Mawar I.R. Napitupulu Anggota
Keterangan 31 Keterangan 31 Mei 31 Desember
13. KUALITAS KREDIT
Pada tanggal 31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014, dan 2015, serta 31 Mei 2016 rasio kredit non-performing gross (NPL-gross) masing-masing adalah sebesar 2,64%, 2,29%, 2,23%, 3,90%, 3,74%, 4,18%. sedangkan rasio kredit non-performing netto (NPL-netto) masing-masing adalah 1,46%, 1,11%, 1,55%, 1,94%, 1,59%, 2,02% dari jumlah kredit
yang diberikan.
Kualitas kredit yang diberikan berdasarkan kredit yang mengalami penurunan nilai dan tidak mengalami penurunan nilai
Sejak 1 Januari 2010, Perseroan menerapkan PSAK 55 (Revisi 2006) atas aset dan liabilitas keuangan Perseroan, dan melakukan evaluasi terhadap aset keuangan yang dimilikinya, apakah terdapat bukti objektif bahwa aset keuangan mengalami penurunan nilai atau tidak. Pada tanggal 31 Mei 2016, kualitas kredit dari hasil evaluasi yang dilakukan Perseroan terdiri dari kredit yang mengalami penurunan nilai sebesar Rp 8.679.301 juta dan kredit yang tidak mengalami penurunan nilai sebesar Rp154.030.935 juta.
Kualitas kredit yang diberikan berdasarkan klasifikasi kualitas aset dari BI
BI telah menetapkan ketentuan mengenai klasifikasi atas kinerja kredit yang diberikan, yang mengharuskan bank-bank mengkategorikan setiap kredit yang diberikan menjadi salah satu dari 5 (lima) kategori dan menetapkan jumlah minimum cadangan kerugian penurunan nilai berdasarkan kategori tersebut.
Tabel berikut menyajikan informasi lebih lanjut mengenai portofolio kredit non-performing – bersih berdasarkan klasifikasi kualitas aset dari BI pada tanggal 31 Desember 2011, 2012, 2013, 2014, dan 2015 serta 31 Mei 2015:
(dalam jutaan Rupiah)
Keterangan 31 Mei 31 Desember
2016 2015 2014 2013 2012 2011
Kredit non-performing:
Konsumsi 888.233 738.340 754.457 722.970 582.369 504.086
Modal kerja 4.078.574 3.834.847 3.294.946 1.658.444 1.607.409 1.638.059 Investasi 2.001.253 1.998.680 2.773.198 1.066.794 1.054.102 1.130.404
Ekspor -
Jumlah (Kotor) 6.968.060 6.571.867 6.822.601 3.448.208 3.243.880 3.272.549 Dikurangi penyisihan
penghapusan (3.614.478) (3.788.461) (3.436.375) (1.034.111) (1.674.927) (1.466.551) Jumlah (Bersih) 3.353.582 2.783.406 3.386.226 2.414.097 1.568.953 1.805.998 14. MANAJEMEN RISIKO
Proses manajemen risiko merupakan suatu bagian yang esensial dari aktivitas operasional dan proses pengambilan keputusan dalam upaya pencapaian tujuan-tujuan bisnis. Dalam rangka mencapai tingkat return yang optimal, Perseroan menggunakan kerangka kerja yang komprehensif sesuai dengan konsep Enterprise Wide Risk Management (EWRM) untuk mengelola risiko secara terintegrasi melalui penyelarasan risk appetite dan risk tolerance dengan strategi bisnis. Kerangka kerja ini mencakup proses identifikasi risiko yang signifikan dalam kegiatan bisnis Perseroan; pengukuran risiko yang didukung oleh kecukupan infrastruktur; kontrol; pengawasan dan pelaporan risiko yang dilakukan secara berkesinambungan. Kerangka kerja ini memungkinkan Direksi maupun Senior Manajemen untuk mengantisipasi dan mengelola risiko yang ada saat ini maupun potensi risiko yang dapat muncul dimasa depan, dengan mempertimbangkan profil risiko Perseroan yang dipengaruhi oleh perubahan strategi bisnis Perseroan, perubahan regulasi dan lingkungan usaha. Sehingga dengan diterapkan nya fungsi manajemen risiko dapat memaksimalkan nilai tambah bagi pemegang saham, mengelola modal secara komprehensif, serta memastikan profitabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Disisi lain, dalam rangka mencapai tujuan penerapan manajemen risiko untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan pertumbuhan yang berkelanjutan, Perseroan terus memberikan perhatian terhadap struktur tata kelola, terutama seiring dengan meningkatnya tantangan bisnis dan risiko yang dihadapi oleh industi perbankan. Hal ini dibutuhkan untuk meningkatkan four eyes principle dan transparansi dalam proses manajemen risiko. Proses manajemen risiko di Perseroan dievaluasi oleh Risk Management Committee (RMC) yang diketuai oleh Direktur Utama dan beranggotakan seluruh jajaran Direksi dan beberapa pejabat eksekutif. Selain RMC, Perseroan juga memiliki Komite Eksekutif terkait manajemen risiko yaitu; Asset Liabilities Committee (AL/CO), Operational Risk Committee (ORC), dan Credit Policy Committee (CPC).
