Materi KAT ITB 2022
D. KM ITB (1998 - Sekarang.)
dikembalikan ke SC dan banyak ruangan SC yang telah berubah dari formatnya yang lama diisi oleh lembaga-lembaga yang bukan dikelola oleh mahasiswa, misalnya Bank, Toko Optik, Koperasi Pegawai dan sebagainya. Hal ini tentu meninggalkan pengalaman yang buruk bagi penghuni SC Barat yang hingga sekarang seringkali diminta untuk mengosongkan ruangan karena ruangan SC Barat akan dipugar atau alasan lainnya. Pengalaman dari SC Timur membuat unit-unit yang ada di SC Barat sudah tidak begitu percaya dengan segala bentuk janji dan kompromi dari Pak Isnuwardianto.
Sayangnya, ketika kasus tidak dikembalikannya fungsi SC Timur ke fungsi semula, BKSK sudah bubar dengan begitu saja sehingga tidak ada lembaga yang mencoba memperjuangkan kepentingan unit-unit. Sehingga praktis, kemahasiswaan ITB pada saat itu berada pada FKHJ.
Semenjak bubarnya DEMA ITB tahun 1978, kemahasiswaan ITB tidak mempunyai Lembaga Sentral Mahasiswa karena ditolaknya konsep SMPT oleh mahasiswa ITB. Kemahasiswaan ITB merupakan satu dari sedikit kemahasiswaan kampus lainnya - yang menolak SMPT yang kita anggap konsep tidak menunjukkan independensi kemahasiswaan dari rektorat atau pemerintah.
FKHJ dan BKSK sebagai lembaga yang berusaha mencoba untuk berperan sebagai lembaga yang memotori kemahasiswaan ITB tidaklah dapat dikatakan sebagai Lembaga Sentral Mahasiswa, minimal tidak adanya kesepakatan bersama untuk membenarkan hal itu.
Kerinduan dan kebutuhan akan LSM kembali cukup menjadi pusat perhatian bagi kemahasiswaan ITB pada sejak tahun ‘90-an. Hal itu didasari adanya harapan- harapan kepada LSM untuk mampu mengangkat semangat kemahasiswaan serta menyatukan kembali kekuatan kemahasiswaan ITB yang sudah terpecah-pecah belasan tahun ke kantong-kantong himpunan dan unit.
Hingga pada tahun ’96 dilakukan penggodokan konsep LSM di Ciwidey yang dihadiri perwakilan Himpunan dan unit. Akhirnya dengan memanfaatkan momen Reformasi tahun ’98, dideklarasikanlah pembentukan LSM ITB dengan nama KM ITB yang mempunyai badan eksekutifnya adalah Kabinet dan badan legislatifnya adalah Kongres. Dimana berdasarkan AD/ART KM ITB, posisi Kabinet dengan HMJ dan UKM adalah sejajar dan Kabinet mempunyai hubungan koordinatif dengan HMJ dan UKM.
Sense of Community
Berbagai upaya romantisasi masa lalu diatas akan dilanjutkan dengan pengenalan semangat berkemahasiswaan yang akan menjadi tujuan utama pada materi ini. Dalam rangka mengenalkan dan menginisiasi semangat
berkemahasiswaan akan digunakan dua teori, yakni sense of community dan School Belongings. Harapannya dengan dikenalkannya dua teori tersebut akan mampu memunculkan semangat berkemahasiswaan bagi setiap peserta KAT ITB 2022. Lalu apa itu sense of community?
Sense of Community merupakan suatu konsep yang dikembangkan oleh McMillan & Chavis (Sense of Community: A Definition and Theory, David W.
McMillan dan David M. Chavis, Journal of Community Psychology, Volume 14, 1986). Mereka menyatakan bahwa rasa komunitas dapat dipecah secara konseptual menjadi empat elemen:
1. Membership
Membership berarti siapa yang ada di komunitas dan siapa yang keluar. Ini menunjukkan bahwa orang menghargai rasa memiliki yang datang dengan diidentifikasi sebagai anggota. Klub penggemar adalah contoh ekstrem dari kekuatan keanggotaan dan sering ditandai dengan simbol keanggotaan seperti lencana dan kaos. Asosiasi profesional, contoh lain dari komunitas praktik, mungkin memiliki persyaratan keanggotaan formal seperti biaya dan ujian sebelum Anda dapat bergabung.
