• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V Penutup

B. Kriteria Cantik Akhlak dalam Al-Quran

Perempuan merupakan tonggak peradaban yang nantinya melahirkan generasi penerus sebagai penentu kemajuan umat, hendaknya memiliki

4 Imam Jalaluddin Al-Mahalli and Imam Jalaluddin As-Suyuti, Tafsir Jalalain Jilid 2, Terj.

Bahrun Abu Bakar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2008), 1352.

57

akhlak yang baik karena perempuan merupakan madrasatul ula. Apabila perempuan mempunyai akhlak baik maka dijamin sebuah peradaban akan berjalan baik. Berikut temuan ayat-ayat Al-Quran yang membahas akhlak perempuan yaitu: QS. ar-Rahma>n: 56, QS. ar-Rahma>n: 70-72, QS. al- Ah}zab: 35, dan QS. al-Wa>qiah: 35-37.

a. QS. ar-Rahma>n: 56





















Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.

Dengan melihat redaksi ayat di atas sebenarnya hampir mirip dengan penjelasan QS. as}-S{a>ffa>t: 48-49 bahwa, Ibnu ‘Abbas, Qatadah, dan ‘At}a’ al-Khurasani, dan Ibnu Zaid mengemukakan bidadari adalah perempuan yang menundukkan pandangan, tidak melihat yang lebih tampan dari pasangannya.5 Perempuan yang sangat sopan sehingga ia membatasi pandangan dan keinginannya kepada selain pasangannya karena sopan, setia, dan cintanya.6

Kecantikan perempuan akan selalu abadi jika ditambah dengan ke-shalih-an yaitu dengan selalu menjaga pandangan. Artinya paras wajah cantik perempuan akan selalu terjaga jika perempuan menjaga

5 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 7, Ter. M. Abdul Ghofar (Jakarat: Pustaka Imam asy- Syafi‟i, 2003), 636.

6 M Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an Volume 13 (Jakarta: Lentera Hati, 2005), 531.

58

keimanannya pada Allah SWT agar tetap tidak tergoyahkan pada apapun.

b. QS. ar-Rahma>n: 70-72

 



























Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan jelita Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.

Ibn Mas„ud berpendapat bahwa, kelak di surga tiap tempat terdapat bidadari-bidadari. Seorang Muslim yang taat memiliki bidadari tersendiri, bidadari yang dimaksud tidak bersifat sombong, bukan pembangkang dan bau badanya harum.7 Bidadari tersebut sangat dipelihara oleh Allah SWT dari pengaruh apapun, sampai tubuh bidadari Allah SWT akan menjaganya dengan baik.

c. QS. al-Ah}zab: 35































































Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang

7 Abdullah bin Mas‟ud, Tafsir Ibnu Mas‟ud, Ter. Muhammad Ahmad Isawi (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2000), 962.

59

berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Asba>bun nuzu>l: Diriwayatkan oleh At-Tirmidhi dari „Ikrimah yang bersumber dari Ummu ‘Imarah Al-Ans}ari, dikemukakan bahwa Ummu ‘Imarah Al-Ans}ari (seorang muslimah) menghadap Rasulullah Saw. Dan berkata: “Selalu kulihat segala sesuatu yang ada ini hanya untuk laki-laki saja, dan tidak pernah perempuan disebut-sebut”. Maka turunlah ayat ini sebagai penegasan bahwa segala sesuatu yang dijanjikan oleh Allah untuk laki-laki dan perempuan yang Mukmin dan Muslim.8

Ayat di atas menyebut laki-laki dan perempuan dalam sifat-sifat yang sama. Allah bermaksud menekankan peranan perempuan. Sehingga Allah menyebut laki-laki dan perempuan dalam rangkaian ayat di atas untuk mempersamakan keduanya dalam segala amal kebajikan yang disebutnya serta dalam ganjaran yang menanti kedua jenis kelamin itu.

