RINGKASAN
KETERANGAN 31 KETERANGAN 31 Mei 31 Desember
A. RISIKO USAHA YANG BERKAITAN DENGAN PERSEROAN 1. RISIKO KREDIT
Risiko Kredit adalah risiko akibat kegagalan pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Perseroan, termasuk Risiko Kredit akibat kegagalan debitur, Risiko konsentrasi kredit, counteRp arty credit risk, dan settlement risk.
Sesuai dengan usaha yang dijalankan Perseroan, terdapat potensi munculnya risiko kredit dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan, penempatan, investasi, serta pembiayaan perdagangan. Risiko kredit yang utama adalah munculnya kredit bermasalah. Walaupun telah dilakukan berbagai upaya untuk terus memperbaiki kualitas kredit yang diberikan maupun Aset produktif lainnya, namun tidak terdapat jaminan bahwa upaya tersebut dapat memperbaiki kualitas dari debitur bermasalah, dan juga tidak terdapat jaminan bahwa tidak ada debitur lain yang menjadi bermasalah.
Penyaluran kredit Perseroan dapat dikelompokkan kepada penyaluran kredit kepada individual, grup usaha dan juga sektor usaha. Kesulitan yang dihadapi oleh individual, grup usaha dan sektor usaha dimana terdapat konsentrasi penyaluran kredit oleh Perseroan dapat mengakibatkan meningkatnya kredit tidak lancar dari nasabah yang pada akhirnya dapat berpengaruh secara negatif terhadap kegiatan usaha dan kinerja keuangan Perseroan di masa mendatang.
2. RISIKO OPERASIONAL
Risiko Operasional merupakan Risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perseroan.
Apabila penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam kegiatan operasional Perseroan tidak dikelola dengan baik, maka dapat mengganggu kelangsungan usaha Perseroan dan pada akhirnya dapat menurunkan kinerja usaha Perseroan.
Kelangsungan usaha Perseroan juga bergantung pada kemampuan Perseroan dalam menyikapi kemajuan teknologi dan perkembangan standar industri perbankan yang dilakukan dengan biaya rendah dan secara tepat waktu. Tidak terdapat jaminan bahwa Perseroan tidak akan mengalami permasalahan dalam penerapan teknologi maupun standar industri baru.
Dalam menjalankan operasinya kadang kala Perseroan juga menghadapi problem eksternal yang tidak dapat dihindarkan seperti kejadian bencana alam.
3. RISIKO LIKUIDITAS
Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Perseroan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Perseroan.
Dalam menjalankan fungsi intermediasinya, sebagian besar dana simpanan masyarakat yang diterima Perseroan disalurkan kembali dalam bentuk kredit.
Perseroan menghadapi risiko likuiditas mengingat sebagian besar dana masyarakat seperti giro, deposito dan tabungan bersifat jangka pendek, sedangkan kredit yang diberikan memiliki jangka waktu yang relatif lebih panjang. Apabila Perseroan tidak mampu mengelola dana masyarakat sehingga memiliki masa pengendapan yang lebih panjang, maka Perseroan dapat mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pengembalian dana dari masyarakat.
4. RISIKO REPUTASI
Risiko Reputasi adalah Risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholder) yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Perseroan.
Sebagai lembaga jasa keuangan, Perseroan membutuhkan citra dan publikasi yang baik mengenai kegiatan usaha dan kinerja Perseroan. Kegagalan Perseroan dalam menjaga reputasinya dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap Perseroan. Hal ini dapat menyebabkan terjadi hilangnya kepercayaan nasabah dan akan berdampak langsung terhadap penurunan jumlah nasabah yang akhirnya memberikan dampak pada kondisi likuiditas, penurunan pendapatan dan volume aktivitas Perseroan.
5. RISIKO PASAR
Risiko Pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif, termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk Risiko perubahan harga option.
Risiko pasar sangat terkait dengan gejolak pasar yang terjadi karena pergerakan nilai tukar dan suku bunga yang dapat merugikan posisi Perseroan. Penyesuaian terhadap tingkat suku bunga baik pada sisi aset maupun kewajiban tidak dapat selalu dilakukan pada saat bersamaan. Hal ini mengakibatkan Perseroan rentan terhadap perubahan tingkat suku bunga pasar. Tidak terdapat jaminan bahwa perubahan suku bunga di masa mendatang tidak akan menimbulkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan kredit, keuntungan, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan.
Potensi kerugian transaksi nilai tukar dapat berasal dari transaksi forex, derivative serta kerugian valuta asing akibat posisi mismatched asset dan liability valuta asing (banking book). Pergerakan pasar yang signifikan dapat mengakibatkan Perseroan mengalami kerugian.
