Materi KAT ITB 2022
4.3. Detail Materi 1 Pengenalan KAT
4.3.2 Urgensi Perubahan
1. Alur Materi Tingkat 1 dan 2:
Gambar 4.8. Alur Materi Tingkat 1 dan Tingkat 2 untuk Materi Urgensi Perubahan
2. Parameter Materi Peserta Tingkat 1:
a) Peserta KAT ITB memahami isu terkait realita dan tantangan yang dihadapi (C-1)
b) Peserta KAT ITB memahami urgensi perubahan kebiasaan yang progresif (C- 1)
c) Peserta KAT ITB memahami langkah perubahan kebiasaan yang progresif (C- 1)
3. Parameter Materi Peserta Tingkat 2:
a) Peserta KAT ITB memahami isu terkait realita dan tantangan yang dihadapi (C-2)
b) Peserta KAT ITB memahami urgensi perubahan kebiasaan yang progresif (C- 2)
c) Peserta KAT ITB memahami langkah perubahan kebiasaan yang progresif (C- 2)
4. Deskripsi Materi:
Realita dan Tantangan yang dihadapi
Dunia semakin beranjak ke arah yang tidak pasti. Banyak sekali perubahan yang terjadi tanpa sedikitpun pernah kita sadari sebelumnya. Realita dan tantangan yang kita hadapi kedepannya akan semakin dinamis, menyentuh seluruh aspek dalam ruang lingkup kehidupan manusia. Menyadari juga tantangan dalam realita kita kedepannya yang dihadapi dalam isu-isu SDGs, dan beberapa poin membuat kita harus mulai menyadari betapa pentingnya urgensi untuk dapat melakukan perubahan yang progresif untuk masa depan.
Dimulai dari SDGs poin nomor 4 tentang Quality Education yang dalam realitanya untuk mencapai pendidikan yang berkualitas tersebut, kita harus dihadapi pada perubahan pola pembelajaran dari offline menuju online yang menyebabkan turunnya semangat dan tekad untuk berkuliah. Yang justru pada akhirnya, hal ini berlawanan dengan perwujudan SDGs poin ke-4. Selain itu, kita harus menyadari pentingnya manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa mengerjakan semuanya sendirian, sehingga diperlukannya kerjasama untuk mencapai tujuan yang didukung dengan SDGs poin ke-17 tentang Partnership for the Goals. Dan untuk mencapai kerjasama ini, dibutuhkan komunikasi yang baik, tapi sayangnya realita berbicara menurut hasil kondisi aktual, masih banyak sekali kendala untuk bersosialisasi yang dimiliki oleh Gen-Z.
Serupa dengan beberapa poin sebelumnya, berdasarkan kondisi aktual saat ini, kesenjangan masih kerap saja terjadi, tak terkecuali oleh mahasiswa. Ada yang mampu mengikuti kuliah dengan sangat lancar dan sangat baik karena kemudahan infrastruktur yang mendukung pembelajarannya, sedangkan ada juga yang bahkan kesulitan hanya untuk sekedar materi perkuliahan karena infrastruktur yang tidak mendukung dan kurangnya akses yang inklusif. Kedua hal ini merupakan bentuk nyata dari kesenjangan yang terjadi, yang justru berlawanan dengan SDGs poin ke-10 yang bertujuan untuk Reduced Inequalities atau mengurangi kesenjangan.
Apabila berkaca dari kondisi saat ini, pandemi Covid-19 yang mulai melandai tidak bisa dianggap remeh. Dengan mayoritas penduduk Indonesia yang sudah divaksin, tentu kita tidak boleh jumawa dan harus tetap waspada. Karena jika tidak dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat, bukan tidak mungkin bahwa penularan virus akan dapat terjadi lagi, dan ini membuat perwujudan SDGs poin ke-3 yaitu Good Health and Well Being tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya kesadaran bersama.