Perseroan telah mengimplementasikan prosedur manajemen risiko sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi bank umum No. 18/POJK.03/2016. Menurut surat edaran tersebut, penerapan manajemen risiko harus dilakukan tidak hanya pada risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas maupun risiko operasional, namun juga untuk risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik dan risiko kepatuhan. Selain itu, sejalan dengan diterbitkannya Peraturan OJK No 17/POJK.03/2014 terkait dengan Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi bagi Konglomerasi Keuangan, Perseroan telah ditetapkan sebagai Entitas Utama untuk melakukan koordinasi proses manajemen risiko secara terintegrasi dengan Perusahaan Anak (CIMB Niaga Auto Finance/CNAF) dan Perusahaan Terafiliasi (CIMB Securities Indonesia dan CIMB Principal Asset Management). Hal ini juga merupakan salah satu inisiatif stratejik Satuan Manajemen Risiko dan menjadi focus perhatuan khusus dari manajemen Perseroan.
Disamping itu, Perseroan pada tahun 2015 secara fundamental memperkokoh fungsi manajemen risiko dengan mengimplementasikan Basel II dan Basel III yang terdiri dari 5 work streams: Credit Risk, Operational Risk, Market Risk, Asset Liability Management dan Internal Capital Adequacy Assessment Process. Dan diharapkan pelaksanaan work streams tersebut dapat diselesaikan pada akhir tahun 2017. Pelaksanaan work streams tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat berupa ketersediaan tools bagi Perseroan dalam mengelola risiko secara komprehensif dan sesuai dengan profil risiko. Selain itu, manajemen portofolio secara aktif diterapkan untuk mengelola portofolio dan menjamin kecukupan permodalan Perseroan bagi pelaksanaan strategi bisnis yang berorientasi dan berlandasan pada manajemen risiko.
Risiko Kredit
Sesuai dengan usaha yang dijalankan Perseroan, terdapat potensi munculnya risiko kredit dari berbagai aktivitas fungsional Perseroan seperti perkreditan, penempatan, investasi, serta pembiayaan perdagangan.
Perseroan senantiasa melakukan mitigasi risiko kredit dengan menerapkan Kerangka Pengelolaan Risiko Kredit yaitu melalui; (a) Identifikasi Risiko, Risk Appetite & Penetapan Limit, (b) Pengukuran Risiko, (c) Pemantauan Risiko, dan (d) Pengendalian Risiko.
Terkait dengan pengelolaan risiko kredit, pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi dilakukan sesuai dengan tata kelola Perseroan dalam manajemen risiko, diantaranya melalui evaluasi atas kualitas aset Perseroan dan evaluasi atas penerapan manajemen risiko secara berkala. Pada level Direksi, evaluasi atas penerapan manajemen risiko kredit dilakukan pada komite eksekutif yang memiliki wewenang dan bertanggung jawab untuk mengelola dan memantau risiko kredit, yaitu oleh Komite Manajemen Risiko (KMR) / Risk Management Committee (RMC). Sedangkan untuk kebijakan kredit, pembahasan dilakukan di Komite Kebijakan Perkreditan (KKP) / Credit Policy Committee (CPC). Kedua komite ini diketuai langsung oleh Presiden Direktur dan beranggotakan Direktur lainnya.
