BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Konsep Fundraising
Fundraising dalam kamus Inggris adalah pengumpulan dana, sedangkan orang yang mengumpulkan dana disebut fundraiser.33 Dalam kamus besar bahasa Indonesia, yang dimaksudkan pengumpulan adalah proses, cara, perbuatan
31Chusnan Jusuf , “Filantropi Modern untuk Pembangunan Sosial”, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol 12, No. 01, (2007): 74-75.
32Abdiansyah Linge,“Filantropi Islam,” 156-157.
33Peter Salim, Salim’s Ninth Collegiate English-Indonesia Dictionary, (Jakarta:
Modern English Press, 2000), 607
16
mengumpulkan, perhimpunan, pengerahan.34 Sedangkan yang dimaksud dengan dana adalah uang yang disediakan untuk keperluan biaya, pemberian, hadiah, derma.35
Fundraising dapat diartikan sebagai kegiatan dalam rangka menghimpun dana dari masyarakat dan sumber daya lainnya dari masyarakat (baik individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau pun pemerintah) yang akan digunakan untuk membiayai program dan kegiatan operasional organisasi/lembaga sehingga mencapai tujuannya. Jadi dapat dikatakan fundraising adalah sebuah cara untuk mempengaruhi masyarakat agar mau mengeluarkan sedikit penghasilannya untuk melakukan amal kebajkan dalam bentuk pemberian dana atau sumber daya lainnya yang bernilai, untuk diberikan kepada masyarakat yang berhak menerimanya.36
b. Strategi Fundraising Zakat
Strategi diartikan sebagai suatu rencana yang komprehensif untuk mencapai tujuan organisasi (strategy is a comprehensive plan for accomplishing an organization’s goals). Tidak hanya untuk mencapai, akan tetapi strategi juga dimaksudkan untuk mempertahankan keberlangsungan organisasi di lingkungan dimana organisasi tersebut menjalankan aktivitasnya.37
Fundraising zakat merupakan sebuah proses untuk mempengaruhi masyarakat atau muzaki agar mau mengeluarkan zakatnya untuk disalurkan kepada orang yang berhak.
Fundraising zakat sangat berhubungan dengan kemampuan perseorangan, organisasi, dan badan hukum untuk mengajak serta mempengaruhi orang lain sehingga menimbulkan
34Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI, Kamus BesarBahasa Indonesia, 612.
35Pusat Bahasa,Kamus BesarBahasa Indonesia, 234.
36NildaSusilawati,“Analisis Model Fundraising Zakat, Infak Dan ShadaqahDi Lembaga Zakat”, Al-IntajVol. 4, No. 1, (Maret 2018): 107
37 Widi Nopiardo, “Strategi Fundraising Dana Zakat Pada Baznas Kabupaten Tanah Datar Strategies Of Zakat Fundraising At BaznasTanah Datar Regency,” Jurnal Imara, Volume 1, Nomor 1, (Desember 2017): 60
17
kesadaran, kepedulian, dan motivasi untuk menunaikan zakatnya.38
Strategi menjadi suatu hal yang sangat penting, sehingga perlu dilakukan formulasi atau perumusan strategi yang dapat memenangkan persaingan dalam industri. Adapun yang dimaksud dengan perumusan strategi menurut Hunger dan Wheelen adalah pengembangan rencana jangka panjang untuk manajemen efektif dari kesempatan dan ancaman lingkungan, dilihat dari kekuatan dan kelemahan perusahaan.39
Terkait di atas, ada beberapa unsure yang harus diperhatikan dalam merumuskan sebuah strategi, antara lain;40 1) Kekuatan (Strength) adalah situasi internal organisasi yang
berupa kompetensi/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi, yang dapat digunakan sebagai alternative untuk menangani ancaman.
2) Kelemahan (Weakness), merupakan situasi internal organisasi yang dimana kompetensi, kapabilitas, dan sumberdaya yang dimiliki organisasi sulit digunakan untuk menangani kesempatan dan ancaman.
