Sebagai sebuah istilah yang kemudian melahirkan disiplin ilmu, ‘illah tentu saja memiliki sejarah permulaan. Akan tetapi, belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, kendati sudah dikenal luas di kalangan ahli Hadis sejak masa Syu’bah, Yahya ibnu Sa’id al- Qatta (w. 198 H) dan ‘Abdurrahman ibnu Mahdi. Hal ini bisa dipahami, mengingat pengetahuan tentang teori ini hanya dikuasai oleh sedikit kalangan yang memiliki pemahaman yang brilian, hafalan yang kuat, dan wawasan yang luas mengenai kondisi-kondisi sanad, matan, dan status para periwayat.15
Menurut Ibn Rajab, Ulama yang pertama menekuni ilmu tentang ‘illah Hadis adalah Syu’bah ibn al-Hajjaj Abu Busthm (w. 160 H). 16 Generasi selanjutnya adalah Yahya ibn Sa’id Al-
13Mahmud al-Tahhan, Taisi>r Mus}t}alah} Al-H{adi>th, cet. VII (Riya>d}: Maktabah al- Ma’a>rif li al-Nashr wa al-Tauzi>’, 1985), hlm. 83.
14Hamzah ‘Abdullah al-Malibari, al-H{adi>th al-Ma’lul: Qawa>’id wa D{awa>bit} (Beiru>t:
Da>r Bin H{azm dan Makkah: al-Maktabah al-Makkiyyah, 1996),hlm. 9-10.
15Ahmad Umar Hasyim, Qawa>‘id Us}u>l al-H{adi>th, (Beiru>t: Da>r alFikr, t.t.), hlm.
133.
16Ibn Rajab, Sharh} ‘Ilal Al-Tirmiz}iy (Riyad}:Da>r Al-‘Al-a>’, 2001) .
Qatta (w. 198 H), dialah yang pertama kali menulis kitab
‘ilal.17 Pada periode berikutnya, kajian tentang ‘illah Hadis dilanjutkan oleh muridnya, yakni Yahya ibn Ma’in (w. 233 H), Ibn al-Madini (234 H) dan Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H). Selain ulama tersebut, masih banyak ulama lain yang telah melakukan kajian ini, antara lain Ibn Abi Hatim (327 H), al-Khallal (311 H), Imam Muslim (261 H), ‘Ali bin ‘Amr al-Daruqutni (375 H), Muhammad ibn Abdillah al-Hakim (405 H) dan Abu ‘Ali Hasan ibn Muhammad al-Zujaji.18
Ada perbedaan istilah yang digunakan oleh ulama untuk menyebut Hadis ber-’illah. Pertama, disebut dengan Mu’allal, diantara ulama yang menggunakan istilah ini adalah Ahmad ibn Hanbal.19 Kedua, sebutan Mu’all. Al-‘Iraqi termasuk satu diantara ulama yang memilih istilah ini. Pakar Hadis modern yang menggunakan istilah ini adalah Ahmad ‘Umar Hashim.20 Ketiga, Ma’lul. Diantara ulama yang memilih istilah ini adalah al-Bukhari, al-Tirmidzi, al-Daruqutni dan Hakim21 Ibn al-Salah juga menggunakan istilah Hadis Ma’lul untuk menamai judul yang berisi pembahasan tentang Hadis tersebut.22 Demikian juga al-Asqalani menggunakan istilah ini untuk menyebut Hadis-Hadis ber-’illah dalam kitab Bulu>gh al-Mara>m min Adillah al-Ah}ka>m.
17Ibn Al-Athir, al-Lubab fi> Tahz}i>b al-Ansa>b (Baghdad:Al-Muthanna, t.th).
18Muhammad ‘Abd al-‘Aziz al-Khuli, Ta>ri>kh Funu>n al-H{adi>th al-Nabawiy (Beiru>t:
Da>r Ibn Kathi>r, 1988), hlm. 280.
19Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal, al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rija>l (Riyad}: Da>r al- Kha>niy, 2001), hlm. 31.
20Ahmad Umar Hashim, Qawa>‘id Us\u>l al-H{adi>th (Beiru>t: Da>r al-Fikr, t.th.), hlm.
132.
21Al-Suyuthi, Tadri>b al-Ra>wi (Madinah: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1972), 1/251.
22LihatAbu Amr wa Utsman ibn Abdirrahman al-Syarazuri, Muqaddimah ibn al- S{ala>h} fi> ‘Ulu>m al-H{adi>th (Berirut: Da>r al-Kutub al-Ilmiyyah, 2006), hlm. 130.