2. Influence
Gagasan bahwa "suara saya penting". Ketika Anda berbicara, orang lain mendengarkan dan sering bertindak atas saran Anda.
3. Fulfillment of needs
Orang milik komunitas untuk memenuhi satu atau lebih kebutuhan. Dalam komunitas praktik, kebutuhan umum adalah menjadi lebih baik dalam pekerjaan atau profesi seseorang.
4. Emotional Connection
Termasuk sejarah bersama dan partisipasi bersama dan identifikasi dengan sejarah itu, dan hubungan yang sangat terasa di antara anggota. Ini adalah aspek yang paling samar dari Rasa Komunitas, tetapi masih sangat penting.
Mengapa Sense Of Community itu penting?
Karakteristik utama dari komunitas yang sukses (berhasil berarti komunitas yang aktif, terlibat yang ingin dikunjungi orang, dan di mana anggota berkontribusi secara teratur) adalah rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan sangat penting untuk komunitas yang sukses, berkelanjutan, dan berkelanjutan.
Bagaimana cara menumbuhkan Sense Of Community?
Untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, sampaikan masing-masing dari empat komponen yang berkontribusi pada Rasa Komunitas.
1. Membership
a. Jelaskan siapa yang masuk dan siapa yang keluar (mengenai keanggotaannya).
b. Menetapkan persyaratan yang jelas untuk keanggotaan sangat penting. Misalnya, apakah komunitas hanya untuk karyawan dan kontraktor organisasi, atau untuk audiens eksternal mitra, LSM, dan lembaga akademis juga? Dari perspektif yang berbeda, apakah
komunitas untuk pakar teknis di bidang topik tertentu, atau untuk siapa saja yang memiliki minat sesaat di bidang topik?
Rekomendasi praktis: Bersikaplah sangat jelas dan mempertimbangkan siapa yang akan ditargetkan dan diundang, tetapi juga tetap gesit - seiring waktu komunitas mungkin perlu memperluas cakupan dan audiens, atau sebaliknya.
2. Influence
a. Paling tidak, menjadi anggota komunitas harus menjamin kesempatan untuk berbicara dan memastikan bahwa Anda akan didengar. Jika Anda tidak didengar, ada sedikit dorongan bagi Anda untuk berbicara dan tetap menjadi anggota komunitas. Pada saat yang sama, Anda dapat mengizinkan anggota lain untuk mempengaruhi Anda karena Anda menghargai pendapat dan saran mereka.
Rekomendasi praktis: Pastikan komunitas Anda inklusif. Untuk setiap acara atau aktivitas yang Anda rancang, rancang dengan cara yang ramah dan aman, dan ciptakan peluang bagi semua orang untuk berpartisipasi dan berkontribusi.
3. Fulfillment of needs
a. Jika kebutuhan anggota tidak terpenuhi, anggota akan pergi.
Jika konten tidak sesuai, relevan, terkini, atau bermanfaat, maka kehadiran, kontribusi, partisipasi, keterlibatan, dan keanggotaan akan segera mulai turun. Sangat penting bagi kelangsungan komunitas untuk memastikan bahwa kebutuhan anggota Anda terpenuhi.
Rekomendasi: Survei dan wawancara anggota secara teratur dan pantau konten untuk memastikan bahwa itu dikonsumsi untuk memastikan bahwa
Kebutuhan Anggota terpenuhi dan mereka terus mendapatkan nilai dari komunitas.
4. Emotional Connection
a. Meskipun bukan alasan utama untuk bergabung dengan Komunitas Praktik, hubungan emosional antar anggota seringkali merupakan faktor kunci untuk memastikan bahwa anggota bertahan untuk jangka panjang. Fokus sejenak pada istilah “komunitas”: salah satu tujuan Komunitas Praktik adalah untuk menciptakan rasa memiliki, membuat orang-orang dengan minat yang sama saling mengenal, percaya, dan saling mendukung. Koneksi ini sangat penting di antara anggota Anda yang paling aktif: Tim Inti dan Grup Inti Anda.
