajaran, terutama pendampingan belajar membaca dan menulis dengan menggunakan berbagai pendekatan. Bebarapa pendekatan dalam pendampingan belajar, misalnya: (a) Membimbing teknik membaca (b) menulis kata dan kalimat (c) Belajar membeca yang efektif. (4) Melaksanakan lomba-lomba, misalnya lomba kemampuan membaca, cerdas cermat, dan lain-lain.

Dalam menjalankan tugas dan fungsi taman bacaan masyarakat ini, sumber daya fisik, sumber daya manusia, dan sumber daya finansial. (1) sumber daya fisik . Sumber daya fisik taman bacaan dapat dibedakan menjadi dua yakni sumber daya fisik pokok dan sumber daya fisik penunjang. Sumber daya fisik pokok adalah bahan bacaan seperti buku, majalah, tabloid, koran, dan lainnya. Sumber daya penunjang adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk mendukung kelancaran pelayanan taman bacaan masyarakat. Sumber daya pendukung seperti rak/almari buku, display buku baru, rak majalah, gantungan koran, meja kerja, dan perangkat peralatan elektronik yang relevan. (2) sumberdaya manusia, Faktor utama dalam pengelolaan taman bacaan masyarakat adalah orang sebagai sumber daya manusia, sekurang-kurangnya terdapat 4 orang yang duduk dalam susunan organisasi yang melaksanakan pengelolaan taman bacaan masyarakat, terdiri atas: 1 orang Ketua, 1 orang yang mengurusi adminstrasi dan teknis pemeliharaan, dan 2 orang memberikan layanan kepada masyarakat. (3) sumber daya finansial. Untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan taman bacaan ini, pihak pengelola taman bacaan harus kreatif untuk menggali dana dari berbagai sumber baik dari masyarakat, sponsor, maupun pihal-pihak lain. Kalau memungkinkan pihak pengelola taman bacaan mulai bergerak dalam bidang usaha yang sesuai dengan potensi di lingkungan sekitar. Potensi ini baik terkait dengan bidang pertanian, peternakan, atau pun usaha-usaha lain.

Pengembangan usaha ini bisa dilakukan dengan melibatkan para angora taman bancaan. Dalam hal ini keterlibatan masyarakat sangat berperan penting. Dengan melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan usaha, maka keterikatan masyarakat terhadap taman bacaan menjadi lebih kuat. Selain itu, keterlibatan masyarakat ini akan menjadi pendorong buat masyarakat untuk terus menggali potensi diri dan lingkungannya melalui kegiatan membaca. Secara konsep hal-hal yang dapat mendorong masyarakat untuk membaca adalah (1) Mengenali masyarakat dan berbagai kebutuhannya, Agar dapat mengajak masyarakat mau membaca di taman bacaan. (2) Melakukan sosialisasi taman bacaan masyarakat dan memberi kesadaran arti pentingnya kepada masyarakat tentang TBM sebagaimana perpustakaan. (3) Membentuk kelompok sasaran berdasarkan kemampuan baca/kebutuhan dengan maksud untuk mempermudah melakukan pendekatan dan bimbingan.

Seperti membentuk kelompok sasaran: (a) Pelajar, (b) Mahasiswa, (c) Petani/Nelayan, (d) Pedagang/Wiraswasta; (e) Religius, dan (f ) Pegawai/Karyawan. (4) Membimbing dan meningkatkan kemampuan baca kelompok sasaran. Kemampuan membaca dalam arti memahami isi bacaan, menginterpretasikan bacaan, atau mengkombinasikan bacaan satu dengan yang lain. (5) Menyelengarakan kegiatan yang bermanfaat, Agar TBM dapat melakukan tugas dan fungsinya, pengelola dituntut untuk kreatif menciptakan kegiatan sebagai upaya untuk menarik masyarakat untuk berkunjung dan memanfaatkan TBM.

Beberapa contoh kegiatan yang bisa dipadukan dengan bahan bacaan adalah: (a) Mempraktekan isi buku (keterampilan), seperti praktek memasak dan bercocok tanam, (b) Mendiskusikan isi buku baru, (c) melaksanakan lomba-lomba.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan taman bacaan masyarakat ini sangat bermanfaat bagi masyarakat karena dapat memberi kesempatan kepada mereka memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta harapan dalam meningkatkan taraf kehidupan. Peningkatkan pengetahuan dan

142

keterampilan jika dikelola dengan baik, akan menjadikan mereka sebagai sumberdaya manusia yang memiliki keunggulan kompetitif yang mampu bersaing di lapanagan pekerjaan.