3) Peluang (Opportunity), merupakan suatu eksternal organisasi yang berpotensi menguntungkan, organisasi- organisasi yang berada dalam satu industry yang sama secara umum dapat merasa diuntungkan apabila dihadapkan pada situasi eksternal tersebut.
4) Ancaman (Threat), merupakan suatu keadaan atau situasi eksternal yang berpotensi dapat menimbulkan kesulitan, organisasi-organisasi yang berada dalam satu industeri yang sama secara umum akan merasa dirugikan, terancam dan dipersulit apabila dihadapkan pada kondisi eksternal tersebut.
38Widi Nopiardo, “Strategi Fundraising Dana Zakat,”: 61
39Thomas L. Wheelen, J. David Hunger, Strategic management and business policy : towardglobal sustainability,ed. 13th (Pearson Education, 2012), 17
40 Istiqomah dan Irsad Adriyanto, “Analisis SWOT dalam Pengembangan Bisnis,” Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam, Volume 5, Nomor 2, (Desember 2017): 371
18
Jadi dapat dikatakan bahwa. Strategi Fundraising Zakat adalah suatu perencanaan kegiatan yang komperhensif yang dirumuskan berdasarkan kesempatan dan ancaman lingkungan, dilihat dari kekuatan dan kelemahan perusahaan untuk mempengaruhi masyarakat atau muzaki agar mau menyalurkan zakatnya.
c. Tujuan Fundraising Zakat
1) Menghimpun merupakan tujuan fundraising yang paling mendasar. Ada dua hal yang bisa dilakukan OPZ untuk tujuan ini, perama, menambah jumlah sumbangan dana dari setiap donator, kedua, menambah jumlah donator atau muzaki itu sendiri.
2) Meningkatkan atau membangun citra lembaga. Pengelolaan yang baik dari organisasi pengelola zakat akan membentuk citra lembaga menjadi positif yang berdampak baik pada lembaga itu sendiri.
3) Menghimpun simpatisan/relasi dan pendukung. Seseorang atau sekelompok orang yang telah berinteraksi dengan aktifitas fundraising akan memiliki kesan positif dan bersimpati terhadap lembaga. Kelompok seperti ini dapat menjadi simpatisan dan pendukung lembaga meskipun tidak/belum menjadi muzaki. Kelompok seperti ini harus diperhitungkan dalam aktifitas fundraising, sebab mereka akan berusaha melakukan dan berbuat apa saja untuk mendukung lembaga.
4) Kepuasan muzaki. Pengorbanan yang dilakukan muzaki dan donator seolah tidak terasa setelah mendapat imbalan rasa puas dari pengorbanan yang diberikan oleh lembaga. Jadi tujuan memuaskan muzaki merupakan tujuan jangka panjang.
Kepuasan muzaki akan berpengaruh terhadap nilai donasi yang akan diberikan kepada lembaga.41
41Uswatun Hasana “Sistem Fundraising Zakat LembagaPemerintah Dan Swasta (Studi Komparatif pada Badan Amil Zakat Nasional(BAZNAS) Kota Palu dan Pos Keadilan Peduli Umat(PKPU) Palu Periode 2010-2014)”,Istiqra, Jurnal Penelitian Ilmia Vol. 3 No. 2 (Desember 2015): 229
19
d. Fundraising dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah RI No 14 Tahun 2014.