Rekomendasi: Selain menyediakan kebutuhan kemajuan teknis dan
profesional para praktisi menciptakan kesempatan bagi mereka untuk mengenal satu sama lain dan ikatan sebagai komunitas sejati, misalnya, menanggapi kebutuhan emosional mereka untuk berhubungan dengan pertemuan "pendingin air" , acara sosial reguler, dan perayaan pribadi untuk ulang tahun, peringatan, kelahiran, dan acara pribadi lainnya.
School Belonging
Lalu apa yang dimaksud dengan teori school belongings yang telah disebutkan diatas? School belonging berasal dari artikel akademik 1993 oleh peneliti Carol Goodenow dan Kathleen Grady. Kedua peneliti tersebut
mendeskripsikan istilah school belonging sebagai "sejauh mana siswa merasa diterima, dihormati, diakui, dan didukung oleh orang lain secara pribadi di lingkungan sosial yang ada di sekolah".
Istilah school belonging biasanya mencakup perasaan siswa yang terhubung dan terikat dengan sekolah serta keterlibatan siswa dengan komunitas sekolah. Siswa yang tidak merasakan school belonging dalam lingkungan sekolah mereka sering menganggap diri mereka teralienasi. Beberapa istilah yang serupa dengan school belonging seperti keterhubungan terhadap sekolah, atau keterikatan terhadap sekolah, dan keterlibatan terhadap sekolah sering digunakan secara bergantian dalam beberapa penelitian mengenai pendidikan.
School belonging ditentukan oleh berbagai faktor seperti prestasi dan motivasi akademik, karakteristik pribadi, hubungan sosial, karakteristik demografis, suasana sekolah, serta partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa school belonging memiliki implikasi yang signifikan bagi siswa.
Hal diatas disebabkan karena school belonging pada dasarnya memiliki kaitan dengan hasil akademik, penyesuaian psikologis, kebahagiaan, pembentukan identitas, kesehatan mental, dan kesehatan fisik yang ada pada siswa. Keterkaitan tersebut membuat school belonging dianggap sebagai aspek yang mendasar dari perkembangan siswa. School belonging merupakan hal yang sangat penting bagi remaja karena mereka berada dalam masa transisi dan pembentukan identitas. Meki merupakan hal yang penting, tetapi beberapa penelitian menemukan bahwa school belonging pada siswa menurun secara signifikan ketika mereka memasuki masa remaja.Tentunya dalam konteks perkuliahan juga berlaku school of belongings terhadap universitas dan almamaternya.
Penelitian menunjukkan bahwa banyak siswa yang memiliki kekurangan dalam hal school belonging. Program Penilaian Pelajar Internasional (PPPI) pernah menyelidiki rasa kepemilikan dan ketidakpuasan terhadap siswa di seluruh dunia sejak tahun 2003. Pengumpulan data terbaru mereka diadakan pada tahun 2018. Sekitar 600.000 siswa yang mewakili 32 juta populasi pada usia 15 tahun (berusia antara 15 tahun 3 bulan dan 16 tahun 2 bulan) dari 79 negara berpartisipasi dalam penelitian PPPI tahun 2018 ini. Analisis dari PPPI mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa di seluruh dunia kurang mempunyai perasaan memiliki yang kuat terhadap sekolah.
Rata-rata, sepertiga dari semua siswa yang disurvei merasa bahwa mereka bukan bagian dari sekolah mereka. Selain itu, PPPI menemukan bahwa satu dari lima siswa merasa seperti orang luar di sekolah mereka sendiri dan satu dari enam laporan menyatakan bahwa siswa merasa kesepian. Pada sebagian besar institusi pendidikan, siswa yang secara sosial ekonominya rendah merasa dirinya kurang dalam hal school belonging. Rata-rata school belonging pada siswa menurun 2% antara tahun 2015 dan 2018. Persentase siswa yang tidak merasa menjadi bagian dari sekolah mereka sendiri telah meningkat sejak tahun 2003 yang mana ini menunjukkan penurunan tren school belonging secara global.