Disamping itu, keunggulan kompetitif tersebut membuka peluang bagi mereka untuk dapat memasuki dunia kewirausahaan terutama dalam mengelola produk unggulan daerah. Dengan bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak diharapkan masyarakat pada daerah ini dapat berwirausaha sesuai dengan kemampunnya. Dengan kemampuan usaha ini pada akhirnya mereka dapat memiliki pendapatan yang tetap sehinggan tidak lagi menjadi pengangguran. Melalui kerjasama sinergis dengan semua pihak diharapkan taman bacaan masyarakat ini dapat berperan dalam mencerdaskan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Knya masyarakat kurang mampu sehingga mereka tidak lagi berada dalam posisi sebagai masyarakat pra sejahtera tetapi berubah sebagai masyarakat sejahtera.

Realisasi Penyelesaian Masalah

Pada tahapan awal, Kegiatan ini diarahkan pada upaya menyediakan sarana dan fasilitas bahan bacaan yang kontennya diprioritaskan pada bahan bacaan anak-anak yang menyangkut pengembangan kepribadian dan kemandirian. Dengan penyediaan bahan bacaan yang menarik sesuai dengan prinsip ilmu informasi dan taman bacaan. Prinsip tersebut yakni semua bahan bacaannya disesuaikan dengan kebutuhan informasi utama masyarakat desa di lokasi kegiatan ini yang berciri pertanian tradisional. Dengan demikian, diharapkan banyak anggota masyarakat, terutama anak-anaknya, bisa tertarik untuk memulai membaca.

Selain itu, kegiatan ini melihat fenomena bahwa beberapa tahun terakhir ini terdapat kecenderungan baru di masyarakat Indonesia. Hal tersebut adalah memasukkan anak-anaknya sedini mungkin ke Lembaga Pendidikan Playgroup dan Taman Kanak-Kanak. Taman kanak-kanak tersebut menawarkan konsep pendidikan yang beraneka ragam. Perkembangan baru ini sangat menarik, selain semakin memacu Lembaga Pendidikan Playgroup dan Taman Kanak-Kanak untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikannya, sehingga memberikan konstribusi yang signifikan bagi dunia pendidikan negeri ini, juga akan membawa implikasi bagi masa depan umat dan bangsa pada khususnya berkenaan dengan pengembangan sumber daya manusia.

Fenomena ini memang menunjukkan bahwa semakin baik tingkat kesadaran akan pendidikan.

Namun, di balik itu terdapat hal-hal yang memprihatinkan dimana seringkali pendidikan yang diberikan terlalu sarat dengan hal-hal yang bersifat akademis dan cenderung melupakan jati diri pendidikan pra sekolah yang semestinya, serta seringkali kurang memperhatikan tumbuh kembang anak. Dapat dibayangkan apabila pendidikan pra sekolah terlalu mementingkan aspek kognitif dibanding aspek-aspek yang lainnya maka masa kanak-kanak mereka menjadi muram dikarenakan kehilangan modal belajar yang berupa positive mental, global learning, happy learning, dan positive supporting yang mengagumkan.

Program ini menekankan pada makna belajar (learning). Menurut Crow dan Crow, belajar adalah proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek dan pengalaman tertentu. Hal ini berarti masyarakat sasaran setelah memiliki pengalaman mengikuti pelatihan pengembangan taman bacaan khususnya dapat memberikan pemahaman dan keterampilan peserta dalam pengembangan taman bacaan masyarakat.

Tahapan kegiatan pembangunan taman bacaan masyarakat ini meliputi tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan, dan tahapan evaluasi. Tujuan utama kegiatan ini adalah masyarakat sasaran diharapkan dapat mengikuti kegiatan ini secara penuh sehingga para peserta dapat memahami dan mempunyai keahlian dalam pengelolaan taman bacaan masyarakat. Adapun alat bantu dan bahan penunjang yang diperlukan dalam kegiatan ini yakni perlengkapan yang dapat mendukung pelaksanaan sebuah taman bacaan masyarakat seperti koleksi taman bacaan, sarana taman bacaan, dan lain-lain.

Dokumen terkait