Untuk membantu BAZNAS dalam melakukan pengumpulan, pendisteribusian dan pendayagunaan zakat, masyarakat dapat membentuk LAZ.42 Pembentukan LAZ sebagaimana yang dimaksud di atas, wajib mendapat izin Menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan:
1) Terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang mengelola bidang pendidikan, dakwah, dan sosial, atau lembaga berbadan hukum;
2) Mendapat rekomendasi dari BAZNAS;
3) Memiliki pengawas syariat;
4) Memiliki kemampuan teknis, administratif, dan keuangan untuk melaksanakan kegiatannya;
5) Bersifat nirlaba;
6) Memiliki program untuk mendayagunakan zakat bagi kesejahteraan umat; dan
7) Bersedia diaudit syariat dan keuangan secara berkala.43
Dalam rangka pengumpulan zakat, muzaki melakukan penghitungan sendiri atas kewajiban zakatnya dan jika tidak dapat menghitung sendiri kewajiban zakatnya, muzaki dapat meminta bantuan BAZNAS. Zakat yang dibayarkan oleh muzaki kepada BAZNAS atau LAZ dikurangkan dari penghasilan kena pajak. BAZNAS atau LAZ wajib memberikan bukti setoran zakat kepada setiap muzaki. Bukti setoran zakat tersebut digunakan sebagai pengurang penghasilan kena pajak.44
Pengelolaan Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya. BAZNAS atau LAZ selain menerima zakat, juga dapat menerima infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya. Pendistribusian dan pendayagunaan infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya yang dilakukan
42Undang-Undang No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
43Undang-Undang No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
44Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 23 Tahun 2011.
20
sesuai dengan syariat Islam dan dilakukan sesuai dengan peruntukkan yang diikrarkan oleh pemberi. Pengelolaan infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya harus dicatat dalam pembukuan tersendiri.45
Dalam pelaporan yang tertuang pada Undang-Undang No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakatdan dijelaskan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 23 Tahun 2011. Pada pasal 73 dinyatakan bahwa, LAZ wajib menyampaikan laporan pelaksanaan Pengelolaan Zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya kepada BAZNAS dan pemerintah daerah setiap 6 (enam) bulan dan akhir tahun.
Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur pelaporan dijelaskan pasal 75, antara lain:46
a) Laporan pelaksanaan Pengelolaan Zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71, Pasal 72, dan Pasal 73 harus di audit syariat dan keuangan.
b) Audit syariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama. (3) Audit keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh akuntan publik.
c) Laporan pelaksanaan Pengelolaan Zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya yang telah di audit syariat dan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) disampaikan kepada BAZNAS.
Pada pasal 76 menyatakan bahwa; Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71, Pasal 72, dan Pasal 73 memuat akuntabilitas dan kinerja pelaksanaan Pengelolaan Zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya.47
45Undang-Undang No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
46Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 23 Tahun 2011.
47Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 14 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 23 Tahun 2011.
21 e. Prinsip-Prinsip Lembaga Zakat
1) Memahami dana ZISWAF
Menjadi pengelola LAZ sangatlah berbeda dengan karyawan atau SDM pada umumnya. Dimanapun devisi atau departemen yang menaungi SDM tersebut, pemahaman dasar pengelola zakat, infak, shadaqah, dan wakaf menjadi sangat penting.
Dana yang sudah dikelola lembaga menjadikan lembaga seakan-akan bebas menggunakan dana tersebut salama untuk program. Padahal, jika dana bersumber dari zakat, peruntukanya haruslah ditunjukan kepada delapan asnaf penerima zakat dan harus terlaporkan dengan tepat juga.
2) Impelementasi program yang amanah
Sudah tidak dapat disangsikan lagi, betapa menjalankan amanah menjadi hal yang sangat penting dan krusial utuk dipertahankan. Sebagai lembaga yang menerima titipan dana dari para muzaki yang juga merupakan anggota masyarakat yang harus disampaikan kepada mustahik atau penerima manfaat, hal ini harus dipegang teguh oleh seluruh SDM yang ada di lembaga tersebut.