6. RISIKO STRATEGIK
Risiko Strategik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
Perseroan harus merumuskan dan menetapkan langkah-langkah strategik baik jangka pendek maupun jangka panjang yang selalu disesuaikan dengan rencana-rencana Perseroan dengan melihat perubahan dan sasaran yang ada.
Ketidakmampuan Perseroan atau kesalahan Perseroan dalam merumuskan strateginya dan melaksanakan strategi yang telah direncanakan dapat menyebabkan Perseroan mengalami penurunan kinerja.
Terdapat risiko dalam pelaksanaan penyertaan pada Entitas Anak, diantaranya risiko atas kewajiban yang tak terduga yang terkait dengan kegiatan usaha yang mungkin baru diketahui setelah melakukan penggabungan dan pengambilalihan usaha, risiko kewajiban penyediaan dana di masa depan termasuk pendanaan yang diharuskan oleh pemegang saham Perseroan untuk mempertahankan kecukupan modal Perseroan, risiko kegagalan koordinasi upaya pemasaran dan penjualan, risiko tidak fokus pada bisnis utama, dan risiko terjadinya penghapusbukuan investasi.
7. RISIKO HUKUM
Risiko Hukum adalah risiko Risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.
Kegagalan Perseroan dalam menjaga dan melindungi kepentingan Perseroan dapat menimbulkan potensi tuntutan hukum dan permasalahan hukum di kemudian hari, yang jika terjadi dalam jumlah yang signifikan akan menimbulkan biaya yang cukup besar dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi Perseroan.
8. RISIKO KEPATUHAN
Risiko Kepatuhan adalah Risiko yang antara lain disebabkan oleh Perseroan tidak mematuhi dan atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan harus selalu tunduk terhadap peraturan perbankan yang dari waktu kewaktu dengan terus memperbaharui kebijakan-kebijakan internal agar sesuai dengan perkembangan kondisi perbankan nasional. Disamping itu, sebagai perusahaan publik, Perseroan juga harus mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh OJK serta Bursa Efek Indonesia.
Pada praktiknya, risiko kepatuhan terkait pada adanya pelanggaran terhadap perundang-undangan dan ketentuan- ketentuan yang berlaku seperti risiko kredit yang terkait dengan Kewajian Pemenuhan Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aset Produktif, Pembentukan Penyisihan Aset Produktif (PPAP), Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), Posisi Devisa Neto (PDN), risiko Strategik yang terkait dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) dan lain sebagainya.
Setiap ketidakpatuhan Perseroan atas peraturan perundang-undangan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku, dapat menyebabkan kerugian Perseroan yang antara lain disebabkan karena diharuskannya Perseroan membayar denda dan sanksi. Ketidakmampuan Perseroan untuk memenuhi peraturan dan ketentuan juga dapat berdampak langsung pada kelangsungan usaha Perseroan.
9. RISIKO PADA ENTITAS ANAK YANG DIKONSOLIDASIKAN
Risiko bagi Perseroan adalah apabila nilai penyertaan pada Perusahaan Anak turun akibat terjadinya kerugian pada Perusahaan Anak. Risiko Perseroan atas investasi pada Perusahaan Anak adalah risiko finansial, risiko strategik dan risiko reputasi. Risiko finansial terjadi bila kerugian yang terjadi di Perusahaan Anak mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan.
Risiko strategik dapat terjadi apabila penetapan dan pelaksanaan strategi Perusahaan Anak tidak berjalan seperti yang diharapkan. Sedangkan risiko reputasi akan terjadi apabila terdapat publikasi negatif terhadap Perusahaan Anak, maka dapat berakibat secara langsung ataupun tidak langsung terhadap Perseroan.
Risiko-risiko pada Entitas Anak
Perseroan memiliki Perusahaan Anak yang bergerak di bidang pembiayaan (multifinance), yang dalam pelaporan keuangannya dikonsolidasikan dalam laporan keuangan Perseroan. Perusahaan Anak memberikan sebagian besar pembiayaan kepada konsumen untuk kepemilikan kendaraan bermotor.
Risiko utama yang dihadapi Perusahaan Anak adalah risiko kredit, operasional dan likuiditas. Risiko kredit terjadi bila nasabah-nasabah Perusahaan Anak wanprestasi dalam melaksanakan kewajibannya. Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perusahaan Anak. Risiko likuiditas terjadi karena Perusahaan Anak dalam menjalankan usahanya tergantung pada sumber dana perbankan, yang dalam situasi kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan dapat menghentikan komitmen pendanaannya kepada Perusahaan Anak.