Sebagai panduan dalam proses pengelolaan risiko kredit, Perseroan telah memiliki kebijakan kredit yang menjadi pedoman pelaksanaan proses kredit. Kebijakan-kebijakan tersebut disusun sesuai dengan segmen nasabah yaitu Korporasi, komersial, usaha kecil, mikro dan menengah serta retail. Perseroan juga menetapkan kriteria risiko yang dapat diterima Perseroan serta batasan (limit) untuk menjaga agar eksposur risiko kredit yang diterima tersebut sesuai dengan risk appetite Perseroan. Perseroan telah memiliki metodologi untuk menetapkan batas maksimum eksposur per sektor industri dalam upaya untuk memantau dan mengelola konsentrasi portofolio kredit, serta telah menjaga risiko kredit sesuai dengan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sesuai ketentuan regulator.
Proses manajemen risiko kredit dimulai dari proses identifikasi risiko kredit, yang dilakukan dengan mengacu kepada penggolongan nasabah (i.e sektor industri & segmentasi nasabah), selanjutnya Analisa Kredit Produk dan Usaha yang dilakukan oleh Business Unit dan Credit Reviewer.Selanjutnya, dilakukan pengukuran risiko kredit dengan menggunakan indikator utama yang menunjukkan kualitas kredit nasabah, seperti rasio kualitas kredit bermasalah (Non Performing Loan), pengukuran kualitas aset yang berkualitas rendah dan nasabah yang termasuk dalam watchlist account secara berkala.
Disamping itu, Perseroan melakukan pemantauan dan pelaporan atas risiko kredit dari portofolio yang dimilikinya, dimana analisa hasil pengukuran eksposur risiko tersebut akan dievaluasi secara berkala oleh Direksi dan Dewan Komisaris. Jika terdapat indikasi peningkatan risiko kredit, Perseroan akan mengambil langkah mitigasi risiko yang diperlukan sebagai bentuk pengendalian risiko. Dalam upaya mengendalikan risiko kredit, selain kaji ulang Risk Acceptance Criteria (RAC) secara berkala, Perseroan juga telah mengembangkan internal model rating untuk menilai risiko kredit nasabah Korporasi dan secara bertahap terus mengembangkan internal model scoring untuk berbagai nasabah ritel.
Untuk meningkatkan proses pengelolaan risiko kredit, Perseroan telah mengimplementasikan model rating untuk nasabah Korporasi yang dinamakan ICRES (Internal Credit Rating System) sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas proses seleksi nasabah. Untuk segmen retail, Perseroan mengembangkan sistem CRDE (Centralized Retail Decision Engine) yang berfungsi untuk melakukan verifikasi Risk Acceptance Criteria (RAC) secara otomatis dan kedepannya untuk penerapan internal model scoring. Pengembangan kedua aplikasi di atas bertujuan untuk meningkatkan konsistensi persetujuan kredit dan memperkuat manajemen portofolio kredit.
Perseroan telah memiliki sistem pengendalian internal untuk manajemen risiko kredit mencakup pengawasan oleh Dewan Komisaris dan Direksi secara berkala dan budaya pengendalian yang melibatkan seluruh lini bisnis. Perseroan telah memiliki sistem untuk identifikasi dan penilaian risiko kredit, serta kegiatan pengendalian dengan pemisahan fungsi yang jelas dalam mengelola risiko.
Risiko Likuiditas
Dalam menjalankan fungsi intermediasinya, sebagian besar dana simpanan masyarakat yang diterima Perseroan disalurkan kembali dalam bentuk kredit. Perseroan menghadapi risiko likuiditas mengingat sebagian besar dana masyarakat seperti giro, deposito dan tabungan bersifat jangka pendek, sedangkan kredit yang diberikan memiliki jangka waktu yang relatif lebih panjang. Apabila Perseroan tidak mampu mengelola dana masyarakat sehingga memiliki masa pengendapan yang lebih panjang, maka Perseroan dapat mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pengembalian dana dari masyarakat.
Mengingat likuiditas Perseroan dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan nasabah, Dewan Komisaris dan Direksi melakukan pengawasan secara aktif sesuai dengan kebijakan Manajemen risiko likuiditas Perseroan. Salah satunya dengan pendelegasian dari Direksi kepada Asset & Liabilities Committee (AL/CO) yang beranggotakan Direksi dan pejabat eksekutif untuk melakukan pengelolaan risiko likuiditas sesuai dengan batasan risiko yang dapat diterima oleh Perseroan.
