• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Cantik Berpenampilan dalam Al-Quran

Bab V Penutup

C. Kriteria Cantik Berpenampilan dalam Al-Quran

62

menjanjikan balasan yang setimpal yaitu paras cantik wajah dan akhlak kekal abadi yang tidak pernah mati.12

63

mau meminjamiku kain untuk tawaf?‟ dimaksudkan untuk menutupi farjinya. Ia berkata demikian sambil mendendangkan syair, „Hari ini auratku tampak sebagian, bahkan semuanya; namun aku tidak menghalalkan apa yang tampak darinya.‟ (Menanggapi kejadian ini) turunlah ayat khudhu> zi>natakum ‘inda kulli masjid.”14

Allah memerintahkan manusia untuk memakai pakaian yang indah minimal dalam bentuk menutup aurat saat berada di kawasan masjid, baik dalam arti khusus bangunan ibadah maupun dalam arti luas yakni di hamparan bumi. Selain itu, Allah SWT melarang manusia memakai pakaian yang berlebih-lebihan.15 Fenomenanya saat ini banyak sekali ditemui orang berpakaian tapi telanjang, ada pula yang menggunakan style fashion yang berlebihan, sehingga sebaiknya umat Islam memakai pakaian yang menutup aurat dengan pakaian yang baik dan indah, namun tidak berlebihan.

b. QS. al-A‘ra>f: 32























































Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.

14 Jalaluddin Abi „Abdurrahmxan as-Suyuti, Lubabun Nuqul Fii Asbabun Nuzul, (Beirut:

Daarul Ihya, 1986), 119.

15 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an Volume 5 (Tangerang: Lentera Hati, 2005), 72.

64

Asba>bun nuzu>l: ayat ini bersamaan dengan QS. al-A‘ra>f: 31, Allah menunjukkan bahwa manusia menyukai keindahan, sehingga manusia menciptakan keindahan sendiri kemudian menikmatinya dengan baik, dalam rangka menutupi apa yang buruk pada dirinya maupun untuk menambah keindahan. Keindahan merupakan salah satu ciri kemajuan sebuah peradaban selain ilmu dan etika. Tiga komponen inilah (ilmu, etika dan seni) sebagai tonggak kemajuan sebuah peradaban.

Pesatnya sebuah peradaban mendorong manusia sebagai makhluk sosial untuk menciptakan keindahan. Karena adanya faktor seksual yang dimiliki manusia untuk menarik perhatian lawan jenis untuk mendorongnya memperindah diri (bersolek). Hal tersebut adalah naluri setiap manusia yang diberikan oleh Allah SWT, sehingga Allah SWT menghalalkan perhiasan yaitu emas dan sutera untuk digunakan manusia sebagai penambah keindahan.16 Maka, perempuan muslimah diperbolehkan berpenampilan menggunakan perhiasan dengan tetap memperhatikan batasan-batasannya.

Allah SWT tidak mengharamkan pakaian kecuali jika pakaian tersebut menghalangi terwujudnya kesempurnaan jiwa dan akhlak.

Mengharamkan diri untuk berpakaian bukan merupakan cara pendekatan diri kepada Allah SWT, seperti yang dilakukan oleh para penyembah berhala. Dalam melaksanakan perintah ajaran agama, tidak harus

16 M Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an Volume 5 (Jakarta: Lentera Hati, 2005),74-76.

65

bersikap primitif dan menjauhkan diri untuk menikmati kenikmatan dunia. Berpakaian adalah implementasi dari rasa syukur kepada Allah SWT dan mengharamkan diri untuk berpakaian pada dasarnya adalah sikap yang menentang fitrah manusia yang cinta akan keindahan dan menjunjung harga diri.17

Berpakaian dengan indah memiliki beberapa manfaat yaitu:

pertama, kesehatan orang yang berpakaian akan selalu terjaga karena terlindungi dari cuaca yang berubah-ubah. Kedua, pakaian adalah ciri kemuliaan dan ketinggian harga diri setiap orang. Ketiga, pakaian adalah bukti rasa syukur kepada Allah dari pemakainya.18 Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah menginginkan untuk melihat bukti curahan nikmat-Nya pada diri seseorang hamba-Nya.”