Semua hal di atas baru saja menyadarkan kita bahwa banyak sekali hal yang berubah, dari dunia ini, dan mau tidak mau, kita harus ikut ambil bagian untuk turut berubah agar tidak tertinggal. Masih banyak lagi tantangan akan realita perubahan yang kita hadapi kedepannya. Pada 2045, Indonesia sedang mengalami puncak
bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktifnya mencapai 70%. Dan juga pada 2045, Indonesia tepat menginjak umurnya yang genap seabad, membuat visi besar Indonesia Emas 2045 digadang-gadang menjadi salah satu visi besar yang kerap kali diutarakan. Salah satu pilar dari empat pilar perwujudan visi Indonesia Emas 2045 merupakan pembangunan Sumber Daya Manusia serta penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dalam pilar tersebut terdapat empat aspek yang harus dikembangkan untuk mengaktualisasi pilar tersebut. Empat aspek tersebut meliputi aspek pendidikan dan kebudayaan, kesehatan masyarakat, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta reformasi ketenagakerjaan.
Pembangunan sumber daya manusia, tidak lepas kaitannya dengan manusia di Indonesia sendiri. Jika kita melihat di Indonesia, sumber daya manusia di dalamnya terbagi berdasarkan klasifikasi umurnya menjadi kelompok usia produktif dan kelompok usia non produktif. Usia produktif merupakan golongan masyarakat yang berusia antara 15 sampai 64 tahun sedangkan usia non produktif adalah golongan masyarakat yang berusia di luar rentang usia produktif. Dengan adanya klasifikasi tersebut, muncullah perbandingan jumlah penduduk berusia non produktif terhadap jumlah penduduk berusia produktif yang disebut rasio ketergantungan. Berdasarkan survei penduduk antar sensus (SUPAS) tahun 2015, Indonesia akan memiliki nilai rasio ketergantungan penduduk terendah pada sekitar tahun 2022 dan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 319 juta jiwa pada tahun 2045 dengan kenaikan rasio ketergantungan penduduk kurang dari 10%. Rasio ketergantungan tersebut hanya menggambarkan kuantitas masyarakat usia produktif terhadap usia non produktif. Namun yang menjadi fokus pada pilar ini adalah menciptakan generasi emas tahun 2045 yang mampu memiliki daya saing tinggi. Oleh karena itu, Indonesia harus memastikan setiap generasinya harus dipenuhi haknya dan dilindungi kehidupannya agar dapat berkembang secara optimal.
Jika melihat kurun waktu yang telah dijelaskan diatas, mahasiswa menjadi salah satu generasi emas Indonesia 2045 dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar di Indonesia pada tahun 2020 adalah 8.483.213 jiwa. Dari angka tersebut, 7.112.432 jiwa merupakan mahasiswa program sarjana. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sejumlah 270,2 juta jiwa, mahasiswa program sarjana hanya berjumlah 2.63% dari total penduduk Indonesia. Sementara jumlah masyarakat berusia produktif per September 2020 mencapai 191,08 juta jiwa yang berarti mahasiswa program sarjana sekarang hanya berjumlah sekitar 3,72% dari jumlah total masyarakat usia produktif. Dengan angka yang relatif kecil tersebut, mahasiswa mengemban tanggung jawab yang besar dalam ikut turut serta dalam mewujudkan
Jika kita tinjau lebih lanjut UU No. 12 tentang Pendidikan Tinggi, dijelaskan bahwa program sarjana bertugas menyiapkan mahasiswa menjadi intelektual dan/atau ilmuwan yang berbudaya, mampu memasuki dan/atau menciptakan lapangan kerja, serta mampu mengembangkan diri menjadi profesional, berbeda dengan program diploma yang bertugas menyiapkan mahasiswa menjadi praktisi yang terampil untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan bidang keahliannya. Mahasiswa sarjana diarahkan untuk menjadi akademisi yang menguasai dan mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini diharapkan dapat menjadi garda terdepan membangun bangsa melalui pengamalan ilmu pengetahuan mahasiswa program sarjana.
Selain itu, pada 2045, akan banyak mengatren dunia yang berubah. Beberapa aspek diantaranya adalah megatrend teknologi yang akan didominasi oleh teknologi informasi dan komunikasi, bioteknologi dan rekayasa genetik, wearable devices, energi terbarukan, otomatisasi dan artificial intelligence. Hal ini tentunya akan mempengaruhi bagaimana manusia akan saling berinteraksi dengan perkembangan teknologi yang ada. Selain itu, megatrend yang lainnya adalah dari segi perubahan iklim, karena tantangan pemanasan global akan semakin besar. Kejadian-kejadian ekstrim dan perubahan iklim jangka panjang akan menghiasi iklim global. Suhu global akan meningkat 3-3,5 derajat celcius tanpa adanya usaha mengurangi emisi.