Hal diatas tentunya juga kerap terjadi dalam universitas tertentu, banyak mahasiswa yang kurang memeliki school belongings terhadap universitasnya yang berdampak pada hal-hal yang telah disebutkan diatas. Dalam beberapa penelitian yang berbeda, school belonging cenderung terlihat menurun seiring bertambahnya usia siswa. Dalam suatu penelitian yang melibatkan siswa dari Amerika Latin, Asia, dan Eropa, peneliti Cari Gillen-O'Neel dan Andrew Fuligni menemukan bahwa siswa umumnya melaporkan tingkat rasa school belonging yang tinggi di saat mereka masih kanak-kanak. Namun, begitu siswa beralih ke sekolah menengah dan mulai memasuki masa remaja, persepsi mereka tentang school belonging yang mereka miliki turun secara signifikan. Begitu juga pada saat memasuki masa perkuliahan dan menjelang lulus tentunya akan semakin berkurang dengan berbagai tuntutan career.
Faktor Penentu School Belongings
1. Faktor Akademik 2. Karakteristik Pribadi 3. Hubungan Sosial 4. Teman Sebaya 5. Orangtua
7. Demografis 8. Jenis Kelamin 9. Ras/Etnis
10. Suasana Sekolah
11. Kegiatan di luar Akademik
Gambar 4.19. Perspektif Sosio-Ekologis
Kumpulan dari faktor-faktor penentu school belonging dapat dikonseptualisasikan dalam model sosio-ekologis yang digunakan untuk menggambarkan sistem sekolah secara keseluruhan serta berbagai hal yang berpengaruh secara dinamis terhadap school belonging.
Dalam model tersebut, Allen menggambarkan siswa sebagai pusat dari lingkungan sekolah mereka. Lingkaran pada bagian dalam menggambarkan berbagai faktor yang bersifat biologis dan faktor individu yang mempengaruhi school belonging.
Faktor-faktor tersebut meliputi ciri-ciri biologis dan karakteristik pribadi siswa seperti stabilitas emosional dan motivasi akademik. Lingkup sistem mikro dalam lingkaran tersebut mewakili hubungan dengan orang lain, khususnya, guru, teman sebaya, dan orang tua.
Kebijakan dan praktik sekolah yang terjadi dalam kegiatan sehari-hari dalam sekolah dan ekosistem yang mewakili tingkat yang lebih luas serta dapat mencakup komunitas sekolah yang lebih luas merupakan hal yang mewakili dalam sistem pertengahan.
Sedangkan penggambaran konteks budaya sekolah yang mungkin dipengaruhi oleh letak geografis sekolah, iklim sosial eksternal, dan faktor-faktor lain seperti sejarah, undang-undang, dan prioritas yang didorong oleh pemerintah merupakan hal yang mewakili pada lingkup sistem makro.
4.3.7 Materi: Pengenalan Lingkungan ITB dan KM ITB 1. Alur materi peserta tingkat 1 & 2:
Gambar 4.20. Alur Materi Tingkat 1 dan Tingkat 2 untuk Materi Pengenalan Lingkungan ITB
Gambar 4.21. Alur Materi Tingkat 1 dan Tingkat 2 untuk Materi Pengenalan KM ITB
2. Parameter Materi Peserta Tingkat 1:
a) Mengetahui sejarah ITB dan KM ITB (C-1) b) Mengetahui identitas ITB (C-1)
c) Mengetahui sarana dan prasarana di ITB (C-1) d) Mengetahui informasi dasar multi kampus (C-1)
e) Mengetahui fungsi dari setiap elemen-elemen KM ITB (C-1) f) Mengetahui sistem KM ITB (C-1)
g) Mengetahui budaya kampus (C-1) h) Mengetahui civitas akademika ITB (C-1)
3. Parameter Materi Peserta Tingkat 2:
a) Memahami sejarah ITB dan KM ITB (C-2) b) Memahami identitas ITB (C-2)
c) Memahami sarana dan prasarana di ITB (C-2) d) Memahami informasi dasar multi kampus (C-2)
e) Memahami fungsi dari setiap elemen-elemen KM ITB(C-2) f) Memahami sistem KM ITB (C-2)
g) Memahami budaya kampus (C-2) h) Memahami civitas akademika ITB (C-2)
4. Deskripsi Materi
Pada bagian 3 ini, akan dikenalkan tentang ITB dan KM ITB. Fokus pada materi ini akan diberikan wawasan umum mengenai ITB. Wawasan umum itu meliputi pengenalan sejarah ITB & KM ITB,pengenalan identitas ITB & KM ITB,pengenalan
kampus ITB, pengenalan civitas akademika ITB, dan pengenalan multikampus yang terdiri dari alasan dan latar belakang, manfaat, kondisi, dan juga tujuan adanya multikampus.
