dan Anas Ibn Malik r.a.21 Maka sejak terbunuhnya khalifah Usman bin Affa dan tampilnya Ali bin Abu Thalib serta Muawiyah yang masing-masing ingin memegang jabatan khalifah, maka umat Islam terpecah menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok mengaku berada dalam pihak yang benar dan menuduh pihak lainnya salah.
Untuk membela pendirian masing-masing, tidak jarang dari me reka membuat Hadis-Hadis palsu dan meng atas- namakan Rasulullah sebagai sumber informasinya. Mulai saat itulah timbulnya riwayat-riwayat Hadis palsu. Menurut Abu Zahwu, yang mula-mula membuat hadis palsu adalah dari golongan Syiah.22 kemudian golongan khawarij dan sebagian dari sekte-sekte teologis yang muncul setelahnya.23 Hal itu menjadi perhatian para Tabiin senior (Kibar al- Ta>bi’i>n), diantara yang membicarakan keadaan maupun kondisi para periwayat saat itu adalah al Sya’bi, Ibn Musib dan Ibn Sirin.
Kemudian pada masa Tabiin pertengahan (Ausat} al Ta>bi’i>n), diawal abad kedua hijrah mulai muncul dari meraka para periwayat daif yang meriwayatkan Hadis- Hadis mursal.24 seperti Abi Harun ‘Imarah Ibn Juwain al
‘Abdi. Adapun pada masa Tabiin senior (s}ighar al-Ta>bi’i>n), sekitar pertengahan abad ke dua hijra pemalsuan hadis bertambah luas dengan munculnya propaganda- propaganda politik untuk menumbangkan Bani Umayyah.
21Abd. Muhdi Ibn Abd. Al Qodir Ibn Abd Al Hadi, Ilmu al Jarh wa al Ta’dil Qowa’iduhu wa Aimmatuhu, (Kairo: al-Azhar University, 1998), hlm. 10.
22Abu Zahwu, al Hadis wa al Muhaddisun, hlm. 96.
23Abu Zahwu, al Hadis wa al Muhaddisun, hlm. 96.
24Mursal adalah Hadis yang terputus sanadnya satu rawi setelah masa para Tabi’in. Lihat: Manna’ al Qatthan Mabahits fi al Ulum al Hadis, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2004), hlm. 121.
Sebagai perlawanan, muncul pula dari pihak daulah Bani Abbasiyah para pemalsu Hadis untuk membendung arus propaganda yang dilakukan oleh golongan oposisi.
Selain itu, muncul juga golongan Zindiq, tukang kisah yang berupaya untuk menarik minat masyarakat agar mendengarkannya dengan membuat kisah-kisah palsu.
Ulama pada zaman itu yang banyak menbicarakan dan mendiskusikan kondisi para periwayat adalah Sya’bah, Malik, Mu’ammar, Hisyam kemudian Ibn al Mubarak, dan setelah mereka adalah Yahya Ibn Sa’id al Qattan Abdurrahman Ibn Mahdi, dan ulama yang pertama kali mengumpulkan pembahasan mereka adalah Yahya Ibn Sa’id, kemudian diturunkan ke murid-muridnya, seperti;
Yahya Ibn Mu’in, Ali Ibn al Madini dan imam Ahmad Ibn Hanbal, kemudian diturunkan lagi ke murid-muridnya, seperti al-Bukhari, Muslim, Abu Zara’ah, Abu Khatim, kemudian ke murid-muridnya lagi seperti; al Tirmidzi, al-Nasa’i sampai pada sekitar tiga ratus ulama setelahnya dimasa akhir periwayatan Hadis.25
Pada akhirnya para ulama teologi memberikan konklusi, yaitu ada sebuah ciri khusus di bidang ini yang dijadika pijaka sebagai disiplin ilmu untuk mengkritisi para periwayat, maka ilmu itu disebut ilmu al-Jarh} wa al-Ta’di>l.
