• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Umum Wilayah

Dalam dokumen perubahan perilaku peternak dalam (Halaman 72-76)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Kondisi Umum Wilayah

58

keberhasilan peternak dalam meningkatkan pengembangan usaha dan sekaligus upaya peningkatan pendapatan peternak di daerah tersebut (Utami, 2015: 30).

4.3 Kondisi Umum Wilayah

59

4.3.2 Potensi Wilayah/Potensi Lahan Pertanian

Tabel 4.6. Populasi Ternak Tahun 2021

No Jenis Ternak Jumlah Satuan

1 Sapi Potong 2.976 Ekor

2 Kambing/Domba 765 Ekor

3 Ayam kampung 14.522 Ekor

4 Sapi Perah 1.470 Ekor

Sumber: Data Profil Desa Sidoluhur, 2021

Tabel diatas menunjukan bahwa populasi dan jenis ternak yang ada di Desa Sidoluhur potensial untuk dikembangkan seperti Sapi Potong, kambing/domba, ayam kampung dan sapi perah. Pengembangan potensi ini berhubungan langsung dengan potensi pasar dan ketersediaan lahan yang ada. Sangat diperlukan penerapan teknologi pakan untuk kegiatan budidaya ternak sapi untuk meninngkatkan populasi dan pendapatan petani/peternak.

4.3.3 Keadaan Penduduk

a. Jumlah Penduduk secara Keseluruhan

Jumlah penduduk Desa Sidoluhur s/d akhir tahun 2021 sebanyak 6.181 jiwa, yang terdiri dari; Laki-laki 3.152 jiwa dan perampuan 3.029 jiwa dan Jumlah kepala keluarga 1.974 KK.

b. Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Diagram 4.1 berikut;

Diagram 4.1. Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin

Sumber: Mono Grafi Desa Sidoluhur Tahun 2021

3152

3029

Laki-Laki Perempuan

2950 3000 3050 3100 3150 3200

Jumlah Penduduk (Jiwa)

60

Diagram diatas menunjukan bahwa masyrakat Desa Sidoluhur lebih banyak penduduk laki-laki dengan jumlah 3.152 orang dibandingkan dengan perampuan dengan jumlah 3029 orang.

c. Jumlah Penduduk menurut Tingkat Pendidikan

Diagram 4.2. Jumlah Penduduk menurut Tingkat Pendidikan

Sumber: Mono Grafi Desa Sidoluhur Tahun 2021

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk desa Sidoluhur terbanyak memiliki tingkat pendidikan tamat SD sebanyak 475 jiwa. Tingkat pendidikan masyarakat di desa Sidoluhur masih tergolong rendah, itu dibuktikan dalam diagram di atas. Hal ini merupakan suatu permasalahan yang harus segera dipecahkan terutama dalam membangun kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan.

d. Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian

Diagram 4.3. Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian

Sumber: Mono Grafi Desa Sidoluhur Tahun 2021

TK SD SLTP SLTA D1-D3 S1-S2

Jiwa 0 475 203 135 0 11

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500

Petani Peternak pengeraji

n PNS Pedagang Lain-lain

Jiwa 2380 358 100 3 185 1732

0 500 1000 1500 2000 2500

61

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk desa Sidoluhur terbanyak memiliki pekerjaan sebagai petani sebanyak 2.380 jiwa. Mayoritas mata pencaharian penduduk desa Sidoluhur bergerak dibidang pertanian, namun dengan seiringnya waktu khususnya para pemuda banyak yang berpindah ke pekerjaan lain seperti buruh bangunan, pengrajin, pedagang dan lain lain.

`

62

BAB V RANCANGAN DAN IMPLEMENTASI

5.1 Perancangan Penyuluhan

5.1.1 Penetapan Tujuan Penyuluhan

Tujuan dari pelaksanaan penyuluhan adalah agar peternak yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Makmur dapat memanfaatkan daun lamtoro yang diolah menjadi pakan konsentrat berbasis tepung daun lamtoro untuk sapi potong.

Selain memanfaatkan potensi yang ada penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro untuk sapi potong.