Tentunya semua megatrend, SDGs, dan juga perkembangan industri serta society tadi akan menjadi tantangan yang harus kita hadapi kedepannya. Fakta jumlah mahasiswa S1 juga menjadi suplemen untuk menghadapi tantangan tersebut yang memerlukan usaha untuk melakukan perubahan secara progresif, terutama oleh mahasiswa.
Urgensi Perubahan Progresif
Setelah menerima realita tersebut, harapannya peserta KAT ITB 2022 akan terinspirasi untuk melakukan perubahan sebagai bentuk usaha dalam menghadapi tantangan tersebut. Tentunya perubahan tersebut tidak bisa dilakukan secara instan melainkan melalui perubahan-perubahan kecil yang dilakukan secara progresif.
Perubahan-perubahan kecil yang pada awalnya tidak terlihat memiliki pengaruh perubahan yang nampak justru akan membawa pengaruh yang luar biasa jika dibandingkan dengan perubahan besar yang dilakukan secara sesekali.
Jika dimisalkan seseorang melakukan perubahan kebiasaan progresif sebesar 1% lebih baik tiap harinya, pada waktu satu tahun orang tersebut akan menjadi lebih baik hingga 37 kali lebih baik sementara jika perubahan yang dilakukan merupakan perubahan buruk maka efek yang ditimbulkan dalam jangka panjang akan berbalik.
Gambar 4.9. The effects of small habits compound over time
Akan tetapi, langkah awal untuk melakukan perubahan akan terasa sangat berat. Hal ini disebabkan oleh tidak terlihatnya hasil yang signifikan secara instan.
Fenomena ini digambarkan oleh James Clear sebagai Plateau of Latent Potential.
Gambar 4.10 The Plateau Latent Potential
James Clear berargumen bahwa persepsi manusia terhadap hasil perkembangan diri seiring waktu berjalan adalah linier. Padahal pada kenyataannya,
eksponensial. Pada waktu-waktu awal, tentunya hasil tersebut tidak terlihat hingga waktu yang cukup lama. Fase ini disebut dengan valley of disappointment. Jika seseorang berhasil melewati fase tersebut, maka hasil perkembangan akan mulai terlihat sesuai dengan perspektif linier tadi. Bahkan jika hal tersebut tetap dilakukan secara terus-menerus akan menghasilkan hasil perkembangan yang jauh melebihi prediksi linier tadi.
Dari paparan tersebut bisa disimpulkan bahwa dibutuhkan sebuah perubahan perubahan-perubahan kecil yang dilakukan secara terus-menerus (progresif) untuk menghasilkan dampak yang signifikan untuk menjawab tantangan dari realita yang telah dipaparkan sebelumnya. Perubahan tersebut dapat dilakukan melalui aspek yang paling dekat terlebih dahulu yaitu kebiasaan. Tentunya dibutuhkan langkah- langkah yang tepat untuk melakukan perubahan kebiasaan.
Sebelum melakukan langkah-langkah tersebut, ada beberapa hal yang perlu dipahami yaitu:
1. Fokus terhadap sistem bukan tujuan akhir
Tujuan akhir adalah apa yang ingin kita capai sementara sistem merupakan proses untuk mencapai tujuan akhir tersebut. Banyak orang yang hanya berfokus dalam membuat tujuan yang spesifik namun melupakan cara untuk mencapainya. Ada empat masalah yang akan timbul jika seseorang hanya berfokus untuk memiliki tujuan akhir namun tidak terhadap sistemnya.
Pertama, sukses atau tidaknya seseorang tidak dipengaruhi oleh tujuan akhirnya karena orang yang sukses dan yang gagal bisa memiliki tujuan akhir yang sama. Oleh karena itu, ada atau tidaknya tujuan akhir tidak bisa menjadi pembeda sukses atau gagal. Kedua, mencapai tujuan akhir hanya akan berpengaruh saat itu saja. Ketiga, tujuan akhir mendikotomikan sukses atau gagal secara biner sehingga perubahan kebiasaan yang sudah terjadi selama proses tersebut tidak bernilai. Keempat, ketika seseorang sukses dalam mencapai tujuan akhirnya motivasinya akan berkurang untuk tetap melakukan perubahan sehingga dalam jangka panjang akan kembali ke kebiasaan pada tiga lapisan papa yang akan didapat, proses merupakan apa yang dilakukan, sedangkan identitas adalah apa yang dipercayai. Motivasi intrinsik terbaik adalah ketika kebiasaan sudah menjadi bagian dari identitas seseorang. Ketika apa yang diinginkan sudah menjadi bagian dari identitas seseorang, perubahan akan terjadi secara alami.