Dalam mencapai tujuan akhir berupa inisiasi dalam kontribusi untuk pembangunan Indonesia, peserta KAT ITB 2022 harus terus melakukan pengembangan diri baik itu dengan wadah yang sudah tersedia di dalam ITB maupun di luar ITB. Harapannya, dengan mengetahui berbagai wawasan dalam ITB yang akan dilanjutkan dengan materi kemahasiswaan lainnya peserta KAT ITB 2022 menjadi terinisiasi untuk senantiasa mengembangkan diri dengan tujuan akhir yakni membentuk pribadi yang dapat berkontribusi untuk Indonesia, baik itu sebagai anggota KM ITB ataupun saat nanti sudah menjadi Alumni ITB yang sekaligus juga menjadi masyarakat.
Pengenalan Sejarah ITB & KM ITB
Mahasiswa ITB perlu mengenali asal-usul ITB dan sejarah KM ITB. Pada statuta ITB tertuang sejarah berdirinya Institut Teknologi Bandung. Institut Teknologi Bandung, pertama kali dideklarasikan oleh pemerintahan Belanda pada tanggal 3 Juli 1920, dengan nama Technische Hogeschool te Bandoeng. Pada tanggal 2 Maret 1959, Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi didirikan oleh Ir. Soekarno (Presiden pertama Republik Indonesia), dan pada tahun yang sama dilantik Rektor pertama ITB. Pada tahun 1973, ITB membuka program Tingkat Persiapan Bersama (TPB) dan pada tahun 1979 ITB membuka Program Pasca Sarjana untuk pertama kalinya.
Pengenalan Multikampus
Institut Teknologi Bandung merupakan perguruan tinggi yang memilik tiga kampus tersebar yang berada di provinsi Jawa Barat. Pertama, Kampus Ganesha merupakan kampus utama Institut Teknologi Bandung. Berlokasi di Jl. Ganesa No. 10, Bandung, Jawa Barat, Indonesia dengan luas sekitar 28 hektar, kampus ini terus mengalami perluasan dan penambahan fasilitas. Kedua, Kampus Jatinangor terletak di Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kampus ini dibangun di lahan aset milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat seluas 47 hektar yang sebelumnya digunakan sebagai kampus Universitas Winayamukti. Terakhir, kampus yang paling baru dibuka yaitu ITB kampus Cirebon dengan Lahan seluas 30 hektar di Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon.
Pengenalan Identitas ITB & KM ITB
Ketika memasuki jenjang perkuliahan, mahasiswa mendapatkan identitas baru sebagai mahasiswa ITB. Oleh karena itu, diperlukan pengenalan identitas yang ada di lingkungan ITB. Pengenalan identitas ITB berupa, lambang, mars, hymne, dan jaket almamater. Selain itu, peserta KAT akan dikenalkan dengan visi dan misi yang dimiliki oleh ITB.
Pengenalan Sistem KM ITB
Keluarga Mahasiswa ITB atau KM ITB merupakan pemerintahan mahasiswa di dalam ITB. Menurut Konsepsi KM ITB, Anggota KM ITB terdiri dari anggota biasa, yaitu seluruh mahasiswa S1 yang terdaftar secara resmi di ITB dan anggota kehormatan, yaitu individu di luar anggota biasa yang disahkan oleh kongres KM ITB. Di dalam KM ITB, kedaulatan tertinggi ada pada seluruh anggota biasa KM ITB yang diwujudkan oleh Kongres KM ITB. Berikut kelengkapan organisasi dari KM ITB,
Gambar 4.22. Bagan Kelengkapan KM ITB
Kongres KM ITB
Kongres KM ITB merupakan perwujudan dari kedaulatan tertinggi dalam organisasi kemahasiswaan ITB. Kongres KM ITB menjalankan dua fungsi utama di dalam KM ITB, yaitu fungsi legislasi dan fungsi pengawasan.
Fungsi legislasi adalah fungsi membentuk peraturan dan perundang-undangan
di dalam KM ITB, sementara fungsi pengawasan adalah fungsi mengawasi keberjalanan KM ITB.