Atas dasar itu pula ayat ini dimulai dengan kata yang menunjukkan penekanan yaitu inna/sesungguhnya.

Penyebutan sifat-sifat tersebut satu setelah lainnya amat serasi.

al-Biqa„i menulis bahwa: Ayat ini memulai dengan menyebut sifat umum yang melekat pada penganut agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. sambil menekankannya (dengan kata sesungguhnya), karena banyak orang munafik yang dapat masuk dalam kategori apa

8 Jalaluddin Abi „Abdurrahmxan as-Suyuti, Lubabun Nuqul Fii Asbabun Nuzul, (Beirut:

Daarul Ihya, 1986), 207.

60

yang diberitakan ini. Selanjutnya karena keislaman kendati merupakan sifat yang tertinggi, namun karena boleh jadi ia hanya bersifat lahiriah, maka sifat berikut yang disebut adalah yang mewujudkan secara hakiki keislaman itu, yaitu keislaman batin berupa iman yang sempurna disertai oleh ketundukan yang mantap. Ini dihubungkan ayat di atas menyebut laki-laki dan perempuan dalam sifat-sifat yang sama.9

d. QS. al-Wa>qiah: 35-37





















Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya.

Imam al-Qurt}ubi berpendapat mengenai ayat di atas bahwa, para bidadari-bidadari yang cantik itu tidak dilahirkan seperti manusia tapi diciptakan langsung tanpa adanya persalinan. Bidadari-bidadari itu berasal dari bani Adam yang sudah berumur tua, kemudian Allah SWT mengembalikan umurnya seperti dewasa.10 Mulianya bidadari disisi Allah SWT tidak melebihi perempuan yang s}alih}ah secara fisik dan akhlak budi pekerti, bidadari diciptakan sekaligus tanpa adanya proses yang panjang, tapi perempuan yang s}alih}ah diciptakan dengan proses yang panjang mulai dari bayi dalam rahim sampai proses melahirkan.

Dengan melihat proses panjang penciptaan manusia terutama

9 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an Volume 11 (Tangerang: Lentera Hati, 2005), 270.

10 Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi Jilid 17 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2000), 643.

61

perempuan, bisa dikatakan perempuan yang cantik secara fisik dan akhlak lebih mulia dari bidadari-bidadari surga.

Pendapat Imam al-Qurt}ubi dalam tafsirnya diperkuat dengan hadis dari Imam Tirmidhi, bahwasanya suatu ketika Ummu Salamah ra pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai bidadari pada ayat Inna> ansa’na>hunna insya>’a, faja‘alna>hunna abka>ran, ‘uruban atraban kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Hai Ummu Salamah, mereka adalah perempuan-perempuan yang meninggal dunia di usia tua, beruban, mata berair lagi kabur dan terdapat kotoran mata. Allah menjadikan mereka setelah tua menjadi gadis-gadis sebaya umurnya”11 Dengan melihat penjelasan hadis ini, bidadari berasal dari manusia biasa yang telah berumur tua, kemudian meninggal dan Allah SWT membangkitkan lagi menjadi bidadari yang cantik berumur dewasa sekitar tiga puluh tahun. Sebelum menjadi bidadari yang cantik ternyata mengalami proses yang panjang dengan lika-liku kehidupan mulai dari cobaan dari dalam seperti penampilan yang tidak sesuai harapan sampai cobaan dari luar yaitu pengaruh negatif, seorang perempuan jika menginginkan cantik luar dan dalam (akhlak, kepintaran, ketakwaan) harus berproses lama atau memakan waktu sampai bertahun-tahun, bahkan hingga berumur tua dan meninggal. Jika perempuan mampu bertahan dari segala cobaan dan godaan duniawi, Allah SWT akan

11 Ibid. Jilid 17, 642.

62

menjanjikan balasan yang setimpal yaitu paras cantik wajah dan akhlak kekal abadi yang tidak pernah mati.12