2. Lingkungan adalah faktor yang tak terlihat namun signifikan dalam membentuk kebiasaan.
The Four Laws of Behavior Change
Ada empat hukum yang disebut The Four Laws of Behavior Change. Hukum tersebut menjelaskan langkah-langkah untuk mengubah kebiasaan. Hukum-hukum tersebut yaitu:
1. Make it Obvious
Kebanyakan dari kebiasaan yang kita lakukan sekarang tidak kita sadari. Agar kita dapat mengetahui apa saja kebiasaan kita saat ini diperlukan langkah untuk melacaknya. Untuk melacak apa saja kebiasaan tersebut dapat dilakukan dengan langkah berikut:
1. Membuat sebuah kartu catatan kebiasaan.
Tulis seluruh kebiasaan yang dilakukan selama sehari lalu kategorikan kebiasaan kebiasaan tersebut menjadi 3 kategori yaitu positif, negatif, dan netral. Pada langkah ini, jangan coba untuk langsung mengubah kebiasaan tersebut. Cukup perhatikan apa saja kebiasaan yang terjadi selama kehidupan sehari-hari.
2. Menentukan waktu dan lokasi.
Salah satu faktor yang dapat menggagalkan seseorang dalam merubah kebiasaannya adalah kurangnya kejelasan. Untuk mengatasi hal tersebut, perjelas rencana yang akan dilakukan dengan format
“Saya akan melakukan [kebiasaan] pada [waktu] di [lokasi]”. Jangan membuat rencana seperti “Saya akan berolahraga lebih banyak bulan ini” melainkan buatlah rencana seperti “Saya akan berolahraga selama 30 menit pada hari Senin, Rabu, dan Jumat tiap pukul 09.00 di ruang keluarga”
3. Menumpuk kebiasaan
Salah satu langkah lain yang bisa dilakukan adalah dengan menumpuk kebiasaan baru setelah kebiasaan lama. Formula yang bisa digunakan adalah “Setelah saya [kebiasaan lama] saya akan [kebiasaan baru]” Sebagai contoh “Setelah saya makan pagi , saya akan membaca buku selama 15 menit”. Formula tersebut bisa ditumpuk lagi dengan kebiasaan lainnya. Kebiasaan lama akan bekerja sebagai pemicu untuk melakukan kebiasaan baru sehingga perlu memilih kebiasaan pemicu yang sudah dilakukan secara otomatis.
4. Desain lingkungan kebiasaan
Kebiasaan baik dapat diperjelas dengan cara membuat objek
sementara kebiasaan buruk perlu dihilangkan dengan cara membuat objek yang terkait dengan kebiasaan tersebut dibuat tidak tampak di lingkungan sekitar. Sebagai contoh, taruh buku di kamar pada posisi yang nampak jelas seperti di meja samping kasur agar saat beranjak tidur pandangan kita melihat buku tersebut sehingga menimbulkan motivasi untuk membaca. Sementara untuk kebiasaan buruk, letakkan handphone jauh dari kasur seperti pojok ruangan agar motivasi untuk menggunakannya menurun. Lalu hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan membuat zona terpisah antar kebiasaan. Terapkan prinsip
“One place, one use”. Dengan begitu akan nampak dengan jelas tempat-tempat dengan kebiasaan yang diasosiasikan dengan tempat tersebut. Sebagai contoh, sofa ruang tamu adalah zona relaksasi sehingga jangan coba untuk melakukan hal-hal produktif seperti mengerjakan pekerjaan rumah pada sofa daripada itu kerjakanlah di meja kerja agar keinginan untuk beristirahat saat bekerja tidak timbul.
2. Make it Attractive
Hukum kedua menyatakan untuk membuat kebiasaan menjadi sesuatu hal yang menarik. Dengan membuat kebiasaan menarik kemungkinan untuk mengulangi kebiasaan tersebut akan meningkat. Untuk membuat kebiasaan tersebut menarik, dapat dilakukan langkah-langkah berikut:
1. Temptation Bundling
Dengan memasangkan kebiasaan yang ingin dilakukan dengan kebiasaan yang butuh dilakukan akan membuat kebiasaan tersebut lebih menarik. Secara psikologis, prinsip premack menyatakan “more probable behaviors will reinforce less probable behaviors” dengan kata lain kemungkinan untuk melakukan kebiasaan yang dibutuhkan akan meningkat karena kebiasaan tersebut dilakukan dengan kebiasaan lain yang disenangi.