5.1.2 Sasaran Penyuluhan Pertanian

Anggota Kelompok Tani Sumber Makmur mayoritas adalah sebagai tulang punggung keluarga (Kepala Keluarga), yang mana mereka merupakan pelaku usaha di bidang pertanian dan peternakan. Karakteristik umum anggota kelompok adalah pelaku usaha di bidang pertanian (petani), dengan usia berada pada kisaran umur 40-60 tahun, jumlah kepemilikan ternak 2-3 ekor/kk dan sebagian besar tingkat pendidikan anggota kelompok yaitu SD. Dengan karakterisitik yang dimiliki oleh anggota Kelompok Tani Sumber Makmur menjadi potensi yang dapat dimanfaatkan dalam penyampaian informasi dalam bidang pertanian peternakan, karena hal tersebut berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi anggota kelompok tani.

5.1.3 Materi Penyuluhan

Materi penyuluhan yang ditetapkan disesuaikan dengan hasil kajian yaitu Pembuatan dan Pemberian Konsentrat Berbasis Tepung Daun Lamtoro untuk Sapi Potong. Penetapan materi tersebut diambil berdasarkan hasil IPW dan

63

observasi yang telah disesuaikan dengan keadaan, kondisi dan kebutuhan sasaran penyuluhan.

5.1.4 Metode Penyuluhan Pertanian

Metode yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan adalah demonstrasi cara dan diskusi kelompok sesuai dengan matriks pengambilan keputusan metode penyuluhan pada Lampiran 5.

5.1.5 Media Penyuluhan Pertanian

Media penyuluhan ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria yang ada pada Matriks Pengambilan Keputusan Media Penyuluhan. Salah satu kriteria yaitu karakteristik sasaran diantaranya umur, tingkat pendidikan dan lama usaha tani sasaran. Dengan melihat kriteria tersebut dapat mengetahui semangat petani terhadap inovasi tersebut, apakah petani dapat baca tulis dan apakah petani berpengalaman dalam beternak sapi potong.

Media yang digunakan dalam pelaksanaan penyuluhan adalah leaflet dan benda sesungguhnya yang disesuaikan dengan matriks pengambilan keputusan media penyuluhan pada Lampiran 4.

5.2 Implementasi (Uji Coba Rancangan Penyuluhan)

Pendekatan yang digunakan pada pelaksanaan kegiatan penyuluhan adalah dengan melakukan pendekatan secara kelompok dan pendekatan secara individu pada sasaran penyuluhan. Pendekatan kelompok dilaksanakan melalui kegiatan penyuluhan, kemudian pendekatan individu dikolaborasikan dalam kegiatan di kelompok tani tersebut. Tahapan implementasi yang dilaksanakan terdiri dari tahapan sebagai berikut:

5.2.1 Lokasi dan Waktu Implementasi Rancangan Penyuluhan

Implementasi rancangan penyuluhan tentang “Pembuatan dan Pemberian Konsentrat Berbasis Tepung Daun Lamtoro untuk Sapi Potong” dilaksanakan di

64

Kelompok Tani Sumber Makmur Desa Sidoluhur Kecamatan Lawang Kabupaten Malang pada tanggal 28 Mei 2022.

5.2.2 Persiapan Implementasi Rancangan Penyuluhan

Impelentasi kegiatan penyuluhan pertanian dilaksanakan pada ruang lingkup kegiatan penyuluhan pertanian yang dilaksanakan dalam masyrakat tani (Kelompok Tani Sumber Makmur). Persiapan sebelum penyuluhan sangatlah penting agar pelaksanaan penyuluhan berjalan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Berdasarkan hasil kajian dapat mengetahui keunggulan dan kelemahan dari materi yang akan disuluhkan yang nantinya dijadikan sebagai bahan diskusi saat penyuluhan.

Kebutuhan perangkat pendukung kegiatan penyuluhan pertanian dalam mengimplementasikan rancangan penyuluhan adalah sebagai berikut:

a. Leaflet sebagai catatan bagi sasaran penyuluhan b. ATK dan Kamera

c. Benda Sesungguhnya

Adapun persiapan lainnya yang perlu dilakukan sebelum penyuluhan yaitu adminitrasi penyuluhan. Adminitrasi penyuluhan yang harus dipersiapkan diantaranya adalah sebagai berikut:

1 LPM

Penyusunan Lembar Persiapan Menyuluh (LPM) sangat penting karena sebagai acuan dalam kegiatan penyuluhan sehingga kegiatan penyuluhan yang dilakukan tepat sasaran, tepat waktu dan berjalan sesuai dengan perencanaan 2 Sinopsis

Tujuan penyusunan sinopsis adalah untuk memudahkan dalam penyampaian materi penyuluhan. Sinopsis disusun berdasarkan topik atau materi

65

penyuluhan yang berisi gambaran atau penjelasan umum mengenai pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro untuk sapi potong.