Kabinet KM ITB
Kabinet KM ITB merupakan badan eksekutif di tingkat pusat. Tugas utama Kabinet KM ITB adalah mendinamisasi kampus melalui pencerdasan dan pemberdayaan mahasiswa di tingkat bawah.
Keresidenan Multikampus KM ITB
Pada Konsepsi KM ITB amandemen 2020, adanya badan kelengkapan Keresidenan Multikampus KM ITB adalah upaya taktis untuk mewadahi kegiatan kemahasiswaan Anggota Biasa KM ITB yang berada di setiap multikampus ITB, dan sekaligus menjadi penjelas definisi dan posisi mahasiswa multikampus ITB.
MWA-WM
Majelis Wali Amanat Institut Teknologi Bandung (MWA ITB) adalah pemegang kekuasaan tertinggi di ITB yang anggotanya merupakan perwakilan-perwakilan seluruh stakeholder ITB, dimana salah satu elemennya adalah mahasiswa. Dengan keterwakilan mahasiswa di MWA ITB sebagai salah salah satu elemennya, mahasiswa melalui MWA WM diharapkan dapat berperan dalam merumuskan dan menentukan kebijakan-kebijakan ITB.
HMJ
Himpunan Mahasiswa Jurusan adalah organisasi di Institut Teknologi Bandung di tingkat jurusan yang telah disahkan oleh program studi terkait dan berfungsi untuk mewadahi kebutuhan sektoral mahasiswa dalam bidang keilmuan dan keprofesian.
UKM
Unit kegiatan mahasiswa merupakan badan kelengkapan KM ITB di tingkat satu kelompok tertentu mahasiswa (minat, bakat, kreasi, dan hobi) untuk seluruh kampus ITB.
Pengenalan sarana dan prasarana di ITB
Sarana dan prasarana ITB merupakan aspek fisik yang tak boleh luput dalam penurunan materi yang akan diberikan kepada peserta KAT. Peserta
KAT akan dikenalkan dengan gedung-gedung serta fasilitas yang ada di ITB.
Sarana yang akan diperkenalkan meliputi gedung kuliah, gedung laboratorium, sabuga, saraga, dan banyak hal lainnya.
Pengenalan Budaya Kampus ITB
Setelah mengetahui sarana dan prasarana di ITB, peserta KAT ITB 2022 akan diperkenalkan dengan 7 budaya kampus yang menjadi dasar bagi berbagai macam pergerakan mahasiswa. 7 budaya kampus yang ada di ITB mencakup integritas, kajian, peduli lingkungan, apresiasi, berkarya, berpikir kritis dan solutif, serta berhimpun.
Pengenalan Civitas Akademika ITB
Pengenalan terkait civitas akademika yang ada di ITB meliputi jajaran rektorat, direktorat, K3L, dan lain-lain. Civitas akademika merupakan elemen kampus yang perlu diketahui untuk menunjang kegiatan akademik maupun non akademik di dalam lingkungan KM ITB.
4.3.8 Materi: Kontribusi Membangun Indonesia 1. Alur Materi Peserta Tingkat 1:
Gambar 4.23. Alur Materi Tingkat 1 untuk Materi Kontribusi Membangun Indonesia
2. Alur Materi Peserta Tingkat 2:
Gambar 4.24. Alur Materi Tingkat 2 untuk Materi Kontribusi Membangun Indonesia
3. Parameter Materi Peserta Tingkat 1:
a) Peserta merumuskan rencana kontribusi terhadap pembangunan Indonesia (C-3)
b) Peserta mengimplementasikan rencana kontribusi terhadap pembangunan Indonesia (C-3)
4. Parameter Materi Peserta Tingkat 2:
a) Peserta menganalisis rencana kontribusi terhadap pembangunan Indonesia.
(C-4)
5. Deskripsi Materi
Setelah mendapatkan materi yang ada seperti realita dan tantangan yang dihadapi, perumusan visi hidup, semangat kemahasiswaan, dan urgensi perubahan peserta KAT diharapkan dapat melakukan recall materi-materi yang ada agar dapat dijadikan bekal untuk merencanakan kontribusi dalam membangun Indonesia.
Kontribusi yang dimaksud dalam poin ini berupa kontribusi individu dan kontribusi kolektif. Peserta KAT dapat merealisasikan kontribusi tersebut dengan melakukan analisis yang dapat direalisasikan di kemudian hari.