Ciri-ciri tersebut adalah bahwa mereka mengkritisi sanad Hadis semata-mata hanya karena Allah, kemudian setiap ulama ahli Hadis dalam menyoroti kesalehan dan kejelekan
25Abd Muhdi Ibn Abd al-Qodir Ibn Abd al-Hadi, Ilmu al Jarh wa al Ta’dil Qowa’iduhu wa Aimmatuhu, (Kairo: al-Azhar University, 1998), hlm. 12.
para periwayat dengan tinjauan objektif; tidak memandang seorang ayah, saudara maupun seorang anak.26
2. Al-Ja>rih} wa al-Mu’addil
Ulama yang ahli di bidang kritik para periwayat Hadis disebut al-Ja>rih} wa al-Mu’addil. Jumlah mereka tidak banyak, karena syarat-syarat untuk diakui sebagai kritikus Hadis tidak ringan, baik syarat yang berkaitan dengan sikap pribadi ataupun syarat yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan.
1. Berkaitan dengan karakter pribadi a. Adil
b. Tidak bersikap fanatik terhadap suatu aliran/madzhab yang dianutnya
c. Tidak bersikap bermusuhan dengan periwayat yang sedang dikritiknya sekalipun berbeda madzhab 2. Berkaitan dengan kualitas keilmuan. Dalam hal ini para
kritikus harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam, terutama dalam bidang/ masalah
a. Memahami dengan baik ajaran keislaman dan bahasa arab
b. Memahami dengan baik Hadis dan Ilmu Hadis
c. Menguasai Ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang sedang dikritiknya
d. Menguasai hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat yang sedang berlaku
26Mahmud Abdul Khaliq Hilwah, dan Ezzat Ali Athea, Ushul al Riwayah wa al Jarh wa al Ta’dil, (Kairo: al-Azhar University, 2003), hlm. 18-19.
e. Menguasai sebab-sebab yang melatarbelakangi munculnya sifat-sifat yang menonjol atau tercela yang dimiliki oleh periwayat yang sedang dikritik.27
Dalam mengemukakan kritik terhadap periwayat Ha- dis, kritikus terikat dengan norma-norma tertentu untuk meme lihara objektivitas kritik yang dikemukakan. Bebe- rapa norma yang disepakati oleh ulama Hadis dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Kritikus Hadis tidak hanya mengemukakan ketercelaan periwayat akan tetapi juga sifat utama periwayat;
2. Sifat-sifat utama cukup dikemukakan secara global, tanpa harus ada rincian. Hal itu didasarkan pada pertim- bangan bahwa sifat-sifat utama seseorang sangat sulit dikemukakan secara rinci;
3. Sifat-sifat tercela periwayat yang dikemukakan secara rinci tidak dinyatakan secara berlebihan dan dikemu- kakan sedemikian rupa, sehingga dapat diketahui apakah ketercelaan tersebut berkaitan dengan keadilan atau kedlabithan periwayat.28
Dalam hal mengemukakan kritikan, sikap ulama ahli kritik Hadis ada yang ketat dan ada yang longgar. Kelompok ulama yang ketat dalam mengkritisi para periwayat Hadis sering disebut dengan al-Mutashaddidu>n. Sedangkan kelompok kritikus yang cenderung longgar sering disebut dengan al-Mutasahhilu>n.
Termasuk ulama yang dikategorikan dalam al-Muta- shaddidi>n adalah al-Nasa’i (w. 303H/915M) dan ‘Ali bin
‘Abdillah bin Ja’far al-Sa’di al-Madini. Sedangkan yang termasuk ulama yang dikategorikan dalam al-Mutasahhhili>n
27M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad , hlm. 203.
28M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad , hlm. 204.
adalah al-Hakim al-Naisaburi (w. 405 H/101 M) dan Jalal al- Din al-Suyuthi (w. 911 H/505 M). Diantara kedua kelompok tersebut, ada ulama yang disebut al-Mutawassit}, yang termasuk dalam kategori tersebut adalah al-Zahabi (w.
746 H/1348 M). Pengelompokan tersebut bersifat umum dan tidak berlaku untuk semua penelitian yang mereka lakukan29