3 Berita Acara

Berita acara dan daftar hadir sangat penting dipersiapkan sebelum pelaksanaan penyuluhan dan dijadikan barang bukti kelengkapan adminitrasi dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan. Berita acara dan daftar hadir ditandatangani oleh pelaksana penyuluhan yaitu pemateri/mahasiswa, PPL dan Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur.

5.3 Evaluasi Penyuluhan

5.3.1 Menentukan Sasaran Evaluasi

Populasi untuk menentukan sasaran yang akan digunakan dalam evaluasi ini adalah anggota yang aktif dan memenuhi kriteria yang ditentukan dengan metode purposive sampling di Kelompok Tani Sumber Makmur yang berjumlah 25 orang.

5.3.2 Menentukan Tujuan Evaluasi

Tujuan evaluasi yang akan dicapai dalam evaluasi ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan anggota Kelompok Tani Sumber Makmur sebelum dan setelah penyuluhan tentang pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro (leucaena leucocephala) untuk sapi potong.

5.3.3 Menentukan Metode Evaluasi

Metode evaluasi yang digunakan adalah dengan penggunaan kuesioner dan indikator yang digunakan adalah indikator peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Instrumen kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan diisi oleh petani atau sasaran penyuluhan. Dituangkan dalam bentuk kisi-kisi yang terlampir pada lampiran 1. Sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan kegiatan pretest untuk mengetahui tingkat pengetahuan anggota Kelompok Tani Sumber

66

makmur. Setelah selesai penyuluhan juga dilakukan kegiatan post test untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan keterampilan setelah diadakan penyuluhan.

5.3.4 Menentukan Instrumen Evaluasi

Instrumen evaluasi bertujuan untuk melakukan pengukuran fakta (data) lapangan relavan dengan tujuan evaluasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara wawancara dan penyebaran kuesioner. Kuesioner disusun berdasarkan pengembangan dari kisi-kisi yang terlampir pada lampiran 1.

Instrumen kuesioner dibuat berdasarkan kisi-kisi dengan menggunakan skala guttman, skala ini dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan seseorang atau sekelompok orang mengenai gejala sosial yang terjadi di masyrakat. Adapun skala rating scale yang berfungsi untuk mengukur keterampilan seseorang atau sekelompok orang yang terlampir pada Lampiran 2.

5.3.5 Uji Validitas dan Reliabilitas

Setelah rancangan kuesioner selesai dibuat, kuiesioner harus dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas sebelum digunakan dalam mengukur pengetahuan dan keterampilan petani. Uji validitas dan uji reliabilitas instrumen kuesioner harus dilakukan pada sasaran penyuluhan, yaitu sesama peternak sapi potong dan potensi daun lamtoro melimpah. Maka uji validitas dan uji reliabilitas instumen kuesioner dilakukan pada Kelompok Tani Sumber Makmur, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Hasil jawaban kuesioner diuji menggunakan program komputer SPSS 20. Dari total 20 item pernyataan (pengetahuan) dan 18 item pernyataan (keterampilan) dikatakan valid. Uji validitas bertujuan untuk mengetahui kevalidan setiap indikator instrumen. Sedangakan uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi dari instrumen yang dibuat.

67

Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesioner aspek pengetahuan dan keterampilan menggunakan perangkat lunak SPSS 20 yang ditabulasi dalam bentuk tabel dapat dilihat pada Lampiran 20.

Dari tabel Correlations pada Lampiran 20 terlihat bahwa nilai korelasi Pearson Product Moment dari 20 butir pertanyaan dengan nilai r hitung > r tabel dan nilai p-value = 0.000 lebih kecil dari α = 0.01 atau 0.05. Dengan demikian 20 pertanyaan yang diuji tersebut dapat dinyatakan valid. Sedangkan reliabilitas yg tinggi ditunjukkan dengan nilai 1,00, reliabilitas yg dianggap sudah cukup memuaskan atau tinggi adalah > 0,70. Output SPSS memberikan nilai alpha crobach untuk keseluruhan skala pengukuran sebesar 0,747. Nilai alpha cronbach ini berada diatas batas minimal 0,70 yaitu 863 sehingga dapat disimpulkan bahwa skala pengukuran variabel dinamika Kelompok mempunyai reliabilitas yang baik.