(HR. at-Tirmidzi).19

Dengan demikian, jelas bahwa lewat perintah untuk berpakaian Allah memadukan antara kebutuhan ukhrawi dengan kebutuhan duniawi.

Pelaksanaan ibadah kepada Allah SWT seharusnya tidak mengesampingkan kebutuhan duniawi yang justru merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

17 Muhammad Irfan Helmy, “Dimensi Etika, Estetika Dan Hukum dalam Ayat-Ayat Al- Qur‟an Tentang Pakaian,” Rausyan Fikr, Vol. 16 No. 1, Januari-Juni 2020, 61-77.

18 Ibid, 70.

19 Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 9 (Semarang: CV Toha Putra, 1992), 136.

66

c. QS. an-Nah}l: 81





















































“Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).”

Asba>bun nuzu>l:: Ibnu Abu H{atim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami S{afwan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, dari Mujahid, bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi SAW., lalu berbicara dengan Nabi Saw. Maka Nabi Saw. membacakan kepadanya firman-Nya berikut ini: Dan Allah menjadikan bagi kalian rumah-rumah kalian sebagai tempat tinggal. (QS. an-Nah}l: 80) Maka orang Badui itu menjawab,

"Ya." Lalu Rasulullah SAW. membacakan lagi firman-Nya: dan Dia menjadikan bagi kalian rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak. (QS. an-Nah}l: 80), hingga akhir ayat. Kemudian orang Badui itu menjawab, "Ya." Lalu Nabi Saw. membacakan lagi kepadanya ayat lain yang semuanya dia jawab dengan kalimat, "Ya." Hingga manakala Nabi Saw. membacakan firman-Nya: Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atas kalian agar kalian berserah diri (kepada-Nya). (An-N

67

QS. an-Nah}l: 81) Maka orang Badui itu berpaling pergi, dan Allah menurunkan firman-Nya: Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya. (QS. an-Nah}l: 83), hingga akhir ayat.20

Sutera selain digunakan untuk keindahan, sutera juga digunakan sebagai pelindung tubuh dari cuaca dingin dan panas.21 Sehingga terdapat lima fungsi pakaian dalam Al-Quran yaitu memelihara dari panas dan dingin, penutup aurat, hiasan, dapat membedakan seseorang dengan yang lainnya, serta memelihara dari serangan musuh.22 Allah menciptakan emas dan sutera tersebut agar manusia memperhatikan nikmat-nikmat yang dilimpahkan itu, sehingga manusia bisa beriman kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan.23

d. QS. an-Nu>r: 31

Allah SWT menuturkan hukum-hukum yang khusus untuk perempuan dalam:







































































































20 Jalaluddin Abi „Abdurrahmxan as-Suyuti, Lubabun Nuqul Fii Asbabun Nuzul, (Beirut:

Daarul Ihya, 1986), 157.

21 Abdul Malik Karim Amrullah, Tafsir Al-Azhar Juz 13 (Jakarata: Pustaka Panjimas, 1984), 277.

22 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an Volume 7 (Tangerang: Lentera Hati, 2005), 311.

23 Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 14 (Semarang: CV Toha Putra, 1992),, 218.

68

























































Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra- putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki- laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

Asba>bun nuzu>l: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi H{atim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah. Asma’ binti Murs}id, pemilik kebun kurma, sering dikunjungi perempuan- perempuan yang bermain- main di kebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang- gelang kakinya. Demikian juga dada dan sanggul-sanggul mereka kelihatan. Berkatalah Asma‟: “Alangkah buruknya (pemandangan) ini.”

Turunnya ayat ini (QS. an-Nu>r: 31) sampai, … ‘auratin nisa>’… (…aurat perempuan …) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan kepada kaum mukminat untuk menutup aurat mereka.24

Wala> yubdi>na zi>natahunna illa> ma> ohara minha>. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan yang mereka kenakan kepada laki-laki

24 Jalaluddin Abi „Abdurrahmxan as-Suyuti, Lubabun Nuqul Fii Asbabun Nuzul, (Beirut:

Daarul Ihya, 1986), 187.

