• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewahyuan Hadis dan Alquran

Dalam dokumen hadis ma'lul - Repository IAIN Kediri (Halaman 31-35)

DAN AlQuRAN

B. Kewahyuan Hadis dan Alquran

Hadis dan Alquran merupakan wahyu dari Allah yang disampaikan kepada Rasulullah. Akan tetapi, terdapat perbe- daan aspek kewahyuan di antara keduanya. Untuk membe- dakan nya, para ulama membuat batasan definis yang bisa diuraikan sebagai berikut.

1. Alquran

Terdapat perbedaan pendapat terkait definis etimologis dari Alquran. Manna’ Khalil al-Qattha menyatakan bahwa kata Alquran merupakan bentuk mas}dar dari kata kerja qara’a yaqra’u yang berarti membaca atau bacaan. Kata qur’a>n berwazan fu’la>n dan bermakna isim maf’ul yakni maqru> artinya “yang dibaca”.1 Pendapat sejalan dengan Muhammad Abdul Adhim al-Zarqani sebagaimana di kemukakan dalam kitab Mana>hil al-‘Irfa>n.2

Menurut al-Asy’ari, kata Alquran berasal dari kata kerja qarana yang berarti menggabungkan, sebab surat dan ayat- ayat Alquran itu saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Menurut al-Zajjaj, kata Alquran berasal dari kata al-qur’ yang berarti himpunan. Karena kenyataannya

1 Manna’ Khalil al-Qatthan Maba>hith Fi> Ulum Alquran (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 14.

2 Muhammad ‘Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Manahilul ‘Irfan Fi ‘Ulumi Alquran, Jilid I, (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 1988), hlm. 14.

bahwa Alquran telah menghimpun inti Kitab-Kitab Suci terdahulu.3

Menurut al-Farra’ seorang pakar Bahasa Arab dari Kufah, pengarang kitab Ma’a>ni> al-Qur’a>n, kata Alquran berasal dari kata al-qara>-in, jamak dari qari>nah yang berarti indikator (petunjuk). Hal itu karena sebagian ayat-ayat Alquran serupa satu sama lain, sehingga seolah-olah seba- gian ayat-ayatnya itu merupakan indikator (petunjuk) dari yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa.4

Menurut al-Syafi’i kata Alquran bukan musytaq (terbentuk dari akar kata lain) dan bukan pula mahmu>z (berhamzah). Ia merupakan nama yang diberikan oleh Allah kepada kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad s}

alla> Alla>h ‘alayh wa sallama seperti halnya Allah memberi nama Kitab Taurat, Zabur dan Injil.5

Terkait definis Alquran secara istilah, pada dasarnya ulama memiliki simpulan yang sama: kalam Allah. Namun, ada perbedaan dalam menyebutkan batasan sifat-sifatnya.

Ada yang hanya mengemukakan dua sifat, sehingga definis Alquran adalah kalam Allah yang dinukil secara mutawatir dan ditulis dalam mushaf. Ada yang mengemukakan dengan tiga sifat, yakni kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, tertulis dalam mushaf dan dinukil secara mutawatir.

Ada pula yang memberi batasan definis secara lengkap, yakni kalam Allah yang mu’jiz (menjadi mukjizat), yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir, melalui

3 Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Alquran (Surabaya:

IAIN Sunan Ampel Press, 2011), hlm. 2.

4 Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi Alquran, hlm. 2.

5 Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Alquran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), hlm. 10.

perantara al-Ami>n Jibril ‘alayhi al-sala>m, tertulis di dalam mushaf, dinukil secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, diawali surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas.6

2. Hadis Qudsi

Secara bahasa, kata qudsi adalah nisbah dari kata quds yang berarti suci. Secara istilah, Hadis Qudsi adalah infor- masi yang diterima oleh Nabi dari Allah subh}a>nahu> wa ta’a>la>.

Melalui ilham atau maqa>m, kemudian Nabi meneruskan informasi tersebut dengan iba>rah (ungkapan/redaksi) dari beliau sendiri.7

Hadis Qudsi hakikatnya adalah murni firma Allah yang kudus, namun struktur kalimat dan stilistika (uslu>b) seperti halnya Hadis Nabawi, karena memang disampaikan dengan bentuk lafal dari Nabi.8 Kekudusan (qudsiyyah) makna firma tersebut tetap terjaga, seperti terjaganya otentisitas Hadis Nabawi, periwayatan Hadis Qudsi juga tidak diterima jika tidak benar-benar terbukti dari Nabi.

3. Hadis Nabawi

Secara etimologi, Hadis artinya sesuatu yang baru, atau semakna dengan Khabar, yakni berita/informasi.

Penambahan kata Nabawi, berarti penyandaran informasi kepada Nabi Muhammad sebagai sumber informasi

6 Muhammad Ali al-Sabuni, al-Tibya>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Makkah: Da>r Hisan, 2003), hlm. 8.

7 Zainuddin Muhammad Abdur Rauf al-Haddadi, al-Ittih}a>fa>t al-Saniyyah bi al- Ah}a>di>th al-Qudsiyyah, Tahqiq Abdul Qadir Arnauth dan Thalib Audah (Beiru>t:

Da>r Ibn Kathir, 2005), hlm. 13.

8 Abdussalam bin Muhammad bin Umar ‘Allus, al-Ja>mi’ fi> al-Ah}a>di>th al-Qudsiyyah (Beiru>t: al-Maktab al-Islami, 2001), hlm. 4.

tersebut. Jadi, Hadis Nabawi bisa didefinisika sebagai informasi yang bersumber dari Nabi.

Sedangkan secara terminologi, Hadis Nabawi adalah segala perbuatan, perkataan, ketetapan (taqri>r) dan sifat Nabi. Definis tersebut sejalan dengan pernyataan al-Qathan9 dan beberapa tokoh lain seperti Quraish Shihab yang mengemukakan bahwa Hadis Nabawi adalah semua yang disandarkan atau dinisbatkan kepada Nabi, baik berupa ucapan, perbuatan dan ketetapan, termasuk sifat fisi dan psikis beliau. Shihab juga menambahkan penegasan yakni sebelum beliau menjadi Nabi maupun sesudahnya.10

4. Persamaan dan Perbedaan Hadis (Qudsi dan Nabawi) dan Alquran

Adapaun persamaan kewahyuan Alquran, Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi adalah sama bersumber dari Allah, kehujjahannya pasti dan menjadi sumber primer dalam agama. Sedangkan perbedaannya, dapat dipetakan sebagai berikut.

Alquran Hadis Nabawi Hadis Qudsi

Makna dan lafalnya

dari Allah Makna dari pemahaman Nabi terhadap Firman Al- lah, kata dan lafalnya dari Nabi sendiri

Makna dari Allah, na- mun lafal dari Nabi sendiri

Dinisbahkan hanya ke-

pada Allah Dinisbahkan kepada Ra-

sulullah Diriwayatkan oleh Nabi

dengan disandarkan Ke- pada Allah

Dinukil secara mut-

awatir seluruhnya Penukilan atau peri- wayatannya ada yang mutawatir, masyhur, ‘aziz dan ada yang gharib

Penukilan atau peri- wayatannya ada yang mutawatir, masyhur,

‘aziz dan ada yang ghar- ib

9 Al-Qatthan Maba>hith, hlm. 16.

10M. Quraish Shihab, Membumikan Alquran (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 121.

Dalam dokumen hadis ma'lul - Repository IAIN Kediri (Halaman 31-35)