Dari tabel Correlations pada Lampiran 21 terlihat bahwa nilai korelasi Pearson Product Moment dari 18 butir pertanyaan dengan nilai r hitung > r tabel dan nilai p-value = 0.000 lebih kecil dari α = 0.01 atau 0.05. Dengan demikian 18 butir pertanyaan pada aspek keterampilan dikatakan valid. Kemudian untuk tingkat reliabilitas dengan nilai cronbach alpha yaitu 906. Hal ini dikatakan reliabel karena nilainya > 0.70 dengan tingkat reliablitas tinggi.

68

BAB VI PEMBAHASAN/DISKUSI

6.1 Pembahasan Hasil Implementasi dan Evaluasi Penyuluhan 6.1.1 Implementasi Penyuluhan Pertanian

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2022 di rumah ketua Kelompok Tani Sumber Makmur pada pukul 13.30 WIB s/d selesai, dengan jumlah responden penyuluhan sebanyak 25 orang dari total 37 orang anggota kelompok. Penetapan perancangan penyuluhan berdasarkan hasil kajian dan pemantapan materi di Instalasi Ruminansia Besar Polbangtan Malang. Tujuan dari kegiatan penyuluhan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sasaran penyuluhan dalam “Pembuatan dan Pemberian Konsentrat Berbasis Tepung Daun Lamtoro untuk Sapi Potong”. Media penyuluhan yang digunakan adalah leaflet dan benda sesungguhnya serta metode yang dipakai adalah demonstrasi cara dan diskusi kelompok.

Pelaksanaan penyuluhan telah dilaksanakan berdasarkan kesepakatan dengan PPL dan ketua kelompok setempat dan berjalan lancar sesuai tujuan yang ingin dicapai. Umur peserta penyuluhan yang paling mendominasi berumur 36-45 tahun (52%) dari total peserta. Umur tersebut tentunya merupakan usia yang masih produktif dalam bertani dan beternak. Selain itu jika dilihat pada kategori pendidikan paling dominasi berada pada posisi lulusan SD (84%) artinya peternak mampu membaca juga menulis sehingga memudahkan dalam pemilihan metode dan media penyuluhan. Dari tingkatan pendidikan rata rata SD maka diharapakan kegiatan penyuluhan ini dapat membawa dampak baik bagi peserta penyuluhan akan pengetahuan dan keterampilan dalam beternak sapi potong, terlebih khusus dalam pembuatan konsentrat berbasis tepung daun lamtoro untuk sapi potong.

69

6.1.2 Evaluasi Penyuluhan Pertanian

Pelaksanaan evaluasi penyuluhan dilakukan untuk menganalisis mengenai tingkat pengetahuan dan keterampilan responden sebelum dan sesudah pelaksanaan penyuluhan. Metode yang digunakan yaitu metode evaluasi sumatif (evaluasi hasil).

Hasil yang didapat bahwa pemilihan media, materi dan metode dalam kegiatan penyuluhan yang dilakukan sudah cukup sesuai dan dapat diterima baik oleh sasaran. Hal ini sesuai pendapat Gunawan dan Palupi (2016) yang menyatakan bahwa apabila dalam suatu pelaksanaan kegiatan penyuluhan berada pada tahap evaluasi dari tingkat pengetahuan maka nilai materi dan metode telah sesuai dengan tujuan. Namun, rancangan penyuluhan yang disusun harus sesuai denga karakteristik sasaran dan potensi wilayah yang ada. Agar lebih optimal maka perlu pendampingan yang lebih serta penyuluhan yang lebih rutin supaya peternak nantinya sampai pada hasil yang terbaik dan dapat meningkatkan kesejahteraan para anggota dan usahanya.