69

asing. Perhiasan disini bersifat umum mencakup segenap perhiasan yang digunakan untuk menghias dan mempercantik diri. Janganlah mereka menampakkan bagian-bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan.

Dalam potongan ayat ini terdapat majaz dalam bentuk menyebutkan perhiasan, tetapi yang dimaksud ayat ini adalah bagian-bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan.25

Ibnu Mas'ud berkata, “Perhiasan yang biasa nampak adalah pakaian." Ibnu Jubair menambahkan, wajah. At}a’ al-Auza‘i dan juga Sa„id bin Jubair menambahkan wajah, kedua telapak tangan, dan pakaian. Ibnu Abbas, Qatadah, Miswar bin Makhramah berkata,

“Perhiasan yang biasa nampak adalah celak, gelang, pacar sampai separuh lengan, anting, fatkh, dan lainnya. Semua itu boleh ditampakkan oleh seorang perempuan kapada setiap orang yang menemuinya.

Ketika menjelaskan setengah lengan, at}-T{abari menuturkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Qatadah dari Nabi SAW. Dia juga menuturkan hadits lain, yang diriwayatkan dari Aisyah, dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, apabila dia telah haid, untuk menampakkan (sesuatu) kecuali wajahnya dan kedua tangannya sampai kesini.” Beliau lalu memegang pertengahan lengan.

Ibnu At}iyyin berkata, "Maka jelaslah bagi saya berdasarkan keputusan lafadz ayat tersebut, bahwa seorang wanita diperintahkan

25 Is Nurhayati, “Pendidikan Akhlak dalam Berpakaian Bagi Perempuan Menurut Surat An- Nur Ayat 31 Dan Al-Ahzab Ayat 59,” Thoriqotuna, Vol. 3 No. 1, Juni 2020, 1-21.

70

untuk tidak menampakan perhiasannya, dan dia harus berusaha menyembunyikan semua perhiasannya. Namun, ada pengecualian terhadap perhiasan yang biasa nampak, karena adanya darurat yang pasti terjadi saat melakukan gerakan, memperbaiki sesuatu, atau lainnya.

Dengan demikian, jika berdasarkan kepada pendapat ini, maka …. „Yang (biasa) nampak‟ pada perempuan akibat darurat adalah sesuatu yang dimaafkan."26

Tujuan utamanya adalah larangan menampakkan bagian-bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan seperti dada, telinga, leher, lengan bawah, lengan atas dan betis. Salah satu hiasan pokok perempuan adalah dadanya karena memang salah satu tujuan menikah adalah menikmati hiasan itu, sehingga turunlah ayat ini sebagai perlindungan bagi perempuan agar terhindar dari perbuatan senonoh laki-laki dan menjaga kehormatannya.27

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kaum perempuan muhajirin generasi pertama, ketika Allah SWT menurunkan ayat „wal yad}ribna bi khumurihinna ‘ala juyubihinna’, maka mereka langsung menyobek muru>t} (kain lebar yang digunakan untuk menyelimuti seluruh tubuh, jubah), mereka yang menggunakan sebagiannya untuk kerudung”. (HR. Bukhari)28

Perempuan dilarang menampakkan perhiasan kecuali kepada suami-suami mereka, karena para istri tidak lain untuk para suami mereka. Selain kepada suami yaitu kepada bapak, kakek, ayah mertua,

26 Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi Jilid 12, Ter. Fathurrahman (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), 577-578.

27 Is Nurhayati, “Pendidikan Akhlak dalam Berpakaian Bagi Perempuan Menurut Surat An- Nur Ayat 31 Dan Al-Ahzab Ayat 59,” Thoriqotuna, Vol. 3 No. 1, Juni 2020, 1-21.

28 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir Akidah, Syariah, Manhaj Jilid 5 (Jakarta: Gema Insani, 2013) , 510.