Batasan risiko ini ditetapkan melalui limit risiko sesuai toleransi risiko internal dan berdasarkan pada regulasi dengan mempertimbangkan strategi bisnis Perseroan, kondisi pasar, kondisi keuangan dan kapasitas pendanaan Perseroan. Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk kebijakan dan prosedur pengelolaan risiko likuiditas, untuk memastikan bahwa kebutuhan pendanaan saat ini maupun masa depan dapat dipenuhi baik pada kondisi normal maupun dalam kondisi krisis.
Sebagai langkah mitigasi yang dilakukan oleh Perseroan, proses identifikasi dan pengukuran risiko likuiditas antara lain dilakukan melalui metode analisa gap likuiditas pada situasi bisnis normal dan krisis. Risiko likuiditas terutama dipantau dan dikelola atas dasar proyeksi arus kas (gap likuiditas) baik dalam kondisi normal dan stress, sebagai alat ukur risiko likuiditas yang utama. Perseroan harus mengukur dan memproyeksikan arus kas yang timbul dari profil jatuh tempo maupun perilaku aktiva, kewajiban, rekening administratif komitmen dan turunannya melalui beberapa periode gap pada kondisi bisnis normal dan kondisi stress secara teratur.
Selanjutnya, Perseroan memiliki Early Warning System (EWS), yaitu sistem peringatan yang menginformasikan lebih dini kepada manajemen jika terjadi pemburukan situasi yang bisa membahayakan posisi likuiditas Perseroan. Selain itu, dalam rangka penerapan rasio likuiditas Liquidity Coverage Ratio (L/CR) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan diberlakukan secara bertahap berdasarkan ukuran Bank (BUKU), Perseroan sebagai bank BUKU 3 sudah diwajibkan untuk melaporkan rasio L/CR mulai Juni 2016. Rasio L/CR ini selanjutnya juga dimonitor dalam AL/CO Meeting. Panduan dalam melakukan otomasi perhitungan rasio L/CR menggunakan panduan yang diterbitkan oleh OJK melalui POJK mengenai L/CR. Management juga mulai mengarahkan target bisnis baik dalam rangka penghimpunan deposit dan pengelolaan likuid asset agar sejalan dengan ketentuan yang diterapkan oleh L/CR.
Risiko Operasional
Perseroan menyadari pentingnya pengelolaan risiko operasional, karena apabila penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam kegiatan operasional Perseroan tidak dikelola dengan baik, maka dapat mengganggu kelangsungan usaha Perseroan dan pada akhirnya dapat menurunkan kinerja usaha Perseroan.
Filosofi risiko operasional pada dasarnya bersandar pada tiga garis pertahanan (3 lines of defense) yang menghubungkan seluruh aktivitas pengelolaan risiko operasional yang mulai dibentuk sejak dari proses identifikasi, penilaian, pengendalian dan pelaporan kepada Senior Manajemen serta pengawasan Direksi dan Dewan Komisaris. Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab mengembangkan budaya organisasi yang sadar terhadap risiko operasional dan menumbuhkan komitmen dalam mengelola risiko operasional sesuai dengan strategi bisnis Perseroan. Perseroan membentuk risk control unit (RCU) di setiap lini bisnis sebagai first line of defense.
Perseroan telah memiliki kebijakan yang diterapkan secara bank-wide untuk manajemen risiko operasional, untuk teknik pelaksanaan operasional sehari-hari, Perseroan juga telah menetapkan prosedur operasional yang mengatur alur proses aktivitas operasional yang harus dijalankan oleh setiap unit, tugas dan tanggung jawab, limit kewenangan dan batasan, garis pelaporan dan eskalasi, maker, checker serta approval.
Dalam rangka mengelola risiko operasional, tools yang digunakan, antara lain:
a. Loss Event Data Management (LEDM) b. Risk & Control Self Assessment (RCSA) c. Key Risk Indicators (KRI)
d. Control Issue Management (CIM) e. New Product Approval Process (NPA)
Disamping itu, dalam pelaksanaan sistem pengendalian internal dalam penerapan manajemen risiko operasional yang efektif dilakukan pemisahan tugas dan tanggung jawab yang jelas agar tidak menimbulkan benturan kepentingan.. Segala hal yang berpotensi dapat menimbulkan benturan kepentingan harus diidentifikasi, diminimalisasi dan dimonitor secara independen
Risiko Reputasi
Sebagai salah satu bentuk pengawasan aktif Direksi untuk manajemen risiko reputasi, Perseroan telah membentuk Marketing and Communication Committee, sebuah komite eksekutif pada level Direksi yang diketuai oleh Direktur Consumer Banking. Komite ini antara lain bertanggung jawab memberikan arahan dalam pengelolaan brand CIMB Niaga termasuk strategi, value proposition dan positioning. Selain itu, perusahaan juga memiliki CX Steering Committee yang melakukan pengawasan secara berkala setiap bulan terkait isu-isu Customer Experience terutama penanganan keluhan nasabah.