6.1.3 Hasil Analisis Data Evaluasi

1. Aspek Pengetahuan

Hasil evaluasi tingkat pengetahuan pada sasaran yaitu 25 orang anggota Kelompok Tani Sumber Makmur yang mengikuti kegiatan penyuluhan yang merupakan responden dari pengisian kuesioner. Tingkat pengetahuan sasaran dihitung dengan menggunakan Analisa Skoring jawaban dari kuesioner. Soal yang digunakan yaitu sebanyak 20 butir pertanyaan tentang pembuatan konsentrat berbasis tepung daun lamtoro. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan 6 tahapan aspek dengan kuesioner tertutup. Pengukuran tingkat pengetahuan sasaran dilakukan menggunakan kuesioner post test dan pre test guna

70

mengetahui peningkatan pengetahuan responden sebelum dan sesudah penyuluhan seperti pada tabel 6.1 dibawah ini.

Tabel 6.1. Tabulasi Hasil Pre Test dan Post Test Aspek Pengetahuan NO Indikator Nilai

Maks

Nilai Min

Total Skor

Persentase (%)

Dimensi

1 Pre Test 500 0 319 64 Menganalisis

2 Post Test 500 0 439 86 Menciptakan

Peningkatan 120 22

Sumber: Data yang diolah, 2022.

Dalam interpretasi data hasil evaluasi pengetahuan disajikan dalam bentuk garis kontinum dengan distribusi dimensi tahapan aspek pengetahuan. Skor yang didapatkan dari hasil penilaian aspek pengetahuan dengan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan yaitu 319 untuk post test dan 430 untuk pre test dari hasil tabulasi data pada Lampiran 14. Dari total skor teresebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan responden sebelum penyuluhan berada pada dimensi “Menganalisis” dan pengetahuan setelah penyuluhan berada pada dimensi “menciptakan” seperti pada Tabel 6.1. Posisi aspek kognitif atau pengetahuan jika didistribusikan pada garis kontinum dapat dilihat pada Lampiran 8

Berdasarkan data tersebut, untuk melihat nilai persentase dari aspek tingkat pengetahuan dapat diperoleh dengan rumus:

Persentase pengetahuan (%) = Total skor yang diperoleh / skor maksimum x 100%

= Pre test (319/500 x 100%) dan = Post test (430 / 500 x 100%) = 64% dan 86%

Disajikan dalam bentuk garis kontinum seperti pada Lampiran 8.

Pada pelaksanaan evaluasi penyuluhan dengan mengukur tingkat pengetahuan sasaran sebelum dan sesudah penyuluhan yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner skala guttman dan pilihan jawaban Benar dan Salah.

71

Total skor sebelum dilaksanakan penyuluhan (pre test) yaitu 319 dengan persentase 64%. Sedangkan total skor benar setelah penyuluhan, dari jawaban responden yang berjumlah 25 orang yaitu 430 dengan persentase 86%. Sehingga diiterpretasikan kedalam 6 (enam) tahapan dimensi, yang mana tingkat pengetahuan 25 responden tentang pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro berada pada kategori “Menciptakan”. Hasil analisa tersebut tergolong baik, hal ini sesuai pendapat Arikunto (2010) bahwa tingkat pengetahuan dikatakan baik apabila responden mampu menjawab benar atau jawaban positif 76% - 100% dari total pertanyaan pengetahuan. Berdasarkan keterangan angka 75%-100%, maka kuesioner yang telah disebarkan ke anggota Kelompok Tani Sumber Makmur menunjukan “sangat tinggi” dan ada peningkatan pengetahuan responden yang awalnya 64% menjadi 86% . Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan Sri dan Honorita (2011) bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh pengalaman, lama bertani dan lingkungan petani. Adanya pengetahuan yang baik tentang suatu hal, akan mendorong terjadinya perubahan perilaku pada diri individu, dimana pengetahuan tentang manfaat suatu 10 hal akan menyebabkan seseorang bersikap positif terhadap hal tersebut, demikian pula sebaliknya.

2. Aspek Keterampilan

Hasil evaluasi tingkat keterampilan sasaran yaitu anggota Kelompok Tani Sumber Makmur yang mengikuti kegiatan penyuluhan sebanyak 25 orang merupakan responden dari pengisian kuesioner. Tingkat keterampilan sasaran dihitung dengan mengunakan Analisa Skoring jawaban kuesioner yang disebarkan sesudah penyuluhan. Soal yang digunakan sebanyak 18 butir pertanyaan tentang pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro untuk sapi potong. Pengukuran tingkat keterampilan menggunakan 5 aspek dengan kuesioner tertutup seperti pada Tabel 6.2.