71

anak, saudara laki-laki dan yang tergolong dalam mahramnya. Seorang perempuan boleh menampakkan perhiasannya tetapi dengan syarat tidak mengandung sikap tabarruj.29 Penggalan ayat ini melarang menampakkan perhiasan yang tersembunyi yang dapat menarik perhatian lawan jenis misalnya melarang perempuan menghentak- hentakkan kaki yang memakai gelang kaki ketika berjalan, sehingga terdengar suara keroncong yang dipakainya. Sebab itu adalah tindakan yang sangat berpotensi memicu timbulnya fitnah dan kerusakan, menarik perhatian, merangsang birahi dan syahwat, serta munculnya pikiran negatif terhadapnya sebagai perempuan nakal. Demikian juga janganlah memakai banyak wewangian yang dapat menarik orang-orang disekitarnya.30

e. QS. al-Ah}zab: 59













































Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Asba>bun nuzu>l: Sa‘d dalam at}-T{abaqat meriwayatkan dari Abu Malik, ia berkata, “Para istri Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam

29 Is Nurhayati, “Pendidikan Akhlak dalam Berpakaian Bagi Perempuan Menurut Surat An- Nur Ayat 31 Dan Al-Ahzab Ayat 59,” Thoriqotuna, Vol. 3 No. 1, Juni 2020, 1-21..

30 Wahyu Ihsan dan Mar‟atus Saudah, Beauty Privilege Wanita Menurut Padangan Al- Qur‟an (Studi Tafsir TematiK), El-Afkar, Vol. 11 No. 2, Juli-Desember 2022.

72

pergi pada malam hari untuk suatu keperluan. Ada sejumlah orang munafik yang suka mengganggu mereka sehingga mereka merasa terganggu dan tersakiti." Mereka kemudian mengadu kepada Rasulullah SAW. Lalu orang-orang munafik itu ditanya. “Sesungguhnya kami melakukan hal semacam itu hanya terhadap para budak perempuan,”

demikian lah mereka. Maka Allah menurunkan surat al-Ah}zab ayat 59 ini.31

Allah menyuruh Nabi SAW agar memerintahkan para perempuan muslimah agar mengulurkan jilbab pada tubuh mereka, di saat keluar rumah. Maksudnya hendaklah mereka mengulurkan sebagian dari kain jilbabnya itu untuk menutupi muka mereka, ketika mereka hendak keluar rumah. Kecuali hanya bagian yang cukup untuk satu mata, supaya mereka lebih mudah atau lebih gampang dikenal. Bahwasanya mereka adalah perempuan-perempuan merdeka sehingga mereka tidak ada yang berani mengganggunya. Berbeda halnya dengan perempuan hamba sahaya, mereka tidak diperintahkan untuk menutupi mukanya, sehingga orang-orang munafik selalu mengganggu mereka.32

Perempuan muslimah apabila keluar rumah untuk suatu keperluan maka wajib mengulurkan pakaian dan jilbab, sehingga seluruh tubuh dan kepalanya tertutup tanpa memperlihatkan sesuatu dari bagian- bagian tubuhnya yang dapat menimbulkan fitnah seperti kepala, dada,

31 Jalaluddin Abi „Abdurrahmxan as-Suyuti, Lubabun Nuqul Fii Asbabun Nuzul, (Beirut:

Daarul Ihya, 1986), 214.

32 Is Nurhayati, “Pendidikan Akhlak dalam Berpakaian Bagi Perempuan Menurut Surat An- Nur Ayat 31 Dan Al-Ahzab Ayat 59,” Thoriqotuna, Vol. 3 No. 1, Juni 2020, 1-21.

73

dan dua lengan, serta sebagian lainnya. Menutup tubuh seperti ini akan memudahkan pengenalan mereka sebagai perempuan terhormat, sehingga mereka tidak diganggu dan tidak menemui hal yang tidak diinginkan. Karena perempuan yang bersolek akan menjadi sasaran nafsu laki-laki.33

f. QS. al-Mudathir: 4







Dan bersihkanlah pakaianmu,”

Memahami thiyab pakaian dalam arti hakiki dan t}ahir dalam arti majaz, yakni perintah untuk menyucikan pakaian dalam arti memakainya secara halal sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama setelah memperolehnya dengan cara-cara yang halal, dalam artian lain pakaian yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Agama Islam menganjurkan kebersihan, termasuk kebersihan pakaian. Membersihkan pakaian tidak ada banyak artinya jika badan seseorang kotor, membersihkan pakaian dan badan belum berarti jika jiwa masih ternodai oleh dosa. Banyak orang yang berdalih, "yang penting hati dan jiwanya, biarlah pakaian dan badan kotor, karena Tuhan tidak memandang secara dzahir." Sikap tersebut tidak dibenarkan dalam ayat ini, karena ayat ini merupakan keharusan memperhatikan kebersihan badan dan jiwa, karena jangankan jiwa atau badan, pakaian diperintahkan untuk

33 Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 22 (Semarang: CV Toha Putra, 1992), 61-64.