2. Group Influence
Melakukan kebiasaan bersama-sama dengan sebuah grup akan meningkatkan ketertarikan dari kebiasaan tersebut. Dalam sebuah grup, masing-masing anggotanya akan memotivasi satu sama lain sehingga kebiasaan tersebut menjadi menarik.
3. Mengasosiasikan kebiasaan yang sulit dilakukan dengan pengalaman yang positif
Dengan menyorot hal-hal positif dari suatu kebiasaan dibandingkan dengan hal-hal negatifnya akan memprogram ulang
pikiran sehingga kebiasaan tersebut menjadi lebih menarik. Sebagai contoh, Olahraga diasosiasikan dengan hidup sehat dibandingkan dengan kelelahan. Lakukan hal sebaliknya untuk membuat kebiasaan buruk tidak menarik. Asosiasikan hal-hal positif untuk tidak melakukan kebiasaan buruk sehingga kebiasaan buruk tersebut akan kehilangan daya tariknya.
3. Make it Easy
Kebiasaan yang dipermudah akan menaikan kemungkinan kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali. Ada beberapa langkah untuk mempermudah kebiasaan yaitu:
1. Menset jumlah repetisi
Semakin banyaknya jumlah repetisi dalam melakukan suatu hal, otak akan berubah sehingga hal tersebut bisa dilakukan dengan lebih efisien. Dengan melakukan repetisi dari suatu kebiasaan yang dibangun akan memudahkan kebiasaan tersebut untuk dilakukan.
2. Mengurangi Hambatan “The law of least effort”
Semakin banyak energi yang dikeluarkan dalam mengerjakan sesuatu semakin sulit hal tersebut dilakukan. The law of least effort menyatakan bahwa manusia cenderung akan memilih opsi dengan kerja yang lebih sedikit. Untuk mengurangi energi yang dikeluarkan tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi hambatannya. Sebagai contoh, perpendek jarak ke tempat olahraga dengan memilih tempat olahraga yang searah dengan tempat kerja sehingga energi yang dikeluarkan menjadi sedikit. Sebaliknya untuk mencegah kebiasaan buruk perlu ditambah hambatannya.
3. Memaksimalkan Lingkungan
Dengan melakukan persiapan tempat sebelum melakukan kebiasaan selanjutnya akan mengurangi energi yang dibutuhkan pada saat kebiasaan tersebut akan dilakukan.
4. Berhenti Menunda-nunda
Dengan menerapkan aturan 2 menit dapat mengurangi kemungkinan untuk menunda kegiatan. Aturan 2 menit menyatakan untuk melakukan versi kecil dari suatu kebiasaan besar yang ingin dilakukan selama 2 menit secara terus-menerus. Sebagai contoh, keinginan untuk membiasakan diri membaca buku satu jam perhari dapat dimulai dengan cara membiasakan diri untuk membaca selembar
halaman selama 2 menit. Dengan melakukan hal tersebut kemungkinan untuk menunda suatu kebiasaan karena terlalu berat akan menurun.
4. Make it Satisfying
Hukum terakhir menyatakan bahwa membuat suatu kebiasaan menjadi hal yang memuaskan akan mendorong kemungkinan kebiasaan tersebut dilakukan secara terus menerus. Apa yang secepatnya dihadiahi akan secepatnya diulangi sementara apa yang secepatnya dihukum akan secepatnya dihindari. Mengapresiasi diri sendiri pada pencapaian sekecil apapun akan mendukung terciptanya perasaan sukses sehingga timbul perasaan bahwa kebiasaan tersebut sepadan dengan usaha yang dilakukan.
Jika suatu waktu timbul perasaan untuk menyerah dalam melakukan kebiasaan tersebut, tetap lakukan kebiasaan tersebut sesulit apapun itu karena sekali saja kebiasaan tersebut terputus maka akan menimbulkan efek domino yang menyebabkan kembalinya ke kebiasaan lama.
4.3.3 Materi: Kebebasan yang Bertanggung Jawab