72

Tabel 6.2 Tabulasi Hasil Pre Test dan Post Test Aspek Keterampilan NO Indikator Nilai

Maks

Nilai Min

Total Skor

Persentase (%)

Dimensi

1 Post Test 450 0 1094 82 Naturalisasi

Sumber: Data yang diolah, 2022.

Dalam interpretasi data hasil evaluasi keterampilan disajikan dalam bentuk garis kontinum dengan distribusi dimensi tahapan aspek keterampilan. Skor yang didapatkan dari hasil penilaian aspek keterampilan dengan menggunakan kuesioner yaitu 1094 (post test) dari hasil tabulasi data pada Lampiran 16 yang setelah penyuluhan dalam dimensi “Naturalisasi: P5” seperti pada Tabel 6.2.

Posisi aspek psikomotorik atau keterampilan jika didistribusikan pada garis kontinum dapat dilihat pada Lampiran 9.

Berdasarkan data tersebut, untuk melihat nilai persentase dari aspek keterampilan dapat diperoleh dengan rumus:

Persentase keterampilan (%) = total skor yang diperoleh / skor Maks x 100%

= Post test (1094/1350x100%) = 82%.

Disajikan dalam garis kontinum seperti pada Lampiran 9.

Pada pelaksanaan evaluasi penyuluhan dengan mengukur tingkat keterampilan sasaran menggunakan kuesioner skala rating scale dengan pilihan jawaban. Jumlah skor yang dipeoleh dari 25 responden berjumlah 1094 dengan total skor maksimum yaitu 1350. Sehingga diinterpretasikan kedalam 5 (lima) dimensi, dimana tingkat keterampilan responden tentang pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro berada pada kategori

“Naturalisasi”. Persentase keterampilan yang disajikan dalam garis kontinum berada pada angka 82% (post test), angka tersebut menunjukan bahwa tingkat keterampilan responden dalam membuat konsentrat berbasis tepung daun lamtoro tergolong “terampil”. Hal ini sesuai dengan pendapat Padmowihardjo (2000) dalam

73

Sri dan Honorita (2011) yang menyatakan bahwa keterampilan petani merupakan salah satu proses komunikasi pengetahuan untuk mengubah sebuah perilaku petani menjadi lebih efektif, efisien dan cepat melalui pengembangan teknologi.

6.2 Rencana Tindak Lanjut

Hasil pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan evaluasi penyuluhan sesuai dengan tujuan penyuluhan yang dirancang, yaitu untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan tingkat keterampilan sasaran penyuluhan terhadap pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro untuk sapi potong. Hasil dari evaluasi kegiatan penyuluhan pertanian dapat digunakan untuk menentukan sejauh mana tujuan penyuluhan tersebut dapat dicapai oleh sasaran hal ini sesuai pendapat Arianda (2010). Rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang dapat diberikan berdasarkan hasil pelaksanaan penyuluhan di Kelompok Tani Sumber Makmur yaitu sebagai berikut:

1. Meningkatkan tahap dimensi menganalisis, yang mana dalam tahap dimensi ini sasaran sudah dapat memecahkan masalah yang dihadapi mengenai kualitas dan kuantitas pakan untuk sapi potong. Hingga dapat ditingkatkan lagi nantinya pada tahap menciptakan yakni sasaran dapat merumuskan, merencanakan serta membuat konsentrat dengan bahan pakan yang ada di wilayah tersebut 2. Adanya pendampingan yang lebih intensif bagi anggota kelompok tani guna

mempertahankan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat konsentrat berbasis tepung daun lamtoro serta pengaplikasian pada ternak. Sebab jika dilakukan secara berulang ulang peternak dapat menganalisis keunggulan dan kelemahan inovasi tersebut.