74

dibersihkan. Ayat ini juga dapat dipahami seseorang yang bertugas melayani masyarakat dan membimbingnya harus memiliki penampian yang menyenangkan, antara lain kebersihan pakaian agar masyarakat yang dilayani dan dibimbing merasa nyaman.34

Kebersihan pakaian, sangat besar pengaruhnya kepada sikap hidup diri sendiri. Kebersihan menimbulkan harga diri, yaitu hal yang amat penting dijaga oleh semua orang. Pakaian yang kotor pun menyebabkan jiwa menjadi kusut. Setiap manusia akan merasakan betapa besarnya dampak dari pakaian yang dipakai terhadap hatinya sendiri dan orang-orang yang disekitarnya. Kebersihan sangat baik untuk melahirkan pikiran yang positif.35

Dari beberapa ayat di atas, sangat jelas Allah sangat menyukai keindahan. Dalam Al-Quran pun dijelaskan berpenampilan menarik sangat penting tetapi tetap ada batasan-batasannya. Berpenampilan menarik dalam artian bersih dan rapi sangat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang. Dampak dari berpenampilan bersih dan rapi yaitu melahirkan pikiran-pikiran positif seseorang. Berpenampilan menarik dalam Islam bukan dilihat dari standar kecantikan yang telah dibuat saat ini, seperti yang berkulit putih, bersolek berlebihan, dan memperlihatkan hiasan tubuh. Tapi, berpenampilan menarik dalam Islam yaitu mereka yang menutup aurat dan hiasan-hiasan tubuh yang sempurna, memakai

34 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an Volume 14 (Tangerang: Lentera Hati, 2005), 553-556.

35 Abdul Malik Karim Amrullah, Tafsir Al-Azhar Juz 29 (Jakarata: PT. Pustaka Panjimas, 1984), 209.

75

perhiasan yang sewajarnya, memakai pakaian yang bersih dan rapi, hati dan pikiran yang bersih, serta akhlak yang baik.36

Hendaknya perempuan muslimah menjadikan adab berpenampilan dan ketentuan-ketentuan penjelasan di atas sebagai tolok ukur dalam berpenampilan dan berhias agar terlihat perbedaan antara perempuan muslimah dengan perempuan non muslimah, bahkan agar terlihat identitas seorang muslimah sebagai perempuan terhormat dan baik-baik, para orang tua juga harus mengajarkan kepada para anak gadis mereka agar membiasakan diri sejak dini untuk berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat supaya mereka terhindar dari perilaku kejahatan khususnya kejahatan seksual.37

36 Wahyu Ihsan dan Mar‟atus Saudah, Beauty Privilege Wanita Menurut Padangan Al- Qur‟an (Studi Tafsir TematiK), El-Afkar, Vol. 11 No. 2, Juli-Desember 2022.

37 Syarifah Alawiyah, Budi Handrianto, dan Imas Kania Rahman, “Adab Berpakaian Wanita Muslimah Sesuai Tuntunan Syariat Islam,” Rayah Al-Islam, Vol. 4 No. 2, Oktober 2020, 218-222.

76

76 BAB V

ANALISIS FUNGSI KONSEP CANTIK DALAM AL-QURAN Pada bab sebelumnya telah dijelaskan kriteria-kriteria cantik yang terdapat dalam Al-Quran. Selanjutnya pada bab ini akan ditampilakan dua bahasan, yaitu analisis penafsiran konsep cantik dalam Al-Quran dan analisis fungsi konsep cantik dalam Al-Quran guna mencegah isu body image.