Dalam rangka mendukung penerapan manajemen risiko reputasi secara efektif, Perseroan memiliki unit-unit seperti Corporate Affairs; Marketing, Brand and Communications; Media Relation dan Customer Experience. Unit-unit ini bertanggung jawab antara lain untuk melakukan pengawasan atas jumlah keluhan nasabah dan presentase tingkat keberhasilan penanganan keluhan serta memantau pemberitaan ataupun keluhan nasabah yang disampaikan melalui media agar dapat memberikan respons secara cepat. Secara keseluruhan, Perseroan terus berusaha menanamkan pentingnya manajemen risiko reputasi pada seluruh karyawan melalui sosialisasi visi dan internalisasi nilai-nilai Perseroan.
Secara keseluruhan, Perseroan terus berusaha menanamkan pentingnya manajemen risiko reputasi di semua lapisan karyawan, melalui sosialisasi visi dan nilai-nilai Perusahaan (corporate values). Salah satu upaya nyata dalam aktivitas bisnis sehari-hari yang dilakukan oleh Perseroan dalam mengelola dan mengidentifikasi risiko reputasi yang dimilikinya antara lain melalui pembentukan divisi customer service (hot line) yang bertanggung jawab menangani semua keluhan pelanggan. Perseroan juga memiliki peraturan mengenai prosedur penangan keluhan pelanggan dan ekskalasinya.
Perseroan juga menyediakan media komunikasi bagi nasabah apabila mengalami ketidaknyamanan dalam bertransaksi, terlihat dari keseriusan Perseroan dalam menghadirkan layanan sosial akun twitter resmi @cimb_niaga dan akun facebook
‘CIMB Niaga’.
Risiko Pasar
Risiko pasar terdapat pada aktivitas fungsional Perseroan seperti kegiatan transaksi perdagangan (trading) maupun aktivitas banking book. Pengelolaan risiko ini ditinjau secara berkala untuk memastikan kesesuaian terhadap lingkup, ukuran dan kompleksitas dari aktivitas bisnis dan risiko yang diambil oleh Perseroan. Dewan Komisaris dan Direksi melakukan pengawasan secara aktif dan berkala atas penerapan manajemen risiko pasar antara lain terhadap eksposur risiko pasar, pemantauan atas limit risiko serta langkah-langkah yang diambil jika terdapat pelampauan limit risiko.
Proses identifikasi risiko pasar antara lain dilakukan melalui analisa produk baru (khususnya produk- produk tresuri) melalui new product approval process yang merupakan kontrol kunci bagi Perseroan dalam mengidentifikasi risiko pasar yang melekat (inherent risk) pada setiap produk tersebut, untuk kemudian dipertimbangkan dan dimitigasi dengan baik sebelum produk diluncurkan. Secara internal, Perseroan menggunakan analisa sensitivitas, yaitu perubahan nilai portofolio akibat pergerakan satu satuan variabel pasar yang independen, seperti DV01 dan basis DV01 untuk portofolio instrumen terkait suku bunga, net open position untuk posisi terbuka valuta asing, dan Vega untuk portofolio option. Selain analisa sensitivitas, Perseroan juga sudah menggunakan perhitungan Value at Risk (VaR) dalam pengukuran risiko pasar.
Perseroan secara berkala melakukan backtesting untuk menilai keakuratan model VaR dengan membandingkan hasil pengukuran VaR dengan return nya. Selain itu, Perseroan secara periodik melakukan stress testing untuk mengestimasi potensi kerugian Perseroan pada kondisi pasar yang tidak normal guna melihat sensitivitas kinerja tresuri terhadap perubahan faktor risiko dan mengidentifikasi pengaruh yang berdampak signifikan terhadap portofolio Perseroan.