74

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian tugas akhir tentang “Perubahan Perilaku Peternak Dalam Penyuluhan Tentang Pemanfaatan Konsentrat Berbasis Tepung Daun Lamtoro (Leucaena Leucocephala) Untuk Sapi Potong Dengan Metode Demonstrasi Cara” dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil uji palatabilitas bahwa konsumsi konsentrat berbasis tepung daun lamtoro hari ke 1 sampai hari ke 8 cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata pada hari ke 8 yaitu 1.5 kg/ekor/hari

2. Karakteristik responden berdasarkan umur dengan rentang usia 36 - 45 tahun sebanyak 13 orang atau 52%, berdasarkan tingkat pendidikan dominan lulusan SD dengan jumlah 21 orang (84%), berdasarkan pengalaman beternak berada pada kategori sedang yaitu pada interval (4 - 6) tahun (60%) dan berdasarkan jumlah ternak sebanyak 16 responden (64%) dengan jumlah kepemilikan ternak (2 - 5) ekor.

3. Rancangan penyuluhan dibuat dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan berdasarkan karakteristik sasaran (anggota Kelompok Tani Sumber Makmur), materi “pembuatan dan pemberian konsentrat berbasis tepung daun lamtoro untuk sapi potong” metode penyuluhan demonstrasi cara dan diskusi, media yaitu leaflet.

4. Hasil evaluasi sebelum penyuluhan menunjukan tingkat pengetahuan petani berada pada dimensi “menganalisis” (64%), dibandingkan setelah penyuluhan tingkat pengetahuan petani berada pada dimensi “menciptakan” (86%). Hasil evaluasi tingkat keterampilan berada pada dimensi “Naturalisasi” (82%).

75

7.2 Saran

Saran yang diberikan adalah sebagai berikut:

1. Adanya penelitian lanjutan terkait penggunaan tepung daun lamtoro sebagai konsentrat sapi potong terlebih khusus kandungan nutrisi yang terkandung (PK, BK, LK dan BETN) dan produktifitas ternak serta menghitung nilai biaya (aspek ekonomi).

2. Perlu peningkatan pelatihan atau pendampingan dari instansi terkait seperti penyuluh dalam pembuatan konsentrat dan pakan ternak pada umumnya sebagai pemenuhan nutrisi untuk ternak sapi.

76

DAFTAR PUSTAKA

Andrew, E. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Erlangga.

Anonymous. 1995. Pedomman Pemilihan Metode Penyuluhan Pertanian. Jakarta:

Departemen Pertanian.

Anonymous. 2006. Undang-Undang No 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Jakarta: Departemen Pertanian RI.

Anonymous. 2020. Programa Penyuluhan Kecamatan Krian 2020

Arikunto, S. Jabar, C. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar dan Syaifuddin. 2011. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Church, D. C. and W. G. Pound. 1988. Basic Animal Nutrition and Feeding. John Wileyand Sons, New York.

Davison, R., Martinsons, M. G., Kock, N. 2004. Principles of Canonical Action Research. Information Systems Journal, 14(1), 65-86.

Departemen Pertanian, 2006. Undang-Undang No 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutananan. Jakarta: Departemen Pertanian RI.

Dharmawati, I. G. A. A., Wirata, I. N. 2016. Hubungan Tingkat Pendidikan, Umur, Dan Masa Kerja Dengan Tingkat Pengetahuan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Guru Penjaskes SD Di Kecamatan Tampak Siring Gianyar. Jurnal Kesehatan Gigi.

Dilaga, S.H., A.Y. Dahlanuddin., Sutaryono, Suhubdy dan Hermansyah. 2019.

Peningkatan Nilai Nutrisi Pakan Sapi Betina Induk Melalui Pemanfaatan Lamtoro di Kelompok Tani Ternak Pade Genem Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Jurnal Gema Ngabdi. 1 No.1 pp:15 21.

Dilaga, S.H., Amin. M., Yanuarianto. O., Sofyan dan Dahlanudin. 2021.

Penggunaan Daun Lamtoro Sebagai Pakan Untuk Penggemukan Sapi Bali. Universitas Mataram. Jurnal Gema Ngabdi. Vol. 3 No.1.

Elita, A. S. 2006. Studi Perbandingan Penampilan Umum dan Kecernaan Pakan pada Kambing dan Domba Lokal. Fakultas Peternakan. Universitas Andalas.

Erwin, 2012. Mengevaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian. Jambi : Balai Pelatihan Pertanian

Farid, A., Romadi, U., Sawitri, B., dan Wandansari, N. R. 2016. Modul Evaluasi Penyuluhan Pertanian. STPP Malang

Dalam dokumen perubahan perilaku peternak dalam (Halaman 72-76)

Dokumen terkait