3) Laporan yang akuntabel
Setelah program dapat dirancang menjadi master piece, kemudian dijalankan dengan professional dan amanah, selanjutnya jangan lupa membuat laporan, yang dibuat bukan hanya kepada muzaki, namun juga kepada masyarakat umum atau publik. Laporan ini merupakan bentuk transfaransi LAZ kepada masyarakat yang mempercayainya.48
f. Manajemen Fundraising49
1) Perencanaan (Planning), Planning merupakan kemampuan SDM untuk merencanakan keseluruhan fungsi organisasi dengan tepat yaitu, dengan ditentukan sesuatu yang ingin dilakukan, dengan usaha memilih berbagai alternatif, strategi, kebijaksanaan serta taktik yang ingin dilaksanakan.
48Abdul Gofur, Tiga Kunci Fundraising, 66-71.
49 Abdul Gofur, Tiga Kunci Fundraising, 61.
22
2) Pengorganisasian (Organizing), Organizing merupakan kemampuan SDM dalam melakukan pendistribusian seluruh program dan kreatifitas lembaga kepada departemen dan SDM lainya, dengan membagikan tugas dan kewenangan yang tepat.
3) Pelaksanaan (Aktuating), Aktuating merupakan kemampuan lembaga dalam menerapkan program-programnya kepada masyarakat, baik untuk masyarakat sebagai potensi donator maupun kalangan pemenrima manfaat program.
4) Pengawasan (Controlling), Controlling merupakan kemampuan SDM dalam melaksanakan pengawasan program, evaluasi, serta menentukan tindak lanjut. Kegiatan ini diperlukan dalam lembaga untuk memastikan berjalan dengan baik dan dikemudian hari menjadi jauh lebih baik lagi.
g. Metode Fundraising Zakat
1) Metode fundraising langsung (Direct fundraising)
Metode fundraising langsung, yaitu tehnik atau cara yang melibatkan partisipasi muzaki secara langsung, artinya pengaruh atau upaya yang dilakukan fundraiser jika mendapatkan respon dari muzaki maka langsung dapat diakomodasi.
2) Metode fundraising tidak langsung(Indirect fundraising) Metode fundraising tidak langsung, yaitu tehnik atau cara yang melibatkan partisipasi muzaki secara tidak langsung, yaitu bentuk-bentuk fundraising tanpa memberikan daya akomodasi langsung terhadap respon muzaki seketika.50
Adapun menurut Muhsinun Kalida mengungkapkan empat metode dalam fundraising antara lain;51
a) Face to face atau berdialog langsung untuk menawarkan program dengan cara kunjungan pribadi ke rumah, kantor, perusahan atau persentasi kepada calon donator.
b) Direct mail, yakni penawaran tertulis untuk menyumbang yang didisteribusikan dan dikembalikan lewat surat.
50 Widi Nopiardo, “Strategi Fundraising”, : 63
51 Muhsin Kalida, “Fundraising dalam Stadi Pengembangan Lembaga Kemasyarakatan” Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, Vol. 5, No. 2, (Desember 2004): 30
23
c) Spesial event, yakni penggalangan dana atau fundraising dengan menggelar acara-acara khusus atau memanfaatkan acara-acara tertentu yang dihadiri banyak orang untuk mengalang dana atau fundraising.
d) Campaign, yakni fundraising dengan kampanye melalui berbagai media komunikasi seperti melalui poster, sepanduk, internet, dan media elektronik lainnya yang digunakan sebagai media komunikasi dan promosi program lembaga ataupun muzaki.
h. Teknik-Teknik Fundraising Zakat
Teknik-teknik fundraising pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Bentuk atau cara-cara promosi. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menarik meinat masarakat untuk mengeluarkan sebagian hartanya antara lain seperti; surat penawaran untuk berzakat, infak atau beredekah, bisa juga dengan persentasi kepada individu maupun kepada kelompok.
Bisa juga menggunakan ikan, brosur, media internet dan lain- lain.
2) Teknik atau cara-cara melayani transaksi donasi. Ada banyak cara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat atau donator yang mau berzakat seperti; bayar langsung, jemput zakat, penyedian kotak amal bahkan transfer via rekening bank maupun transver lewat internet.