Risiko Kepatuhan
Tujuan utama Manajemen Risiko Kepatuhan adalah untuk memastikan bahwa proses manajemen risiko dapat meminimalkan kemungkinan dampak negatif dari perilaku Perseroan yang melanggar ketentuan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penerapan manajemen risiko kepatuhan di Perseroan dilakukan berdasarkan prinsip- prinsip kepatuhan yaitu:
a. Kepatuhan dimulai dari atas (start from the top).
b. Kepatuhan merupakan tanggung jawab dari semua pihak.
c. Pemenuhan hukum dan peraturan yang berlaku.
d. Kompetensi dan integritas.
e. Berorientasi kepada pemangku kepentingan (stakeholders).
f. Dedikasi kepada Bank.
g. Orientasi kepada pemecahan masalah (problem solution).
Proses manajemen risiko kepatuhan di Perseroan dilakukan dengan tujuan untuk meminimalisasi dampak dari risiko kepatuhan. Pelaksanaan identifikasi risiko kepatuhan bersifat proaktif, antara lain melalui gap analysis atas perubahan- perubahan sampai dengan self-assessment secara berkala atas aktivitas operasional terhadap ketentuan yang berlaku.
Pengukuran profil risiko kepatuhan dilakukan melalui testing terhadap aktivitas unit kerja dengan menggunakan compliance matrix. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, pemantauan risiko dilakukan secara berkala untuk memastikan langkah- langkah pengendalian risiko yang ditentukan dapat meminimalisasi dampak risiko kepatuhan dengan efektif. Profil risiko kepatuhan dilaporkan kepada Direksi, Dewan Komisaris dan Regulator secara berkala.
Risiko Stratejik
Dalam upayanya meminimalkan risiko strategik, Perseroan selalu memantau pencapaian tujuan-tujuan yang telah direncanakan dan melakukan penyesuaian atas langkah-langkah Strategik Perseroan bila diperlukan, dengan memperhatikan tingkat persaingan di industri perbankan. Strategi dan fokus bisnis Perseroan disampaikan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang dirumuskan oleh Direksi dan mendapat persetujuan Dewan Komisaris serta dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh strategi yang disusun sejalan dengan visi, misi dan budaya Perseroan yang diterjemahkan ke dalam parameter finansial dan non-finansial sebagai panduan bagi seluruh karyawan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Sementara itu, untuk pemantauan atas realisasi atas rencana strategis Perseroan dilakukan minimal 1 (satu) bulan sekali yang memungkinkan Perseroan n untuk mengidentifikasi dan merespon perubahan lingkungan bisnis, baik eksternal maupun internal dengan cepat sesuai perkembangan industri. Adapaun rasio-rasio keuangan yang yang dipantau dalam pencapaian rencana bisnis dan kinerjanya adalah total volume kredit, total volume pihak ketiga, ROA, ROE, CAR, LDR, NPL, NIM, BOPO, dan rasio kredit UMKM terhadap total kredit.
Perseroan memiliki unit khusus untuk mengelola risiko stratejik yaitu Strategy Planning and Investor Relation yang berada dibawah koordinasi Direktur Strategy and Finance yang bertanggung jawab untuk memantau dan menyampaikan kinerja Perseroan kepada Dewan Komisaris dan Direksi.
Risiko Hukum
Kegagalan Perseroan dalam menjaga dan melindungi kepentingan Perseroan dapat menimbulkan potensi tuntutan hukum dan permasalahan hukum di kemudian hari, yang jika terjadi dalam jumlah yang signifikan akan menimbulkan biaya yang cukup besar dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi Perseroan. Untuk itu, Perseroan telah memiliki kebijakan dan prosedur untuk mengelola risiko hukum yaitu pedoman standar dalam rangka pengelolaan risiko hukum untuk melakukan perlindungan hukum atas tindakan Perseroan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, baik internal maupun eksternal. Selain itu, Perseroan selalu memastikan kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, serta sistem informasi manajemen risiko guna menghindari kemungkinan litigasi atau gugatan hukum.
Perseroan memiliki suatu unit hukum yang bertanggung jawab antara lain untuk menstandarisasi seluruh dokumen hukum untuk kepentingan usaha Perseroan.