Istilah ‘illah Hadis tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menggunakannya. Hal ini bisa dipahami mengingat pengetahuan tentang ‘illah-’illah Hadis hanya dikuasai oleh segilintir kalangan yang memiliki pemahaman yang brilian, hafalan yang kuat, dan wawasan yang luas mengenai kondisi-kondisi sanad, matan, dan status para periwayat.23
Selain itu, Identifikas ‘illah Hadis pun membutuhkan telaah yang luas, memori ingatan yang bagus, dan pemahaman yang teliti, karena ‘illah sendiri merupakan sebab gha>mid (samar) yang tidak mudah ditemukan, bahkan oleh kalangan yang intens mengkaji disiplin ilmu-ilmu Hadis sekalipun.
Sehingga muncul satu disipin varian dari Ulu>m al-H{adi>th yang disebut “Ilm ‘Ilal al-H}di>th”.
Ilmu ini membahas hal-hal berkaitan sebab-sebab laten dan samar dari segi implikasinya dalam menyiderai kesahihan Hadis. Ilmu ini juga merupakan tindak lanjut dari proses penelitian Hadis yang sudah ada. Fokus kajiannya adalah pada pembuktian kesahihan Hadis dilihat dari aspek ada atau tidak adanya ‘illah –baik yang qa>dih}ah (merusak kesahihan) atau ghayr qa>dih}ah (tidak merusak kesahihan)- di dalamnya, atau merupakan verifikas ulang terhadap Hadis yang sudah tampak sahih.
Ditinjau dari objek kajiannya, Ilmu ini berbeda dengan ilmu al-Jarh} wa al-Ta‘di>l yang membahas tentang periwayat dari segi data empirik yang memuji mereka atau mengecam mereka.24 Dengan perangkat disiplin ilmu ‘Ilal al-H{adi>th\,
23Tahir bin Salih bin Ahmad al-Jaza’iri al-Dimashqi, Tauji>h al-Naz}ar ila Us}u>l al- Atha>r, (Madinah: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, t.th.), hlm. 264.
24‘Umar Hasyim, Qawa>‘id Us\u>l, hlm. 28.
kita bisa mengetahui mana Hadis yang sahih dan saqi>m (tidak sahih), serta mana yang ter-jarh} dan yang ter-ta‘di>l sekaligus.25
Lebih lanjut, al-Asqalani menyatakan bahwa ilmu ini merupakan jenis disiplin ilmu Hadis yang paling samar dan paling rumit, serta tidak ada yang mengaksesnya kecuali orang yang dianugerahi oleh Allah pemahaman yang tajam, kapabilitas yang luas, dan pengetahuan yang sempurna mengenai tingkatan-tingkatan periwayat dan kompetensi yang mumpuni mengenai sanad dan matan.26
Kerumitan disiplin ilmu ini, kesulitannya serta peniscayaannya akan proses penelitian yang panjang (lama) juga merupakan satu diantara beberapa hal yang menyebabkan minimnya karya tulis dalam bidang ini. Adapun karya tulis (kitab) yang paling monumental dalam disiplin ini adalah:
1. “Kitab al-‘Ilal” karya ‘Ali bin al-Madini, syaikh atau guru Imam al-Bukhari, disusul kemudian oleh kitab dengan judul serupa karya al-Khallal.
2. “‘Ilal al-H{adi>th” karya Ibn Abi Hatim. Kitab yang terakhir dicetak di Mesir dan diberi sharah oleh Ibn Rajab al-Hanbali.
3. Diceritakan bahwa, Ibn Hanbal memiliki sebuah kitab mengenai illal-illah yang masih berupa manuskrip dengan judul “Al-‘Ilal wa Ma‘rifah ar-Rija>l”.
4. “Al-‘Ilal al-Kubra>” dan “Al-‘Ilal as}-S{aghir” karya al-Tirmidzi.
5. “Al-‘Ilal al-Wa>ridah fi al-H{adi>th al-Nabawiyyah” karya al- Daruqutni. Ini merupakan kitab ‘ilal yang paling lengkap dan luas pembahasannya, namun kitab tersebut bukan karya pribadinya, melainkan disunting dan dibukukan oleh muridnya, al-Hafi Abu Bakr al-Barqani.
25Al-Hakim al-Naisaburi, Ma‘rifah ‘Ulu>m al-H{adi>th, tahqiq al-Sayyid Mu’az}z}am H{usain, (Kairo: Maktabah al-Mutanabbi, t.th.), hlm. 112.
26Subhi al-Salih, Ulu>m al-H{adi>th, hlm. 180.
6. Sejumlah kitab ‘illah juga dinisbatkan masing-masing pada al-Bukhari, Imam Muslim, Ibn Abi Syaibah, al-Saji, Ibn al- Jauzi, dan Ibn Hajar.27