Teknik atau cara dalam melaksanakan penerimaan dana zakat di atas dapat dipilih baik beberapa atau keseluruhannya oleh setiap LPZ sesuai dengan tujuan dan kondisi dari masing-masing lembaga serta menyesuaikan dengan karakter masyarakat donatur (muzaki) yang menjadi sasarannnya.52
i. Digital Fundraising
Teknologi internet di era modern ini semakin pesat perkembanganya serta banyak dirasakan oleh masyarakat. Hal tersebut karena internet memiliki manfaat yang secara langsung
52Uswatun Hasana “Sistem Fundraising”: 231
24
dapat dirasakan oleh para penggunanya. Terkhusus lagi, para pengguna internet yang memfungsikannya sebagai media komunikasi dan sosialisasi pemasaran. Dalam hal fundraising zakat, media digital sangat bermanfaat untuk sosialisasi dan penghimpunan dengan memanfatkan kanal yang tersedia.53
1) Website
Secara garis besar website merupakan suatu bentukinformasi yang disampaikan dalam halaman-halaman yang ditempatkan setidaknya pada sebuah server web, yang dapat diakses melalui jaringan internet. Dengan jangkauan internet yang sangat luas, maka sosialisasi yang dilakukan melalui websitedapat menjangkau masyarakat luas. Secara umum, website telah digunakan oleh hampir seluruh perusahaan atau lembaga yang ada. Sehingga, website ini sangat mungkin di oprasikan oleh OPZ untuk melakukan sosialisasi zakat guna menghimpun zakat dengan memanfaatkan media website tersebut.
2) E-mail
E-mail merupakan bentuk marketing langsung yang memanfaatkan media elektronik, untuk menyampaikan pesan- pesan komersil kepada masyarakat umum ataupun lembaga- lembaga yang dituju. Beberapa kelebihan email marketing dibandingkan dengan model marketing lainnya, antara lain:
a) Pengeluaran biaya yang lebih efektif serta efisien.
b) Target yang jelas serta terarah
c) Dapat dilakukan sesuai dengan keinginan dan target pemasaran
d) pencapaian dan keberhasilan dapat terukur.
Dalam hal ini OPZ merupakan lembaga yang dituntut untuk menarik minat calon muzaki atau donatur untuk mengeluarkan sebagian hartanya melalui lembaga amil zakat.
Dengan demikian, OPZ perlu memanfaatkan media email untuk berkomunikasi dengan para muzaki maupun calon muzaki.
53Ade Nur Rohim, “Optimalisasi Penghimpunan Zakat Melalui Digital Fundraising” Al- Balagah Jurnal Dakwah dan Komunikasi, Vol. 4, No. 1, (Januari - Juni 2019): 59-90
25 3) Social network
Social network atau jejaring sosial merupakan salah media pada jaringan internet yang dapat digunakan dalam sosialisasi dan promosi. Contoh social network yang paling banyak digunakan di Indonesia, bahkan dunia, adalah Facebook. Bahkan di beberapa Negara termasuk Armenia, Facebook menjadi jejaring sosial yang paling banyak digunakan, diikuti setelahnya adalah Youtube, TikTok, Twitter, Linkedin, WhatsApp dan Instagram. Melalui aplikasi ini, para pengguna dapat bertukar informasi, dan berkomunikasi, hingga berbagi album foto, dan menjadi bagian atau anggota dari suatu komunitas atau grup di jejaring sosial tersebut.54
4) Mobile Aplikasi
Mobile aplikasi adalah aplikasi yang telah dirancang khusus untuk platform mobile (misalnya iOS, android, atau windows mobile). Biasanya mobile aplikasi ini bisa di download atau diunduh melalui sistem oprasi mobile, seperti Apple App Store, Android Google Play dan sebagainya.55
3. Fundraising dalam Islam