Kebijakan Kredit
Dalam kegiatan perkreditan maupun penyaluran aset produktif lainnya, Perseroan memiliki Kebijakan dan Prosedur kredit sebagai landasan utama dalam aktivitas perkreditan. Kebijakan dan Prosedur kredit ini merupakan bagian dari manual kerja Perseroan yang berlaku di seluruh jajaran Perseroan. Manual ini pada dasarnya terbagi menjadi Kebijakan Umum, Kebijakan Khusus, Prosedur dan Instruksi Kerja per segmen bisnis.
Kebijakan dan Prosedur kredit ditetapkan sebagai pedoman bagi seluruh unit kerja yang terkait dan bertanggung jawab dalam penyaluran dan pemantauan kredit guna memastikan bahwa kredit yang disalurkan telah sesuai dengan prinsip kehati-hatian sehingga menghasilkan kredit yang sehat dan produktif.
Kebijakan kredit dan aset produktif lainnya merupakan kebijakan yang berisi credit doctrine dan ketentuan-ketentuan penyaluran kredit yang penyusunannya antara lain mengacu kepada ketetapan regulator; dimana materi dari kebijakan tersebut dibahas, ditetapkan dan disetujui oleh Credit Policy Committee (merupakan suatu komite eksekutif yang beranggotakan Direksi dan Senior Executive dari Perseroan). Sedangkan Prosedur kredit dan asset produktif lainnya ditetapkan oleh tingkatan komite yang lebih rendah.
Proses Penyaluran Kredit
Proses penyaluran kredit secara umum (normal credit process) adalah sebagai berikut:
Target Market Analysis Credit Initiation Origination
Process
Quantitative Analysis Qualitative Analysis Coll./Guarantee Analysis
Evaluation Process
Credit Proposal Credit Reviewer Credit Approval
Approval Process
Disbursement Process
Account Management Maintenance
Process
Extension The Facility Terminate The Facility Remedial
Offering Letter Legal Documentation Book & Settlement
Y/N
Origination Process:
Proses penyaluran kredit diawali dengan identifikasi target market, khususnya terhadap bidang usaha/industri yang potensial/atraktif dapat dibiayai oleh unit kerja bisnis. Penentuan target market ini sejalan dengan arah dan strategi usaha sesuai yang ditetapkan dalam business plan ataupun arahan dan kebijakan perkreditan lain yang telah ditetapkan Manajemen. Penentuan target market dilakukan melalui riset dan evaluasi bidang usaha mana yang atraktif, netral dan tidak atraktif untuk dibiayai dengan menetapkan batasan/limit portofolio dari suatu industri. Berdasarkan target market tersebut kemudian ditindaklajuti dengan melakukan identifikasi terhadap (calon) debitur yang memenuhi sektor usaha sesuai target market yang telah ditentukan.
Evaluation Process:
Merupakan proses menyeluruh mengenai evaluasi risiko kredit, baik dari sisi kuantitatip, kualitatip dan agunan (calon) debitur, termasuk evaluasi terhadap mitigasi risiko kreditnya. Atas seluruh penilaian tersebut selanjutnya dituangkan dalam proposal kredit.
Approval Process:
Proposal kredit yang telah disusun oleh Account Officer selanjutnya dimintakan rekomendasi kepada Credit Reviewer sebagai pihak yang independen dari Business Unit (merupakan pihak yang berada dibawah supervisi direktorat Credit).
Setelah rekomendasi diperoleh, proposal tersebut selanjutnya dimintakan persetujuan kepada Credit Committee secara combined partnership antara Business Unit dengan Credit Group (pihak independen dari Business Unit). Untuk pinjaman dengan jumlah dan kriteria tertentu, persetujuan dapat diberikan secara single approval. Penetapan pihak yang dapat bertindak sebagai anggota Credit Committee dipilih berdasarkan kapasitas, kemampuan dan penilaian individu yang baik di bidang perkreditan.
Disbursement Process:
Proposal kredit yang telah memperoleh persetujuan sesuai ketentuan yang berlaku harus dituangkan dalam Offering Letter untuk memperoleh kesepakatan dengan (calon) debitur sebelum kesepakatan tersebut dituangkan dalam suatu Perjanjian Kredit antara Perseroan dan (calon) debitur. Perseroan harus meyakinkan bahwa seluruh persyaratan dan dokumen perkreditan yang dibutuhkan telah teRp enuhi sesuai ketentuan yang berlaku sebelum pembukuan kredit dilakukan. Proses pembukuan pinjaman dikelola oleh Direktorat Operasi, yakni unit kerja Administrasi Kredit dan Pinjaman.