Perusahaan Anak senantiasa melakukan perbaikan dan penyempurnaan langka-langkah mitigasi risiko secara berkala, yang diantaranya adalah (a) Dalam rangka peningkatan kualitas kredit telah dilakukan Sentralisasi Credit Analyst yang bertujuan untuk meningkatkan Service Level Agreement (SLA) kepada nasabah dan menyamakan pemahaman Credit Analyst dalam melakukan analisa kelayakan debitur yang lebih akurat. (b) Implementasi scorecard untuk persetujuan kredit yang secara rutin akan terus dikaji dan disesuaikan dengan perkembangan bisnis Perusahaan Anak. (c) Untuk risiko operasional, Perusahaan Anak memiliki 3 perangkat (tools) untuk mitigasi risiko; Regular Branch Assessment & Self Implementation Control (Re-Basic), KRI (Key Risk Indicators), LED (Loss Event Data), dan Control Issue Management (CIM). (d) Dalam rangka mengelola liquidity risk, Perusahaan Anak secara berkala melakukan pemantauan atas liquidity gap dan gearing ratio untuk mengukur kebutuhan pendanaan. Perusahaan berupaya menjaga gearing rationya agar tetap berada pada level yang sesuai dengan appetite Perusahaan Anak antara lain melalui beberapa program joint financing untuk mengurangi kebutuhan pendanaan yang harus dipenuhi sendiri oleh perusahaan anak.
10. RISIKO TERHADAP PERUBAHAN KONDISI EKONOMI MAKRO
Perseroan menjalankan usaha di bidang perbankan, yang tidak terlepas dari dampak perubahan kondisi ekonomi makro.
Risiko yang dihadapi Perseroan yang langsung terkait dengan perubahan kondisi ekonomi makro adalah Risiko kredit, pasar dan likuiditas, dimana perubahan ekonomi makro dapat mempengaruhi kinerja bank. Perseroan akan mengalami peningkatan Risiko kredit apabila terjadi penurunan kemampuan pengembalian kewajiban kredit dari sejumlah debitur pada saat terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pergerakan pasar yang signifikan saat terjadi krisis ekonomi dapat menyebabkan penurunan pendapatan Perseroan karena posisi mismatch antara aset dan kewajiban-nya. Risiko likuiditas Perseroan juga akan mengalami peningkatan pada saat terjadi krisis ekonomi, mengingat pada saat terjadi gejolak perekonomian terdapat kecenderungan menurunnya perputaran dana dan likuiditas di pasar uang. Di samping itu, perubahan kondisi ekonomi makro juga dapat berpengaruh terhadap pencapaian kemampuan Perseroan dalam mencapai target bisnisnya atau berpotensi untuk meningkatkan risiko strategik.
Untuk memitigasi hal tersebut, Perseroan menetapkan kriteria risiko yang dapat diterima serta batasan (limit) untuk menjaga agar eksposur risiko masih sesuai dengan Risk Appetite Perseroan. Salah satunya, Perseroan memiliki metodologi untuk menentukan batas maksimum eksposur per sektor industri dalam upaya untuk memantau dan mengelola konsentrasi portofolio kredit, serta menjaga risiko kredit sesuai dengan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sesuai dengan ketentuan regulator. Dalam melakukan pemantauan atas eksposur risiko kredit, Perseroan telah menerapkan Early Recognition Watch List (ERWL) yang menilai kualitas kredit sejak dini berdasrkan proyeksi usaha, kondisi keuangan, dan faktor lain yang dapat berdampak pada kemampuan pembayaran debitur.
Sementara itu, untuk limit risiko pasar Perseroan mengaplikasikan Value at Risk (VaR), pengukuran sensitivitas (DV01, basis DV01, Vega, NOP), trigger loss, dan notional size untuk portofolio tertentu. Limit untuk portofolio tresuri dievaluasi minimal satu tahun sekali atau dapat dilakukan lebih sering jika terdapat pergerakan volatilitas harga pasar atau business plan.
Pada risiko likuiditas, Perseroan menetapkan limit sesuai dengan level risk appetite antara lain berdasarkan analisa gap likuiditas saat normal dan saat stress, serta analisa rasio likuiditas. Selain itu, Perseroan telah memiliki Contingency Funding Plan yang secara regular dilakukan pengujian dan mengembangkan early warning indicators untuk menangkap gejala risiko likuiditas lebih dini.
Disamping itu, dalam menetapkan strategi bisnisnya, Perseroan menetapkan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan juga faktor eksternal termasuk kondisi ekonomi seperti potensi pertumbuhan atau perlambatan ekonomi, lingkungan bisnis serta faktor internal seperti kesiapan infrastruktur. Strategi bisnis dan fokus Perseroan ini akan dievaluasi secara periodik untuk menilai kesesuaiannya dengan faktor eksternal dan internal tersebut, untuk memastikan bahwa Perseroan memiliki kemampuan yang baik untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada.